
Reza beserta kedua buah hatinya baru saja turun ke kolam renang untuk bermain air. Sementara Tasya dan kedua pengasuhnya menikmati pagi hari mereka sambil memandang lautan lepas dan bercengkrama ringan.
"Mbak mau berenang?" tanya Tasya
"Kalau saya bisa ingin nyebur, Bu. Lihat airnya segar sekali kayaknya." ucap Mbak Uji tanpa malu-malu.
"Gak apa-apa. Ayo berenang aja." ucap Tasya.
Mbak Uji dan Mbak Diah saling melirik.
"Ayo. Main air saja sama mereka" Tasya memaksannya.
"Ibu enggak?"
"Aku malas ah. Enak begini Mbak. Santai" ucap Tasya.
"Boleh memangnya, Bu?" tanya Mbak Uji
"Boleh dong. Masa gak boleh."
"Papiiii.. " Tasya berteriak memanggil suaminya.
Reza dan kedua anaknya menoleh.
"Anak-anak biar sama Mbaknya." ucap Tasya
"Ya sudah, kalian sama Mbak, Papi berenang disebelah ya?" ucap Reza seraya menunjuk kolam yang lebih dalam.
"Oke"
Reza mengangkat Daffa membawanya ketepi. Kemudian memberikannya pada kedua pengasuhnya.
"Hati-hati ya Mbak" Titah Reza
Para pengasuh merasa senang saat bermain air bersama kedua anaknya sementara Tasya menyaksikan mereka sambil tersenyum bahagia. Tasya memakai kacamata hitam sambil berselonjor kaki dengan santai.
"Mam renang yuk?"
"Mau nanti bentuk tubuh Mami terlihat oleh orang lain kalau pakai baju ini?" Tasya menunjukan baju yang dipakainya
"No. Enak saja." Reza mengambil minuman Tasya
"Ya sudah ayo berenang Pap" ajak Tasya.
"Enggak. Nanti saja di kamar mandi bareng Papi." ucapnya seraya pergi meninggalkan Tasya
"Bukan berenang kali kalau di kamar mandi mah, dasar si Papi" gumamnya seraya tersenyum.
Reza berenang agak menjauh dari Tasya. Sementara anak-anak masih seru bermain bersama para pengasuhnya.
Tiba-tiba dua orang lelaki menghampiri Tasya.
"Mbak maaf mengganggu waktunya." ucap salah satu lelaki dengan tubuh sintal
"Ya, kenapa Mas?"
"Mbak mau jadi model gak? Kebetulan kami sedang mencari tallent untuk busana muslim." ucap lelaki tersebut.
"Maaf Mas saya tidak tertarik." ucap Tasya
"Kesempatan emas loh sist. Ih, yey pasti ngetop. Percaya sama akika (saya)". Ucap salah satu lelaki dengan gaya yang gemulai.
"Maaf enggak Mas. Lagi pula saya sudah punya anak."
"Seriosa?" Lelaki gemulai nampak kaget dengan menutup mulutnya.
"Hah?" Tasya tak mengerti ucapan lelaki gemulai itu
"Serius maksudnya Sist?"
"Hehe.. Iya Mas. Maaf ya"
"Panggil akika Nency. Dan ini yang punya agensinya Sist, Mas Ken" ucapnya.
"Oh" Tasya nampak mengangguk.
"Coba saja dulu Mbak. Saya lihat Mbak sangat potensial. Ini kartu nama saya, barangkali Mbak berubah pikiran." ucap Ken si pemilik agensi. Dia mengambil kartu nama dalam dompetnya kemudian memberikannya pada Tasya.
"Oh, terima kasih Mas. Maaf tapi saya tidak tertarik." ucap Tasya.
"Simpan saja Mbak. Sudah biasa kok yang ditawari nolak dulu, nanti biasanya menghubungi kita lagi" ucap Ken.
Tasya hanya tersenyum mendengarnya.
"Sudah akika terawang, yey pasti cucok meong" (Sudah aku terawang, kamu pasti cocok sekali). Ucap Nancy.
"Ada apa Mam?" Reza menghampiri mereka setelah mengamati Tasya dari tadi.
"Ulala.. So hot baby" nancy tersenyum nakal melihat Reza.
"Ini Pap.. " Tasya memberikan kartu nama pada Reza.
"Oh. Maaf kita tidak tertarik Mas." ucap Reza setelah membaca kartu nama tersebut
"Di coba dulu dong tampan, yey juga cucok (Kamu juga oke)" ucap Nancy.
"Maaf. Dia gak bisa" ulang Reza tegas
"Kamu juga bisa loh tampan." ucapnya seraya melihat Reza dari atas ke bawah seolah menelisik. "Perfect." ucap Nanci kemudian
"Kalian bisa loh jadi model busana muslim couple. Iya gak Bos?" ucapnya pada Ken dan Ken mengangguk mengiyakan.
"Mamiii, Abang kemasukan air Mi telinganya" Vano berteriak seraya menghampiri
Semua menoleh pada Vano. Tasya mendekati Vano sementara mereka menyaksikan Tasya bersama putranya.
"Wow. Perfect family." gumam Nancy.
"Perpaduan dua insan yang ulala menghasilkan mahakarya yang luar biasa" tambahnya seraya menekankan kalimat akhir sengan manja
"Maaf, kami tidak membutuhkan ini. Permisi" Reza memberikannya kartu nama tersebut kepada pemiliknya kemudian dia menghampiri Tasya.
"Sudah Mam? Gimana?" tanya Reza
"Masih gak enak telinganya, Bang?" tanya Tasya setelah membantu Vano
"Sudah enak Mami." ucapnya
"Handsome.." Nancy memanggilnya kembali seraya mendekat.
"Yey simpan saja, oke" Nancy setengah memaksa
"Tapi kita.."
"Papi" Tasya memotongnya ucapan Tasya. Keduanya menoleh.
"Simpan saja, Papi."
"Oh, oke." Reza mengambil kartu nama tersebut.
"Nah kan, semoga berubah pikiran." Nancy mencolek Reza
"Hei!" Reza nampak marah. Sementara Nancy berlari ke arah Ken.
"Maaf Mas" ucap Ken tersenyum saat melihat Reza menautkan kedua alisnya. Sementara Tasya menahan senyumnya.
Reza berbalik dan mendapati istrinya yang menahan senyum.
"Hapus Mi?"
"Apa?" Tasya pura-pura tak mengerti.
"Ini yang di colek si banc*" kesalnya
Tawa Tasya akhirnya pecah. Reza mengambil tangan Tasya dan mengusapnya, menghapus jejak colekan dari tangan nakal Nancy.
"Amit-amit dicolek makhluk kayak begitu" gerutu Reza
"Rezeki pagi-pagi Papi" Tasya masih tertawa
__ADS_1
"Lagian buat apa sih Mi, nih kartu nama!"
"Ya Papi heboh sih nolak. Ambil saja dulu, nanti tinggal dibuang apa susahnya! Dari pada kayak tadi. Yang satu maksa yang satu juga nolak." ucap Tasya
"Ya Papi gak mau kasih harapan lah Mi."
"Siapa juga yang kasih harapan? Cuma ngambil kartu nama kan? Gak lebih" ucapnya
"Iya iya." gerutu Reza kesal
"Yuk Mbak, sudah. Mandi dulu terus nanti sarapan" ajak Tasya
"Abang sama Adek mandi sama Mbak ya sekalian" ucap Reza seraya berjalan.
"Mi, Papi mau mandi di atas saja" pinta Reza seraya mengeringkan tubuhnya
Reza menarik lengan istrinya.
"Sendiri saja kan bisa Pap."
"Mami belum mandi juga kan?" Reza tersenyum nakal.
"Alasan."
"Mau surprise yang lain gak?" tanya Reza
"Apa memangnya?"
"Hmm.. Kasih tahu gak yaa"
"Dari kemarin bikin penasaran terus deh" ucap Tasya.
Mereka tiba di kamarnya.
"Aku lapar nih Pap"
"Loh? Tadi bukannya sudah ngemil?"
"Tapi kalau belum makan nasi kan belum makan" Tasya tertawa
"Bentar ah, mandi dulu" ajaknya seraya tersenyum.
"Maksmmm.. " Reza membungkam Tasya dengan memagutnya. Dia melempar baju mereka ke sembarang arah kemudian menariknya masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai, Tasya merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Sudah lapar juga, ditambah pegal. Lemes tahu" gerutu Tasya
"Aaa, buka mulutnya." Reza memasukan biskuit ke mulut Tasya. Tasya tak banyak protes.
"Yang ini bajunya?" tanya Reza seraya mengambil baju mereka dari dalam koper.
"Kaos putih yang selutut saja Pap sama celana jeans" pinta Tasya
Dengan telaten Reza memakaikan baju pada istrinya.
"Papi juga pakai baju putih ah" ucapnya
"Ih kayak anak ABG, couple segala"
"Baguslah. Eh jadi inget dulu waktu kita jalan-jalan ya Mam" Reza tertawa
"Oh iya. Malu banget sama Papa, tahu"
"Sini, Papi keringkan rambutnya."
Tok.. Tok.. Tok..
"Miii buka Miiii" teriakan Vano dari luar kamar
"Team rusuh datang" ucap Reza
Dia beranjak membuka pintu.
"Hey boys, baju kita semua sama" Ucap Reza bersemangat melihat kedua anaknya juga memakai kaos putih dipadukan dengan celana jeans.
"Nanti foto yaa.." ajak Tasya kemudian.
"Nih kerudung ini dulu, yuk kebawah. Isi tenaga." ajak Reza
"Aku mau main Pi" pinta Vano
"Iya nanti habis makan. Kasihan Mami tenaganya terkuras." Reza tersenyum melirik Tasya
"Gara-gara Papi. Tahu gak?"
"Papi saja yang habis berenang bolak balik, masih kuat tahu Mam." ucap Reza
"Kok bisa sih Pi?"
"Papi gitu loh. Demi princessnya Papi." Reza mengusap lembut perut Tasya
"Yuk ke bawah." ajaknya
***
"Kalian mau apa?"
"Aku mau main Mi"
"Ini maksudnya mau makan apa?"
"Gak mau. Mau main."
"Abang! Ditanya Mami jawab yang betul!"
"Pi, malu sama orang ah" Tasya mencolek suaminya
"Habis ini anak, main terus pikirannya. Dari kemarin, kita ngikut kemauan dia kan Mi"
"Ya sama, Mami juga ngikut kemauan Papi"
"Beda itu mah. Kita sama-sama mau" ucapnya
"Dasar!"
"Ayo cepat. Mau apa Bang?" tanya Reza
"Mau itu aja Mi" pinta Vano
"Pi, ambil dimsum tuh buat Vano" Reza segera mengambil piring kecil dan membawanya ke meja mereka.
Daffa mau makan, Mbak?" tanya Reza
"Mau, tapi buburnya saja Pak. Gak mau pakai ayam."
"Ya sudah gak apa-apa" Reza menghampiri Tasya kembali.
"Mami mau apa?"
"Aku mau udon kuah tomyum saja Pap. Seger kayaknya. Tapi nanti deh, ajak dulu si Mbak. Makanya Papi duluan mau apa, nanti aku bareng mereka saja. Biar Daffa ada yang jaga."
"Papi apa ya?" Reza nampak mengedarkan pandangannya
"Yang jelas jangan yang biasa masak dirumah Pap." Tasya tertawa
"Haha kenapa?"
"Ngapain makan di hotel kalau makannya nasi goreng lagi, telor lagi, roti lagi" ucap Tasya
"Duh ibu-ibu gak mau rugi yaa" Reza tertawa.
"Ya udah ambil roti prata kuah rajma masala. Ala India deh kalau begitu." pinta Reza
"Habis makan itu nanti Papi tiba-tiba nyanyi 'Bolee chudiyan, bole kangna' " Reza menyanyi seraya menaik turunkan bahunya membuat Tasya tertawa.
"Papi gak tahu malu ih" Tasya masih tertawa.
"Le jaa le jaa, soniya le jaa le jaa" Tasya meneruskan
__ADS_1
"Eh si Mami malah nerusin"
"Papi Mami malah ketawa-ketawa disini. Kalian pacaran terus" ucap Vano mendekat
"Heh! Tahu darimana pacaran?"
"Kata Mbak, Papi Mami so sweet pacarannya. Gitu."
"Ck..diracuni tuh sama Mbaknya. Tahu pacaran segala" ucap Reza pada Tasya
"Iya kan Papi Mami suami istri jadi boleh pacaran, Bang" Tasya mencoba memberi pengertian
"Aku gak boleh pacaran? Kan aku juga sayang Mami" ucapnya polos
"Anak kecil, belajar dulu nyanyi Indonesia Raya yang bener. Pacaran! Pacaran!" gerutu Reza
"Aku mau dimsum lagi Mi" pinta Vano tak menghiraukan Reza.
"Eh, adek juga mau Mi. Tadi minta punya aku."
"Ya sudah, Papi sana duluan. Mbaknya suruh kesini."
Kini mereka makan bersama. Daffa sesekali meronta ingin turun dari kursi membuat Mbak Uji kewalahan.
"Biar sama saya Mbak. Saya sudah selesai." ucapnya.
"Mami mau apa lagi Mi?" tanya Reza
"Apa ya? Mbak mau roti?"
"Katanya tadi gak boleh roti?" protes Reza
"Hehe.. Apa aja deh terserah Papi" ucap Tasya.
***
Tiga hari sudah mereka menikmati liburan dengan penuh suka cita. Kini saatnya mereka harus kembali ke rutinitas hariannya.
"Sudah gak ada yang tertinggal kan Pap?" tanya Tasya
"Gak ada sayang. Moga saja princess kita jadi. Aamiin" ucap Reza
"Ya sudah yuk turun."
"Papi, kenapa sih kita gak tinggal disini saja? Kan enak Pi, dekat pantai. Abang sama Adek bisa main semau Abang disini." ucapnya
"Papi kan kerjanya disana, Bang. Kasihan kan kalau jauh" ucap Tasya
"Papi pindah saja kesini kerjanya."
"Gak bisa sayang. Nanti ajak Papi lagi kesini ya kalau ada rezekinya." ucap Tasya
Di tengah perjalanan, Reza melirik Tasya yang tertidur pulas. Dia mengulas senyumnya mengingat tingkah lakunya sendiri.
Reza memegang perut istrinya. Entah kenapa, dia ingin sekali menambah keturunan. Reza sangat berharap di karuniai anak perempuan.
Reza mengelus-ngelus perut Tasya hingga Tasya terbangun dari tidurnya.
"Tidur lagi Mi" pinta Reza
"Papi ngapain sih?"
"Enggak apa-apa sayang. Sudah tidur lagi saja" titahnya.
Tasya menggenggam jemari Reza seraya tertidur kembali.
Setelah beberapa lama, Tasya terbangun begitupun anak-anak mereka.
"Mi mamam" pinta Daffa
"Mau cemilan Dek?" tanya Tasya
"Sebentar Dek, Mbak ambilkan ya" ucap Mbak Diah.
Dia mengambil biskuit kesukaan Daffa. Daffa memakan biskuit tersebut tak banyak bicara.
"Mi, aku juga mau makan Mi"
"Abang mau biskuit juga?" tanya Mbak Diah
"Sepertinya aku gak mau makan itu"
"Sepertinya" gumam Reza
"Abang mau apa?"
"Abang sepertinya mau.. Mau apa ya Mbak?" tanya Vano bingung membuat semua tertawa
"Sepertinya Abang gak mau apa-apa" timpal Reza
"Iya begitu Mi" Reza terbahak kembali
"Eh, aku mau makan bakso Mi"
"Dijalan ah, susah nyari baksonya."
"Tadi kan banyak yang jual bakso Pi." rengek Vano
"Enggak Bang. Jangan beli sembarangan."
"Enggak sembarangan Pi." Vano masih merengek.
"Nanti ya sayang. Kan disini gak tahu mana bakso yang enak mana bakso yang enggak"
"Gak boleh Bang. Bentar lagi kita nyampe. Jangan rewel." pinta Reza
Vano masih marah-marah tak jelas.
"Papi nanti kasih kalian surprise pokoknya" ucap Reza
"Apa sih? Surprise terus tapi gak dikasih-kasih." ucap Tasya
"Mau gak Bang?" Reza mengalihkan perhatian Vano
"Enggak. Abang mau bakso pokoknya." pinta Vano
"Jangan bakso deh. Jajan yang lain"
"Aku maunya bakso Papi." Vano masih merengek.
"Apa juga mau Pi (Daffa juga mau Pi)" Daffa ikut-ikutan
"Daffa juga kan ikutan dia. Racun dasar si Abang" gerutu Reza
"Nanti sebentar lagi nyampe Bang. Beli di langganan saja" ucap Tasya
Vano berhenti merengek setelah semua orang membujuknya. Tasya melihat jalanan yang sudah di kenalinya.
"Loh kok belok sini, sayang?" tanya Tasya heran saat Reza membelok mobilnya kesebuah komplek perumahan elit.
"Yeeey beli basoo" ucap Vano
"Bukan ini" ucap Tasya, Reza hanya tersenyum
"Papi, ada tukang bakso disini?" tanya Tasya lagi
"Ada Mi." ucapnya seraya menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berlantai dua.
Reza mengklakson mobilnya, tiba-tiba pintu gerbang rumah tersebut terbuka. Seorang penjaga nampak tersenyum seraya memanggut hormat.
"Papi jangan bilang kalau ini... " Tasya nampak syok dan gemetar.
.
.
.
Readers.. Terima kasih masih mengikuti BSN. Bantu like dan komentarnya seperti biasa yaa.. Jagan lupa vote juga. Terima kasih ^^
__ADS_1