BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Bibit Unggul


__ADS_3

"Mami, sepertinya aku lapar" ucap Vano yang membuat Reza tersenyum.


"Mami tidur, Bang." Reza menyahutinya.


Vano berdiri, mendekat ke arah sandaran kursi depan untuk memastikan Maminya.


"Dikasih tahu, gak percaya" ucap Reza


"Papi, aku lapar"


"Mau makan apa?"


"Sepertinya makan ayam yang ada kriuk-kriuknya, enak. Iya kan Mbak?"


"Loh, kok tanya Mbak? Kamu yang bilang lapar juga."


"Mbak bilang iya, biar Papi beliin." Vano mendekatkan wajahnya ditelinga Mbak Diah.


"Iya" jawab Mbak Diah sambil tersenyum.


"Tuh, kata Mbak aku juga iya." ucapnya


"Nanti di rest area ya" ucap Reza


Tasya terbangun saat mereka tiba di rest area.


"Makan disana atau di mobil?" tanya Reza


"Di sana aja Pi. Nanti Daffa makannya kemana-mana kalau disini"


"Nyalahin Daffa, Daffa mah disuapi Mbak."


"Yaudah yuk turun saja Pi." ajak Vano


"Mau kemana?" tanya Tasya yang masih mengumpulkan nyawanya


"Coba jelaskan Papi. Mami sepertinya telat berpikirnya"


"Mami baru bangun, Abang."


"Masih mual?" tanya Reza memegang lengan istrinya.


"Enggak. Tapi kayaknya seger kalau makan yang pedes." ucap Tasya


"Mi, cepetan jangan ngobrol dong. Aku sudah lapar banget"


"Iya, sana kamu turun duluan sama Mbak." titah Reza.


Tasya merapikan kerudungnya.


"Masa sih langsung jadi? Coba di test dulu Mi. Papi jadi kepikiran"


"Apa sih Papi?" Tasya tak mengerti arah pembicaraan mereka


"Princess kita"


"Enggak lah. Aku kan kemarin menstruasi. Baru juga semalam, lagi pula tadi Aku minum air dingin pagi-pagi"


"Papi kira langsung jadi."


"Emangnya martabak apa. Yuk kasihan mereka nunggu." ajak Tasya


Reza merangkul bahu istrinya seraya berjalan.


"Mami, aku beli yang ada mainannya ya? Boleh ya Mi?" Vano berlari ke arah mereka


"Beli apa?"


"Ayam kriuk sama mainan. Boleh please." pinta Vano


"Iya. Iya" Tasya tak mau mendengar anaknya merengek.


"Mbak mau apa? Ayam atau yang lain?" tanya Tasya


"Terserah Ibu saja" jawab mereka


"Samakan saja semua ya? Tapi aku ingin yang pedes-pedes. Apa ya?"


"Apa dong? Mie? Bakso?" tanya Reza


"Enggak mau. Sana Papi antri dulu" pinta Tasya


"Ya ini mau pesan apa?"


"Paket ayam saja Pap. Nanti tambah kentang sama Nasi"


"Aku mau mainan sama es krim Mi" rengek Vano


"Makan dulu, gak boleh es krim" ucap Tasya membuat Vano cemberut sambil melipat kedua tangannya.


Reza segera masuk ke dalam antrian sementara mereka menunggu.


Vano mendekati Reza yang masih mengantri.


"Papi, aku mau es krim, Pi" rengek Vano


"Tanya Mami boleh gak?"


"Papi tahu kan jawabannya apa?" Vano balik bertanya


"Ya sudah. Nanti Papi belikan."


"Terima kasih Pi" Vano berlari ke kursinya kembali.


***


"Papaaaaaa" Vano berteriak saat melihat Rasya menyambut kedatangan mereka


"Hello kesayangan Papaaaa" Rasya dan Vano berpelukan.


"Drama deh mereka" ujar Reza


"Daffa, sini sama Papa" Rasya menggendong Daffa.


"A.. " Tasya meraih tangan kakaknya hendak menciumnya. Mereka berpelukan seraya Rasya masih memangku Daffa


Tasya melingkarkan tangannya di lengan sang kakak sambil berjalan masuk, sementara Reza sibuk mengeluarkan barangnya dari mobil mereka.


Suasana rumah seketika menjadi ramai dengan kehadiran mereka.


"Katanya kamu sakit Sya?" tanya Ibu


"Iya Nin, Mami kemarin sakit. Badannya panas."


"Aku gak perlu jawab Bu, sekarang punya juru bicara" ucap Tasya yang membuat semua tertawa.


"King mana sih Nin?" tanya Vano


"Yuk, kita ke King kamu." ajak Rasya


"itut Dede" Daffa tak sabar


"Iya ikut. Yuk" ajak Rasya


"Nanti saja Bang, masih capek"


"Aku gak capek Nin" ucapnya.


Kini tinggal Reza, Ibu dan Tasya yang berada diruangan tersebut.


"Bu? Kok Aa mendadak sih?" Tasya penasaran


"Ya jodohnya mendadak kali Sya" Ibu tertawa


"Mereka ketemu dimana, Bu?" tanya Tasya lagi


"Iya, kan Aa suka ke kajian setiap hari minggu pagi. Nah, ketemu dia katanya pas bubaran kajian


"Loh, kok bubaran kajian sih Bu?"


"Ya kan pas kajian di pisah. Laki sama perempuan. Ya pas mereka keluar, ketemu. Kebetulan, teman sekolah Aa, saudaranya dia. Aa tanya-tanya deh sama temannya itu."


"Sudah kayak film di televisi saja, Bu" ujar Reza


"Jadi Aa ta'aruf?" tanya Tasya


"Ya, katanya ngobrol bertiga waktu pertama ketemu itu, selanjutnya ya gitu via pesan. Kan sekarang sudah canggih tuh, bisa video call segala macem" ucap Ibu


"Terus langsung minta nikah Bu?"

__ADS_1


"Dia tanya dulu, Ibu kalau Aa nikah. Gimana? Boleh?" Ibu Tertawa memperagakan ucapan Rasya


"Malah nanya ih A Rasya dasar"


"Bilangnya kasihan sama Ibu, makanya nanya dulu. Tapi dia bilang, habis nikah mereka mau tinggal disini saja, biar istrinya temani Ibu disini."


"Ya Alhamdulillah Bu, jadi Ibu gak kesepian."


"Iya. Ibu gak masalah sih Aa mau tinggal dimana juga. Yang namanya sudah rumah tangga kan beda lagi"


"Cuma balik lagi sama Aa. Kalau Aa bilang mau disini. Ibu alhamdulillah."


"Kalaupun misalnya istrinya gak mau serumah, biar Aa bikin rumah yang dekat sama rumah kita."


"Jadi Ibu sudah ketemu sama calonnya?" tanya Reza


"Belum. Baru dengar suaranya saja."


"Terus itu bisa jadi gimana?"


"Jadi, Aa yang minta minggu depan nikah. Ini baru obrolan Aa sama dia. Rencananya, besok kita kesana untuk memastikan lebih lanjut"


"Alhamdulillah kamu datang, jadi kita bisa komplit kesana." ujar Ibu.


"Aku pikir, sudah fix Minggu depan."


"Ya dari pihak wanitanya juga sudah bilang sama keluarganya kalau Rasya ngajak nikah minggu depan."


"Oh gitu. Intinya sudah saling bicara sama keluarga. Cuma belum ketemu. Gitu Bu?" tanya Reza


"Iya begitu maksudnya."


"Terus nanti baju pengantin dan lainnya gimana? Kata Aa nikahnya disini?" Tanya Tasya


"Iya. Dia katanya sudah gak punya Ayah. Terus ya Ibu ingin syukuran juga. Sekalian saja disini. Biar gak repot."


"Makanya, nanti kamu anter Ibu deh ke rumahnya. Siapa tahu dia juga mau ikut beli buat seserahan."


"Oh iya seserahan. Eh mas kawin gimana?"


"Iya sama mas kawin juga belum. Sama sekali belum apa-apa deh pokoknya. Aa bilangnya ingin nunggu kamu datang"


"Ya sudah, nanti kita gerak cepat saja Bu."


"Papi, besok berarti jangan dulu pulang. Ikut dulu ke rumahnya calonnya Aa."


"Iya Mam. Masa Papi pulang duluan."


"Emang Reza gak cuti?"


"Cuti Bu, tapi ada yang gak bisa ditinggal kerjaannya. Nanti aku kesini lagi bareng Papa. Hari jumat lah Bu" ucap Reza.


"Iya deh, asal hari H semua kumpul."


***


"Pegel Pap?" tanya Tasya begitu masuk kamar melihat Reza yang sedang merebahkan tubuhnya.


"Dikit sih Mam"


"Ya sudah, sini Mami pijit"


"Papi ingin tidur di Mami saja." ucap Reza


Mereka mengubah posisinya. Kepala Reza kini berada dipangkuan Tasya.


"Tumben manja" Tasya memijit kening suaminya.


"Mam, Papi jadi inget Mami awal nikah"


"Apa?"


"Mami takut sama Papi" mereka tertawa.


"Gimana gak takut. Biasa lihat Aa sama Ayah. Eh tiba-tiba orang asing yang sangat menyebalkan bisa sekamar." ujar Tasya.


"Sekarang kebalik kita, Mam"


"Kebalik bagaimana?"


"Ya kalau Mami marah, Papi yang takut" Reza tertawa


"Ih Papi! Dasar!" Reza hanya tertawa.


"Moga princessnya Papi segara hadir Mam."


"Jangan gitu ah Pap. Belum tentu juga. Lagian, buat aku dua saja sudah cukup." ucap Tasya


"Satu lagi Mam. Biar gak kesepian. Tahu sendiri anak laki-laki kalau sudah dewasa pasti gak betah dirumah. Mami nanti gak ada teman." ucapnya


"Ya mudah-mudahan di kasih lagi."


"Makanya kalau Papi mau ikhtiar itu jangan ditolak terus.


"Iya tapi kan akhirnya apa coba? Keinginan Papi terpenuhi kan?"


"Iya. Awalnya di tolak lama-lama goyang sendiri"


"Papi ih! Mulai deh ngomongnya. Sudah tua Papi"


"Anak masih Playgroup Mam, tua dari mana? Kalau mereka sudah SMA, baru tua" ucap Reza


"Eh si tua gak ganggu kita Mam."


"Haha.. Iya. Dia anteng disini. Aku gak ngerti deh Pap, dia pikirannya kadang bisa jauh banget"


"Bagus. Nantinya dia kritis sama keadaan. Gak mudah terima gitu saja kalau tidak sesuai dengan logikanya"


"Iya sih, anehnya laki-laki di sekelilingku gak ada satupun yang bisa cool, yang kalem. Semuanya sama." ucap Tasya


"Mam, kalau kebanyakan diam nanti bau mulut tahu" ucap Reza.


***


"Pa, katanya aku punya Mama baru, mana Pa?" tanya Vano


"Sabar. Mau telepon gak?" pancing Rasya


"Mau Pa."


Tasya mendekati mereka saat suara sambungan telepon.


"Assalamu'alaikum" suara diseberang sana membuat Rasya sedikit gugup.


"Jawab Bang" titah Rasya


"Wa'alaikumussalaam."


"Eh siapa disana?" tanya gadis itu


"Ini Vano. Pa, mana gak ada gambar Mamanya" Vano malah bertanya pada Rasya


"Eh? Mama siapa?" Gadis itu nampak bingung


"A Rasya punya anak?" tanyanya


"Assalamu'alaikum." Tasya merebut ponselnya.


"Wa'alaikumussalaam."


"Teh, ini Tasya. Adiknya A Rasya."


"Oh, ada disini?"


"Iya. Sudah disini."


Tasya menjauh dari Rasya, sementara Rasya mengikutinya.


"Aa sana gak? Kalau masih ngikutin, gak aku bantu" Tasya mengancamnya


"Neng, jangan bicara macem-macem" pinta Rasya


"Iya. Sana ajak main Vano sama Daffa lagi" pinta Tasya. Rasya segera meninggalkan mereka.


"Maaf ya teh, aku sok kenal sok dekat. Hehe. Gak apa-apa ya? Kan calon teteh ipar aku juga"


"Ih, gak apa-apa kok. A Rasya beberapa kali cerita punya adik perempuan."


"Oh gitu, dia gak cerita yang aneh-aneh kan teh?" tanya Tasya

__ADS_1


"Enggak kok. Dia cerita adiknya sudah punya anak. Dia malah belum apa-apa."


"Hehe. Semoga semuanya dilancarkan ya teh. Aamiin"


"Terima kasih ya, sudah support. Padahal kita belum ketemu." ucapnya


"iya Teh. Besok kan kita ketemu."


"Hehe iya. Di tunggu ya di rumah"


"Siap InsyaAllah. Sampai jumpa besok ya teh. Assalamu'alaikum."


Rasya mendekat saat melihat Tasya menyudahi perbincangan mereka.


"Aa, astaghfirullah A.. "


" apa? Kenapa Sya?"


"Aku gak tahu siapa namanya. Kok aku lupa tanya. Haha" Mereka Tertawa


"Aa pikir Ibu sudah kasih tahu"


"Aku lupa gak nanya" Tasya masih tertawa.


"Masa aku mau tanya sama calon aa. Gengsi dong"


"Mami gimana sih? Sok kenal sok dekat. Namanya saja belum tahu, tapi dengan pedenya sudah bilang calon ipar" Reza tertawa.


"Makanya ajak jalan-jalan A. Biar gak tulalit istrinya" ledek Rasya


"Tahu nih Papi, masa aku gak d ajak jalan-jalan"


"Kan nanti Mam. Kita balapan sama Rasya."


"Balap apa?"


"Siapa yang punya anak duluan. Haha"


"A Reza ih! Gak tahu malu sudah punya anak dua juga"


"Aa dulu lah. Kalian nyusulnya nanti kalau anak Aa sudah setahun kek" Rasya gak mau kalah


"Sorry Bro, bibitku terlalu unggul. Buktinya kemarin saja kebobolan kan" Reza membanggakan diri


"Kita lihat saja siapa yang paling dulu" Rasya masih tak mau kalah


"Ih kalian bahas apa sih!"


"Bibit unggul lah Sya"


"Bibit unggul Papi" jawab mereka kompak.


"Bibit unggul itu apa?" Vano menghampiri mereka setelah berbincang dengan Pak Taufik


"Nih si bibit unggul datang. Saking unggulnya pikirannya sudah melebihi usianya" celetuk Reza membuat mereka tertawa.


"Aku gak kebayang kalau Daffa juga punya sifat yang sama kayak dia. Rumah kalian sepertinya isinya tausiah dari mereka berdua." ujar Rasya membuat mereka tertawa kembali.


"Alhamdulillah, rumah ibu biasanya jam segini tuh sepi eh sekarang masih rame. Ibu senang sekali" ucap Ibu menghampiri ketiganya saat mendengar tawa mereka


"Rame Nin, kan ada bibit unggul kata Papi sama Papa" Tasya, Rasya, dan Reza terbahak. Mereka tak henti tertawa mendengar si bibit unggul bicara


"Sakit perutku Ya Allah. Enak banget ketawa lepas begini. Rasanya sudah lama gak begini"


"Iya Mam. Alhamdulillah hiburan nih bibit unggulnya Papi"


"Haruslah, keturunan kita mah harus bibit unggul. Iya gak Bang?" Pak Taufik menimpali.


"Memang masalahnya apa kalau gak bibit unggul?" tanya Vano.


"Haha.. Masalahnya apa? Ya ampun bahasanya dia, tahu dari mana sih?" tanya Pak Taufik


"Rahasia aku King. King gak usah tahu ya. Kan rahasia" ucapnya. Semua tertawa kembali.


***


"Semua sudah siap?" tanya Tasya


"Sudah deh kayaknya."


"Hampers sudah Mbak?"


"Sudah di mobil Bu"


"yuk berangkat" ajak Tasya


"Aku mau sama Papa" pinta Vano


"Apa uga miii"


"Daffa juga?"


"uum"


"Ya sudah, Nin sama King disini saja"


"No, Mami. Aku mau sama Nin, King, Papa" ucapnya


"Oke. Mbak saja ikut kita"


"Kata Papi mau bikin adek bayi. Mami sama Papi saja berdua"


"Haha.. Gak sekarang kali Bang bikinnya" Reza merasa sedikit malu.


"Ya sudah. Sana kalian berdua saja" ucap Ibu


"Bye anak-anak. Alhamdulillah Mami Papi bisa pacaran" ucap Reza


Kedua mobil tersebut melaju ke rumah calon istri Rasya.


"Untung aku bawa baju formal Pap."


"Rasya sih gak jelas ngasih tahunya" gerutu Reza


"Maklum Pap lagi kasmaran. Jadi yang diingat ya wajah calonnya saja"


"Haha iya."


"Dulu mah kita boro-boro kayak begitu. Mendekati hari H itu rasanya takut."


"Sekarang takut ditinggalin ya Mam?"


"Jelaslah. Kan cinta dunia akhirat sama Papi"


"Haha.. Tumben gombal" Reza tertawa.


Tak berapa lama mereka tiba dirumah calon istri Rasya.


"Kita dimana Mami?" tanya Vano


"Di rumah calon Mama kamu, Bang"


Mereka masuk ke dalam rumah yang sederhana. Disana mereka disambut oleh keluarga calon istri Rasya sementara calon istrinya masih berada di kamarnya menunggu namanya dipanggil oleh keluarga.


"Jadi kesini Aden Rasya mau melamar siapa?" tanya salah satu tetua


"Zahra, Wa"


"Zahra siapa?"


"Zahra Khairunnisa, Wa"


Mereka menunggu Zahra keluar


"Coba dipanggil Zahranya?" ucap Uwa Zahra


Zahra keluar dengan dress kebaya berwarna biru tua senada dengan batik yang dikenakan Rasya.


"Loh? Zahra?"


"Tasya?"


Keduanya nampak terkejut.


.


.


.

__ADS_1


Temaans terima kasih masih setia menunggu BSN. Tetep absen ya dengan like dan komentarnya. Jangan lupa vote juga yaa.. Terima kasih ^^


__ADS_2