
"Memang tidak terasa Pap itu bannya kempes!" Tasya kesal
"Terasa, cuma takut Mami panik saja. Makanya Papi diam" ucapnya
"Minum dulu Neng" Rasya menberikan sebuah air mineral dingin pada Tasya yang dibelinya di warung depan bengkel.
"Sudah. Yang penting kita semua gak apa-apa" ucap Ibu
"Lapar sayang?" tanya Reza yang kasihan pada Tasya
"Sudah hilang sama panik tadi" ucap Tasya yang masih kesal
Reza pergi ke warung depan untuk membeli cemilan.
"A, temani A Reza. Dia mana tahu jajanan warung" pinta Tasya pada kakaknya
Rasya pergi ke depan warung menyusul Reza tanpa banyak bicara.
"Gak ada roti bermerek disini A" sindir Rasya
Reza tersenyum kecut.
"Belikan ini saja" Rasya mengambil beberapa buah wafer dan jajanan lainnya. Kemudian Reza membayarnya.
Mereka berjalan dengan Rasya membawa satu kantong plastik kecil berisi jajanan untuk sang adik tercinta.
Tasya menerima kantong plastik yang diberikan oleh Rasya.
"Buka A" pinta Tasya pada sang kakak.
"Ibu mau?" tanya Tasya pada ibu
"Ada permen gak?" tanya ibu
Rasya mengeluarkan permen dari saku celananya. Kemudian memberikannya pada ibu.
"Papi mau?" tanya Tasya kemudian
"Enggak. Buat Mami saja sama Dedek" tolaknya.
Setelah selesai, mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka.
***
"Enak sekali suasana disini. Ibu suka. Apalagi lihat seafoodnya segar-segar" ucap ibu seraya duduk di tempat lesehan, sebelumnya ibu sangat antusias saat memilih seafood.
"Iya, sayangnya lumayan jauh dari rumah" ucap Tasya
"Jadi ingat Ayah sama Papa. Waktu itu kita kesini komplit sekeluarga." ucap Tasya
"Nanti kita bisa berkumpul lagi. Apalagi nanti kita nambah anggota baru" ucap ibu
"Ibu sudah saja jangan pulang Bu. Temani Tasya disini" ucap Reza
"Kelamaan Nak. Kasihan Ayah sendirian. Paling nanti kalau sudah dekat ke perkiraan lahir, ibu nginep lebih lama. Apalagi nanti setelah lahiran, ibu pasti menemani" ucap ibu
"Ibu, wisuda aku dulu Bu" ucap Aa
"Memang Aa sudah lulus?" tanya Tasya
"Ya iyalah. Tinggal nunggu wisuda saja" ucap Rasya
"Ih Aa jahat sekali, aku gak dikasih tahu!" ucap Tasya
"Ibu kasih tahu kemarin Sya. Masa kamu lupa" ucap Ibu
"Masa sih? Perasaan ibu hanya bilang mau beres saja." ucap Tasya
"Kapan wisuda Bro?" tanya Reza
__ADS_1
"Bulan depan." jawab Rasya singkat
"Aku ingin semua kumpul. Tapi mengingat si manja lagi hamil besar. Terpaksa gak aku ajak." ucap Rasya
"Pokoknya nanti aku lahiran Aa harus ada!" pinta Tasya
"Iya sayang. Makanya Aa cepat-cepat lulus juga" ucap Rasya
"Asik. Nanti kan kumpul semua" Tasya senang
Tak lama, pesanan mereka tiba. Mereka menyantap makanan dengan sangat lahap.
"Enak sekali seafood disini. Alhamdulillah" ucap Ibu
"Iya Bu. Makanya ramai terus" Reza menimpali.
"Besok cerita lagi gak Bu?" sindir Rasya
"Cerita apa?" tanya Ibu
"Cerita sama teteh dan tetangga habis diajak makan seafood sama Tasya. Pilih sendiri ikannya, udangnya besar-besar" ucap Rasya menirukan ibu
Ibu tersenyum malu, mereka ikut tertawa.
"Ya habis mereka tanya, disini kemana saja. Bagaimana disini. Ya ibu cerita saja" ucap Ibu seraya tertawa.
"Ajak saja Bu sekali-kali kalau mereka mau" ucap Tasya
"Iya Bu, biar ramai" ucap Reza
"Nanti nih, ibu pulang ditanyain lagi pasti" ujar Ibu
"Nanyain Reza gak Bu?" tanya Reza sambil tersenyum
"Pastinya nomor satu itu" ucap Ibu
"Papi senang sekali ditanyain ibu-ibu juga" Tasya bersungut
"Aa, bukain" pinta Tasya pada kakaknya
"Manja banget sih" ucap Rasya sambil mengambil kepiting milik Tasya
"Susah tahu." ucapnya
Reza meliriknya tak suka. Dia memperhatian sang istri yang lebih manja pada kakaknya.
***
"Pegal sekali" ucap Tasya setelah dia membersihkan dirinya dan merebahkan tubuhnya pada headboard
Reza tak menyahutinya. Dia masuk ke dalam kamar mandi.
'Kenapa sih Papi kok berasa beda' batin Tasya
Tasya yang penasaran, menunggu suaminya selesai mandi.
"Pap, kapan mau renovasi kamar?" tanya Tasya mencari topik pembicaraan.
"Terserah" ucapnya singkat
"Biasanya berapa lama memang?" tanyanya kemudian
"Gak tahu" balasanya asal
"Papi kenapa? Perasaan sekarang-sekarang Papi sensitif sekali" ucap Tasya
"Gak apa-apa" ucapnya lagi
"Ada apa sih? Papi jadi begini terus. Aku gak suka" Tasya mulai kesal
__ADS_1
Reza diam tak menanggapinya. Dia merebahkan tubuhnya disamping sang istri seraya membelakanginya.
"Papi.. " Tasya memanggilnya lembut. Dia menurunkan tubuhnya menghadap sang suami.
Tangannya menelusup memeluk perut suaminya.
"Sayang kenapa?" tanya Tasya kemudian
Dia berusaha membalikan tubuh suaminya, tapi Reza menahannya.
"Papi gak kangen gitu sama Dedek?" ucap Tasya
"Tahu gak, Papi kayak begitu tuh buat aku kepikiran." ucap Tasya
Mereka saling diam.
"Ya sudah kalau Papi gak mau bicara" Tasya melepaskan pelukannya. Mereka saling memunggungi.
Tak lama Tasya mengubah-ubah posisi tidurnya karena tak nyaman. Dia kemudian duduk sambil mengelus perutnya. Dia merasakan anaknya tak henti bergerak sehingga membuatnya mual.
"Kenapa sih De?" gumam Tasya sambil mengelus perutnya.
Dia menurunkan kakinya. Tak lama, dia merasakan ingin muntah. Tasya segera berlari ke kamar mandi.
Reza yang menutup matanya kemudian berbalik saat sang istri masuk ke kamar mandi. Dia khawatir, tapi gengsinya lebih besar. Dia dengan sengaja pura-pura tidur.
Tasya keluar dari kamar mandi dengan mata memerah setelah memuntahkan isi perutnya. Dia mencari minyak angin dan menghirupnya.
Tak lama dia keluar kamar hendak membuat teh manis hangat.
"Aa belum tidur?" tanya Tasya pada sang kakak saat mendapatinya masih asyik menonton televisi
"Belum ngantuk. Tanggung juga" ucap Rasya
"Mau apa kamu Neng?" tanya Rasya
"Bikin teh manis hangat. Aku mual" ucapnya
"Sini, Aa yang bikin" Rasya beranjak kemudian menuangkan teh dan gula ke dalam gelas.
"Apa tiap malam kamu begini?" tanya Rasya yang kasihan terhadap sang adik
"Begini bagaimana?" tanya Tasya
"Bikin teh tengah malam sendirian" ucap Rasya
"Baru sekarang A. Aku gak bangunkan A Reza karena kasihan. Dia kayaknya lelah sekali" dalih Tasya
Setelah selesai, Tasya ikut nonton disamping sang kakak. Dia merebahkan tubuhnya di sofa. Sementara Rasya duduk di karpet dibawah Tasya.
"Aa.. "
"Apa?"
"A janji ya, aku lahiran Aa disini" ucap Tasya
"Iya."
"Kamu jangan banyak pikiran. Kasihan ponakan Aa" ucapnya
"Aku sebenarnya ingin pulang ke rumah, lahiran disana" Tasya mencurahkan keinginannya
"Sabar sih Neng. Kamu sudah jadi istri orang. Harus nurut sama A Reza. Kasihan dia kalau kamunya bandel" ucap Rasya
"Siapa juga yang bandel. Aku nurut kok. Gak lihat apa adikmu ini sholehah" Tasya memuji dirinya sendiri
"Iya" Rasya tak mau berdebat
Reza yang menunggu Tasya tak kunjung datang, dia memutuskan untuk keluar kamar. Dia merasa geram saat melihat sang istri sedang bercanda dengan kakaknya. Dia menghampiri mereka.
__ADS_1
"Sya! Kamu gak tidur!" ketusnya