
Tasya menemani Ibu menonton televisi, tak lama Bi Tinah menghampiri mereka memberikan makanan ringan yang dibuatnya.
"Bi Tinah, siapa yang nanti bantu mengasuh Vano Bi?" tanya Tasya
"Keponakan saya Neng."
"Oh begitu. Sudah dikasih tahu kapan dia kesini?" tanya Tasya
"Kata Reza nanti saja setelah Vano datang." ucap Bi Tinah
"Iya, tolong bantu kami ya Bi" ucap Tasya
"InsyAllah, lagipula keluarga ini sudah Bibi anggap keluarga sendiri. Bibi mah senang Neng kerja disini. Bapak baik, Reza juga gak rewel, almarhumah juga baik sekali sama Bibi. Sekarang Neng Tasya juga terasa sekali kebaikannya."
"Mudah-mudahan nanti keponakan Bibi juga tidak mengecewakan" ucap Bi Tinah
"Iya. Mudah-mudahan betah disini. Betah bantu saya ngurus Vano" ucap Tasya
"Iya, Ibu kan gak disini setiap hari Bi, saya titip Tasya dan Vano ya Bi." ucap Ibu
"Iya Bu." Bi Tinah pamit kembali ke belakang.
"Sya, Ibu pulang besok atau lusa ya. Ibu gak enak disini terlalu lama. Lagipula kasihan juga Ayah sendirian." ucap Ibu
"Apa gak nunggu nanti Vano pulang saja Bu?" tanya Tasya
"Ibu bukan gak ingin Sya. Tapi Ayah katanya minta bantuan Aa. Ibu juga sudah terlalu lama disini. Paling nanti Ibu bolak balik saja kesini" ucap Ibu
"Aku nanti gak ada teman Bu" ucap Tasya sedih
"Ada Bi Tinah. Ada pengasuh Vano juga. Kamu nanti gak sendirian Sya" hibur ibu
"Aa saja disini temani aku ya Bu" pinta Tasya
"Aa kan harus bantu Ayah. Malah dari kemarin Aa disuruh pulang dulu. Tapi Ibu disini kan gak enak kalau sendiri." ucap Ibu
Tasya terdiam.
"Kamu pokoknya jangan sampai telat minum obat. Fokus sembuh dulu. Rutin check up." ucap Ibu
"Iya Bu" Ucap Tasya dengan tak rela
Mau tak mau Tasya harus menerimanya karena tak selamanya dia akan bergantung pada Ibu dan Kakaknya.
***
Reza melangkahkan kakinya menuju ruang NICU. Ada beberapa orang disana yang menjenguk bayi-bayi mungil yang ada dalam inkubator.
"Hallo tante suster" Reza menyapanya seperti biasa
"Maminya Vano mana Pak?" tanya salah satu perawat
"Ada dirumah. Kasihan, biar pulih dulu" ucapnya seraya tersenyum
Perawat tersebut mengangguk karena mengetahui kondisi Tasya.
Reza menuju ke inkubator.
"Hallo Vano. Papi disini nak" ucap Reza
"Kata Mami, Mami kangen sama Vano. Cepat naik berat badannya ya sayang. Biar kumpul dirumah." Reza mengajaknya bicara
Tak lama, seorang Ibu mendekat ke arahnya.
"Anaknya Pak?" sapa perempuan muda disebelahnya
"Iya" ucap Reza singkat
"Ibunya kemana Pak?" tanyanya lagi
__ADS_1
"Ada dirumah"
"Kok bisa dirumah Pak? Anaknya disini gak dijenguk?" ucap perepmouan tersebut nampak heran
"Iya Bu. Istri saya sedang pemulihan" ucap Reza yang sedikit panas mendengarnya
"Ada ya ibu kayak begitu" ucapnya dengan suara pelan
Reza menahan dirinya. Dia tak menghiraukannya.
"Pak Reza" perawat mendekat
"Ya?"
"Vano berat badannya kembali ke berat badan lahir Pak." ucap sang perawat
"Oh ya? Alhamdulillah. Semoga terus naik. Berapa lama ya sus kira-kira biar cepat naik?" tanya Reza
"Tergantung Vanonya sendiri Pak. Kita tidak bisa memastikan" ucapnya
"Mudah-mudahan segera pulang ya. Kasihan Maminya kangen sekali sama Vano"
"Iya Pak. Mudah-mudah saja"
"Terima kasih ya Sus" Reza tersenyum
***
Reza tiba dirumah. Dia segera masuk ke dalam kamar. Disana Tasya sedang tertidur. Dia segera membersihkan dirinya kemudian keluar kamar mandi dengan lebih segar.
Reza berbaring disamping sang istri. Mendekatkan tubuhnya pada wanita yang dicintainya. Melihat perban yang membungkus kepalanya, selalu membuatnya merasa bersalah.
Tasya terbangun saat merasakan sentuhan pada tubuhnya.
"Papi.." ucapnya dengan mata terpejam
"Hmm.. Tidur lagi sayang" ucap Reza
"Bagaimana Vano?" tanya Tasya
"Berat badan Vano naik sayang. Walaupun seperti awal lahir" ucap Reza
"Serius?" seketika Tasya menjadi lebih segar.
"Iya sayang. Mudah-mudahan makin naik berat badannya" ucap Reza
Tasya bangkit
"Mau kemana?" tanya Reza
Tasya bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Setelah berapa lama dia keluar.
"Pusing sayang?" tanya Reza
"Sedikit."
"Sudah diminum obatnya?" tanya Reza
"Sudah."
"Ibu mau pulang besok atau lusa Pap" Tasya segera menumpahkan kesedihannya
"Kok mendadak?" tanya Reza
"Mungkin karena aku sudah dirumah dan ayah juga kasihan terlalu lama ditinggal sendiri ngurus perkebunan" ucap Tasya
Reza mengangguk
"Besok Papi carikan perawat bagaimana?" tanya Reza
__ADS_1
"Aku gak butuh Pap. Lagipula cuma minum obat kan, gak ada yang lain lagi" ucap Tasya
"Papi gak mau Mami nanti repot"
"Repot gimana? Perban kan nanti digantinya sama dokter. Gak ada apa-apa lagi. Memar dikaki juga sudah kering" Tasya menolaknya
"Serius?"
"Iya"
"Ya sudah, Papi saja temani Mami. Papi keluar kalau memang betul-betul penting. Selebihnya Papi serahkan pada Papa dan yang lainnya." ucap Reza
"Gak apa-apa. Aku ada Bi Tinah." Tasya menolaknya
"Sayang kok begitu?"
"Begitu bagaimana? Kan sudah biasa aku ditinggal kerja. Aku gak masalah" ucap Tasya
"Boleh kalau Papi temani?" usul Reza
"Aku gak mau menghalangi Papi. Kerja saja seperti biasa" ucap Tasya
"Mam.."
"Aku gak mau bahas lagi Pap."
Mereka terdiam.
Tasya ingin sekali menangis. Sejujurnya dia tak siap harus ditinggal sendirian. Tapi dia tak mau membebani Reza dengan rengekannya.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ibu dan Rasya sudah berkemas. Tasya menghampiri kamar Ibu.
"Yakin pulang sekarang Bu?" tanya Tasya sedih
"Iya. Tapi nanti Ibu mau mampir jenguk cucu Ibu dulu"
"Kenapa gak besok saja Bu pulangnya?" tanya Tasya
"Sudah terlalu lama ibu disini Neng. Nanti ibu pasti sering-sering kesini" hiburnya
Rasya menghampiri keduanya.
"Mana yang harus aku masukkan ke bagasi Bu?" tanya Rasya
"Itu semua" ucap Ibu
"Aa tega ninggalin aku A?" tanya Tasya
"Aa nanti sering kesini Neng sama Ibu. Nanti kalau kita kesini lagi, kamu harus sudah sembuh. Oke?" ucap Rasya
"Aa temani aku A" rengek Tasya
"Kamu lupa, kamu sudah jadi Mami. Masa masih begitu"
"Ya aku begini juga sama Aa, sama Ibu. Coba tanya Ibu, setua apapun Aa atau aku pasti buat ibu aku ini anaknya" ucap Tasya
"Dasar! Ya iya anaknya. Masa Neneknya" Rasya nampak gemas. Andai saja kepala adiknya tidak dibungkus perban, mungkin dia sudah menoyornya.
Setelah membereskan semua barangnya, Ibu dan Rasya pamit pada Pak Danu kemudian mereka mengantarkan Rasya dan Ibu sampai di teras rumah.
"Aku titip Tasya dan Vano. Kalau terjadi sesuatu pada mereka. Aku gak akan mengampunimu!" ancam Rasya
"Siap bos" sindir Reza.
"Aa pulang ya sayang. Jaga diri baik-baik. Jangan banyak melamun. Harus sembuh sebelum Aa datang. Oke?" ucap Rasya
Mereka masuk ke dalam mobil kemudian melajukan mobilnya, sementara Reza dan Tasya memperhatikan sampai mobil tersebut tak Lagi terlihat oleh mereka.
__ADS_1
*** jangan lupa like, komen dan votenya yaaaaa. Terima kasih ^^ ***