
Reza masuk ke dalam kamar, Tasya mengekor dibelakangnya.
"Kamu lama sekali, Aa colek-colek juga kamu sengaja gak respon" Reza cemberut
"Aa gak sabar sekali" protes Tasya
"Kan biar kita gak begadang sayang." Reza menyeringai
Tasya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai Reza bergantian masuk ke dalam kamar mandi. Begitu keluar, Reza sudah bertelanjang dada sambil tersenyum nakal.
"A pakai bajunya, nanti masuk angin." ucap Tasya
"Nanti juga dibuka sayang. Biar gak lama" Reza tergesa
Reza mendekati Tasya. Dia berbisik di telinga Tasya
"Bismillah semoga jadi keturunanku yang sholeh sholehah. Aamiin" Reza mencium lembut telinga Tasya yang membuatnya bergidig.
"Ayo nak kita berjuang" ucap Reza kemudian sambil membaringkan Tasya
Seketika Tasya tertawa lepas.
"Kenapa sayang?" Reza heran
"Aa pakai bilang ayo nak kita berjuang segala" Tasya masih tertawa
"Memang kenapa? Kan Aa berjuang, calon anak Aa juga berjuang dong biar masuk ke rahim kamu" Reza menjelaskan
"Mari nak berjuang! NKRI harga mati!" Tasya meledeknya sambil tertawa
"Kamu ya, Aa sudah serius juga. Kamu malah becanda. Sini.. Sini.." Reza menusuk pinggang Tasya dengan jarinya, tubuhnya bertumpu di badan Tasya
"Geli..geli.." Tasya berontak
"Sssttt.. Kamu mau Papa ngetok pintu kaya waktu ibu dulu?" Reza memperingatkan
"Oh iya" Tasya masih tertawa sambil menutup mulutnya dengan Tangannya.
Kini mereka terdiam, pandangan mereka beradu. Reza tersenyum kepadanya. Dibelai pipi istrinya tersebut.
"Sya.. I love you" ucap Reza lembut
Tasya merengkuh kepala Reza. Di kecup lembut kening suaminya. Dia tersenyum bahagia.
Reza yang merasa disambut kini melancarkan aksinya.
***
Tiga Bulan Kemudian
"A, permintaan daun singkong meningkat drastis setelah kita kerja sama dengan restoran Padang yang memiliki banyak cabang itu. Bagaimana ini? Kalau kita gak bisa penuhi permintaannya, takutnya dia mencari pemasok lain." ucap Tasya pada suaminya yang sedang fokus pada lembaran-lembaran kertas di hadapannya.
"Ayah gak bisa tambah lagi? Barangkali ayah punya rekanan lain. Coba kamu tanya ayah sayang" ucap Reza tidak berpaling dari lembaran kertas itu.
"Nanti aku coba tanya ayah." ucapnya singkat
__ADS_1
Tasya kini benar-benar terjun membantu Reza di kantor. Dia sangat menikmati pekerjaannya. Dia tak menyangka bahwa dia akan bergelut di dunia yang sama dengan ayahnya yaitu di dunia sayuran.
Bisnis yang tidak banyak di lirik orang tersebut ternyata memiliki peluang yang sangat besar untuk keluarga mereka. Mereka menjadi pemain unggul dalam bisnis tersebut.
Pak Danu kini menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada Reza. Kini Pak Danu sebagai pengawas dan penasihat saja. Kesehariannya lebih banyak dia habiskan di rumah atau reuni bersama teman-temannya.
"Sayang, lapar." Reza memegang perutnya
"Oh iya, sudah jam makan siang. Ayo kita makan. Aa mau makan apa?" tanya Tasya yang sedang membereskan dokumennya
"Aa terserah kamu saja Sya" ucapnya singkat
"Apa ya? Aku mau mie hotplate boleh ya? Sudah lama aku tidak makan itu A" tiba-tiba saja Tasya ingin makan mie hotplate
"Ayo. Kita ke mall saja kalau begitu." ajak Reza kemudian mengemudikan mobilnya.
Reza dan Tasya tak pernah terpisahkan semenjak Tasya ikut bekerja. Mereka begitu kompak dan saling melengkapi satu sama lain.
***
"Sayang, ayo kita liburan. Aa rasanya jenuh sekali Sya semenjak Papa gak kerja." ajak Reza
"Aa tahu sendiri kan, kita masih baru menjalin kerjasama dengan restoran Padang. Kita masih harus pantau kinerja kita A." Tasya bersemangat
"Ibu negara semangat sekali." sindir Reza sambil menunggu pesanannya tiba
"Aku gak menyangka A, ternyata terjun di dunia begini sangat menyenangkan. Aku pikir biasa saja. Karena biasanya konsumen yang beli sayuran hanya untuk keluarga saja.Tapi begitu tahu permintaan dari supermarket atau restoran. Wow, ternyata menjanjikan ya A" Tasya penuh semangat
"Ya memang begitu sayang, apalagi kalau permintaan kita lagi banyak. Sebenarnya Aa sih ikut arus saja Sya. Gak ada pilihan lain selain meneruskan perjuangan Papa." ucap Reza
"Cita-cita dulu ingin jadi Pilot. Haha" Reza mengingat cita-cita masa kecilnya
"Aa sudah terbiasa ikut Papa kerja dari kecil, jadi semua sudah Aa kuasai. Sama kayak Rasya. Paling nanti jadi penerus ayah" ucap Reza
"Iya. Awalnya A Rasya juga gak minat, tapi dia berfikir lagi. Kalau bukan dia yang nerusin, siapa lagi coba?" Tasya mengingat kakaknya
"Sayang, ayo bikin generasi penerus untuk bisnis kita" ajak Reza
"Hus! A Reza ini di tempat umum!" Tasya mengingatkan
"Sya, apa kita ikut program hamil saja?" Reza putus asa
"Sabar sayang. Belum rezekinya saja" hibur Tasya.
Sebenarnya Tasya juga sangat sedih karena hampir satu tahun menikah masih belum diberi kepercayaan memiliki anak.
"Sya, makanya kamu jangan stres ya. Takutnya ngaruh juga" pinta Reza
"Iya sayang. Aku stres kalau Aa banyak maunya." ejek Tasya
"Banyak maunya gimana?" tanya Reza heran
"Sya please.., Sya nanti malam ya, Sya kangen.. Tuh Aa banyak maunya" Tasya bersungut
"Ya ampun sayang, Aa kan harus rajin nyiram saja. Biar gak tandus." pungkas Reza sambil tertawa
__ADS_1
Pesanan mereka pun akhirnya tiba. Mereka makan sambil berbincang.
"Sya, kamu mau beli sesuatu?" tanya Reza
"Enggak a" jawabnya singkat
Tiba-tiba seseorang memanggil nama Reza dari belakang
"Reza.. " Reza dan Tasya menoleh bersamaan
" Reza, hai apakabar?" tanya seorang wanita dengan perut yang membuncit
"Hai Cit.. Aku baik. Bagaimana keadaanmu?" Reza balik bertanya
"Ya seperti yang kamu lihat saja Za. Kamu gak kerja?" tanya Citra
"Kamu tahu sendiri kerjaanku bagaimana Cit" ucap Reza kaku
'Kamu kan tahu sendiri kerjaanku. Mereka akrab sekali' batin Tasya yang dari tadi hanya menyaksikan mereka
"Oh ya, perkenalkan ini istriku Cit" Reza melirik Tasya
"Hai mbak, sudah berapa bulan?" tanya Tasya sambil menyalami Citra
"Sudah enam bulan." jawab Citra singkat
"Oh jadi ini yang katamu di jodohkan itu Za. Kamu sudah punya anak?" sindir Citra
"Belum. Kita masih ingin berdua Cit" Reza berbohong
Tasya mulai kesal.
"Kita duluan ya Cit. Aku masih ada kerjaan" pamit Reza. Keduanya meninggalkan Citra
Reza tahu betul wanitanya cemburu.
"Sayang.." rayu Reza
Tasya diam. Masih kesal
"Kok kamu berubah begitu sih sayang" tanya Reza
"Itu siapa A? Kok dia tahu kita dijodohkan?" tanya Tasya
"Dia mantanku Sya.. " ucap Reza takut
"Oh pantes saja A Reza kaku depan dia. Karena ada aku kali ya. Coba kalau tidak ada pasti mengenang kisah bersama" Tasya benar-benar cemburu
"Sya kok gitu? Aa ketemu dia pun gak mengenang kisah bersama. Aa cerita soal kita" ucap Reza
"Oh jadi Aa juga pernah ketemu dia setelah kita menikah?" Tasya emosi
"Sya, waktu itu hanya kebetulan. Sama kaya barusan" Reza berbohong
"Kebetulan sampai bisa curhat kita di jodohkan ya A" Tasya ketus
__ADS_1