
Pak Danu sedikit terpana mendengar ucapan Tasya.
'Apa Tasya tahu, si anak nakal itu pinjam uang?' batinnya sedikit cemas.
"Pa, apa A Reza selalu boros dari dulu?" tanya Tasya
"Eh? Reza boros? Maksudnya bagaimana?" tanya Pak Danu
"Membeli hal-hal yang gak terlalu penting maksudnya Pa" ralat Tasya
"Ya, dia memang kadang begitu. Memang kenapa?" tanya Pak Danu
"Gak apa-apa Pa"
"Ada apa? Bilang saja sama Papa"
"A Reza ingin membeli mobil baru katanya" ucap Tasya
"Untuk apa?"
"Katanya kasihan Vano kalau pakai mobil itu. Dia ingin beli mobil MPV agar lebih nyaman"
Pak Danu tersenyum meremehkan anaknya
"Dasar anak itu."
"Aku inginnya nabung dulu. Jangan beli yang gak terlalu penting. Tabungannya sudah terkuras habis tapi A Reza malah memikirkan yang tidak-tidak" ucap Tasya akhirnya menumpahkan kekesalannya pada Pak Danu. Mencoba mencari solusi dari Papa Mertua.
Tak lama, Reza datang membuat mereka seketika berhenti berbicara.
"Mami kok gak tunggu Papi pulang sih?" protes Reza
"Kamu lama, Papa suruh nemenin Papa makan saja. Kasihan kalau nunggu kamu" ucap Pak Danu
Reza segera mencuci tangannya dan bergabung dengan mereka.
"Papa sudah selesai." ucap Pak Danu hendak beranjak meninggalkan mereka
"Pa, aku buat puding. Mau makan sekarang?" tanya Tasya
"Boleh. Papa sambil nonton televisi saja ya" pintanya. Pak Danu sengaja memberikan ruang untuk keduanya.
Tasya meninggalkan Reza dan segera membuka kulkas. Dia memberikan beberapa potong puding untuk mertuanya.
"Mam.. Kok masih marah?" tanya Reza saat Tasya mendekat.
Tasya tak menjawabnya. Dia fokus mengumpulkan piring kotor. Sementara Reza memperhatikannya sambil makan.
Tasya telah mencuci piring, tak lama dia meninggalkan Reza sendirian di ruang makan. Pak Danu berjalan melewati Reza.
"Emang enak dicuekin" sindirnya seraya menaruh piring kotor dan berlalu.
Reza hanya bengong mendengar ucapan Papanya. Setelah selesai, dia segera menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.
"Sayang.. " ucapnya pada Tasya. Sementara Tasya masih pura-pura menata baju Vano.
Reza segera mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Baru makan bukannya istirahat dulu, malah langsung mandi" gerutu Tasya
Reza keluar dari kamar mandi. Dia mengambil kaosnya sendiri. Biasanya Tasya selalu menyiapkan bajunya, tapi kali ini Tasya enggan melakukannya.
"Mam"
Tasya tak menjawabnya. Dia pura-pura sibuk melihat ponselnya.
"Mami!" bentak Reza
Tasya tersentak, mendongak ke arah Reza.
"Begitu lagi kan! Papi gak suka kalau Mami begini!" ucapnya ketus
Entah keberanian dari mana, Tasya ingin membalasnya.
"Aku juga gak suka sama sikap Papi!" balasnya tak kalah ketus
"Yang mana?" Reza hilang kesabarannya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak menumpahkan amarahnya pada Tasya
"Pikir sendiri!" ucap Tasya
Tasya terdiam. Kepalanya mendidih. Dia ingin sekali berteriak.
"Aku gak suka kamu cuma diam saja saat aku bertanya!" Reza berkacak pinggang.
"Setiap aku bicara apa kamu mendengarnya? Tidak! Percuma aku bicara sementara kamu selalu teguh pada pendirianmu sendiri!" Tasya mendelik sebal
"Yang mana? Yang mana aku teguh pada pendirianku?" tanya Reza menantang
"Ruangan ini apa! Kalau bukan hasil keegoisanmu! Apartemen itu juga!"
"Kamu juga menikmatinya bukan!"
"Kamu juga suka bukan?"
"Aku melakukan semuanya buat kita. Khususnya buat kamu, Mam!"
Tasya terdiam. Dia sedikit tersentuh dengan ucapan Reza.
"Kamu tahu, bagaimana kamu terpuruknya saat dulu kamu jatuh kan Pap? Apa kamu tidak belajar dari sana?" suara Tasya melunak.
"Aku melihatmu seperti waktu itu saja tak tega. Tak ingin kamu mengulang masa itu" ucapnya kembali.
Kini Reza yang melunak, dia duduk mendekati istrinya.
"Kenapa sih selalu saja boros? Padahal aku gak minta macam-macam Pap."
"Aku sudah sangat bahagia sekarang. Jangan rusak kebahagian kita dengan hal-hal lain untuk saat ini. Jangan membuatku cemas" ucap Tasya kemudian
"Aku bukan pelit atau apa. Aku tahu, Papi ingin memberikan yang terbaik untuk kami. Aku sangat berterima kasih. Tapi, aku harap Papi bersabar dulu." ucapnya kemudian
"Pakai mobil mewah saja Papi bilang sumpek. terus dari mana Papi akan bersyukur?" Tasya menceramahinya
Reza terdiam. Mencoba mencerna apa yang istrinya katakan.
"Rumah tangga kita bukan sehari dua hari, tanggung jawab kita ngurus Vano seumur hidup. Kita harus siapkan segalanya buat dia. Bukan hanya keinginan hura-hura semata."
Reza menggenggam tangan istrinya.
"Maaf."
"Papi mengerti kan maksud Mami?" Tasya bersikap lembut kepadanya
Reza mengangguk.
"Papi akan nabung dulu"
"Bagus"
"Terus beli mobil itu segera" Tasya menatapnya tajam
"Becanda sayang"
"Gak suka deh" Tasya naik ke atas kasur.
"Marah lagi kan?" goda Reza mengikuti istrinya
"Sayang"
"Sana! Aku gak mau di ganggu!"
"Becanda sayang"
"Gak lucu!"
"Istriku.."
Reza membalikan tubuh Tasya, dia memegang kepala plontosnya.
"Jangan.. Pegang" ucap Tasya malu
"Kenapa?"
"Aku gak suka"
"Gak apa-apa. Papi suka"
Reza mengelus kulit kepala Tasya.
"Sudah. Aku gak suka"
Reza mendaratkan ciumannya di kening sang istri. Kemudian pindah ke dekat telinganya, dia menghembuskan nafasnya disana. Seketika Tasya begidig.
Reza melum*t daun telinganya sementara tangannya meraba area sensitifnya .
"Sayang? Kamu sudah berhenti?" Reza berbinar
__ADS_1
'Sudah lama, tapi aku belum siap Pap' batinnya
"Tidur yuk? Aku lelah" Tasya menolaknya halus
"Kamu sudah berhenti?" tanya Reza lagi
"Apa?" pura-pura tak mengerti
"Berdarah"
"Mmm... Sudah ya?" Reza memeluknya erat
"Aku belum siap. Aku takut" Tasya menuntun tangan Reza menyusuri garis vertikal di bagian bawah perut Tasya yang membuat Reza paham.
"Masih sakit?" tanyanya
"Enggak. Cuma takut saja" ucapnya
"Rasanya gimana ya, bukan mengganjal tapi.. Susah dijelaskan" ucap Tasya
"Iya Papi mengerti"
"Maaf ya Pap"
"Iya. Sudah tidur saja. Besok kita kan jemput Vano."
"Kalau sudah ada Vano, pasti dia kuasai Mami. Kita juga gak bakalan tenang. Sudah mau dua bulan juga." bisik Reza
Tasya menatapnya tak tega.
"Masa sih?"
Reza mengangguk.
"Lebih malah. Terakhir waktu di apartemen itu. Berarti hampir tiga bulan" ucap Reza
Tasya mengelus rambut suaminya kemudian dia mengecup lembut bibir Reza. Reza hanya terdiam, tapi Tasya semakin aktif membuatnya ikut mengimbangi permainan Tasya.
Lama mereka bergumul, hingga gairah keduanya tak tertahankan. Reza menatap wajahnya seraya tersenyum hangat.
"Pelan-pelan ya" Tasya memberikan lampu hijau. Tanpa aba-aba, Reza merangkak naik menyalurkan hasratnya yang telah lama dia pendam.
***
"Papi.. Bangun Pap" Tasya mengguncang tubuh suaminya
"Ayo sudah siang"
"Papi"
"hmm.. Sebentar lagi Mam. Papi masih ngantuk" Reza menutupi wajahnya dengan selimut.
"Papi gak semangat jemput Vano?"
"Hmm.. Iya.." Reza membuka selimutnya.
"Minum Mam"
"Bangun dulu"
Dengan malas Reza bangun, Tasya memberikan minumnya pada Reza.
"Jam berapa sih ini?" ucap Reza sambil melirik jam. Sementara Tasya sibuk memakai lotions di tubuhnya.
"Mami sudah mandi?"
"Memang gak terlihat?"
"Enggak kan biasanya rambutnya basah" Reza seketika tersadar akan ucapannya
"Iya, sekarang gak kelihatan" ucap Tasya sedikit bersedih
"Maaf. Bukan maksud"
"Gak apa-apa. Aku sudah harus terbiasa kan" ucapnya menahan kesedihan
"Maaf sayang"
Tasya terdiam. Masih melanjutkan aktivitasnya.
"Papi mandi dulu ya." Reza mendekat ke arah Tasya, mengecup pipinya.
"I love you Tasya Fadilla" ucapnya seraya berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
***
"Sudah Bu."
"Ini aku sudah bawa perlengkapannya juga. Takutnya butuh." ucap Tasya
"Biar saya yang bawa saja bu"
"Santai saja, kita juga belum sarapan Mbak"
"Mbak sudah sarapan?"
"Sudah Bu tadi saya sarapan."
Tak lama Reza menghampiri mereka.
"Papi ke kantor?" tanya Tasya
"Enggak sayang."
"Mam, Papi mau cokelat panas." pinta Reza
"Bibi saja yang buat Neng. Neng makan saja" ucap Bi Tinah
"Terima kasih Bi"
"Gak makan nasi?"
"Enggak. Papi lagi ingin roti kukus" ucapnya
Keduanya fokus makan. Larut dengan pikirannya masing-masing.
"Aku kok deg-degan mau bertemu Vano, Pap" ucap Tasya
"Seperti mau ketemu cinta pertama" ucapnya seraya tersenyum kecil
"Cinta pertamamu ada disini." ucap Reza bangga.
"Iya" Tasya menanggapinya dengan malas.
Tasya memverezkan makanannya yang masih tersisa.
"Gak dihabisin?" tanya Reza
"Aku gak nafsu makan."
***
"Aku gak sabar ketemu Vano" ucap Tasya begitu mereka berangkat ke Rumah Sakit.
"Iya, ini kan mau jemput dia sayang" Reza tersenyum, merasa lucu dengan mimik wajah istrinya.
"Papi kenapa sih?"
"Lihat Mami lucu saja. Kayaknya grogi gitu" ucapnya
"Sedikit."
"Ada Mbak Diah, iya kan Mbak" ucap Reza meliriknya dari kaca spion
"Iya Bu. Gak usah grogi"
Mereka terdiam, tak terasa mereka sudah tiba di rumah sakit.
Tasya berjalan lebih cepat menuju ke ruang NICU bersama dengan Mbak Diah.
"Assalamualaikum Sus"
"Waalaikumsalam Mami Vano. Vano pulang ya hari ini" sapanya ramah.
"Iya sus. Saya sudah gak sabar. Hehe"
Reza menyusul mereka masuk ke dalam.
Seorang suster memberikan Reza surat pengantar pasien pulang. Reza membacanya dengan seksama.
"Saya ke bagian mana dulu ini Sus?" tanya Reza
"Silahkan Bapak ke bagian administrasi terlebih dahulu" ucap suster.
"Baik sus"
__ADS_1
Reza segera menghampiri Tasya.
"Papi urus biaya Vano dulu ya sayang" ucap Reza
"Iya."
"Dompetnya mana?"
"Kok tanya Mami?"
"Tadi Papi masukan ke tas Mami"
Tasya segera membuka tasnya.
"Ih gak bilang-bilang! Kalau tertinggal bagaimana"
"Balik lagi sayang kalau ketinggalan mah. Iya nggak Mbak" ucap Reza
Mbak diah hanya tersenyum mendengarnya.
"Papi pergi ya" pamitnya
Tasya hanya mengangguk.
Reza segera berjalan ke bagian administrasi. Cukup lama dia disana menunggu seluruh rincian biaya keluar. Reza menunggunya sambil memainkan ponselnya.
Setelah beberapa lama, Reza mwnerima kwitansi pembayaran beserta dengan rincian biayanya. Reza segera kembali ke ruang NICU.
"Bawa baju Vano, Bu?" tanya suster
"Bawa Sus."
Mbak Diah dengan segera mengeluarkan perlengkapan Vano.
Setelah memakai baju, Vano diberikan kepada Tasya.
"Pulang ya sayang. Mami harap kamu jadi anak yang sehat dan kuat agar tak sering berkunjung ke sini" Bisik Tasya pada Vano.
"Yuk pulang" ajak Reza merangkul istrinya.
Mereka berpamitan dengan para perawat dengan rasa haru.
Reza segera membukakan pintu mobil untuk istrinya setelah mereka tiba di parkiran. Tak lama dia berlari kecil untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Vano, sayang kita pulang ya." ajak Tasya lagi
"Iya kita pulang Mam. Mami bebas peluk aku sekarang" ucap Reza seolah menjadi Vano.
Sepanjang perjalanan, Tasya tak henti memandang buah hati yang berada di dekapannya. Reza melihatnya dengan bahagia.
***
"Assalamualaikum" ucap Tasya begitu masuk ke dalam rumah.
"Elvanooo... " seorang lelaki menyambutnya gembira
" Ssstttt.... " Tasya dan Reza menatapnya tajam.
"Maaf"
"Cucu Ibu sudah pulang"
"Ibu ih!"
"Kenapa?" ibu berbisik
"Dia tidur?"
Mereka mengangguk.
Tasya masuk ke dalam rumah. Di ruang televisi, Ibu telah menyiapkan kasur untuk Vano.
"Biar disini dulu. Jadi kamu dan Reza bisa istirahat dulu." ucap Reza
"Iya Bu"
Tasya segera menurunkan Vano dengan hati-hati diatas kasur. Semua mata tertuju pada bayi mungil yang masih terlelap.
"Ayah" Tasya mencium punggung tangan sang Ayah kemudian memeluknya.
"Kamu sehat Nak? Maaf ayah jarang berkunjung. Tapi ayah setiap hari dapat laporan tentangmu" ucap Ayah
"Alhamdulillah Yah. Ayah sehat?"
"Seperti yang kamu lihat. Alhamdulillah ayah sangat baik dan bahagia" ucapnya
"Berlebihan sekali Yah" protes Rasya.
"Sssttt.. Sana jangan berisik disini" Ibu mengusir mereka.
Tasya segera berjalan membuntuti Reza masuk ke dalam kamar. Begitu pintu di tutup. Reza segera memeluk tubuh Tasya. Tasya yang terkejut akan aksi Reza, hanya mematung kemudian membalas pelukan suaminya.
"Alhamdulillah Ya Allah, kini semua pinjamanMu telah kembali kepadaku. Istri yang baik dan cantik, Anak kami yang ganteng, Rezeki yang tak henti, dan kesehatan. Semua telah kembali pada keluarga kita."
"Alhamdulillah Pap. Semoga kita bisa kompak dalam menjalani rumah tangga dan menjadi orang tua yang baik untuk anak kita. Aamiin"
"Untuk anak-anak kita sayang" ralat Reza
"Aamiin" ucapnya
Mereka berciuman mesra.
"Lagi yuk" ajak Reza
"Diluar ada orang tua ah" tolak Tasya
"Sebentar saja"
"Enggak, Papi gak tahu malu sekali sih" protes Tasya.
"Doa-doa, ujung-ujungnya mesum"
"Kok mesum?"
"Ya itu ngajak jam segini"
"Kan biar terkabul doanya. Anak-anak kita sayang"
"Iya tapi nanti. Vano tiga tahunan kek"
"Iya iya."
"Aku keluar lagi saja ah" ucap Tasya setelah menyimpan tas dan ganti baju
Dia menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul.
"Eh bangun.. Pasti gara-gara wa Rasya ya" ucap Tasya
"Papa Rasya, oke?" ralat Rasya
"Ibu katanya gak bisa kesini. Tahu gitu tadi jemput juga bareng Ibu" protes Tasya
"Biasa Aa bohong tuh. Dia sengaja katanya bilang begitu buat surprise." ucap Ibu
"Dasar menyebalkan Wa Rasya!"
"Atulah Neng, Papa Rasya" Rasya berdecak
"Apa sih, mau dianggap Papa."
"Yang tebar bibit kualitas grade A-nya juga aku" Reza datang menempali.
"Memang anaknya sayuran, pakai grade A segala ya Dek" ucap Ibu
"Papa masih dikantor Za?" tanya Ayah
"Iya Yah, barusan sudah aku telepon buat pulang" ucapnya
"Iya, biar kita kumpul semua"
"Ini Bu, susu Vano" Mbak Diah memberikan susu
"Loh?" Tasya heran
"Ibu yang minta" ucapnya
"Oh, Ibu sudah tahu siapa Mbak Diah"
"Iya, Ibu tanya."
"Mbak Diah, ini keluarga aku. Kakak, Ibu, sama Ayah. Nanti kita kesana ya" ajak Tasya
Tak berapa lama, seseorang datang menghampiri mereka.
"Assalamualaikum" ucapnya dengan lantang
__ADS_1
"Ssssttttt" seru mereka kompak sambil menatap Pak Danu yang nampak bingung.
TAMAT.