
"Sya.. Aa gak salah dengar?" ucap Reza. Darahnya berdesir saat mendengar permintaan Tasya
"Enggak A. Aku mengatakannya secara sadar dan tanpa dorongan dari orang lain." ucapnya.
"Kita bicarakan baik-baik sayang. Aa mohon" ucap Reza seraya memegang kedua bahu istrinya
'Sayang? Sebuah kata yang sudah lama sekali tidak aku dengar dari mulutmu.' batin Tasya
Tasya melepaskan tangan Reza yang bertengger dibahunya.
"Sya..ayo kita bicara ditempat lain. Biar lebih nyaman." ajak Reza
"Ayo. Lebih cepat lebih baik bukan?" tantang Tasya datar.
Tasya segera memakai kerudung instannya, dia membawa dompet dan ponselnya berjaga-jaga kalau dia harus pulang seorang diri ke rumahnya. Tekadnya begitu kuat ingin berpisah dengan Reza.
Tasya keluar kamar terlebih dahulu.
"Bu, aku.. Aku cari jajanan dulu ya. Kangen jajanan sini." ucap Tasya
"Ibu sudah buat sarapan kan Neng?" Rasya menimpali
"Biarkan adikmu kan lagi hamil A. Kalau gak dituruti ngeces ntar anaknya." ibu mengerti dengan kode yang Tasya berikan
"Mbak, aku titip Vano ya. Maaf ditinggal dulu. Ada Ibu, kalau Mbak butuh apa-apa jangan sungkan sama Ibu ya Mbak." ucap Tasya
"Iya Bu." ucap Mbak Diah singkat.
"Aku keluar dulu Bu." pamit Reza dengan wajah kusutnya.
"Sya" ibu memanggilnya saat Tasya hendak keluar
"Iya Bu?"
"Bicara dengan kepala dingin ya Sya" Ibu mengelus punggung anaknya.
"Iya Bu. Aku keluar ya Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tasya mengikut Reza naik ke dalam mobil Reza.
'Rasanya sudah berabad-abad kita tidak duduk berdua begini.' batin Tasya
Reza melajukan mobilnya.
"Mau kemana kita?"
"Kebun teh saja daerah paling sejuk sana." ucap Tasya
"Jalannya aman?" tanya Reza lagi.
"Setahuku sekarang jadi lebih bagus." ucap Tasya
"Ini ke-"
"Ambil kanan. Lurus saja terus." ucap Tasya datar
Mereka tak banyak bicara. Keduanya menikmati perjalanan dalam diam. Tasya memalingkan wajahnya menghadap kaca jendela. Entah kenapa, ada rasa canggung satu sama lain. Reza segera menyetel radio untuk msmecah keheningan mereka. Suara musik pop dari band ternama terlantun disana.
Menatap indahnya senyuman di wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Saat kau peluk mesra tubuhku
Banyak kata
Yang tak mampu ku ungkapkan
Kepada dirimu
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang meyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Ku ingin kau tahu
Ku selalu milikmu
Yang mencintaimu
Sepanjang hidupku
~ungu~
Keduanya menghayati lantunan lagu tersebut. Rasa sesak mengisi relung jiwa mereka terkunci rapat oleh sebuah ego yang bernama harga diri.
Reza sesekali melirik istri dengan perut buncitnya. Rasanya dia lupa kapan terakhir kali senyum mengembang dibibir tipis sang istri. Rasa bersalah menyeruak dalam hatinya.
Reza memberanikan diri memegang tangan sang istri. Seketika Tasya menepisnya. Menjauhkan tangannya dari jangkauan sang suami.
Mereka masih membisu. Hingga tiba di sebuah pemandangan dengan hamparan hijau bak karpet yang terbentang luas serta kabut yang kian memudar.
Tasya sedikit mendapat hiburan disana, dia membuka kaca jendela dan meraup udara sebanyak-banyaknya seolah dia tak akan menghirupnya kembali. Udara yang sedikit dingin masuk kedalam mobil putih tersebut.
Reza menyunggungkan senyum tipis melihat wanitanya yang sangat menikmati pemandangan tersebut.
Reza menepikan mobilnya disamping kebun teh tersebut. Tasya segera keluar. Dia menyilangkan kedua tangannya sambil sesekali mengelusnya seraya memandang hamparan daun teh di depan matanya.
"Maaf, Aa gak bawa jaket." ucap Reza yang tahu sang istri merasa kedinginan.
"Gak masalah. Aku juga gak minta." ucapnya datar.
"Mam, Papi.. Minta maaf. Papi tahu Papi.. "
" Sudahlah. Tak perlu minta maaf lagi. Ini bukan pertama kalinya. Aku sudah biasa." pungkas Tasya cepat.
"Papi janji kali ini.."
"Gak usah janji, dosa kalau gak bisa nepati" pungkasnya kemudian.
"Kamu sama sekali gak mengerti posisi aku." ucap Reza kini terpancing.
"Aku sangat mengerti kamu, Bapak Direktur. Aku tahu kesibukanmu. Aku minta maaf sudah banyak merengek meminta ditemani ke dokter, minta waktu buat family time-lah. Aku yang harusnya tahu diri." ucap Tasya
"Bukan begitu.."
"Lantas bagaimana?"
"Aku tahu aku salah. Aku gak punya waktu untuk keluarga. Tapi aku harap kamu lebih mengerti."
"Apa selama ini aku kurang pengertian? Apa aku menuntutmu macam-macam?" Tasya mencelanya
Reza terdiam.
"Beri Papi kesempatan untuk memperbaiki semuanya." ucap Reza
Tasya menyunggingkan sebelah bibirnya seolah meremehkan.
__ADS_1
"Maaf, hati aku sudah rusak." balasnya singkat
"Terus Aa harus bagaimana Sya?"
"Aku hanya ingin kita bercerai."
"Kamu gak kasihan dengan kandunganmu?"
"Justru aku lebih kasihan dengan anak-anakku."
"Punya ayah tapi seperti tak punya. Bukankah lebih baik tak punya saja sekalian." Tasya menancapkan arah panah tepat disasarannya.
"Sya, apa kamu tega memisahkan aku dengan mereka?" Reza tak terima
"Tanpa harus dipisahkan, kamu sudah membentenginya dengan kesibukanmu." ucap Tasya datar.
Reza terdiam. Dia menendang batu. Kesembarang arah penuh emosi.
"Pulanglah" ucap Tasya
"Sampai kapanpun aku gak akan menceraikanmu." ucap Reza penuh penekanan.
"Aku yang akan menceraikanmu jika kamu tak mau." ucap Tasya dingin
"Sya, kamu sebenci itu sama aku?" Reza putus asa
"Aku gak membencimu. Aku hanya lelah. Aku ingin menjalani hidupku dengan normal seperti keluarga lainnya." ucap Tasya
"Iya, ayo kita perbaiki. Sabtu minggu waktu Papi buat Mami sama anak-anak" ucap Reza.
"Sudahlah. Sana pulang. Keputusanku sudah bulat." ucap Tasya. Dia keras kali ini
Reza sedikit putus asa. Dia bingung harus membujuk bagaimana lagi agar istrinya tersebut luluh kembali.
Mereka lama terdiam.
"Beri aku waktu sampai anak kita lahir Sya. Biar aku membuktikan semuanya. Aku mohon." Reza mencoba kembali membujuknya
"Lantas, setelah dia lahir kamu akan kembali menjadi diri kamu yang sekarang?" tanya Tasya
"Enak sekali." ketusnya kemudian
"Kalau aku seperti ini lagi, Mami boleh pergi. Papi akan mengabulkan permintaan Mami." Ucap Reza sungguh-sungguh.
"Berikan Papi waktu untuk memperbaiki semuanya. Papi mohon Mam." Kini Reza menyatukan kedua telapak tangannya. Dia membuang harga dirinya.
Tasya terdiam lama.
"Baiklah."
Senyum berkembang di bibir Reza.
"Tapi aku gak bisa pulang dengamu."
"Sya!" Reza menyentaknya seketika raut wajahnya ditekuk kembali.
Tasya hanya menoleh.
"Ini gak adil Sya."
"Bagian mana yang gak adil?" tanya Tasya menatapnya
"Papi juga butuh kalian."
"Kalau butuh, datanglah kemari." ucap Tasya
"Tapi Papi.."
"Maaf, tak ada penawaran lagi dariku."
"Jujur saja, semua rasa padamu telah pudar seiring waktu. Aku lelah dengan semuanya."
"Kamu melirikku saat aku kecelakaan saja, disana kamu mulai menyeimbangkan kembali langkah kita. Tapi setelah itu? Kamu kembali ke jalanmu."
"Silahkan kamu nikmati harta dan jabatanmu, aku tak akan melarangnya. Aku juga tak mempermasalahkannya. Asal kau mau melepaskanku. Aku akan sangat senang hati. Mungkin aku akan berterima kasih padamu" ucap Tasya
Kedua terdiam cukup lama.
"Kalau aku boleh memilih, aku ingin kembali disaat kamu bukan siapa-siapa. Disana ada kehangatan darimu. Sekarang saat kau berubah menjadi indah menurut orang lain. Tapi kamu seolah melupakan cangkang yang membuatmu indah."
"Kamu hanya menatap ke depan, tanpa menoleh ada aku, Vano, dan janin ini yang membutuhkanmu." Tasya mulai menitikan air matanya. Dia segera mengusapnya.
Tasya kembali melipat kedua tangannya. Mengusap lembut lengannya. Menginstruksikan dirinya sendiri bahwa dia baik-baik saja.
'All is well, Sya. Tanpanya kamu bisa.' batin Tasya. Dia menelan salivanya berat.
"Mami kedinginan Mam. Mari kita bicara di mobil." ajak Reza
"Gak apa-apa. Aku ingin disini saja." ucap Tasya
"Sya, pulang ya. Kita perbaiki lagi. Kita benahi lagi. Aku salah. Aku tahu itu. Tolong kamu ingatkan aku setiap aku salah."
"Lucu sekali." ucap Tasya
"Tolong ingatkan aku setiap aku salah?" Tasya mengulang kalimat Reza
"Apa yang aku dapat saat aku mengingatkanmu? Kamu tahu?"
Reza menggeleng.
"Ben ta kan! Kamu membentakku. Dan selalu bilang aku tak pengertian." ucap Tasya
"aku mempermudah segalanya buatmu. Aku gak akan mengganggumu lagi. Aku gak akan merengek padamu lagi. Aku akan pergi dari hidupmu agar kau tak merasa terganggu. Kurang pengertian bagaimana coba? Tapi kini Kamu memintaku kembali? Sungguh lucu." Tasya tertawa pelan.
"Iya aku salah Sya. Aku minta maaf."
Mereka terdiam lagi lama.
"Sya.. "
"Sudahlah. Jangan membuatnya bertele-tele." pungkas atasya cepat
"Baiklah. Mami tinggal disini dengan Vano hanya 3 bulan. Setelah itu, Mami pulang lagi kesana ya?" pinta Reza
"Papi pastikan, Papi akan berubah." Reza meraih tangan istrinya
Tasya hanya diam. Reza memeluknya erat.
"Maaf. Maafkan Papi sayang." Reza mencium kerudung istrinya berkali-kali.
"Papi minta maaf ya Mam. Papi pastikan akan seperti dulu lagi." bisiknya berulang.
Tasya hanya mematung dalam dekapan Reza. Dia sangat lelah dengan perasaannya.
Kini keduanya menatap hamparan daun teh. Memandang jauh ke arah depan yang tak berujung.
Reza menggenggam tangan Tasya, dia memberi kehangatan disana. Kini Reza harus menaklukan kembali hati wanita disampingnya. Dia harus mencairkan hati Tasya yang mulai membeku.
'Papi pasti bisa mengembalikan semuanya pada tempatnya lagi. Papi pasti bisa membuat Mami mencintai Papi lagi.' batinnya.
"Mam, sarapan yuk? Mami pasti lapar" ucap Reza
"Pulang saja. Kasihan Vano."
Reza menggeleng.
"Papi ingin menghabiskan waktu hanya berdua. Vano banyak yang ngasuh." ucap Reza.
"Tapi Van.. "
__ADS_1
"Kita pacaran lagi sayang. Berikan Papi kesempatan untuk memperbaiki semuanya." pungkas Reza
Tasya terdiam
'Harus kuat. Jangan mudah terbujuk rayuannya. Semangat Sya!' batin Tasya
"Sarapan yuk Mam, Papi lapar nih. Dari kemarin Papi gak makan." jujurnya
Tasya menoleh seketika, dia merasa khawatir. Namun Tasya segera bersikap dingin kembali.
"Ya sudah. Aku gak mau kamu sakit disini." ucap Tasya datar
"Papi lebih baik sakit disini daripada disana nanti sendirian, gak ada yang ngurus pula." Ucap Reza
"Memang aku pembantumu apa. Enak sekali hidup kamu" ketus Tasya
"Becanda sayang." ucapnya
'Wah Mami mulai perhitungan. Tenang saja, kamu selalu bisa menaklukan hatinya Za.' batin Reza.
Mereka masuk ke dalam mobil. Reza menjalankan mobilnya dengan perlahan. Memutar otak mencari topik pembicaraan dengan istrinya.
Tasya sedikit mencondongkan badannya saat melihat seorang wanita tua yang menjual kue serabi. Dia melirik ke samping kacanya.
Reza yang melihat Tasya bersikap demikian segera menepikan mobilnya.
"Kenapa?" tanya Tasya heran
"Gak apa-apa sayang." Reza mengambil dompetnya.
"Tunggu sayang." ucapnya
Reza segera keluar sementara Tasya melihatnya dengan raut wajah heran. Reza menghampiri penjual serabi tersebut sementara Tasya melihatnya dari balik kaca spion disampingnya.
Tasya menyunggingkan senyum tipisnya.
'Jangan luluh Sya. Buat dia jera dulu. Jangan luluh. Jangan luluh.' ucapnya seolah membaca mantera.
Hatinya sedikit riang namun dia mencoba meneguhkan hatinya agar tak mudah goyah.
Reza membawa plastik berjalan mendekati mobil dan masuk ke dalamnya.
"Beli apa?" tanya Tasya
'Duh, dia pura-pura' batin Reza
"mm.. Serabi Mam. Papi beli dua macam nih. Yang pedas sama yang manis." ucapnya.
Reza mulai melajukan mobilnya kembali.
"Makan sayang." titah Reza
"Nanti saja." ucap Tasya menolaknya. Sebenarnya dia sangat ingin segera memakannya. Namun dia menahan keinginannya.
Reza menepikan kembali mobilnya.
"Makan yuk, Papi lapar banget Mam." ucapnya
Reza membuka bungkusan berisi serabi tersebut. Dia mengambil serabi polos.
"Susah pakai kincanya." ucap Reza saat melihat plastik berisi kuah kental gula merah yang terpisah.
Tasya membantu membuka plastik berisi kinca. Dia melipat bagian atas plastik tersebut.
"Celupkan saja." ucapnya
Reza tersenyum senang, setidaknya istrinya masih perhatian. Begitu pikirannya.
"Mami Aaa.. Ayo Papi suapin." goda Reza saat Tasya hanya diam.
"Aku bisa sendiri." pangkasnya
Tasya mengambil serabi pedas. Mereka memakannya tanpa bersuara.
Tasya nampak sedikit malu-malu saat menyuapkan serabi tersebut kedalam mulutnya. Sementara Reza memperhatikannya dari tadi.
"Apa sih lihat-lihat." Ucap Tasya yang merasa risih
"Gak apa-apa sayang. Sudah lama sekali kita gak begini." ucap Reza membuka memorinya.
"Iya sangat lama sekali, sebelum kamu berubah." ketus Tasya kemudian.
"Maaf Mam." sesal Reza.
Niat hati dia ingin membuka memori indah, apadaya hal itu membuat boomerang untuk dirinya sendiri.
Reza telah menghabiskan tiga serabi manis dengan suapan yang besar. Sementara Tasya masih mengunyah serabi miliknya.
"Pedes gak sih yang itu Sayang?" tanya Reza
"Gak terlalu." ucap Tasya
"Coba Papi minta sedikit Mam." Reza berharap Tasya menyuapinya.
"Ambil sendiri bisa kan?" ketus Tasya
"Cuma sedikit. Gak semuanya. Itu kan bisa buat nanti." Reza masih berharap.
"Nih ambil." Tasya menyodorkannya.
"Suapin dong Mam." rengek Reza
Tasya menaruhnya di atas plastik.
"Makan saja. Aku kenyang." ucap Tasya setaya mengambil tisu basah.
'Ya Tuhan, dia menjadi sulit ditaklukan begini.' batin Reza
Reza mencubir serabi milik Tasya kemudian memasukan kedalam mulutnya.
"Haaahh..pedes banget Mam." ucapnya seraya mengunyah.
"Haah..ini potongan cabenya yang Papi makan." ucapnya kemudian
'Sukurin!' batin Tasya senang.
"Duh gak ada air lagi. Sshhh.. Haah" Reza menggaruk kepalanya. Hidungnya berair.
'Dasar payah. Baru segitu sidah kalang kabut' batin Tasya
Tasya hanya bersikap santai dan cuek tanpa memberikan tanggapan apapun. Reza segera melajukan mobilnya dengan kencang hingga sekarang melewati rumah-rumah di sepanjang jalan.
"Pelan-pelan bisa kan!" ucap Tasya sedikit ketakutan.
"Gak kuat pedas Mam." ucapnya.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor menyebrang tanpa memperhatikan jalan.
"Papi awaaassss" teriak Tasya..
.
.
.
Penasaran? Penasaran gaaakk? VOTE yang banyaaakk dong. Kasih tips pakai koin juga boleeh banget. Hehe.
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak dengan like dan komen. Oke temans? Terima kasih ^^
__ADS_1