BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Tangisan Tasya


__ADS_3

Setelah menyisir rambutnya, Tasya keluar kamar untuk menghindari Reza. Disana Pak Danu sedang menonton televisi.


"Kamu kapan pulang nak?" tanya Pak Danu ketika Tasya mendekat ke arahnya.


Tasya tidak canggung dengan Pak Danu karena sudah sangat lama mengenalnya. Pak Danu sudah biasa melihat Tasya tanpa kerudungnya.


"Tadi Pa, aku kira papa belum pulang. Papa sudah makan?" tanya Tasya


"Sudah Nak. Tadi diajak kemana saja sama Reza?" tanya Papa


"Setelah dari gudang tadi kita nonton Pa."


"Sya, moga kamu betah disini ya. Maaf kalau disini tidak seperti di rumahmu." ucap Pak Danu serius


"Iya Pa. Tapi Tasya masih bolak balik buat ke kampus Pa. Doakan Tasya ya Pa biar cepat lulus. Kasihan juga A Reza nanti harus bolak balik antar Tasya."


"Gak apa-apa nak. Papa juga bisa ikut kesana kalau senggang. Papa betah di rumahmu. Kamu tahu sendiri kan." ucapnya lagi


"Pantes betah ya. Ternyata lagi asyik nih sama Papa" ucap Reza sambil mendekat ke arah mereka.


Tasya tidak menggubrisnya. Entah kenapa dia sebal melihat Reza


"Tasya kan bukan cuma milik kamu Za. Dia sekarang anak Papa" ucapnya bangga.

__ADS_1


"Pa, aku ke kamar dulu ya. Lupa mau kirim email ke teman" Tasya menghidar lagi dari Reza


Reza heran melihat Tasya yang seolah menghindar darinya.


'Masa sih dia cemburu gara-gara Cindy tadi? Jangan mimpi Tasya cinta sama kamu Za!' batin Reza


Reza kemudian berbincang dengan Pak Danu.


Dikamar Tasya merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya.


'Aku ingin pulang' batinnya sedih. Dia merasa sendirian di tempat yang asing.


"A.. Aku kangen" Tasya mengirim pesan pada kakaknya


"Aku gak betah disini a. Huhu.. Ingin pulang ke rumah. Kangen ayah ibu juga" ucapnya seraya memberi emotion menangis dalam pesannya


"Belum terbiasa Sya. Nanti lama-lama malah kamu gak mau pulang kesini" hibur Rasya


Tasya tak membalasnya lagi. Dia menitikan air matanya. Makin lama air matanya samakin susah dibendung.


Ceklek.. Reza membuka pintu kamar. Tasya cepat-cepat menghapus air matanya.


"Kenapa kamu nangis Sya? Aku ada salah sama kamu? Sepertinya kamu menghindar dariku Sya" tanya Reza penasaran

__ADS_1


"Nggak" jawab Tasya pelan


"Ayo jujur sama aku Sya. Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba saja begitu?" Reza mulai mendesaknya


Tasya diam. Air matanya mulai menggantung kembali di matanya. Dia tahan agar tidak menetes. Tetapi air matanya jatuh juga di pipinya.


"Sya bicara dong sama aku. Kamu kenapa sih?" Reza masih mendesaknya.


'Aku sebal sama kamu A' batin Tasya.


Tasya terdiam sambil sesekali menyeka air matanya. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Reza. Tenggorokannya terasa tercekat. Hatinya terasa sakit.


"Sya..kamu gak betah disini?" tanya Reza dengan lembut. Di belainya rambut Tasya.


Semakin Reza bersikap seperti itu, Tasya semakin menangis. Reza kebingungan dengan sikap Tasya.


"Kamu gak betah? Kalau gak betah besok kita pulang ke rumah ibu" ajak Reza masih dengan suara lembut


Tasya masih tidak menjawabnya.


"Sya kamu kenapa? Gak betah? Iya?" Reza penasaran lagi. Sekarang Tasya dipeluknya. Direbahkan kepala Tasya di dadanya yang bidang.


"Sya, kalau ada apa-apa bilang sama aku ya. Jangan nangis begini. Aa jadi bingung kalau Tasya begini" dibelai lembut wanitanya itu.

__ADS_1


Tasya merasa nyaman dipelukan Reza. Dia senang saat Reza memeluknya. Tapi dia juga sebal sama Reza.


__ADS_2