BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Negatif


__ADS_3

Tasya semakin menggencarkan aksinya. Dia kini tak segan bersikap romantis pada suaminya. Bahkan di depan anak-anak, Tasya berani mengecupnya walau hanya kecupan sayang.


Reza yang menyadari hal tersebut sangat menikmati perlakuan Tasya kepadanya. Dia merasa mendapat hal baru dalam hubungannya membuatnya terasa lebih berga*rah.


"Pi, lihat Pi. Kayaknya enak" Tasya memperlihatkan bakso yang sedang viral.


"Dimana itu?"


"Yah jauh dari sini mah" keluh Tasya


"Kalau Mami mau, ayo kita kesana." ajak Reza


"Siapa tahu yang disini yang mau" Reza mengelus perut Tasya.


"Mau apa Pi?" Vano menghampiri orangtuanya.


"Mau bakso."


"Boleh. Kebetulan Abang juga mau."


"Heh tua! Bilang kebetulan segala."


"Anak ini tiap hari kata-katanya makin menjadi saja!" ucap Reza.


"Ya Papi kan bilang mau, jadi kebetulan Abang juga mau."


"Yuk Mi?"


"Males ah. Papi aja sana sama Abang."


"Mami mau dibungkus?"


"Ya Allah Papii.. Masa Mami mau dibungkus. Jahat banget Pii" Vano berkacak pinggang. Taysa dan Reza terbahak mendengarnya.


"Mi, anak kamu suruh ikut audisi pelawak lah"


"Memang kenapa Pi?" Vano heran


"Kamu tuh kocak banget, Tua!" Reza mencubit pipi anaknya.


"Pi, kata Papi jangan main fisik. Barusan Papi melanggar kan?"


"Astaghfirullah.. Maaf lupa Bang."


"Ck..Papi.. Papi.. Dasar orangtua."


"Tahu ah Bang!"


"Mi, katanya mau bakso Mi? Abang juga mau Mi"


"Pi, beli bakso aci saja sama Vano."


"Mami ih, tadi katanya mau bakso, sekarang mau bakso aci. Mami gimana sih?" Vano heran


"Duh, Mami ingin apa ya? Perasaan ini mau, itu mau" ucap Tasya


"Papi siap menjalankan perintah dari permaisuri dan calon anak kita."


"Papi ih. Jangan bilang gitu. Nanti giliran gak hamil kecewa."


"Kayaknya sih Mami hamil lagi"


"Bang, kamu mau kan punya adik lagi?"


"Hmm.. Enggak ah."


"Kamu kan belum punya adik cewek Bang?"


"Tapi aku gak mau Papi. Dedek saja sudah merepotkan."


"Merepotkan gimana? Emang kamu ikut jaga Daffa?"


"Iya lah, Abang jaga Daffa. Mami kan suka teriak."


"Teriak gimana?" Tanya Tasya


"Abaaang jaga Adeknya, Baang. Begitu. Mami lupa?" Tasya tersenyum


"Hayo loh Mi, kayaknya Mami marah juga dia hafal." Reza menatap jahil Tasya


"Mami marahnya gimana, Bang?" Tanya Reza dengan sengaja


"Abang! Mami bilang apa? Kalau gak boleh, gak boleh. Ngerti!" Vano memperagakan Tasya sementara ke dua orangtuanya tertawa.


"Jadi kamu gak mau punya adik cewek?" tanya Tasya


"Ck.. Aku gak mau ah. Nanti adik aku kayak si Dira, Mi." Tasya tertawa


"Dira tuh suka sama Abang"


"Enggak ah. Aku gak suka sama dia, Mi."


"Adik kamu nanti kayak Mami, mau?"


"Mau kalau kayak Mami cantik. Jadi kapan kita beli bakso?"


Tok.. Tok.. Tok..


"Pasti Daffa." tebak Vano seraya membuka pintu kamarnya.


"Adek mau bakso gak Dek?"


"Mau"


"Tuh Mi, dia juga mau bakso Mi"


"Yuk Mi, anak-anak mau tuh."


"Males ah."


"Ck..Mami ayo dong Mi. Abang jadi ingin bakso Mi"


"U'um (Huum) Mi" Daffa menimpali.


"Ya udah. Ayo."


"ke Mall?" tanya Reza


"Enggak ah, Bakso Mas Yono saja."


"Ya udah."


"Pakai motor ya Pi?"


"Enggak ah. Ngeri berempat gini"


Keempatnya kini berada di dalam mobil menuju kedai bakso langganannya tanpa membawa pengasuh.


Mereka duduk berhadapan. Reza bertugas menjaga Daffa sementara Tasya duduk disamping Vano.


"Mam" Bunda Dira menyapanya.


"Ya ampun Mi, kenapa aku bertemu dia terus sih?" keluh Vano


"Vanoo" Dira mendekati Vano genit sementara Vano hanya cuek.


"Bunda sama siapa?"


"Anak-anak" ucapnya


"Mami tiga pengawalnya Mam" ucap Bunda Dira


"Hehhe iya nih. Sini gabung Bund?"


"Aku disana saja Mam" Bunda Dira menunjuk tempat duduk agak menjuh dari keluarga Tasya.


Tasya hanya mengangguk seraya tersenyum.


Setelah selesai, mereka berpamitan pada Bunda Dira.


"Pi.. "


"Iya sayang" Reza melihat Tasya dari spion dalam mobil.


"Mau es krim Pi"


Reza tersenyum. "Mau yang dimana?"


"Di minimarket saja Pi"


"Siap permaisuriku"


" Kenapa sih Papi kalau Mami mau apa-apa langsung dibelikan terus? Kalau aku minta pasti Papi suka bilang tanya Mami dulu" tanya Vano


"Karena Mami istri Papi"


"Ya udah aku juga mau jadi istri Papi kalau begitu." ucap Vano membuat Reza dan Tasya terbahak.


"Ngeri Bang, nanti kita beradu diamond. Hahaa"

__ADS_1


"Papi ih!"


"Biarin gak ngerti ini dia Mi"


"Duh ingin jadi istri Papi. Ternyata yang mau jadi pelakor, anak Mami sendiri." Tasya tertawa mendengarnya.


"Mami sama Papi tertawa terus sih." protes Vano


"Sebel ya Mi sama anak ini, kita mah tertawa sampai sakit perut. Anaknya cool banget. Boro-boro tertawa, senyum aja enggak."


"Dia mah bisanya nyamber doang Pi. Tapi gak ngerti lagi apa yang dibicarakan."


Tasya dan anak-anaknya sibuk memilih es krim di freezer, sementara Reza menunggu mereka.


Kini keempatnya tengah memakan es krim di dalam mobil yang terparkir. Tasya sesekali menyuapi Reza dan Reza sangat menikmati suapan dari istrinya.


"Mau apa lagi habis ini Mi?" tanya Reza


"Mami terus yang ditanya! Aku sama Daffa enggak!"


"Iri bilang, bos" ucap Reza seraya tertawa.


"Aku cemburu Papi."


"Tahu dari mana cemburu?"


"Mami Papi, masa lupa sih! Kan suka bilang aku cemburu." ucap Vano


"Tuh kan Pi, jangan sembarangan bicara. Otaknya itu kalau yang begitu-begituan cepet banget deh menyerapnya."


"Huum. Dasar si Abang!"


***


Mereka tiba dirumah. Vano dan Daffa berada di kamar mereka.


"Kok mual ya Pi?"


"Coba cek deh Mi. Mami sudah telat kan?" tanya Reza


"Belum Pi."


"Papi yakin deh Mami hamil lagi. Banyak maunya sama mual begitu."


"Banyak maunya gimana?"


"Minta bakso, minta es krim itu apa?"


"Ya ampun dua macem Pi."


"Hehe tapi kan gak biasanya."


"Masa sih? Biasa ah aku minta apa-apa juga Pi"


"Lagipula Mami udah bilang kan? Jangan terlalu ngarep. Nanti kecewa."


"Enggak sayang."


***


Pagi-pagi sekali, Tasya sudah turun ke dapur untuk membuat teh panas.


"Ibu sakit?" tanya Mbak Diah


"Dari kemarin mual Mbak"


"Mau aku kerikin Bu?"


"Enggak dulu deh Mbak. Terima kasih."


Tasya duduk sambil menahan perutnya yang terasa tak enak hingga akhirnya dia muntah di kamar mandi dekat dapur.


"Ibu yuk aku antar ke kamar" ajak Mbak Diah.


"Aku bisa sendiri Mbak."


Dia menaiki anak tangga kemudian merebahkan dirinya disamping sang suami.


"Hooeekk..hoeekk.." Taysa berlari ke kamar mandi.


Reza membuka matanya perlahan. Mendengar istrinya yang sedang muntah.


"Mi.."


"Iya Pi."


"Mual sayang? Sabar ya" ucap Reza.


"Papi ke bawah dulu kalau gitu" Reza segera turun ke dapur setelah mencuci mukanya.


Sementara Reza membuat teh hangat, Tasya membaringkan tubuhnya. Dia merasa pusing karena perut kosongnya terasa terkuras habis.


"Minum sayang" Tasya segera bangkit dan menyeruput teh


"Mi, udah tespek belum?" tanya Reza


"Nanti saja Pi."


"Yuk ah, tes dulu. Biar gak penasaran."


Tasya mengambil tespek dari walk in closet. Seperti biasa dia menunggu munculnya garis dari alat tersebut.


"Gimana Mi?" tanya Reza setelah Tasya keluar dari kamar mandi. Tasya memberikan tespek tersebut pada Reza.


"Pi, maaf ya" ucap Tasya.


"Kita masih banyak waktu sayang."


"Papi kecewa?"


"Enggak Mi. Sudah istirahat dulu"


Sepanjang hari Tasya nampak lemas. Dia tak keluar kamar sama sekali membuat pengasuh mereka khawatir.


"Pii.. Mami sakit Pi" Vano menelepon Reza menggunakan ponsel Mbak Uji.


"Mami sakit?"


"Iya. Gak keluar kamar dari tadi tidur terus."


"Ya sudah, Papi pulang."


Tak berapa lama Reza tiba dirumah.


"Mi..sakit sayang?"


"Perut gak enak Pi."


"Kita ke rumah sakit ya" ajak Reza seraya mengganti bajunya.


Tasya yang memang sudah tak tahan dengan sakitnya, tak banyak bicara. Reza membantu Tasya mengganti bajunya kemudian membawa Tas Tasya. Tasya masuk ke dalam mobil dibantu Reza menuju rumah sakit.


"Ini sih asam lambung Pak" ucap dokter yang bertugas di IGD.


"Ibu makan pedas?"


"Iya kemarin makan bakso." Reza yang menjawabnya


"Dihindari dulu makan pedes dan asamnya ya Bu. Sekarang kita kasih obat mual sama pereda nyerinya dulu." ucap dokter tersebut kemudian pamit dari ruangannya.


"Kebiasaan kan Mami tuh gak bisa dibilangin! Besok-besok gak boleh makan pedes lagi!" ketus Reza


"Biasanya juga gak gini kan sayang"


"Sadar umur aja Mi. Lambungnya kalau udah gak kuat jangan dipaksakan!"


"Iya." Tasya menghela nafasnya. "Maminya kayak gini, Papinya marah-marah saja" Tasya menggapai tangan Reza kemudian menggenggamnya.


"Panik tahu, sayang. Siapa yang gak kaget, di telepon si Abang."


"Maaf Pi" Tasya melepaskan pegangannya "Abang tadi telepon?"


"Iya, makanya Papi pulang."


"Ya Allah anak itu." Tasya merasa terharu dengan perlakuan Vano.


Setelah agak membaik, Reza menuntun Tasya mengajaknya pulang.


"Hati-hati sayang."


"Aku bisa kali Pi." ucap Tasya seraya masuk ke dalam mobil.


"Kapok gak?"


"Iya. Udah sih marah-marah terus."


"Beli bubur saja ya buat makan"


"Huum."

__ADS_1


***


"Apa kata dokter?" tanya Pak Danu.


"Ya gitu Pa, gara-gara makan bakso pedas kemarin" ujar Reza


"Mendingan sekarang, Sya?"


"Alhamdulillah Pa."


"Syukur deh. Anak-anak pada nangis takut Maminya kenapa-napa"


"Kemana mereka sekarang Pa?"


"Pada tidur."


"Ya udah, aku ke atas dulu ya Pa." pamit Tasya


"Iya, sana istirahat."


Tasya membaringkan tubuhnya setelah mengganti pakaian mereka. Reza ikut naik ke tempat tidur.


"Masih sakit?"


"Sedikit tapi gak kayak tadi." Reza tengkurap sambil mendongakan kepalanya menatap Tasya


"Pi, maaf ya"


"Kenapa?"


"Aku negatif."


"Papi kira apa. Gak apa-apa Mi. Kita masih bisa ikhtiar."


"Tapi kan Papi ingin banget."


"Udah ah, Iseng-iseng berhadiah aja sayang. Kayak makan snack yang ada hadiah uang di dalamnya kan. Dapat uang ya syukur, gak dapat ya kan udah makan snacknya."


"Apa sih disamakan sama snack." keduanya tertawa.


***


Keesokan harinya, Reza mengurus keperluan Vano yang hendak sekolah. Tasya masih merasakan tak nyaman pada perutnya membuat Reza mengurungkan untuk pergi ke kantor.


Reza bersiap untuk mengantar Vano ke sekolah. Namun Tasya juga merasa khawatir pada Reza yang akan digoda oleh ibu-ibu yang ganjen pada suaminya.


"Jangan ngerumpi sama Ibu-Ibu sayang. Jangan sok baik juga, apa lagi sama yang nempel-nempel di kolam renang. Awas saja!"


Reza tersenyum mendengar ucapan istrinya.


"ada yang cemburu"


"Iyalah cemburu. Memang Papi gak cemburu kalau Mami d pegang lelaki lain?"


"Ngajak ribut kalau Mami dipegang lelaki lain mah."


"Udah cepetan anter Abang sekolah dulu. Takut kesiangan."


"Siap Mi" Reza mengecup Tasya kemudian menghampiri anaknya yang telah siap.


Reza menjalan mobilnya seperti biasa.


"Pi, Mami kapan sembuhnya sih?"


"Doakan saja segera sembuh."


"Aku tuh sedih kalau Mami sakit, Pi."


"Abang sayang Mami?"


"Huum."


"Papi sayang juga?" tanya Vano menatapnya.


"Iya dong. Sebelum sayang kamu, Papi lebih dulu sayang Mami."


"Kenapa?"


"Ya kan dulu kamu belum lahir."


"Terus aku dilahirkan Mami, Pi?"


"Iya."


Mereka tiba disekolah. Reza dan Vano berjalan berdampingan.


"Papiii" Mommy Selly memanggilnya dari kejauhan


"Kok Mommy Selly manggil Papi sih? Memang dilahirkan sama Mami juga?" tanya Vano membuat Reza tersenyum geli mendengarnya.


"Papii, kemana Maminya Vano?" tanya Mommy Selly saat dia mendekat.


"Lagi sakit Bu"


"Oh."


"Eh Papi" Mommy Selly mencolek lengan Reza "kalau beli sayuran di Papi bisa langsung datang ke sana gak sih?" tanyanya.


"Pi buruan, nanti aku terlambat" Vano menarik lengan Papinya.


"Maaf Bu, aku ke kelasnya Vano dulu." ucap Reza seraya pergi tanpa menjawab pertanyaan Selly


Reza mengantarkan Vano yang telah disambut oleh Miss Devi.


"Titip ya Miss, saya permisi kalau begitu."


"Iya Daddy."


Reza berjalan lebih cepat agar tak bertemu kembali dengan wanita yang dicemburui istrinya. Dengan terburu-buru, Reza masuk ke dalam mobilnya.


"Alhamdulillah, kalau si Mami tahu bisa ngamuk dia."


Reza mampir ke tukang bubur sebelum pulang. Dengan semangat, Reza membawa bubur tersebut ke kamarnya.


"Sayang, bangun"


"Hmm"


"Makan bubur yuk. Papi udah beli"


"Aku gak mau makan Pi"


"Sedikit saja Mi. Lambungnya biar gak sakit lagi."


Tasya duduk bersandar dengan rambut tergerai.


"Sini, Papi ikat rambutnya Mi" Tasya memunggui Reza yang sibuk dengan rambutnya. Reza mengikat rambut istrinya asal.


"Masa begini?" Protes Tasya sementara Reza tertawa.


"Susah Mi. Udah ah. Papi bagian nyuapi saja." Mereka sarapan sambil berbincang. Tak berapa lama, Daffa ikut masuk ke dalam kamar mereka.


"Papi ajak Daffa jemput Abang ya Mi?" saat melihat Daffa merengek pada Reza


"Takut ah."


"Bisa Mi. Boleh ya?"


"Iya. Tapi hati-hati."


Daffa duduk di baby chair dengan membawa biskuit ditangannya. Reza mengoceh tak henti mengajak sang anak bicara bersamanya hingga tiba di sekolah.


"Adeeeeekkk. Adek ikut Pi? Mami juga?"


"Mami kan sakit Bang"


"Papi sudah cocok jadi Mbak"


"Enak aja!"


***


"Mii.. Udah sehat?"


"Lemes Bang. Gimana sekolahnya?"


"Tadi aku bisa Mi jawab pertanyaan Miss Devi."


"Oh ya? Terus gimana?"


"Kata Miss i am smart and always handsome Mi." Vano meloncat-loncat di atas kasur.


"Mi, masa tadi Mami Selly manggil Papi sama Papi aku. Dia bukan anak Mami kan Mi?"


Tasya langsung menatap tajam suaminya yang keluar dari walk in closet.


.


.

__ADS_1


.


Yuk, bantu Vano dengan like dan komentarnya. Jangan lupa vote yang banyaakkk. Terima kasih ^^


__ADS_2