BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Sebuah Rasa Yang Tak Biasa


__ADS_3

"Aa senang kamu cemburu Sya" ucap Reza


"Oh iya, Aa baru ingat, wanita itu mengajak kenalan ketika Aa di kedai kopi. Saat menunggumu sidang Sya." jelas Reza


"Aa atau wanita itu?" Tasya tak percaya


"Wanita itu Sya. Aa tidak bohong. Asal kamu tahu, dari dulu selalu ada yang menyatakan cinta sama Aa. Tapi Aa gak suka. Rasanya ilfeel saja kalau ada wanita begitu. Bukan Aa jual mahal atau bagaimana. Tapi ya kurang pantas saja rasanya wanita duluan yang menyatakan cintanya" jelasnya lagi


"Apalagi wanita kemarin. Dia menyapa Aa seolah-olah Aa temannya." cerita Reza


"Terus?" Tasya penasaran


"Ya Aa bilang bukan temannya karena memang Aa gak kenal siapa dia. Eh ujung-ujungnya dia minta nomor ponsel. Ketahuan sekali dia hanya ingin kenalan saja" jelas Reza


"Terus kenapa Aa kasih nomor ponselnya?" tanya Tasya sebal


"Strategi dong. Dari penampilannya dia, dia kelihatan orang berada. Siapa tahu Aa bisa menambah rekan bisnis" jelasnya lagi


"Iya dengan menjual tampangmu!" ucap Tasya


"Tampangmu?" Reza sebal


"Tampang A Reza. Kan Aa manfaatin wajah Aa" jelasnya


"Tam pang mu! Mu! mu! mu! Aa gak suka dengarnya Sya!" Reza kesal. Nadanya penuh dengan penekanan


Tasya terdiam. Dia ingin menangis tapi ditahannya. Menurutnya, Reza sudah salah, tapi masih bisa melemparkan kesalahannya pada Tasya dengan kesalahan Tasya yang lain.


Tasya memainkan ponselnya. Begitupun Reza. Mereka larut dengan pikirannya masing-masing.


"Oke. Aa mengaku salah. Tak seharusnya Aa memberikan nomor ponsel pada wanita lain. Aa minta maaf" ucapnya sambil menurunkan egonya


Tasya masih terdiam kesal


'Yah.. Kambuh lagi' batin Reza


"Sya, maafin Aa ya. Aa sudah salah" ucapnya lagi


Tasya tidak bergeming


"Sya.. Please.. Maafin Aa ya sayang" kali ini tangannya menggenggam tangan Tasya


"Aa janji gak akan memberikan nomor ponsel ke wanita lain yang baru Aa kenal. Tapi Aa juga gak mau kamu melewati batas. Aa gak mau dengar kata "kamu" seolah kamu tidak menghargai Aa" jelasnya


"Maaf ya sayang. A janji gak begitu lagi. Makanya Aa minta foto berdua agar semua orang tahu, Aa sudah milikmu" ucapnya kemudian.


Penjelasan Reza kali ini membuat Tasya sedikit lega.

__ADS_1


'Iya juga sih. Tapi sebal saja dia seenaknya kasih nomor ponsel sama cewek lain! Huh!' batin Tasya


"A Reza, nanti kalau ada cowok lain yang minta nomor ponselku terus aku kasih. Bagaimana?" tanya Tasya


"Kok kamu begitu Sya? Mau balas Aa?" tanya Reza


"Ya aku hanya ingin tahu saja. Bagaimana kalau tiba-tiba ada cowok lain minta nomor ponselku terus aku kasih. Bagaimana?" Tasya mengulanginya lagi


"Iya Aa tahu Aa salah Sya. Aa janji gak bakal begitu lagi" ucap Reza


"Simple ya A! Minta maaf sudah beres" ucap Tasya


"Terus kamu mau Aa bagaimana?" tanya Reza


"Bebas saja. Terserah A Reza!" ucap Tasya seraya keluar kamar


Tasya keluar kamar sambil cemberut menuju ke ruang televisi


"Papa" ucap Tasya mendekati mertuanya kemudian dia mengecup punggung tangan mertuanya.


"Kamu sudah pulang Sya. Bagaimana? Lancar sidangnya?" ucap Pak Danu


"Alhamdulillah lancar Pa. Berkat doa papa juga" ucap Tasya


"Alhamdulillah kalau begitu. Papa pikir kalian tidak akan buru-buru pulang"


"Wah..Papa senang sekali mendengarnya kamu mengkhawatirkan Papa" ucapnya bangga


"Iya dong Pa. Aku juga anak papa kan? " tanyanya


"Pastinya" Pak Danu mengacungkan jempolnya


"Papa sudah makan?" tanya Tasya


"Sudah nak. Baru beres. Kamu sudah makan?" Papa balik bertanya


"Aku belum lapar Pa. Nanti saja kalau ingin makan" ucap Tasya


"Reza mana? Tumben dia tidak keluar kamar" tanya Papa Reza


"Ada Pa, kecapean tadi habis nyetir Pa" jawab Tasya bohong


"Kamu juga bukannya istirahat Nak."


"Nanti saja Pa." balas Tasya singkat.


Keduanya asyik menonton televisi sambil sesekali berbincang.

__ADS_1


"Papa mulai ngantuk Sya, papa ke kamar ya. Kamu jangan malam-malam" ucap Pak Danu seraya berlalu meninggalkan Tasya


Setelah Pak Danu pergi, tasya merebahkan dirinya di kursi. Diapun tertidur di depan televisi. Di kamar pun Reza tertidur sambil memegang handphonenya.


***


Reza terbangun, dia tidak melihat Tasya di sampingnya.


"Sya.. " panggilnya


Tidak ada jawaban dari Tasya. Dia bangun kemudian melihat ke kamar mandi, Tasya tidak ada disana. Dia keluar kamar, dilihat sekelilingnya tidak ada orang satu pun. Dia hendak ke dapur, tapi dia melihat Tasya tertidur di kursi dengan televisi yang masih menyala.


"Marah sampai ketiduran begini kamu Sya" ucapnya lirih


Dia mengangkat istrinya kemudian membawanya ke kamar. Ketika hendak masuk ke dalam kamar, Reza kesusahan untuk membuka pintu. Dengan susah payah dia menggapai daun pintu. Tiba-tiba dia sedikit hilang keseimbangannya. Kepala Tasya terbentur tembok. Tasya kemudian terbangun dan kaget karena kesakitan


"A Reza, sakit tahu!" Tasya kesal


"Maaf Sya, habis Aa susah mau buka pintu" ucap Reza sambil mengulum senyumnya karena kejadian barusan. Reza menurunkan Tasya. Tasya masih cemberut sambil mengusap kepalanya dan masuk ke dalam kamar disusul Reza dibelakangnya.


Tasya menuju kamar mandi. Sementara Reza merebahkan badannya kemudian tertawa sendiri karena merasa lucu dengan kejadian tersebut. Begitu Tasya keluar dari kamar mandi, Reza berhenti tertawa dan bersikap normal seperti biasa. Namun kali ini Reza menjadi lebih ceria.


"Sya, Aa minta maaf ya sayang. Aa janji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan marah begitu dong, Aa kan jadi sedih" ucap Reza dibuat semanis mungkin


Tasya masih terdiam. Dan berbaring memunggungi Reza.


Reza mendekat ke arahnya. "Sya, Aa minta maaf ya" Reza berbicara tepat di daun telinga Tasya serasa berbisik


Ada rasa yang membuat Tasya geli saat Reza berbicara tepat di telinganya.


"Sayang" ucapnya lagi yang memancing hasrat Tasya


"Sudah tidur sana" Tasya mengontrol dirinya masih dengan nada ketus


"Aa gak tidur sebelum kamu maafkan. Sya, Aa gak mau kita marahan lama-lama" bujuk Reza masih dengan posisi yang sama


"Iya. Sudah tidur A. Sudah malam" Tasya berbicara agar Reza mengubah posisinya.


"Terima kasih sayang" kemudian mengecup telinga Tasya yang membuat Tasya bergidik. Ada rasa yang menjalar di tubuhnya.


Reza kemudian memiringkan badannya menempel di belakang Tasya. Tangannya menyelusup ke bawah tangan Tasya. Dia mengusap lembut perut Tasya. Berputar-putar disana.


"A Reza" gumam Tasya memejamkan matanya tapi menikmati aktifitas Reza


"Iya sayang" ucapnya sengaja di arahkan ke telinga Tasya. Tasya bergidik kembali. Bulu romanya seakan berdiri. Hasrat mereka mulai naik.


"Sayang.. Boleh ya?" tanya Reza

__ADS_1


"Tidur A" ucap Tasya seolah mengerti arah pembicaraan Reza.


__ADS_2