
Reza membalikan tubuh Tasya
"Sun saja sayang. Kamu ketakutan begitu" ucap Reza
"Enggak takut kok" bohongnya. Walau sebenarnya Tasya memang sangat khawatir akan kandungannya jika Reza meminta haknya.
"Sya.. Aa masih gak nyangka" ucapnya sambil menatap lekat mata Tasya
"Apa?" tanya Tasya
"Hidup kita kaya naik wahana roller coaster" ucap Reza
"Namanya hidup A. Kalau diam saja berarti mati" ucap Tasya asal
"Kamu ini" Reza mencolek hidung Tasya. Keduanya tersenyum
"Sya.."
"Hmm.."
"Aa masih gak nyangka" ucapnya lagi
"Iya"
"Apa coba?"
"Apa?"
"Gadis hamilku dewasa sekarang. Aa gak nyangka"
"Apa sih A Reza!" Tasya tersipu
"Nanti kamu mau apa? Aa belikan" ucapnya bangga
"Tabung dulu untuk anak kita sayang" pinta Tasya
"Oh iya lupa. Persiapan empat bulanan sayang" ucapnya
"Tuh kan, jalan empat bulan anak kita. Harusnya Aa buka puasa dari kemarin-kemarin" rengeknya
"Rugi Aa, Sya" keluhnya lagi
"Sekarang ya?" pintanya
"Aku lelah sayang" bohongnya lagi
"Ya sudah. Sun saja" Reza cemberut
Namun bukan Reza namanya kalau tidak berhasil menaklukan Tasya. Dengan dalih hanya mengecupnya, dia mendapatkan hal yang selama ini dia inginkan.
"Terima kasih sayang" ucapnya sambil membelai lembut kepala Tasya. Ada kepuasana disana.
Tasya hanya tersenyum membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"Besok lagi ya" pintanya seraya berbisik
"Kata dokter jangan sering-sering A" ucap Tasya
"Baru sekali. Besok dua kali. Gak sering kan. Masih bisa dihitung jari." dalih Reza
"Dasar nakal" tasya memeluk erat tubuh suaminya.
***
Keesokan paginya, Tasya bangun dengan tubuh hanya berbalut selimut. Dia mengingat hal yang dilakukan bersama suaminya tadi malam.
"A.. " Tasya berteriak
Tak ada jawaban disana. Tasya segera membuka ponselnya, dilihat pesan masuk dari sang suami.
'Sayang, Aa ke hypermarket buat antar barang ya, sekaligus tanda tangan kontrak kita. Doakan lancar ya sayang. Love you mami dan dedek. Terima kasih untuk semalam sayang. Nanti Aa mau lagi. Hehe. O ya, nanti Aa jemput'
"Dasar a Reza" Tasya tersenyum senang.
__ADS_1
Dia kemudian menulis pesan kepada Lala, mengabarkan bahwa dia akan terlambat ke kantor. Setelah itu, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa lama, Tasya telah bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia duduk di kursi depan.
"Mana Reza, Nak?" tanya Pak Danu
"Ke hypermarket untuk tanda tangan kontrak Pa" ucapnya
Pak Danu tertawa pelan
"Dasar anak itu" ucapnya
"A Reza kemarin cemberut Pa, gara gara Papa gak memujinya" Tasya tersenyum
"Suamimu memang begitu dia. Syukurlah, dia bisa mengatasi semuanya" ucap Pak Danu
Suara klakson dari luar rumah mengagetkan mereka. Tasya segera pamit pada sang mertua kemudian berjalan menghampiri suaminya.
"Bagaimana sayang?" tanya Tasya
Reza mengembangkan senyumnya.
"Bahagia lahir batin Aa, Sya" ucapnya
"Kapan kita nengok dedek lagi sayang?" Tanya Reza kemudian
"Kan sudah semalam A. Ingat apa kata dokter Felly" ucap Tasya
"Kamu masih mau ya?" goda Reza
"Ih apa sih A Reza" ucapnya
"Orang Aa nanya kapan kita ke Dokter Felly. Wee" ledeknya
"Habis bahasanya ambigu sekali" balas Tasya
"Hari ini yuk?" ajak Reza
"Ayo. Tapi ke kantor dulu ya." ajak Tasya
***
"Alhamdulillah, permintaan kita malah jauh lebih meningkat kalau saya kalkulasikan Pak" ucap Pak Bambang.
"Itupun diluar penjualan yang dilakukan Bu Tasya, Pak" tambahnya.
"O ya? Bagaimana penjualan Tasya, Pak Bambang?" tanya Reza
"Sejauh ini permintaan mereka meningkat. Walaupun memang harus bongkar barang" balas Pak Bambang
"Wah, Bapak benar-benar tidak salah memilih istri. Selain cantik, Bu Tasya juga smart Pak" pujinya
"Jangan memujinya Pak, nanti saya cemburu" canda Reza
Keduanya tertawa senang
***
Disudut lain, Lala dan Tasya membuat list nama-nama reseller mereka. Mereka nampak sibuk dengan pesanan-pesanan yang masuk.
"Bu, aku kemarin ketemu Keenan" ucap Lala
"Ciee Lala ada kemajuan" goda Tasya
"Ih ibu. Tidak sengaja Bu. Keenan kecelakan" ucap Lala
"Astaghfirullah.. Terus bagaimana La?" Tasya kaget
"Tidak apa-apa bu, hanya lecet-lecet saja." ucapnya
"Syukurlah." ucap Tasya yang masih sibuk dengan kertas ditangannya
'Untung bu Tasya gak tanya macam-macam. Duh mulut! Ember banget sih!' batinnya
__ADS_1
"La, nanti aku tinggal ya. Aku mau cek kandungan. Sudah telat ini dari jadwalnya" ucap Tasya
"Iya bu" balasnya singkat
***
"Sya, Dokter Felly jadwalnya jam lima sore" ucap Reza mendekat
"Ya sudah. Berarti sampai kita pulang kerja kalau begitu" ucap Tasya
"Asiik. Aku gak di tinggal sendirian" sahut Lala
"Iya La, anakku sepertinya kasihan sama kamu" balas Reza
"Iya, dia sepertinya jatuh cinta sama saya Pak" Lala tak mau kalah
"Sembarangan! Dia cuma iba sama kamu" Reza menyahutnya
"Duh kalian, jadi salah kan berhitungnya" Tasya ngomel
Keduanya segera menjauh. Lala menyibukan diri depan layar monitor, sementara Reza berlalu ke ruangannya.
'Bisa melayang kapak Wiro Sableng kalau dia sampai marah' batin Reza begitu masuk ruangannya.
'Eh, tapi dia sudah lama sekali gak marah-marah. Duh gadisku makin sholehah saja' batinnya. Tanpa sadar Reza tersenyum sendiri.
Sore hari tiba. Tasya memoles wajahnya agar nampak lebih segar.
"Cantik sayang" puji Reza
"Apa sih A? Ini agar tidak terlihat terlalu kusam saja. Nanti Aa malu lagi jalan sama aku kalau akunya dekil" ucap Tasya
Reza hanya melempar senyumnya.
Mereka berjalan bergandengan tangan seperti biasa masuk ke dalam mobil. Reza mengecup lembut bibir Tasya.
"Rasanya sudah lama sekali Aa tidak serileks ini Sya" ucapnya
"Aku juga A. Rasanya sudah lama sekali Aa tidak memanjakanku" ucapnya
"Nanti malam sayang" ucapnya
"Tuh kan kesitu terus" Tasya protes
"Nagih sih sayang" Jujurnya
Mobilpun melaju kala mentari hendak pulang keperaduan.
Hari ini mereka menunggu giliran konsultasi dengan lebih tenang daripada bulan-bulan sebelumnya. Mereka berbincang seolah tak habis pembicaraan mereka. Sesekali Reza melemparkan candaan pada sang istri. Rona bahagia nampak pada wajah keduanya.
"Nyonya Tasya" panggil perawat diambang pintu
Keduanya melangkah masuk kedalam ruangan.
"Yuk langsung saja" ajak Dokter Felly begitu mereka masuk ruangan.
"Kemarin masih sebesar kelengkeng ya, sekarang sebesar buah lemon" ucap dokter sambil menggerakan transducer.
'Anakku apa kamu buah-buahan? Dokter itu bicaranya menyebalkan sekali' batin Reza
"Beratnya sekarang sekitar empat puluh lima gram ya Bu" ucapnya kemudian
"Ada keluhan bu?" tanyanya seraya menyimpan tranducer.
"Tidak Dok. Alhamdulillah. Saya malah lebih berenergik sekarang" jujur Tasya
"Iya memang bawaan setiap hamil berbeda-beda. Ibu beruntung tidak banyak keluhan. Setidaknya aktifitas ibu tidak banyak terganggu" ucapnya
"Tapi ibu juga harus waspada, sekalipun tidak ada keluhan. Alangkah baiknya ibu tidak banyak melakukan hal berat" ralatnya
"Baik dok"
"Ada yang ditanyakan Pak?" goda dokter Felly yang teringat akan pertanyaan Reza bulan lalu
__ADS_1
"Tiap hari boleh dok?" Reza menyeringai