
Tasya mengingat kembali saat mereka tinggal di Apartemen. Reza yang cuek dan memilih lembur daripada menemaninya, membuatnya sakit hati dan kesal.
'Sepertinya A Reza menyesal karena aku kecelakaan. Kalau tidak kayak begini? Mana mungkin dia sebaik sekarang' batinnya bergemuruh.
'Aku sudah bulat buat pulang sama Ibu. Terserah saja dia melarangku atau bagaimana. Toh, disini juga aku gak punya orang yang bisa diandalkan.' Emosinya merangkak naik.
Entahlah, kini perasaannya pada Reza terasa hambar. Upaya yang Reza lakukan sekarang, hanya sebagai penebus dosa terhadapnya saja. Itu yang Tasya rasakan saat ini.
Dan benar saja. Reza menyesali semua yang telah terjadi seolah semuanya kesalahannya sendiri. Banyak kata andai yang terbersit dalam benaknya saat ini.
Reza sekarang lebih banyak murung dan termenung. Dia tahu, Tasya marah kepadanya. Dia pun harus memaklumi itu karena semua berawal dari kesalahannya.
***
"Aa"
"Hmm.. " Rasya fokus pada ponselnya
"Aa gak bisa gitu curi-curi foto Vano A?" tanya Tasya yang kangen pada anaknya
"Heh? Gak bisa Neng. Ketat banget disana" bohongnya, Rasya tak berani menatap Tasya
"Aku yang melahirkan, tapi aku juga yang gak bisa lihat wajah anakku sendiri A" Tasya berkaca-kaca
"Sabar Neng. Memang kamu mau Vano sedih lihat kondisi kamu kayak begitu?" Rasya menakutinya sambil meliriknya. Kemudian fokus kembali pada layar ponselnya.
"Ya enggak sih, tapi.."
"Mending kamu fokus sama kesembuhanmu dulu deh, baru kamu mikirin Vano" ucap Rasya
"Aa sih gampang bilang begitu, aku yang menjalaninya?" Tasya membuang nafasnya berat.
"Terus Aa harus bagaimana sayang?" Rasya mendekat pada adiknya. Dia merangkulnya sementara Tasya menyandarkan kepalanya pada bahu Rasya. Ada kenyamanan seperti biasa disana.
Tiba-tiba dia teringat Reza. Sudah lama sekali rasanya dia tidak bersandar di bahu sang suami. Ada rasa rindu dihatinya. Ada rasa kehilangan akan sosok Reza yang biasanya.
'Dulu kita pernah sedekat nadi A, sebelum semuanya terjadi. Dan kini, aku rasa kita sejauh matahari.' Batinnya kini merasa sedih, matanya terlihat sendu. Tak terasa air matanya mulai menetes.
"Sudah, kamu sudah jadi Mami-Mami masih cengeng." ucap Rasya
"Vano gak apa-apa. Dia sehat Neng" Rasya menghiburnya. Dia tak tahu, siapa yang ditangisi Tasya sebenarnya.
"Kalau nangis kepala kamu sakit lagi Neng. Sudah jangan nangia terus" ucap Rasya
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Tasya masih menangis di bahu sang kakak. Sementara orang yang dia rindukan ada dihadapannya. Ingin sekali dia segera berhambur memeluknya. Tapi egonya selalu menahannya.
"Kenapa nangis sayang?" Reza heran
"Aa nyusul Ibu lihat Vano ya" ucap Rasya seraya bangkit dan berjalan meninggalkan mereka
Tasya segera menghapus air matanya.
"Hmm..kenapa menangis?" tanya Reza lembut.
Reza duduk disampingnya membuat jantung Tasya berdebar seketika.
"Sayang.. " Reza mulai merangkulnya
__ADS_1
"Mami mau pulang kesana?" Reza menduga
Tak ada jawaban dari mulut Tasya
"Hmm..?" Reza menggenggam tangannya
"Kalau Mami ingin disana dulu, Papi izinkan" ucapnya. Dia mengira Tasya menangis karena ingin pulang ke kampung halamannya.
"Sudah jangan menangis lagi. Papi kan sudah izinkan" Dia pasrah. Dorongan dari Adit membuatnya mempertimbangkan keputusannya.
Mereka saling diam lama.
Tak lama, Ibu dan Rasya kembali ke kamar. Mereka berbincang sebentar kemudian Ibu dan Rasya pamit pulang.
"Papi mandi dulu ya sayang" Pamit Reza yang segera masuk ke dalam kamar mandi
Tasya merebahkan tubuhnya. Kini pikirannya menerawang. Tekadnya untuk meninggalkan Reza sendirian kini mencair. Ada rasa tak tega dalam dirinya untuk meninggalkan suaminya. Walau bagaimanapun, Reza lebih berhak atas dirinya.
Kini dia bimbang, langkah mana yang harus dia ambil. Di satu sisi, dia butuh sosok Ibu dan kakaknya untuk merawat dia dan anaknya. Di sisi lain, ada lelaki yang membutuhkannya.
Pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Reza keluar dari sana. Tasya memperhatikannya dalam diam sampai dimana pandangan mereka bertemu.
"Tidur sayang. Biar besok makin sehat" ucapnya hangat
Reza mendekat ke arahnya.
"Jangan banyak pikiran. Papi mau Mami lekas sembuh biar kita bisa berkumpul bertiga".
Mendengar Reza berkata begitu, hatinya bagai teriris sembilu. Bulir air bening tiba-tiba mengalir dari sudut matanya.
"Jangan nangis sayang, hmm.. Jangan nangis lagi" ucapnya masih dengan nada hangat
Pandangan mereka bertemu lebih dekat. Rasa rindu terbersit dalam hati mereka masing-masing.
Reza sadar, medan magnetnya berpusat pada diri sang istri. Semakin lama Reza makin mendekat hingga nafas halus mereka terasa bersahutan.
Tasya memejamkan matanya, hatinya seakan ingin meloncat keluar dari tubuhnya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan seperti ini. Rasa kaku menderanya. Terasa hidung mancung suami mulai menempel dihidungnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Keduanya gelagapan.
"Cek suhu dan tekanan darahnya dulu ya Bu" seorang perawat datang membuyarkan atmosfir diantara mereka.
Tasya tak berani memandang suaminya, wajahnya terasa lebih panas dari biasanya. Begitupun Reza, wanita yang dia rindukan kini kembali dalam genggamannya.
Mereka terdiam tak banyak bicara, membuat sang perawat menjadi lebih kikuk berada diantara mereka.
"Kapan saya bisa pulang ya sus?" tanya Tasya memecah keheningan diantara mereka
"Emm.. Nanti dokternya yang akan menjelaskan ya Bu. Saya kurang tahu" ucapnya ramah
"Saya sudah bosan sus" ucapnya jujur
"Sabar ya Bu. Ini sudah Bu. Semuanya normal" ucap Perawat yang kemudian pamit.
Reza kembali mendekat dengan wajah lebih ceria.
__ADS_1
"Sayang.. "
" Aku ngantuk A" Tasya memalingkan mukanya malu
"Hmm.. Yakin?" goda Reza
"Apa sih A Reza! Sana ke kasur" usir Tasya
"Hmm.." Reza menggodanya dengan senyumnya yang menawan.
"Turunkan lagi kasur aku. Aku mau tidur" perintahnya
"Sun dulu Mam" pinta Reza
"Ga"
"Sun dulu cepat" rengeknya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri
"Enggak. Sana" Tasya menahan tubuh Reza
Reza mengecup kilat bibir Tasya kemudian memijit kembali tombol panel untuk menurunkan posisinya. Sementara Tasya menahan dirinya agar tetap duduk.
Reza membimbing kembali sang istri agar terlentang. Kini dia di atas sang istri dengan tumpuan kedua tangannya.
Dilihatnya lekat-lekat wajah sang istri. Balutan perban dikepalanya tak mengubah cinta yang besar pada dirinya.
"Jangan lihat-lihat. Sana" usir Tasya mendorong dada Reza
"Kenapa? Sudah lama sekali kita gak begini" ucap Reza
'Aku pikir, hanya aku yang merasakannya A' batin Tasya
"Suruh siapa sibuk sendiri!" Tasya mulai ketus.
"Maaf.. " ucapnya lirih
"Janji gak gitu lagi sayang" wajahnya penuh penyesalan
"Mami mau kan maafkan Papi?"
Tasya terdiam. Rasa kesalnya masih ada.
"Mam, mau kan maafkan Papi?" ulangnya
"Sudah sana! Aku mau tidur!" usir Tasya
"Jawab dulu Mam" pinta Reza
"Sana!" Tasya melihatkan wajah galaknya
Reza mengecup kilat pipi istrinya.
"Selamat tidur sayang" dia melangkah pergi ke kasur miliknya.
*** Semakin seru yaa komentarnya. Aku syuukaaa ^^
Bantu VOTE juga yaaa temans, tinggalkan jejak lagi yuk di chapter ini. Jangan lupa komentarnya juga.
__ADS_1
Oya, follow instagramku @only.ambu. Terimakasih ^^ ***