BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Belanja


__ADS_3

Kehamilan Tasya memasuki trimester tiga. Kini perutnya semakin membuncit. Keluhan tak bisa tidur, cepat lelah, dan panas dibagian pinggang menjadi makanan sehari-hari untuk dirinya.


Namun karena dia memiliki Batita, terkadang dia harus mengabaikan semua keluhannya. Dia selalu menjadi ibu siaga untuk putra sulungnya yang masih membutuhkan perhatian ekstra dari dirinya.


Tasya masuk ke dalam kamar anaknya yang bernuansa biru muda dengan wallpaper bergambar binatang. Disana terdapat dua tempat tidur tingkat ditambah dengan area bermain anak dengan pernak pernik edukatif untuk Vano dan adiknya kelak.


Reza menggabungkan dua kamar tidur menjadi satu agar anaknya bisa leluasa bermain dikamarnya sendiri saat mengetahui calon anak ketiganya berjenis kelamin yang sama dengan kakaknya.


Reza sengaja membuat wall climbing mini, perosotan dan ayunan serta memberikan playmate disekelilingnya untuk keamanan anak mereka. Tak lupa, mainan mobil-mobilan, bola, dan berbagai jenis mainan lainnya Reza simoan dalam sebuah kontainer berbentuk mobil yang bisa Vano baea kemana-mana.


Tasya meletakan baju bayi bekas Vano pada salah satu laci lemari pakaian anaknya. Dia duduk menyaksikan anaknya yang sedang bermain bersama Mbak Diah. Tak lama, suara pintu kamar terbuka.


"Mam, sudah siap?" tanya Reza


"Sudah, mau berangkat sekarang?" Tasya bertanya balik


"Iya. Ayo." ajak Reza


"Ayo Mbak. Jangan lupa sepatu Vano ya" pinta Tasya pada Mbak Diah.


Hari ini rencananya mereka mau membeli beberapa perlengkapan baju adik Vano. Tasya awalnya tak ingin membeli baju baru untuk adiknya karena baju Vano dirasa masih bagus untuk dipakai adiknya. Seperti tradisi di kampungnya, setiap baju bayi selalu dipakai turun temurun. Namun dengan halus Reza menolaknya karena dirasa tak adil untuk anak dalam kandungannya kalau harus memakai baju bekas. Sementara sang Papi mampu membeli banyak baju untuk mereka.


Tasya menghampiri suaminya masuk ke dalam kamar mereka untuk mengambil tas miliknya.


"Mam, beliin Papi sepatu bola lagi ya?" pinta Reza yang kini tengah aktif bermain sepak bola bersama teman-temannya.


"Kemarin bukannya mau beli online?" tanya Tasya


"Gak jadi Mam. Kan kemarin Mami yang nyuruh beli langsung." ucapnya


"Oh, ya sudah. Ayo berangkat" ajak Tasya


Seperti biasa, Reza menarik lengan istrinya dan memberikan kecupan diseluruh wajah istrinya.


"Love you Mami" dengan menyatukan jemarinya membentuk simbol hati.


"Dasar." Tasya tersenyum melihat tingkah suaminya yang semakin menjadi.


"Gak di jawab. Tuh kan" Reza pura-pura cemberut.


"Apa sih Papi?" Tasya tersenyum melihat suaminya yang mencebikan bibirnya dengan tangan yang bersidekap.


"Iya love you too" Balas Tasya kemudian


"Ayo cepetan, Vano nungguin tuh" ucap Tasya menuntun suaminya.


Reza melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia memutar lagu anak-anak untuk Vano. Vano yang senang, ikut berjoget sesuai dengan lagu tersebut.


Tiba di Mall, Reza mengambil karcis parkir dan mencari parkiran yang kosong. Setelah mendapat tempat parkir yang tidak jauh dari pintu masuk Mall, mereka segera turun.


"Papi, beli dulu jus, Pap. Aku haus" pinta Tasya saat mereka masuk ke dalam Mall.


Reza segera menuruti keinginann istrinya. Setelah membeli jus, mereka naik ke lantai dua dengan menggunakan eskalator.


Saat menaiki eskalator, Reza yang berada dibelakang Tasya memeluknya sambil mencondongkan tubuhnya.


"Papi" Tasya yang kaget dengan refleks menyikutnya


Reza hanya tertawa.


"Gak tahu malu, ini diumum" omel Tasya


"Habis, lihat Mami dari belakang gemes banget" ucap Reza


"Papi mah, tuh anaknya gendong. Kasihan Mbak Diah" ucap Tasya


"Tau gitu tadi si Abang jangan di ajak ya Mam." ucap Reza


"Kasihan tahu. Sana gendong Vano." titah Tasya


Reza mengambil Vano dari Mbak Diah kemudian menggenggam tangan istrinya. Tasya merasa sangat senang dengan sikap Reza demikian. Tiba-tiba Tasya ditarik masuk ke dalam toko sepatu.


'Kirain so sweet beneran. Tahunya ada maunya' batin Tasya


Reza menurunkan Vano dan membiarkan dia bermain sementara Tasya mencari tempat duduk.


"Mami, ini bagus gak?" tanyanya


"Bagus Pap" ucapnya singkat seraya memainkan ponsel


Reza kembali menyusuri rak sepatu dan kembaki menghampiri istrinya.


"Kalau yang ini?" tanya Reza lagi


"Bagus juga" ucapnya


"Kata Mami bagus yang mana?"


"Dua-duanya bagus sih Pap" ucapnya singkat


"Ih dia mah, diminta pilihin juga" gerutu Reza yang membuat pelayan sedikit tersenyum.


Reza melihat pelayan tersebut yang menertawainya.


"Menurut Mbak bagus yang mana?" tanya Reza pada pelayan tersebut.


Tasya yang mendengarnya, menoleh ke arah Reza


"Papi yang mau pakai sepatunya tapi malah tanya ke orang lain." ucap Tasya protes. Tasya sedikit cemburu pada Reza.


Tasya yang kesal segera berdiri menghampiri anaknya dan keluar toko sambil menuntun Vano. Dia menunggu Reza diluar toko.


Dari kejauhan seseorang memperhatikan Tasya sambil berjalan mendekat ke arahnya. Sementara Tasya disibukan dengan vano yang tak bisa diam.


"Istrinya Reza?" sapa seseorang.


Sesaat Tasya mematung mengingat lelaki tersebut.


"Adam, Mbak" Adam menyodorkan tangannya.


"Oh Mas Adam. Maaf ya aku lupa" Tasya tersenyum kikuk.


"Mana Rezanya Mbak?" tanya Adam sambil menatap Tasya.


"Di dalam" Tasya menunjuk ke arah toko sepatu.


"Wah, lama juga gak bertemu ya Mbak. Dulu hamil dia kan?" tanya Adam menunjuk Vano yang bermain dengan Mbak Diah


"Hehe iya Mas." Tasya sedikit malu


"Sekarang ketemu sedang hamil juga. Reza doyan banget" ucapnya.


Tasya hanya tersenyum kikuk.


"Gimana gak doyan sih, Mbaknya cantik begitu" ucap Adam terang-terangan.


'Sudah lama gak ketemu saja aku masih hafal banget sama auranya' batin Adam


Tasya merasa malu saat mendengarnya.

__ADS_1


"Mas Adam sendirian?" tanya Tasya


"Enggak. Aku nganter keponakan. Tapi mau cari minum dulu." ucap Adam


"Oh"


"Nomor ponsel Reza masih yang dulu?" tanyanya.


"Iya. Gak pernah ganti kok"


"Boleh minta lagi gak Mbak. Ponselku ganti, kontaknya sebagian hilang" ucap Adam


"Tulis saja Mbak" Adam memberikan ponselnya pada Tasya tanpa mendapat persetujuannya terlebih dahulu.


Tasya mengetikkan nomor ponsel Reza yang sudah dia hafal diluar kepala.


"Nomor Mbaknya sekalian dong" pinta Adam


"Heh?" Tasya mencerna ucapan Adam


"hehe becanda Mbak." ucap Adam


Reza keluar dari toko dengan membawa plastik ditangannya.


"Dam?" sapa Reza


"Eh Za, gimana kau ini. Istri sama anak nunggu diluar, kau asik sendiri belanja" ucap Adam seraya menonjok pelan lengan Reza.


Seketika Reza tak suka mendengar ucapan Adam.


"Haha.. Sudah biasa. Sedang apa kau?" tanya Reza malas.


"Biasalah nganter keponakan"


"Oh. Ya sudah, aku duluan ya Dam" ucap Reza menggandeng tangan Tasya.


Reza cemburu melihat Tasya yang berbincang dengan Adam. Dia tahu, Adam dulu terang-terangan menyukai Tasya.


"Lama ngobrol sama Adam?" ucap Reza ketus


"Lama minta saran sama si Mbak tadi?" Balas Tasya


"Papi cuma tanya Mam."


"Adam juga cuma tanya kok."


Reza mendengus kesal. Begitupun dengan Tasya, melepaskan genggaman suaminya. Tasya memundurkan langkahnya mensejajarkan dengan Vano karena kesal dengan Reza.


Vano meminta Tasya menggendongnya. Dengan sigap Tasya menggendong Vano.


"Jangan Bu, kasihan kandungannya" ucap Mbak Diah.


"Gak apa-apa Mbak, sebentar kok" ucap Tasya yang kini memperlambat jalannya. Nafasnya sedikit tersengal.


Reza melirik ke belakang, dia terkejut melihat Tasya yang sedang menggendong putranya.


"Mbak kok istri saya dibiarkan gendong Vano!" ucap Reza sedikit keras seraya mengambil paksa Vano.


"Apa sih? Orang aku yang mau gendong" Tasya membela Mbak Diah. Sementara Mbak Diah hanya diam tak berani bicara.


"Kamu sadar dong Mam! Kamu lagi hamil besar!" Reza kini balik memarahi Tasya


"Terus kalau anaknya mau digendong aku, aku harus diam saja gitu?" ucap Tasya kesal.


"Kan bisa nyuruh Papi gendong dia. Apa susahnya!" ucap Reza


Tasya malas menanggapi Reza. Dia berjalan masuk ke dalam toko. Didalam toko, Tasya hanya melihat-lihat pakaian untuk anaknya karena hatinya masih kesal dengan sikap Reza.


Tasya hanya membeli beberapa perlengkapan persiapan persalinan. Dengan segera dia menuju kasir.


"Kok dikit Mam?" Reza kini berada disampingnya


Kasir tersebut mendongakan kepalanya melihat Reza sepintas. Sementara Tasya, tak menghiraukan ucapan Reza. Setelah selesai membayar, Reza merebut barang bawaannya seraya hendak menggandeng tangan istrinya. Tasya yang sadar segera berjalan lebih cepat menghampiri Vano.


"Yuk kita pulang Mbak" ajak Tasya pada Mbak Diah agar didengar oleh Reza


"Mam, katanya mau ajak main Vano" Ucap Reza


Tasya masih tak menggubrisnya. Hingga Reza mensejajarkan jalannya bersama Tasya.


"Maaf" ucap Reza tepat ditelinga Tasya


Tasya tak meliriknya. Dia masih lurus memandang ke depan.


"Maaf Mam, Papi lost control." sesak Reza


"Vano, main dulu yuk" ajak Reza. Mereka naik ke area bermain. Tasya segera mencari tempat duduk.


Reza menyerahkan Vano pada Mbak Diah, dia segera keluar area bermain. Tasya hanya melihatnya sepintas kemudian mengalihkan pandangannya kembali melihat sang anak yang antusias bermain.


'Paling dia ke kamar mandi' batinnya.


Setelah beberapa lama, Reza membawa es krim ditangannya. Dia menghampiri Tasya.


"Maaf sayang" Reza menyerahkan es krim tersebut.


Tasya sedikit terhibur dengan usaha Reza.


"Ini ambil Mam. Keburu meleleh" ucapnya


Tasya mengambilnya dengan pura-pura malas.


"Maaf ya sayang" Reza membungkukan badannya mengecup puncak kepala istrinya.


"Sana lihat Vano" ucap Tasya


"Papi temani Vano main ya sayang" ucapnya lembut.


Reza segera meninggalkan Tasya melihat anaknya.


"sama saya saja Mbak" ucap Reza


Mbak Diah menghampiri Tasya.


"Mbak mau?"


"Enggak Bu" ucapnya


"Maafkan A Reza tadi ya Mbak" ucap Tasya


"Gak apa-apa Bu, salah juga saya ngebiarin Ibu gendong Vano" ucapnya


"Enggak kok. Akunya juga gak apa-apa" ucap Tasya.


Puas bermain, Reza dan Vano menghampiri Tasya yang masih menunggunya.


"Yuk beli lagi baju Dedek" ajak Reza


"Jangan disini Pap, aku baru ingat toko yang waktu itu sama Ibu itu loh" ucap Tasya

__ADS_1


"Oh iya. Ya sudah, mau kesana?" tanya Reza


"Ayo." Ucap Tasya. Kini dia bersikap biasa kembali setelah mendapat sogokan es krim dari suaminya.


Reza menggenggam tangan Tasya.


"Sayang.." Reza menunjuk toko dalaman wanita dengan dagunya. Tasya melirik ke arahnya.


"Males Pap" ucapnya


"Sudah lama Mam" Reza memelas.


Kehamilan kali ini, Tasya sering menolak ajakan Reza untuk penyatuan mereka karena perutnya yang terasa sangat tidak nyaman. Untungnya Reza mengerti dan tak banyak protes.


"Sabar. Dedeknya bosen ketemu Papi. Jadi bawaannya males banget" Tasya menyeringai. Alasan yang sama yang selalu terlontar dari mulutnya. Reza hanya mendengus pasrah seraya naik ke atas mobil.


"Kita kesana saja?" tanya Reza


"Iya Pap" ucak Tasya


Reza merogoh sakunya mencari sesuatu. Dia membuka laci mobil, melihat ke sela-sela kursi mobil dan juga membuka tempat kacamata.


"Cari apa sih Pap?" tanya Tasya yang melihat Reza yang kebingungan.


"Tiket parkir Mam. Papi kasih ke Mami gak sih?" tanyanya masih merogoh saku celananya


"Sejak kapan tiket parkir Mami yang ambil" ucap Tasya seraya ikut membantunya.


"Terus kemana dong Mam?" tanya Reza


"Papi buang gak?" tanya Tasya


"Tadi Papi gak buang apa-apa Mam" ucapnya


"Apa tadi salah buang?" Reza mulai ragu


"Tadi Papi buang apa?"


"Struk sepatu."


Reza segera keluar membuka bagasinya. Dia menelan salivanya saat struk sepatu masih ada di dalam plastik.


"Kebuang?" tanya Tasya


Reza mengangguk pasrah.


"Hehe. Maaf Mam." ucapnya


"Makanya dilihat dulu jangan main buang saja! Gimana sih Papi!" Tasya mengomelinya.


"Maaf Mam, tadi Papi kira struk sepatu."


"Berapa dendanya ya?" tanya Reza


Reza melajukan mobilnya dan berbicara dengan petugas tiket. Reza membuka dompetnya memperlihatkan surat-surat miliknya. Tak lama, dia membayar denda tersebut.


"Awas Papi nanti lagi lebih teliti" Tasya masih membahasnya.


"Iya Mam. Maaf. Tadi gara-gara lihat si Adam, Papi jadi gak sadar."


"Nyalahin orang lain, sudah tahu Papi sendiri ya salah."


"Iya tadi Papi jadi gak fokus gitu Mam." ucapnya


"Makanya nanti lagi lebih teliti" Tasya masih mengulang kata-katanya


"Iya Mami." Dia membelokan mobilnya keluar dari area Mall. Reza kembali melajukan mobilnya ke toko pakaian anak. Disana Tasya lebih bersemangat memilih baju.


"Gak salah sayang? Ini gak kebanyakan?" tanya Reza


"Ini kebanyakan Pap?" tanya Tasya


"Katanya yang Vano mau dipakai juga. Kalau sama yang ini ya jadinya banyak banget" ucap Reza


"Ya sudah aku taruh sebagian" ucap Tasya


"Vano gak sekalian dibelikan baju juga?" tanya Reza


"Tadi ada kaos samaan Pap. Beli saja ya?" tanya Tasya


"Ya sudah beli saja" ucap Reza


Tasya segera mengambil kaos bergambar dinosaurus dengan semangat.


"Sudah ini?" tanya Reza


"Iya. Sana bayar Pap, aku pegel" ucapnya


Reza teringat Nova yang kerja di toko tersebut. Dia berjalan ke kasir dan menyerahkan belanjaannya.


"Nova masih kerja disini Mbak?" tanya Reza pada kasir tersebut.


"Novaa.. Store manager Pak?" tanyanya


"Aku gak tahu jabatannya apa, Mbak" Reza tersenyum


"Yang namanya Nova cuma itu sih Pak disini. Kebetulan hari ini Bu Nova sedang cuti." ucap Kasir tersebut.


"Oh" Reza mengangguk-ngangguk.


"Papi, Vano minta ini" ucap Tasya menghampirinya dengan membawa bola yang tadi di pegang Vano.


"Ini dulu Mbak, anaknya gak sabar tuh" ucap Reza saat Vano merengek meminta bolanya dikembalikan.


Semua telah dihitung, Reza memberikan kartu pada kasir tersebut.


"Pinnya Pak?" pinta kasir


Reza segera mengetikkan pin dan menunggunya.


"Ini pak. Terima kasih telah berbelanja di toko kami" ucapnya seraya memberikan kartu dan plastik belanjaan.


Reza segera memasukan kartu ke dalam dompetnya seraya berjalan.


"Yuk Mam" ajak Reza


"Paak" kasir memanggil Reza. Tasya dan Reza menoleh ke arahnya


"Belanjaannya ketinggalan" ucap Kasir


"Papiiii" Tasya menatapnya tajam.


.


.


.


Teeemaaannss sudah akhir bulan nih, moga masih suka ya sama BSN. Terima kasih untuk like dan komentarnya, jangan bosen-bosan yaa.. Bantu vote juga ya temaans.

__ADS_1


Terima kasih^^


__ADS_2