BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Tak Mau Kalah


__ADS_3

Reza berdiri hendak menghampiri istrinya. Di duduk di meja depan sang istri yang tengah menunggu penjelasannya. Reza menggenggam erat tangan sang istri.


"Mam" ucapnya sedikit ragu


'Salah sedikit, mati aku' batin Reza


"Tapi Mami jangan marah dulu" ucap Reza tiba-tiba


"Apa sih maksudnya A? Tiba-tiba begitu. Aa selingkuh?" tanya Tasya


"Enggak!" dengan cepat Reza menjawabnya


"Terus?"


"Papi bukan percaya diri, tapi seperti kata Mami kemarin, si Rosa sepertinya terpesona sama Papi" ucapnya takut


"Tahu dari mana?"


"Itu kopi tiba-tiba dia yang buatkan" Reza menunjuk kopi tersebut dengan matanya


"Jangan-jangan kopinya pakai guna-guna terus Papi tergila-gila sama dia" ucap Tasya


"Naudzubillahi mindzalik Mam." ucapnya


"Sana minum kopinya" ucap Tasya


"Gak mau"


"Lagipula Aa gak terlalu suka kopi. Mami tahu sendiri Papi sukanya apa" ujar Reza


"Mami gak marah?" tanya Reza


"Papi lupa waktu itu dia lihat kita di sofa?" tanya Tasya mengingatkan


"Oh... Ya ampuuun.. Papi sudah takut Mami mengaum" ucap Reza


"Apa!" Tasya menajamkan matanya


"Maksudnya takut Mami cemburu. Secara Mami cinta mati sama Papi" Reza menjelaskan


"Enak saja. Yang takut kehilangan siapa? Tadi pagi siapa yang larang-larang aku berdandan" Tasya bersungut


"Aduuh itu bibir sepertinya minta dikecup" ucap Reza saat melihat bibir Tasya


"Awas ya Pap, macam-macam Papi tidur di teras rumah, bukan di sofa lagi" ucap Tasya seraya pindah duduk di sofa. Seketika tubuh Reza memutar menghadap ke arah sofa.


"Mami masa gak percaya sama Papi" Reza mendekat. Dia mulai memijat kaki istrinya.


"Iya. Lagipula kalau dia naksir biarkanlah. Aku juga banyak yang naksir" Tasya tak mau kalah.


"Lihat saja kalau Mami macam-macam" ucap Reza


"Apa?" Tasya semakin tertantang


"Gak apa-apa. Kan cuma lihat saja Mam" Reza tersenyum melihatkan deretan giginya yang rapih.


"Di obral sajalah si om mah ya Dek. Kita cari yang baru" ucap Tasya


"Apa! Om? Gak salah!" Reza melepaskan pijatannya. Dia tersinggung.


"Papi. Ya ampun gitu saja marah" Tasya mencolek dagu Reza dengan genit.


"Awas saja nanti malam Papi gak kasih ampun" ucap Reza


"Siapa juga yang minta ampun" Tasya berkilah


"Mamiiii" Reza kesal


"Sana minum kopinya" Tasya berdecak sebal


"Cemburu ya?" tanya Reza


"Adam mana Adam Pap? Kata Adam istrimu apa sih kemarin bilang ke Papi itu?" Tasya menyindirnya


"Hmm.. Ibu hamil gak mau kalah" Reza menggerutu


"Habis Aa juga begitu" Tasya memonyongkan bibirnya. Dia menelan salivanya dengan berat.


Reza duduk di sofa, kini kaki Tasya turun ke lantai. Reza pun menggeser duduknya disamping sang istri kemudian merangkulnya.

__ADS_1


"Jangan sampai ada orang ketiga diantara kita ya sayang" pinta Reza


"Aamiin.. Semoga kita kuat ya Pap" ucap Tasya


"Haruslah Mam. Kalau bukan kita, siapa lagi?" ucap Reza


"Iklan dong itu mah" ucap Tasya


Reza mengelus perut Tasya.


"Papi sayang Mami sama Dedek" ucapnya seraya mengelus perut dan mengecup kening sang istri.


Tasya tersenyum.


"Sedih sekali Papi. Gak ada yang bilang sayang sama Papi" Reza cemberut


Tasya tertawa melihat tingkah sang suami.


"Papi kesayangan aku. Kesayangan Dedek juga. Janji ya jangan macam-macam. Jadi Papi yang sholeh. Panutan keluarga kita. Tetap ganteng dan.. "


"Lucu" seraya menarik kencang kedua pipi Reza


"Aw.. Sakit Mam." Reza mengusap pipinya.


Tasya memeluk suaminya erat. Tiba-tiba perut Reza bersuara.


"Lapar?" tanya Tasya


"Enggak." ucap Reza


"Makan keluar yuk Pap, ajak Lala juga" ucap Tasya


"Kemana sayang?"


"Mall. Aku mau hotplate boleh?" tanya Tasya


"Hmm.. Mie?" Reza menggeleng


"Please Papi ganteng sedunia fana" ucap Tasya


"Kamu ini.. "


"Hmm.. " Reza terpaksa menyetujuinya.


"i love you sayangku" ucap Tasya seraya melingkarkan tangannya kemudian mengecup pipi Reza.


"Tapi istirahat dulu saja Mam. Papi tahu Mami kakinya pegalkan?" ucap Reza


"Tapi Papi kan lapar"


"Enggak. Perutnya saja yang bunyi. Papi gak lapar sayang" ucap Reza


"Papi lanjutkan kerja dulu ya Mam" pamit Reza pergi ke kursinya. Sementara Tasya merebahkan badannya.


Mereka lama terdiam.


"Pap"


"Hmm"


"Sibuk sekali ya?"


"Enggak. Kenapa?" Reza menoleh pada istrinya


"Aku tadi ngobrol sama Lala soal ide aku itu"


"Terus?"


"Kita setuju ide Papi. Cuma packagingnya saja dibuat semenarik mungkin" ucap Tasya


"Oke. Nanti Papi sambil cari sample yang menarik" ucap Reza


"Lala juga sedang cari-cari. Mudah-mudahan dapat segera" ucap Tasya


"Harus segera?" tanya Reza


"Secepat mungkin" ucap Tasya yang tak sabar


"Yasudah, sambil makan nanti kita bahas" ajak Reza

__ADS_1


"Terima kasih Papi" Tasya memulai mengantuk


Reza meneruskan pekerjaannya.


***


2 Jam Kemudian


"Pusing sayang?" tanya Reza seraya duduk disebelah istrinya


Tasya menyandarkan kepalanya dibahu sang suami.


"Sedikit. Mungkin karena baru bangun" ucapnya


"Papi ambilkan minum dulu" ucapnya. Tasya mengubah posisinya bersandar ke sofa.


"Minum yang banyak" Reza memberikan gelas berisi air putih kepada Tasya


"Lapar ya?" Tanya Tasya seraya memberikan gelas kosong kepada suaminya.


"Sedikit"


"Yuk jalan" ajak Tasya kemudian


"Pusing gak?" tanya Reza


"Enggak" Tasya bangkit. Mereka berjalan keluar ruangan. Reza menggangdeng tangan istrinya.


"Pak, gak akan kabur Bu Tasyanya" goda Izam saat melihat keduanya. Rosa melirik tak suka.


"Aku gak mau jauh dari dia Zam." ucapnya sengaja


"Witwiiiw.. Mau dong" ucap Izam masih menggoda


"Sini, tangan sebelahku kosong" goda Reza.


Tasya tertawa


"Memang aku cowok apapun Pak" ucap Izam dibuat semelambai mungkin


Mereka tertawa bersama.


"Aku keluar dulu ya" pamit Reza pada karyawannya.


Tasya melihat wajah Rosa yang menahan kesal. Tasya tersenyum senang.


'Kamu gak bisa rebut suamiku Nona' batin Tasya


Keduanya menghampiri Lala mengajaknya makan di luar. Lala menolaknya karena telah makan sebelumnya, jam istirahatnya sudah berakhir. Tapi Tasya mengajaknya dengan alasan membahas pekerjaan mereka.


"Aku jadi nyamuk bu" Lala ingin menolak lagi tapi tak enak dengan Bosnya.


"Enggak. Memang kita mau kencan?" Ucap Tasya datar.


"Bawa laptop kamu La" pinta Reza


Mereka pun pergi ke Mall. Tasya merasa sangat senang karena selama akhir pekan kemarin dia habiskan dengan berdiam dirumah karena sakit.


"Makan apa sayang?" tanya Reza setelah mereka tiba di foodcurt.


"Hotplate. Kan aku sudah bilang" ucap Tasya


"Kamu La?" tanya Reza


"Aku kenyang Pak. Mentahnya saja boleh?" Lala menyeringai


"Mentahnya dua puluh ribu La" ucap Reza


"Pak, masa makan di Mall segitu" gerutu Lala


"Sudah cepat mau apa? Kasihan istri dan anakku kelaparan" Ucap Reza


"Aku cemilan saja Pak." ucaonya cepat


"Cari tempat duduk Mam. Papi pesan dulu ya" Reza menyuruhnya.


Mereka duduk dipinggir yang berbatasan dengan tembok. Diseberang, mereka dapat melihat lift kaca yang naik turun. Tasya dan Lala ngobrol seraya Lala membuka laptopnya. Tasya melihat ke arah lift yang hendak turun.


"La.. La.. Lihat itu.. " ucap Tasya pada Lala

__ADS_1


__ADS_2