BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Panik..


__ADS_3

Tasya masih tak bergeming. Dia menangis sejadi-jadinya. Ada rasa sesak dalam dadanya oleh perlakuan suaminya.


'Kalau pergi kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu? Kamu bisa berlari ke kantor untuk mengabari! Bukan pergi begitu saja dengan meninggalkan ponsel di ruanganmu! Kenapa?! Supaya kamu bebas bermain bersama wanita tersebut? Supaya kamu tidak terganggu olehku!' batinnya tak henti bicara


Seketika Tasya terngiang akan obrolannya tadi pagi dengan suaminya bahwa Reza ingin segera berbuka puasa. Hal Itu terus berputar dalam memorinya. Ada rasa takut dalam dirinya, takut Reza melakukan hal keji bersama wanita seksi itu.


Tiba-tiba Tasya merasakan kepalanya terasa sangat berat, matanya berkunang-kunang. Tangisnya terhenti seketika. Dan seketika tubuhnya terkulai lemas. Dia tak sadarkan diri.


"Sya.. Tasya.. " Reza memanggilnya panik


"Sayang.." di tepuk-tepuk pipi istrinya tersebut


Reza segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia membawa istrinya ke rumah sakit.


Setibanya di IGD, Reza segera memanggil bantuan. Dengan sigap perawat dan satpam membawa brangkar.


"Tolong hati-hati, istri saya sedang hamil" ucapnya.


Mereka masuk ke dalam ruangan, dokter jaga memeriksanya segera.


"Sepertinya dehidrasi" gumam Dokter tersebut yang didampingi oleh perawat di sampingnya.


Reza melihatnya dengan tubuh gemetar dan rasa cemas.


Dokter langsung memerintahkan perawat untuk memasang cairan infus.


"Bagaimana dok?" Reza tak sabar


"Ibu dehidrasi Pak. Jadi pingsan tersebut dikarenakan dehidrasi. Nanti perawat akan memasang infus untuk menambah cairan."


"Bagaimana dengan kandungannya dok?" tanya Reza


"Saya tidak bisa memastikan. Nanti langsung saja hubungi dokter kandungan. Hanya saja, jika terlalu sering dehidrasi bisa saja membahayakan janinnya" ucap dokter tersebut


"Ini pertama kalinya atau.. "


"Pertama kalinya dok" ucap Reza cepat


"Ditunggu saja sampai cairan infusnya habis. Nanti boleh pulang. Pastikan untuk minum teratur, pastikan juga mengonsumsi buah untuk mencegah kurangnya cairan tubuh" ujar dokter tersebut


Tasya mulai menggerakan matanya setelah perawat menepuk tubuhnya dan memanggilnya berulang kali.

__ADS_1


Dia mengedarkan pandangannya, melihat selang infus disampingnya.


"Ibu sudah sadar. Pelan-pelan saja bu, pasti pusing" ucap Dokter tersebut.


"Saya tinggal dulu. Sekarang ibu masih penyesuaian. Nanti kalau ada keluhan bapak hubungi saya saja" ucap dokter tersebut


"Sayang, masih pusing?" tanya Reza sambil menggenggam tangannya


Tasya menggeser tangannya. Dia tak mau di sentuh Reza.


Reza hanya terdiam. Dia merasa sangat bersalah.


Air mata Tasya mengembang kembali. Segera dia memutar bola matanya agar tak jatuh.


Reza keluar ruangan. Dia berjalan cepat menuju kantin. Setelah beberapa lama, Reza datang membawa kantong plastik berisi roti dan teh manis kemasan.


"Minum dulu sayang" ucapnya seraya memutar tutup botol untuk membukanya


Tasya memalingkan wajahnya. Entah kenapa, dia tidak mau mendengar apapun yang dikatakan Reza. Bayangan buruk tadi masih menguasai pikirannya.


"Sya, minum sedikit saja. Kasihan anak kita" ucapnya


'Iya kamu hanya peduli sama anakmu saja kan!' batin Tasya


"Aa tadi makan di cafe dekat kantor kita, Aa mencoba mengikuti mau mereka supaya kontrak kita diperpanjang. Dan kita tidak macam-macam, hanya makan dan berbincang saja. Itupun Aa sama sekai tidak menikmatinya. Aa kepikiran kamu."


"Aa juga tahu kamu cemburu, apa yang kamu rasakan aa tahu betul. Aa juga tidak nyaman di dekat wanita itu. Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh tanya Pak Bambang"


Tasya tetap tidak bersuara. Dia masih kesal pada Reza.


"Maaf, Aa tahu Aa salah. Aa tidak pamit saat pergi. Itu terjadi begitu saja saat mereka bilang Aa tidak perlu bawa mobil."


"Tolong maafkan Aa Sya." ucapnya sekali lagi


Mereka berdua terdiam tanpa suara. Mereka berbicara dengan batinnya masing-masing.


Tak terasa, cairan infusan sudah habis. Perawat segera melepas jarum infus dari tangan Tasya. Reza segera membayar administrasi.


"Yuk kita pulang" ajak Reza seraya membatu Tasya turun dari tempat tidur. Kali ini Tasya tidak menolaknya. Tubuhnya terasa masih lemas untuk melakukan perlawanan.


Reza menuntun istrinya berjalan menuju mobilnya. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Tapi mereka seolah tak peduli.

__ADS_1


Tasya duduk di kursi mobil dengan menyandarkan kepalanya. Reza dengan hati-hati memasang seatbelt di tubuh istrinya. Dia melajukan mobilnya sambil mengedarkan pandangannya.


Tidak lama, mobil tersebut berhenti. Reza keluar menghampiri sebuah gerobak penjual bubur. Dia membeli bubur untuk Tasya. Setelah selesai, dia melajukan kembali mobilnya sampai ke rumah.


Tasya turun dari mobil, dengan sigap Reza membantunya kembali untuk masuk ke dalam kamar. Reza merebahkan tubuh Tasya di atas kasur. Tapi Tasya segera bangkit. Dia berjalan membuka lemari baju, mengambil baju tidurnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Reza nampak berjaga di depan kamar mandi. Takut sesuatu terjadi lagi pada istrinya. Begitu pintu kamar mandi terbuka, pandangan mereka beradu. Segera Tasya memalingkan pandangannya. Dia menuju ke atas kasur dan meringkuk disana.


"Sya, makan dulu ya" pinta Reza. Dia membuka kotak sterofoam yang berisi bubur.


Tasya tetap meringkuk memunggunginya.


"Kamu boleh marah sama Aa. Tapi Aa tidak memperbolehkan kamu menyiksa diri kamu sendiri dan anak kita" ucapnya kemudian


Tasya masih tidak menghiraukannya.


"Sya, Aa mohon" ucapnya kemudian


Reza masih duduk disana, tanpa bicara sedikit pun. Tatapannya kosong, pikirannya entah kemana.


Tiba-tiba Tasya membalikan tubuhnya, dia mengira Reza tidak ada disana. Reza seketika tersentak, sadar dari lamunannya.


"Sya, makan ya sayang" ucapnya


Tasya hendak membalikan tubuhnya kembali, tapi Reza menahannya.


Dikecup kening istrinya seraya meminta maaf.


"Maaf. Sudah jangan begini lagi. Bukan cuma kamu yang tersiksa. Aa juga tersiksa melihatmu begini" ucapnya


"Aa minta maaf, Aa gak pamit tadi. Asal kamu tahu, Aa sama sekali tidak tertarik sama wanita itu. Dia mau seksi kayak gimana pun sama sekali Aa tidak tertarik. Aa risih melihatnya" ucap Reza


"Makan ya?" Reza mengambil buburnya


Tasya membuka mulutnya. Dia mau makan bubur yang disuapi Reza walaupun hanya sedikit. Setelah itu dia memunggungi kembali suaminya.


Reza membereskan kamarnya. Dia segera mandi untuk menyegarkan badannya. Setekah itu dia merebahkan badannya di samping Tasya, dipeluk istri kesayangannya tersebut. Dikecup rambut sang istri berkali-kali.


"Maaf, Aa selalu gagal menjagamu. Berulang kali kamu menangis karena Aa. Berulang kali kamu merasa sakit hati. Tapi Aa mohon percayalah. Aa tidak tertarik dengan wanita manapun. Secantik apapun mereka, itu bukan urusan Aa. Urusan Aa adalah membahagiakanmu dan anak kita kelak. Aa mohon percayalah. Aa sayang kamu Sya" ucapnya


Tasya yang sedang berusaha memejamkan matanya, kini memasang telinganya. Dia mendengar semua ucapan suaminya. Hatinya sedikit tersentuh. Tapi rasa takut masih menyelimuti dirinya.

__ADS_1


'Apakah kamu berbohong untuk menghiburku A?' batinnya bicara


__ADS_2