BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Liburan


__ADS_3

"Papi.. Bangun.. Sudah jam segini Pap" Tasya mengguncang tubuh Reza.


Reza yang malas menutup wajahnya dengan selimut.


"Papi..bangun.." Tasya masih mengguncang tubuh suaminya.


"mmm.." dengan malas Reza membuka matanya. Dia melihat Tasya yang sudah segar, duduk dimeja riasnya.


"Tumben sudah mandi mam?" tanya Reza


"Kena ompol Vano, tadi bocor popoknya." ucap Tasya


Reza duduk kemudian mendekat ke arah istrinya, dia memeluk leher istrinya dari belakang dengan membungkukan tubuhnya seraya mengecup puncak kepala istri kesayangannya.


"Sana ah, cepetan mandi" Tasya melepaskan tangan Reza


"Morning kiss dong sayang." pinta Reza


"Gak mau. Bau naga."


"haha.." Reza terbahak.


"Ih tuh kan, naganya pada keluar." ucap Tasya seraya memakai lipstik tipisnya


"Pagi-pagi sudah seger kayaknya enak nih di ajak olahraga" goda Reza


"Jangan macem-macem. Aku males mandi dua kali Pap."


Reza masih memperhatikannya.


"Sana mandi Papi. Kalau telat gimana" Tasya melotot ke arahnya dari pantulan cermin.


"Gak apa-apa. Gak akan ada yang ngehukum ini kali Mam." ucapnya


"Aku kasih tahu Papa tahu rasa."


Reza segera masuk ke dalam kamar mandi. Seperti biasa Tasya menyiapkan keperluan suaminya. Setelah selesai Tasya duduk berselonjor sambil mengelus lembut perutnya.


"Tumben Mami gak nyiapin makan" tanya Reza begitu keluar kamar mandi.


"Dedek nendangnya kuat kali ya, ngilu gini" ucap Tasya menunjukan bagian bawah pusarnya.


"Masih sakit?" tanya Reza


"Dikit" ucapnya.


"Yah, terus gimana besok Mam?"


"Apanya?"


"Kita kan mau ajak Abang ke taman satwa." Reza mengingatkan


"Besok sembuh sayang." ucap Tasya. Dia tak mau acarnya gagal.


Seminggu berlalu, Reza masih mulus menepati janjinya. Dia lebih peduli pada istrinya walau selalu pulang telat. Minimal Reza selalu ada komunikasi dengan Tasya, begitu pikirnya.


Besok Reza berjanji mengajak jalan keluarga kecilnya untuk melihat satwa karena Vano mulai menyukai hewan-hewan yang sering dia lihat di layar televisi


"Kaos kakinya mana Mam?" tanya Reza.


Tasya yang duduk, segera mengambilnya di dalam laci lemari baju Reza. Reza sudah terbiasa semuanya disiapkan oleh sang istri.


"Mam, beliin Papi kemeja lagi Mam. Kok perasaan agak sempit kemeja yang biasa dipakai." pinta Reza seraya memakai ikat pinggang dicelananya.


"Mau dibeliin atau nanti sama Papi?" tanya Tasya


"Lihat nanti sayang, kalau Minggu gak capek kita jalan. Kalau enggak, Mami yang beliin."


"Olahraga lagi makanya Pap."


"Iya nanti mau sepak bola saja sama anak kantor. Mereka bikin klub gitu katanya."


"Kok gak golf lagi?" sindir Tasya


"Pencitraan sayang dulu mah. Sudah sih Mam jangan dibahas."


"Kalau gak suka makanya jangan sok suka. Mentang-mentang gaulnya sama CEO-CEO-an. Ikut-ikutan main golf. Pulang-pulang sakit pinggang. Halah" Cibir Tasya


Reza hanya tertawa mendengar omelan istrinya.


"Papi mah sukanya ditemenin caddy-nya kali."


"Tuh kan pikirannya kemana saja. Orang baru nyoba tiga kali doang Mam."


"Iya, tapi tuh mubadzir peralatannya." omel Tasya


"Aku jual ke tukang rongsok saja ya?" goda Tasya


"Enak saja Mam. Mahal itu. Habis berapa coba itu peralatan" gumamnya.


"Jadi habis berapa?" Tanya Tasya mendekat ke arahnya.


"Mm.. Lupa Mam." Reza mulai ketakutan.


'Kalau dia tahu harganya, bisa digoreng si diamond' batinnya.


"Sudah, ayo sarapan." Reza segera mengalihkan pembicaraannya.


Reza menarik kursi makan duduk disana. Sementara sang istri masih berdiri disampingnya menyiapkan sarapan Reza.


"Vano dibelakang?" tanya Reza


"Iya. Bareng Papa." ucap Tasya seraya menaruh roti di piring Reza.


"Papi nanti pulang telat ya, biar Senin gak dikejar-kejar kerjaan." ucap Reza disela-sela mengunyahnya.


"Iya. Asal kabari saja. Jangan asyik sendiri."


"Oke mam."


Reza memperhatikan Tasya yang sedang menghancurkan alpukat dan menaruhnya di roti miliknya. Kemudian memberikan kental manis cokelat diatasnya.


"Papi mau dong Mam." pinta Reza yang nampak tergiur dengan roti milik istrinya.


Tak banyak bicara, Tasya memberikan miliknya pada Reza.


"Ini mau lanjut dimakan gak?" tanya Tasya melihat roti milik Reza tinggal setengahnya


"Enggak. Kenyang ini juga" menunjuk roti yang diberikan Tasya.


Tasya menggigit roti bekas suaminya.


"Mami gak bikin lagi?" tanya Reza melihat Tasya menghabiskan sisa rotinya.


"Enggak. Ini saja" ucapnya.


Setelah selesai, Reza menghampiri Vano yang sedang bermain.


"Papi berangkat ya Bang. Jangan nakal, jangan rewel ya sayang." ucap Reza seraya mengecup pipi gembul anaknya.


Reza menggendong Vano dan membawanya ke depan meninggalkan Pak Danu yang sedang olahraga disana. Tasya mengikutinya seperti biasa.


***


"Vanoo makan siang dulu yaa" ajak Tasya sambil menuntun Vano menuju ruang televisi. Dia mengajak Vano menonton aneka satwa kesukaan Vano sambil makan. Biasanya Vano makan lebih lahap saat menonton acara kesayangannya.


Dering ponsel Tasya mengalihkan perhatian Vano.


"Angkat Bang, pasti Papi." ucap Tasya


Vano memberikan ponselnya pada Tasya.


"Pinter banget sih anaknya Mami" ucap Tasya seraya mengambil ponsel dari Vano.


"Hallo kesayangan Papi" Reza tersenyum didepan layar ponselnya


"Assalamu'alaikum dong Pap" protes Tasya


"Oh iya. Waalaikumsalam sayang"


"Lagi pada ngapain?" tanya Reza

__ADS_1


Tasya mengarahkan mangkuk berisi makanan Vano sementara Vano heboh menunjukan gambar yang ada di televisi pada Reza.


"Besok ya sayang kita lihat langsung." ajak Reza


"Mbak Diah tolong teruskan Mbak" ucap Tasya memberikan mangkuk makan milik Vano.


Mbak Diah mengambil mangkuknya dari Tasya.


"Sayang sudah makan?" tanya Reza


"Pap, Aku ke toko buah ya? Ingin beli delima." ucap Tasya


"Tunggu Papi pulang ya. Papi pulang cepet."


"Katanya pulang telat?"


"Ini sudah mau beres, tadi ada kegiatan yang di cancel" ucapnya


"Alhamdulillah"


"Mau Papi yang beli atau mau ikut?" tanya Reza


"Ikuuut. Sekalian belanja buat besok kan" Tasya berbinar


"Ya sudah. Papi lanjut kerja dulu sayang."


"Iya. Semangat Papi."


"Love you Mam"


"Iya. Me too"


***


Sore hari, Tasya sudah siap menyambut Reza pulang ke Rumah. Tak berapa lama suara mobil masuk ke halaman rumah.


"Abang, Papi pulang. Yul kita lihat Papi" ajak Tasya


"Assalamu'alaikum abaaang" Reza menggendong anaknya seraya menciuminya.


"Waalaikumsalam." balas Tasya. Mereka masuk kedalam rumah.


Tasya segera menuangkan air putih untuk suaminya sementara Reza masih bermain dengan Vano.


Reza menyerahkan Vano pada Mbak Diah, dia mengikuti Tasya masuk ke dalam kamar.


"Mam, jadi beli delima?" tanya Reza


"Jadi. Dari tadi rasanya udah terasa banget." ucap Tasya menelan salivanya.


"Kita berdua saja ya Mam. Cuma bentar kan?"


"Iya beli buah sama snack saja Pap buat besok."


"Kalau masih capek istirahat saja dulu Pap." ucap Tasya.


"Yuk sekarang. Biar nanti istirahat sekalian." ajaknya.


Reza hendak membuka kemejanya, tapi Tasya segera menahannya.


"Tanggung kotor bajunya, nanti pulang langsung bersih-bersih." ucap Tasya


"Ya sudah. Yuk." ajak Tasya


"Sun dulu" ucap Reza. Reza mengecup seluruh wajah istrinya.


"Mbak, aku mau cari delima sebentar. Titip Vano boleh ya?" ucap tasya


"Iya Bu."


"Mbak mau titip sesuatu?" tanya Tasya


"Enggak Bu."


"Ya sudah, aku berangkat ya. Assalamu'alaikum." pamit Tasya


Reza telah berada dimobilnya terlebih dahulu.


"Kencan kita Mam?" ucap Reza.


"Mau makan diluar?" ajak Reza


"Kasihan Vano sayang."


"Sekali-kali Mam. Kan kita butuh waktu juga buat pacaran." ucap Reza


"Besok masih jalan kan Pap? Aku gak mau Papi kecapean." ucap Tasya


"Enggak sayang." Reza menggenggam. Tangan Tasya kemudian mengecupnya.


"Terima kasih Pap" ucap Tasya menyederkan kepalanya di lengan Reza.


"Buat apa sayang?"


"Berubah. Moga tetep dijalur kayak gini ya." ucap Tasya


"Aamiin. Mohon doa dan dukungannya. Jangan lupa coblos nomor Dua" ucap Reza


"Siapa nomor dua? Mang Udin?"


"Diamond Yang." ucapnya seraya tertawa.


Tak terasa, mereka tiba di toko buah. Reza segera mengambil troley.


"Mbak, delima sebelah mana ya?" tanya Tasya yang kebingungan setelah mencari buah delima.


"Stoknya kosong Bu. Belum ada pengiriman" ucap pelayan tersebut.


Tasya memasang wajah kecewa.


"Cari ditempat lain yuk Mam." ajak Reza


"Pulang saja Pap" ucapnya dengan lesu


"Enggak sayang. Kita cari saja. Yuk" Reza menuntun Tasya keluar dari toki buah tersebut.


Reza menyusuri satu persatu toko buah pinggir jalan, namun tak ada satu pun yang menjual buah delima.


"Tumben sekali susah." ucap Reza setelah masuk ke dalam mobil.


"Ya sudah pulang saja Pap" ajak Tasya sedikit kecewa.


"Cari lagi ya sayang" bujuknya


"Nanti saja, kasihan Vano kalau kelamaan ditinggal" ucap Tasya


"Telepon Mbak Diah, sayang" pinta Reza


"Buat apa?"


"Tanyain Vano sudah tidur belum?"


"Gak usah."


"Mana kontaknya, biar Papi yang bicara."


"Enggak usah sayang"


"Sini ponsel Maminya." Reza memaksa


"Makanya taruh deh nomornya." protes Tasya saat memberikan ponselnya


"Kan Mami yang biasa urusan sama dia." ucapnya seraya menempelkan ponsel di telinganya.


Reza berbicara dengan Mbak Diah menanyakan Vano dan menitipkannya karena Tasya merasa tak enak pada Mbak Diah.


"Yuk kita cari lagi. Untung ida udah tidur" ucap Reza


"Makan saja yuk? Papi kan belum makan." ajak Tasya


"Mami mau makan apa?"

__ADS_1


"Seafood yuk Pap"


"Dimana? Dilangganan?"


"Kemarin katanya ada yang beli seafood sendirian terus inget Mami"


"Hehe.. Itu Papi galau banget tau Mam. Nyampe makan gak Papi habiskan" ucapnya.


Reza menggenggam tangan Tasya.


"Terima kasih sudah mau pulang sayang." Reza mengecup punggung tangan Tasya


"Ya sudah ayo jalan" ajak Tasya


Reza menjalankan mobilnya sambil menggenggam tangan Tasya. Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di tenda seafood.


"Kencan nih kita" ucap Reza setelah memesan makanan mereka


"Kencan sama si Dedek" ucap Tasya


"Iya nih, gantian. Dulu bawa-bawa si Abang." ucapnya sambil memgelus perut istrinya.


"Gak kerasa ya sayang kita nikah perasaan baru kemarin." ucap Reza tersenyum menatap istrinya


"Huum."


"Gadis yang nabrak mobil, eh malah jadi istri sekarang. Jadi ibu dari anak-anak juga. Alhamdulillah" ucap Reza


"Iya, gak tahu harus bersyukur atau ngeluh dinikahin sama om-om galak, nyebelin lagi" sindir Tasya


"Tapi cinta kan?" goda Reza


"Terpaksa." ucap Tasya


"Mami mah jahat banget" Reza cemberut


"Jujur aku mah Pap. Awalnya man gak cinta. Terus kita serumah, seranjang juga. Gimana gak jadi cinta orang yang diliatnya Papi lagi Papi lagi" ucap Tasya


Reza tertawa. Bersamaan dengan datangnya pesanan mereka.


"Makan dulu jangan ketawa mulu" protes Taysa


Percakapan kecil mengenang masa indah mereka sukses mengembalikan mood Tasya.


"Mau keliling lagi cari delima?" ajak Reza


"Enggak sayang. Pulang saja." ucap Tasya


"Ya sudah. Besok kita lanjut ya Mam. Sabar ya" Reza mengelus perut istrinya.


"Dedek sabar ya. Besok kita cari lagi." ucapnya.


***


"Semua sudah beres sayang?" tanya Reza melihat Tasya membawa Tas milik Vano


"Sudah."


"Susu?"


"Sudah semua."


"Yuk berangkat." ajak Reza


"Eh, ada yang belum?" Reza menarik lwngan Tasya sebelum membuka pintu kamarnya


"Apa?"


Tanpa menjawab Reza mengecup lembut bibir istrinya berkali-kali


"Yuk sudah" ajaknya


"Papa mau ikut Pa?" ajak tasya pada Pak Danu yang sedang bermain dengan Vano


"Enggak. Papa sudah janji sama teman." tolak Pak Danu


"Ya sudah, kalian hati-hati." ucapnya kemudian


Setelah pamit, mereka masuk ke dalam mobil.


"Let's gooo Vanoo.. Kita berangkaaattt" Reza mengajak anaknya dengan senang


Tasya mencubit lengan Reza.


"Baca doa Papi, lets go lets go."


"Oh iya. Alfatihah dulu Van."


"Ih malah main-main."


"Baca doa naik kendaraan saja." ucap Tasya melafalkan doa tersebut.


"Aamiin." Reza mengusap mukanya


"Van, berangkaaaatttt" Reza dan Vano heboh.


"Ih Papi cepet jalan bukan berangkat-berangkat terus"


"Oh iya. Papi nyetir ya."


"Dasar"


"Becanda sayangku" Reza mencolek dagu Tasya tanpa malu dihadapan Mbak Diah.


Reza mengajak anaknya berbicara tak henti hingga suasana dalam mobil hening karena Vano tertidur.


Disepanjang jalan menuju taman satwa, terdapat penjual wortel yang menjajakan wortel. Reza sengaja membeli banyak wortel untuk memberi makan satwa yang ada disana.


Tasya terbangun saat Reza berbicara dengan petugas tiket yang menghampiri mobil mereka.


"Tiga orang ya." ucap Reza seraya memberikan uang kepada petugas satwa karena Vano masih gratis untuk masuk kesana.


"Vanoo bangun Van, ayoo kita lihat satwa." ucap Reza membangunkan anaknya ketika masuk ke pintu gerbang.


Disana semua hewan bebas berkeliaran menghampiri mobil yang melintasinya. Hanya hewan buas yang dibatasi dengan pembatas


"Tuh lihat rusa tuh Van." Reza menunjuk rusa yang bebas berjalan diantara mobil-mobil yang melintas. Satu rusa menghampiri mereka, Tasya membuka kaca mobilnya kemudian memberi makan rusa sementara Vano menangis ketakutan.


"Haha.. Gak apa-apa sayang" Reza menenangkan anaknya


Mobil mereka berjalan secara perlahan melewati berbagai macam hewan.


Tiba-tiba sebuah gajah yang ditunggangi petugas menghampiri mobil mereka.


"Saweer.. Saweer.. " ucap petugas tersebut.


" Kasih wortelnya Mam" ucap Reza


"Ih takut Papi" ucap Tasya saat belalai hewan tersebut tepat menempel di kaca mobil mereka. Dengan memberanikan diri Tasya membuka kaca dan memberikan wortelnya, seketika belalai gajah mengambilnya dan memasukannya kedalam mulutnya yang besar.


Tiba saatnya mereka memasuki daerah hewan buas. Disana petugas melarang setiap kendaraan yang melintas membuka kacanya.


"Mami, katanya masuk sini bisa gratis loh. Tapi ada syaratnya" ucap Reza


"Apa syaratnya?" tanya Tasya


"Gampang Mam."


"Ya apa?" Tasya tak sabar


"Kenapa kita gak pake gratisan kalau gampang" ucap Tasya


"Syaratnya asalkan masuk ke dalam sini pakai sepeda motor" ucap Reza


"Ih dasar! Keluar dari sini tinggal nama" gerutu Tasya yang membuat Reza terbahak.


.


.


.

__ADS_1


Cie.. Ciee.. Yang akur yaa mami papi.


Sawerannya dong kata papi, cukup vote, like, dan komentar deehh.. Makasih ^^


__ADS_2