BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Kekompakan CV Petani Maju


__ADS_3

Reza masuk ke dalam rumah. Disana Pak Danu sedang santai membaca koran dengan secangkir teh di hadapannya.


"Tumben kamu pulang lagi Za" ucapnya


Reza duduk berhadapan dengan sang Papa. Dia mengatur nafasnya. Pak Danu meliriknya sepintas. Menunggu Reza berbicara kepadanya.


"Pa, Reza minta maaf" ucapnya


Pak Danu melipat korannya.


"Pa, kerjasama kita dengan supermarket tidak diperpanjang"


"Kenapa bisa?" suara Pak Danu meninggi


Reza menjelaskan semua kronologi dari awal sampai akhir. Pak Danu tak berkomentar sedikitpun.


"Za. Papa sudah menyerahkan semua tanggung jawab sama kamu. Papa tidak akan membantumu. Silahkan kamu berjuang. Tapi ingat! Papa tetap mengawasimu" ucapnya


"Iya Reza juga tahu Pa."


"Berapa kerugian kita kira-kira?" tanya Pak Danu


Reza menjelaskan kerugian dan kerjasama baru yang mereka jalani. Terlihat berubah-rubah ekspresi Pak Danu.


"Papa ikuti permainanmu saja" ucapnya enteng.


Reza pamit untuk mandi dan bersiap.


***


Lala dan Tasya sibuk membuat akun untuk berjualan online. Mereka menjadi admin penjualan sayuran segar.


"La, La, ada yang kirim pesan La" Tasya senang. Dia dan Lala fokus membalas pesan. Satu pesanan masuk kepada mereka,mereka sangat antusias.


Tasya berjalan ke gudang menghampiri Pak Bambang. Dia meminta pesanannya segera dikemas.


"Bu, ini sayur kita masih banyak sekali. Kalau pembelian sedikit begini, kerugian kita bertambah besar" ucapnya


"Bagaimana kalau kita cuci gudang saja Bu?" Pak Bambang memberikan ide.


"Boleh. Ide bagus Pak. Bapak yang urus bisa kan? Oya, saya sementara pindah ke ruangan bapak boleh? Kalau ada pesanan online kita tidak terlalu jauh menyiapkannya. Saya malas jalan Pak. Hehe" ucap Tasya


"Silahkan Bu. Kita sama-sama saja" ucapnya


Pak Bambang segera pergi ke percetakan untuk membuat banner, spanduk, dan keperluan lainnya.


"Waktu kita tidak banyak La" Tasya menyiratkan kesedihannya. Dia melihat sayuran yang menumpuk disana.


"Kita sedang berusaha Bu" Lala menyemangati


"Terima kasih kalian mau membantu" ucapnya meneteskan air mata.


Lala memeluk Tasya erat. Dia pun ikut menangis dibuatnya.


"Hhh.. Terima kasih La, sedikit mencair hatiku. Depan a Reza aku gak berani nangis. Kasihan, aku baru pertama kali melihat A Reza sefrustasi begitu" ucapnya


"Sabar bu, jalan tol saja yang berbayar saja tidak selalu mulus" ucap Lala


Mereka berdua melanjutkan pekerjaannya.


***


Banner, dan spanduk berderet di depan gudang mereka membuat gudang yang biasanya sepi menjadi ramai. Sebagian pekerja juga membagian brosur di depan gudang mereka.

__ADS_1


Satu persatu motor dan mobil silih berganti masuk ke dalam gudang tersebut.


Beberapa orang yang mengaku usaha katering dan warung makan bahkan meminta bekerja sama. Walaupun permintaan mereka jumlahnya terbilang sangat kecil, tapi sedikit membantu untuk mereka.


"Masih banyak La" ucap Tasya khawatir.


"Sabar bu. Nanti ada jalannya" ucapnya


Sore hari, Reza datang ke kantor. Dia sedikit kaget saat melihat kantor yang nampak meriah. Pak Bambang menyambut Reza datang.


"Kita bongkar sebagian Pak." ucapnya ketika Reza menghampiri mereka.


"Terima kasih Pak atas inisiatifnya." ucap Reza


Mereka duduk dekat dengan para pekerja.


"Pihak warteg belum memberi keputusan. Sepertinya mereka ragu" ucap Reza


"Kita follow up lagi atau bagaimana Pak untuk keputusannya?" tanya Pak Bambang


"Iya. Besok saya follow up saja Pak. Saya juga nanti mau coba masukan proposal ke minimarket" ucapnya


"Iya Pak. Mari kita berjuang bersama." ajak Pak Bambang yang memang menjadi tangan kanan Pak Danu sejak dulu.


"Terima kasih Pak Bambang. Tolong bantu saya ya Pak" ucap Reza


Reza menghampiri sang istri yang tengah sibuk depan layar komputer bersama Lala.


"Sya.. " Reza tersenyum


" Sudah pulang A?" Tasya memberikan senyuman hangat


"Lala, saya tinggal ya La." ucap Tasya.


"Capek ya A?" Tasya menuangkan air untuk Reza


"Kamu jangan capek-capek sayang. Ingat sama dedek. Kasihan dia" Reza mengingatkan


"Aku dari tadi duduk kok. Lumayan ada hiburan dari pembeli yang datang" ucapnya


"Kayak buka warung kita A" Tasya tertawa


"Dasar kamu ini" Reza masih tak semangat


"Gak apa-apa A. Enjoy saja. Nikmati dulu. Baru dua hari. Semangat" ucapnya riang


"Sini" pinta Reza


"Nanti dedek mual dekat-dekat Papi" canda Tasya


"Papi cium saja biar mualnya hilang"


"Iya hilang mual jadi muntah" mereka tertawa


"Sayangnya Papi, kalian kuat ya. Kita sedang menghadapi ujian" ucap Reza seraya memeluk sang istri yang berdiri dihadapannya


"Tenang Pap, kita tangguh kok" Tasya mengelus kepala suaminya


"Papi yang harus lebih kuat ya" ucap Tasya


"Papi takut Sya, tapi lebih takut kalian kenapa-napa"


"Sudah bilang sama Papa?" tanya Tasya

__ADS_1


"Sudah. Papa sama ayah nampak santai. Aa yang stres sayang" ucapnya


"Kita rugi Sya, kalau tabungan kita di kuras, gak apa-apa?" tanya Reza


"Gak masalah sayang. Memang besar a?" tanya Tasya


"hmm.. Seharga rumah dua lantai di tempat kita Sya."


Tasya nampak syok.


"Sebesar itu kerugian kita?"


"Huum" Reza menyandarkan kepalanya di perut Tasya


"Cukup memang A tabungan kita?"


"Hmm.. Rasya mau beli motor Aa gak ya?" Reza tak menjawab pertanyaan Tasya. Tapi menyiratkan bahwa keuangan mereka benar-benar diambang batas.


"Aku tanya A Rasya nanti ya" hiburnya


"Sya, kalau kita kekurangan bagaimana?" tanya Reza


'Walaupun harta orang tua kita tak akan habis. Tapi ini tanggung jawabku sebagai suamimu Sya' batin Reza


"InsyaAllah enggak. Jangan takut" hibur Tasya


"Aa gak coba masukkan ke minimarket waralaba itu?" tanya Tasya


"Besok mau" ucapnya


"Hotel? Restoran? Eh tadi juga ada sebagian dari katering sama rumah makan yang minta dipasok" ucap Tasya antusias


"Iya. Nanti Aa kunjungi satu-satu. Maaf ya, nanti aa gak selalu menemanimu" ucap Reza


"Iya. Nanti kalau aku bosan boleh ikut kan?" tanya Tasya


"Boleh sayang. Aa gak ajak kamu karena kasihan sayang. Takutnya lebih lelah" ujar Reza


"Iya. Aku sih fokus dulu sama jual online saja dulu sayang" ujar Tasya


"Iya. Tolong bantu Aa ya Sya" ucaonya seraya tersenyum


"Mari hadapi bersama. Alhamdulillah banyak yang sayang kita A. Semua karyawan kompak sekali." ucap Tasya takjub


"Iya, berkat Papa yang selalu baik sama mereka" ujarnya


***


Malam pun tiba, tapi Reza masih berkutat dengan mesin printer dihadapannya. Dia membuat proposal dalam jumlah yang banyak untuk dia sebarkan besok.


"Belum tidur A?" tanya Tasya yang terbangun


"Belum sayang. Ini sedikit lagi" ucapnya


"Tasya mengambil vitamin miliknya, dia memberikannya pada Reza. Reza segera meminumnya. Tasya menunggu Reza sampai selesai.


"Tidur yuk, sudah jam tiga" ajak Reza yang tidak tega melihat istrinya menemaninya.


Mereka tidur saling berhadapan.


"Selamat tidur sayang" ucapnya seraya mengecup Tasya


*** Teman Readers apakabar? Moga sehat dan bahagia selalu ya..

__ADS_1


Seperti biasa aku minta tolong VOTE KOIN dan POINnya ya.. Jangan lupa ramaikan LIKE dan KOMENTARNYA. Terima kasih ^^ ***


__ADS_2