
"Lelah sekali" ucap Tasya setelah dia selesai membersihkan badannya
"A, sana mandi dulu" Tasya membangunkan Reza yang ketiduran
"Hmm" tanpa membuka mata
"Sayang, mau hadiah?" goda Tasya
"Hmm" masih enggan membuka mata
"Ya sudah hadiah spesialnya gak jadi deh" godanya lagi
"Hmm.."
"A Reza ih ham hem ham hem dari tadi. Ayo mandi dulu biar enak tidurnya" Tasya mulai kesal
Tasya tersenyum picik. Dia menggelitik dada suaminya yang sedang tertidur. Dibukanya kancing baju batik yang masih melekat di tubuh Reza satu persatu. Aroma parfum dari tubuh Reza tercium olehnya.
'Wangii' batinnya.
Kancing baju Reza sudah sepenuhnya terlepas. Dia memainkan jarinya di dada Reza. Reza malah semakin pulas.
Tasya menjadi kesal sendiri karena Reza tidak bergeming. Akhirnya dia mengambil ponselnya dan berselancar di sosial media miliknya sampai ikut tertidur di sebelah Reza.
Setelah beberapa saat, Reza terbangun. Dia melihat istrinya tertidur sambil memegang ponselnya. Di ambil dan disimpan ponsel milik istrinya. Dia merasa heran, kancing bajunya sudah terlepas semua.
Dia membuka bajunya kemudian menyambar handuk dan ke kamar mandi.
***
Reza membuka pintu kamar dengan handuk tergantung di pundaknya. Dia mengeringkan rambut dengan handuknya. Begitu melihat Tasya, daster Tasya tersingkap sehingga menampakkan paha mulusnya. Dia menutupinya dengan selimut.
"Kasihan, kamu capek ya sayang" gumam Reza sambil mengecup kepala Tasya. Dia kemudian membuka ponselnya sambil duduk disebelah Tasya. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak dia simpan
"Hai Za, aku senang sekali melihatmu. Kamu tambah ganteng saja sampai membuatku gugup. Jujur saja kamu tidak cocok dengan istrimu itu Za. Kalau kamu mau, aku siap mendampingimu Za. Melahirkan anak-anak yang lucu untukmu. Pikirkanlah! Sebelum aku di pinang oleh sahabatmu." isi pesan tersebut membuat Reza naik pitam
"Dasar orang gila! Tidak tahu malu!" kesalnya
Dia teringat Raka sahabatnya. Seseorang yang selalu bersamanya di masa-masa sekolahnya. Mereka terpisah karena Raka kuliah di luar negeri. Dari sana mereka sudah sangat jarang berkomunikasi.
'Apa selera Raka orang begitu?' Masa sih?' batinnya berperang.
Dia ingat betul siapa mantan-mantan kekasih Raka.
'Iya sih dia suka cewek seksi. Tapi masa dia buta dengan kelakuan tunangannya' batinnya kembali tak terima
"Ah masa bodoh!" Reza frustasi. Dia kemudian berbaring kembali di samping istrinya.
Di lihatnya lekat-lekat wajah Istrinya tersebut. Dia mengecup kening wanitanya. Merasa bersyukur dia di jodohkan dengan wanita sebaik Tasya. Tanpa harus sibuk berkelana mencari yang terbaik untuknya. Memang benar Tasya BUKAN SITI NURBAYA yang di jodohkan karena hutang piutang orang tuanya. Mereka di jodohkan karena Pak Danu menyukai semua perilaku dari anak rekan bisnisnya tersebut.
__ADS_1
Dia mengingat semua tentang istrinya dari awal ketemu yang panik saat jilbabnya terbuka di depannya, yang selalu mematung saat dia menyentuhnya,dan selalu malu saat dia goda. Dia harus sabar untuk menaklukan hati istrinya. Lebih dari satu bulan, dia bisa membuka sedikit-sedikit hati istrinya. Perjuangan yang tidak mudah menurutnya. Karena dulu setiap dia memiliki pacar, sang wanita selalu dengan mudah dia taklukan dengan pesonanya.
"Kamu berbeda sayang" gumamnya.
'Kamu tidak tertarik oleh pesonaku. Tidak juga mudah jatuh hati kepadaku. Bahkan kamu selalu takut aku dekati.' batinnya.
"Benar kata Papa, sekarang aku yang tergila-gila olehmu sayang" gumamnya kembali
Dia kemudian memeluk tubuh istrinya tersebut tak lama kemudian dia tertidur kembali.
***
Pagi-pagi sekali Pak Danu sudah pamit akan bertemu dengan temannya.
"A Reza, apa Papa punya pacar?" tanya Tasya cekikikan
"Enggak lah sayang. Memang kenapa?" tanya Reza heran
"Pagi-pagi sekali sudah rapih, sudah wangi, gesit sekali kayak mau ngapelin pacar. Gak kayak anaknya masih belum mandi" ledek Tasya
"Aku mau mandi tapi kita.. " Reza menerkam istrinya, dia tak meneruskan kata-katanya.
Tasya tertawa geli. Tapi tidak melawan Reza.
" Stt.. Jangan berisik sayang, nanti ibu ketuk pintu" ucap Reza sambil berbisik
"Jangan pakai itu tutupnya" Reza kemudian menutup mulut istrinya dengan mulutnya. Mereka saling membalas.
"Sudah pintar ya sekarang" goda Reza senang dan melanjutkan aktifitas lainnya.
Setelah selesai dia memeluk tubuh istrinya. Tasya memainkan jarinya di dada bidang Reza yang bertelanjang dada.
"A kok badannya bagus. Padahal Aa jarang sekali olahraga" Tanya Tasya heran
"iya karena Aa kan gak makan makanan aneh kaya kamu" jawabnya sambil mengusap-ngusap kening istrinya dengan bibirnya
"Aneh apanya a? Aku makan yang Aa makan juga" Tasya protes
"Tapi kamu makan cilok, makan mie instan, makan cuanki, segala saja kamu makan. Aa sekarang di jejali makanan begitu sama kamu. Lama-lama perut Aa kaya perut Ayah" jelas Reza
"Haha.. Jangan dong a. Aku suka Aa badannya begini. Nanti kita olahraga yuk?" ajak Tasya
"Barusan kan sudah sayang" goda Reza
"A Reza mah selalu kesitu terus" Tasya bersungut
"Iya.. Iya" jawab Reza seenaknya
"A.." Tasya mulai cerewet
__ADS_1
"Hmm.." Reza mulai ngantuk kembali
"Katanya mau mandi" tanya Tasya
"Iya sebentar lagi" Reza menutup matanya
"A.." panggilnya lagi
"Hmm.." masih memejamkan mata
"Aa sayang sama aku?" tanya Tasya. Pertanyaan konyol yang sebenarnya dia tahu jawabnnya. Hanya saja dia ingin Reza menyatakannya
"Banget" ucap Reza pendek
"Tuh kan cuma begitu" Tasya pura-pura ngambek
"Aa sayang banget sama Tasya Fadilla Ramadhan" balasnya tak mau berdebat
Tasya tersenyum senang.
"Sya.. " ibu mengetuk pintu
Keduanya panik. Reza yang mengantuk pun langsung melebarkan matanya. Reza menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Tasya segera memakai baju
" Iya bu sebentar" balasnya panik.
Dia membuka pintu.
"kenapa bu?" tanyanya sambil menutup pintu kamarnya kembali
"Kakiku pegal sekali bu, seharian kemarin pakai sepatu tinggi" Tasya tiba-tiba mencari alasan padahal ibu belum berkata apapun.
"Iya. Eh barusan kita di undang sama Mang Didin. Dia menikahkan anaknya lusa" ucap ibu
"Oh begitu. Ibu saja yang kesana. Biasanya kan ibu yang suka datang" jawab Tasya datar
"Dia juga ngundang kamu. Kan sekarang kamu sudah punya rumah tangga sendiri" jelas ibu
"Iya. Nanti aku tanya A Reza dulu bu. Bisa atau tidak. Aku tidak tahu kapan kita pulang Bu." jawab Tasya
"Nanti kalau tidak bisa datang, ibu saja ya bu yang kesana" pinta Tasya
"Ya kalau ibu sudah pasti kesana Sya. Ibu juga bantu-bantu dulu di rumahnya. Atau nanti sebelum pulang kamu datang dulu ke rumahnya ya. Ibu gak enak sama Mang Didin" pinta ibu
"Ya sudah, ibu mau nyusulin ayah dulu ya. Tadi ayah minta bantuan ibu, Mang Maman lagi sakit. Sana ajak suamimu sarapan dulu" lanjut ibu
"A Reza juga masih tidur bu" Tasya berbohong
Ibu kemudian pergi meninggalkan Tasya di ambang pintu kamarnya.
__ADS_1