
"Mami siap-siap Mam, Dokter Felly praktek jam 10 pagi." ucap Reza setelah mengecek jadwal dokter Felly.
"Papi mau sarapan dulu?"
"Iya. Yang disiapin Bi Tinah saja."
"Vano mau dibawa gak Pap?" tanya Tasya
"Ya sudah bawa saja. Kasihan Mam. Sekalian Papi mau beli sepatu ah." ajaknya
"Buat apa?"
"Papi mau olahraga. Anak sudah mau tiga. Harus tetap bugar dong."
"Jangan-jangan Papi lagi pepetin perempuan lain."
"Haha..kapan waktunya coba? Kantor rumah, kantor rumah terus."
"Pepetin perempuan lain sih enggak. Kalau buntingin anak orang tiga kali sih iya." Reza tersenyum nakal
"Ngomongnya itu loh, hamil kek. Buntang bunting." gerutu Tasya
"Ih ibu hamilku sensitif sekali. Haduh harus ektra sabar lagi nih." ucapnya seraya mencolek dagu Tasya
Tasya keluar dari kamar.
"Mbak" sapa Tasya menghampiri Mbak Diah yang sedang menjaga Vano
"Yuk siap-siap, tolong mandikan Vano. Kita pergi Mbak." ajak Tasya.
"Baik Bu."
"Ayo Van, kita mandi dulu." ajak Mbak Diah pada Vano
"Biar aku jaga Vano dulu deh Mbak. Mbak siapkan saja airnya." ucap Tasya
"Iya Bu."
"Eh, aku saja deh yang siapin airnya, Hehe." pinta Tasya plin-plan.
'Bu Tasya kenapa sih?' batin Mbak Diah.
Tasya berlalu dari ruang bermain Vano ke kamarnya. Dia menyiapkan air hangat untuk mandi Vano. Tak lama dia menyiapkan baju yang akan dipakai anaknya. Sementara Reza masih tiduran di kasurnya.
Tasya keluar kembali untuk memanggil Mbak Diah dan Vano.
"Yuk Nak" ajak Tasya sambil menggendong Vano, Mbak Diah mengekor dibelakangnya.
Tasya mendudukan Vano di kasurnya.
"Anak Papi mau mandi ya." ucap Reza.
"Pa..papapapa.." ucap Vano memperlihatkan giginya yang baru beberapa.
"Pa.. Pi.. " Reza mencontohkannya.
Vano segera dibawa Tasya ke kamar mandi.
"Mam, Mbak Diah saja yang mandiin Vano." Reza mengingatkan
Tasya menyerahkan Vano pada Mbak Diah. Terdengar suara tangisan Vano, tapi seketika tangisnya berhenti saat Tasya memberikan mainan bebek pada Vano.
Tasya kini mengambil tas Vano, lalu memasukkan beberapa baju dan popok milik Vano. Setelah itu, dia segera menuangkan susu bubuk pada kontainer susu dan mengisinya satu persatu.
"Mbak,nanti tolong siapkan air panas ke termos buat susu Vano ya." ucap Tasya
"Iya Bu"
Setelah perlengkapan milik anaknya selesai. Tasya kini mengambil Vano yang telah selesai mandi.
"Biar aku saja Mbak. Mbak siap-siap saja ya."
"Iya Bu. Dadah Vano.." Mbak Diah meninggalkan mereka.
"Sini, Papi yang pakaikan bajunya Mam." ucap Reza
Tasya menyerahkan Vano pada Reza. Dia segera mengambil minyak bayi dan mengoleskannya pada tubuh Vano.
"Wangi banget, anaknya siapa sih." ujar Tasya mengajak anaknya bicara.
"Anak Papi pastinya dong." ucap Reza.
"Mami mandi dulu, biar Vano Papi yang jaga." ucap Reza
"Mami belum siapkan untuk makan Vano. Sebentar ya."
Tasya segera berlalu keluar kamar menuju dapur.
"Mana makanan Vano Bi?" tanya Tasya
"Ini disini" ujar bi Tinah yang sedang sibuk masak.
Tasya segera mencuci tangannya, dia memasukan kukusan telur puyuh, wortel, kentang, dan labu siam pada tempat makan Vano. Kemudian menutupnya. Tak lupa, dia juga memasukan biskuit dan buah untuk cemilan anaknya pada tempat yang berbeda. Tasya sangat telaten mengurus anaknya. Semua selalu dia persiapkan sendiri untuk keperluan sang anak.
Tasya segera masuk ke kamarnya kembali. Dia melihat Vano yang sedang bermain bersama Reza.
"Mandi dulu sayang" titah Reza
"Sebentar. Aku kok rasanya capek." ucap Tasya merebahkan tubuhnya.
"Mam..sabar ya.." Reza mengelus lengan Tasya kemudian memberi kecupan pada punggung tangannya.
"Sana, Papi mandi dulu. Vano sama aku." ucap Tasya.
Reza yang tak tega, segera keluar memanggil Mbak Diah.
"Titip Vano ya Mbak." ucap Reza saat Mbak Diah masuk ke kamarnya.
"Ibu keterusan sakitnya Bu?" tanya Mbak Diah
"Hmm.. Begitu deh Mbak." ucap Tasya menggantung.
Dia malu pada Mbak Diah. Dia belum siap memberitahu pada siapapun tentang kehamilannya.
Mbak Diah membawa Vano keluar, sementara Tasya merebahkan tubuhnya.
"Papi sana siap-siap. Malah ikut tiduran." ucap Tasya
"Mami, maaf ya.. Papi selalu membuat Mami menderita."
"Bukan begitu sih Pap." Tasya tiba-tiba sendu. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku cuma takut. Papi baca sendiri kan artikel online itu?"
Reza terdiam.
"Aku kepikiran Vano juga. Aku ngerasa kasih sayang aku ke Vano tuh kurang banget. Aku baru bisa gendong dia saat usia dia menginjak dua bulan. Sekarang dia harus rela berbagi Mami dengan adiknya." kini Tasya meneteskan air mata.
"Kok begitu sih bilangnya. Vano beruntung dapat Ibu seperti Mami. Mami telaten banget. Sama makanan Vano, semuanya homemade. Sama bajunya, cek popoknya, pokoknya Papi benar-benar beruntung punya istri yang gak cuma manja sama belanja doang. Mami ngurus Vano sama Papi itu hebat banget. Makanya Papi gak bisa jauh dari Mami" ucap Reza
"Pokoknya aku gak mau keluarga tahu dulu Pap." pinta Tasya
__ADS_1
"Kenapa memangnya?"
"Kok tanya kenapa? Mental aku belum siap lah. Apa kata orang coba. Pasti mereka mencibir."
"Papi yakin mereka pasti bilang 'Wah, hebat banget A Reza, perkasa banget A Reza' yakin deh, pasti bilang gitu." ucap Reza
"Astaghfirullah.. Sana ah. Mami mah kesel sama Papi. Kenapa sih gak bisa serius sedikit." Tasya terpancing.
"Maaf Mam. InsyaAllah bisa. Mami koma lama saja bisa bangun lagi. Apalagi hamil begini. Papi yakin ini mah gak seberapa." ujarnya meremehkan.
"Sana Papi mandi dulu." pinta Tasya
Reza mengecup kening istrinya kemudian berlalu.
***
Keluarga kecil Reza kini tiba di depan ruang praktek Dokter Felly. Mereka menunggu giliran untuk berkonsultasi pada dokter tersebut. Reza mengajak Vano bermain, sementara Tasya dan Mbak Diah hanya duduk sambil menunggu.
"Mbak Diah, tolong nanti rahasiakan dulu ya, aku ke dokter kandungan." ucap Tasya
"Iya Bu" ucapnya singkat. Walaupun dia ingin bertanya penyebabnya tapi dia tak berani mengutarakannya.
"Aku malu Mbak" ucap Tasya kemudian. Seolah menjawab pertanyaan Mbak Diah.
"Malu kenapa Bu?" tanya Mbak Diah memberanikan diri.
"Malu, Vano masih kecil, saya sudah hamil lagi Mbak." Tasya mencurahkan isi hatinya.
"Kenapa malu Bu? Kan ada suaminya?" tanya Mbak Diah
"Hehe..iya sih Mbak. Tapi rasanya saya belum siap. Kasihan Vano, Mbak. Belum lagi cibiran orang kan beda-beda." ucap Tasya
"Gak apa-apa Bu. Mumpung masih muda. Nanti sama anak kayak sama teman Bu." Mbak Diah menghiburnya.
"Iya ya Mbak. Nanti kalau jalan-jalan saya kayak kakaknya kali ya." ucap Tasya sedikit terhibur.
Reza menghampiri mereka dengan menggendong Vano.
"Tidur dia Pap?" tanya Tasya
"Capek main, nangis bentar eh tidur." ucap Reza
"Sini biar sama saya Pak." ucap Mbak Tinah.
"Tidurkan saja di stollernya Pap. Lumayan pegal sekarang kalau gendong dia." ucap Tasya.
Tak lama perawat memanggil nama Tasya.
"Kita masuk ya Mbak. Titip Vano." ucap Tasya
"Iya Bu."
Seperti biasa Tasya berbaring di samping layar monitor setelah mengutarakan keterangannya kepada dokter Felly.
"Iya, jadi ini. Nih sudah ada kantungnya." ucap Dokter.
"Selamat lagi Pak, yang ke dua ke tiga?" tanya Dokter
"Kalau ada mau tiga Dok" ucapnya singkat
"Bagaimana Dok?"
"Bagaimana gimana maksudnya Pak?"
"Istri saya baca artikel, dia takut karena jarak kehamilannya berdekatan. Sementara kemarin lahirnya juga caesar dan prematur kan Dok karena istri saya mengalami kecelakaan."
"Apakah sangat beresiko atau bagaimana dok?" tanya Reza
"Asalkan Ibu memenuhi nutrisi kandungan Ibu, tidak banyak melakukan aktivitas berat, tidak terlalu lelah juga dan jangan lupa mengonsumsi vitamin. Saya rasa tak masalah. Selama kehamilan Ibu tak ada keluhan."
"Ibu gak usah stres, gak usah khawatir. Tenang saja Bu. Nikmati saja." ucap Dokter
"Tuh, dengar kan Mam? Kayak Papi dong. Enjoy begini" ucapnya
"Ya iya, Papi kan gak hamil." gerutu Tasya
"Ih Bapaknya ini terlihat sekali nih yang ingin cepat-cepat." ucap Dokter
"Dokter tahu saja." Mereka tertawa.
Tak lama, Mereka pamit dan keluar setelah dokter memberikan resepnya.
"Eh anak ganteng sudah bangun?" ucap Tasya melihat Vano yang sedang makan biskuit.
Tasya menggendong Vano kemudian menciuminya gemas.
"Yuk Mbak." ajaknya
"Sini Vano sama Papi. Ingat kan kata dokter apa? Jangan banyak gendong Vano ah."
"Apa sih Pap, berlebihan deh." protes Tasya seraya Reza mengambil Vano dari tangan Tasya dan berjalan lebih dulu dengan Vano seraya becanda sepanjang jalan.
"Mbak. Ingat ya kata saya tadi. Hehe"
"Bener isi lagi Bu?" tanya Mbak Diah
"Iya Mbak."
"Selamat ya Bu." ucapnya
"Aku titip Vano ya Mbak. Maaf kalau misalkan aku banyak ngerepotin." ucap Tasya
"Ibu gak usah bilang begitu Bu. Saya juga sayang sama Vano Bu." ucap Mbak Diah
***
"Mami, mau kiwi sayang?" tanya Reza saat perjalanan pulang
"Enggak."
"Kok tumben?" tanya Reza
"Kenapa memangnya?"
"Kemarin hamil Vano kan minta kiwi terus."
"Ya gak mesti sama tiap hamil."
"Oh begitu. Jadi mau apa sekarang?"
"Mau karetin bibir Papi" canda Tasya
"Ya Allah, Dek. Jangan bar-bar ya." ucap Reza membuat Tasya tertawa
"Mami lemes gak?" tanya Reza
"Sedikit."
"Ya sudah kita pulang saja kalau begitu." ajak Reza
"Terus beli sepatunya?"
__ADS_1
"Nanti saja kalau Mami sudah enakan kita jalan-jalan" ucap Reza
Reza memarkirkan mobilnya setelah sampai dirumah.
"Mbak, aku titip dulu Vano ya, kok aku rasanya kleyengan begini." ucap Tasya
"Iya Bu."
Tasya bergegas ke kamar. Dia segera mengganti bajunya dan merebahkan badannya. Reza menyusulnya masuk. Melihat sang istri yang memejamkan matanya dia merasa tak tega.
"Mami mau apa Mam? Hmm.."
Tasya membuka matanya.
"Astaghfirullah.. Dekat sekali wajah Papi."
Reza hanya tertawa.
"Mau apa?" tanyanya lembut.
"Enggak. Aku pusing sama mual saja Pap."
"Jangan rewel sayang, kasihan Maminya kan." Reza mengelus perut istrinya.
"Mau rujak? Mau mangga? Mau kiwi?" tanya Reza
Tasya hanya menggeleng. Dia mengelus lembut kepala suaminya.
"Kasihan Mami. Jangan stres ya? Terima kasih sudah bersedia mengandung anak-anak Papi. Love you Tasya Fadilla Ramadhan." Reza mengubah posisinya. Kini dia mengangkat kepalanya bertumpu dengan sebelah tangan, sebelah tangan lainnya mengusap-ngusap perut istrinya. Sementara Tasya memejamkan matanya kembali dan tertidur dengan cepat.
Reza keluar kamar sambil menenteng laptop di tangannya. Disana Pak Danu sedang bermain dengan Vano.
"Dari mana kamu?" tanya Pak Danu
"Dokter kandungan Pa."
Pak Danu menautkan kedua alisnya seraya menebak dalam pikirannya.
"Tasya hamil lagi."
"Apa? Gak salah?" Pak Danu sedikit terlonjak.
"Kenapa sih Pa?"
"Kamu gak kasihan sama istrimu? Tega kamu Za!" Pak Danu menggelengkan kepalanya
"Memang kenapa?"
"Gila ya kamu. Belum setahun istrimu menjalani operasi." ucap Pak Danu
"Ya takdirnya dia harua hamil lagi bagaimana?"
Pak Danu terdiam.
"Kamu kan bisa cegah."
"Itu sudah pakai pengaman Pa. Akunya terlampau perkasa sepertinya." Reza tersenyum bangga.
"Papa gek ngerti sama kamu Za. Jaga istrimu baik-baik! Papa gak mau denger Tasya Kenapa-kenapa lagi!" ancam Pak Danu
"Iya pasti. Orang dia istri aku. Pasti aku jagain." Reza masih menjawab ucapan Pak Danu.
Pak Danu kembali bermain dengan cucu kesayangannya. Sementara Reza membuka laptopnya dan bekerja sambil mengawasi anaknya karena tak mau mengganggu tidur Tasya.
***
Tasya keluar kamar, dia mencari Vano yang sedang bermain di halaman belakang bersama Mbak Diah.
"Mbak sudah makan?"
"Belum Bu."
"Maaf ya Mbak, aku ketiduran. Mbak makan dulu. Biar Vano sama aku."
"Sini nak." ajak Tasya
Mbak Diah segera meninggalkan mereka.
Tasya masuk ke dalam rumah. Dia membawa Vano ke ruang televisi. Disana Reza tertidur di sofa dengan tv menyala.
"Ih ya ampun..Papi kamu Van." Tasya menaikan Vano di atas tubuh Reza. Membuat Reza terbangun.
"Vano, Papi ngantuk Van."
"Bangun. Bukannya tidur dikamar malah disini." protes Tasya
Reza menggeliat sementara Vano tertawa girang melihatnya membuat Reza mengulanginya berkali-kali.
Pak Danu keluar kamar dengan pakaian rapi.
"Papa mau kemana Pa?" tanya Tasya
"Papa mau ketemu teman sebentar."
"Kamu hamil lagi Nak?" tanya Pak Danu
'Dari mana Papa tahu?' batinnya
"Iya Pa, doain sehat terus ya Pa."
"Kalau ada keluhan jangan dipendam sendiri ya Nak."
"Iya Pa."
"Sini Vano sun tangan dulu sama Opa. Opa mau jalan-jalan nih." ucap Pak Danu mengangkat tubuh Vano sambil menciumi pipi cucunya. Kemudian memberikannya kembali pada Tasya.
"Dah Vano. Opa berangkat yaa.. Assalamualaikum." ucapnya
Sementara Vano meronta ingin ikut pada Pak Danu. Tasya segera membawanya ke kamar.
***
Reza mengekori Tasya masuk ke dalam kamar.
"Papi, Papi yang bilang sama Papa kan kalau aku hamil lagi?" tanya Tasya dengan tatapan kesal
"Tadi Papa tanya kita dari mana. Ya sudah Papi bilang saja"
"Aku kan sudah bilang jangan bicarakan dulu dengan siapapun sampai mentalku benar-benar siap."
"Ya Papi masa harus berbohong!"
"Papi gak pernah merasakan jadi aku. Aku sudah bilang, aku belum siap orang-orang tahu kecuali Mbak Diah."
"Kenapa sih Mam?"
"Kamu gak ngerti!"
"Ya kenapa? Apa yang salah sih dengan kehamilan jarak dekat?"
"Aku belum siap! Aku malu! Kamu gak ngerti!" bentak Tasya. Dia keluar membawa Vano.
__ADS_1
"Mam.. Mami.. "