BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Kejutan


__ADS_3

Berhari-hari Reza disibukan untuk peresmian PT Petani Maju sehingga dia selalu pulang larut malam. Hal itu membuat Tasya menyempatkan diri pergi ke kantor suaminya hanya sekedar untuk makan siang bersama.


Seperti kehamilan sebelumnya, dia selalu ingin menempel pada Reza. Sayangnya, untuk sekarang dia tak bisa bebas melewati kesehariannya bersama Reza seperti kehamilan sebelumnya.


"Vano mau kemana?" tanya Pak Danu


"Ke kantor Papi, Opa. Mau nganterin makan siang Papi." Tasya menjawab pertanyaan mertuanya.


"Kamu jangan kecapean Nak. Ingat kandunganmu." Pak Danu mengingatkan


"Iya Pa, aku gak cape kok."


"Pakai mobil Papa saja Sya, suruh Budi saja yang nganterin. Dia ada dibelakang." ucap Pak Danu


"Aku sudah pesan G-Car, tanggung Pa.


Kasihan kalau di cancel." ucap Tasya


"Oh ya sudah. Hati-hati." ucap Pak Danu. Dia melanjutkan bermain bersama Vano.


Tasya menunggu G-Car untuk mereka pergi ke kantor Reza. Dia sudah menyiapkan kotak makan dan perlengkapan Vano. Sebelum G-Car tiba, dering ponsel Tasya berbunyi.


"Assalamualaikum Mam.." sapa Reza


"Waalaikumsalam. Kenapa Pap?


"Mami sudah berangkat?"


"Belum. Memang kenapa?" tanya Tasya heran


"Hmm.. Mami gak apa-apa kalau gak jadi kesini?" tanya Reza ragu. Dia yakin, istrinya pasti marah.


"Hmm.. Kenapa? Papi mau pergi?" tanya Tasya yang memang kecewa.


"Iya. Papi mau ketemu notaris sayang. Dia baru ada waktunya sekarang. Gimana?" tanya Reza


"Oh. Ya sudah." ucapnya singkat kemudian mematikan ponselnya tanpa berbicara lagi.


"Marahkan? Biarlah. Demi.. " Reza bergumam seraya menyunggingkan senyumnya.


Tasya kini melepas tasnya.


" Kita gak jadi pergi Mbak." ucapnya lemas.


"Loh kenapa?" tanya Pak Danu yang mendengarnya


"A Reza janji bertemu dengan notaris Pa." ucapnya.


"Oh..Itu notaris pasti baru menghubunginya." ucap Pak Danu menghiburnya.


"Sepertinya begitu Pa." ucap Tasya singkat


Tasya berjalan ke ruang tamu, dia menunggu G-Car yang menuju ke rumahnya. Tak lama G-Car datang. Tasya segera menghampirinya, dia meminta maaf karena tak jadi berangkat tapi tetap memberikan ongkos sesuai tarifnya. Tak lama dia kembali masuk ke dalam rumah.


"Mbak, aku titip Vano ya." ucap Tasya yang tiba-tiba saja murung karena kesal.


Tasya membaringkan tubuhnya. Dia menangis disana. Hormon kehamilannya sungguh membuatnya menjadi lebih cengeng dan mudah tersinggung.


Lama dia berdiam di dalam kamar.


"Gak ada minta maaf gitu? Atau merasa bersalah." gerutu Tasya sambil melihat ponselnya.


"Awas saja kalau pulang." ancamnya dengan kesal sambil memandangi ponsel.


Tasya masih kesal. Dia menangis hingga tertidur.


Setelah beberapa lama, suara ketukan pintu terdengar. Sesaat Tasya terdiam. Dia mengumpulkan nyawanya.


"Bu.. Bu.. " ketukan pintu untuk kesekian kalinya dari Mbak Diah.


" Iya Mbak." ucap Tasya. Membuka pintu dengan rasa malas.


"Ada yang nyari ibu." ucap Mbak Diah.

__ADS_1


"Siapa?"


"Enggak tahu Bu. Saya lupa bertanya." ucap Mbak Diah


"Ya sudah. Tolong buatkan minum. Aku pakai kerudung dulu ya." ucap Tasya


"Eh mbak?" mbak Diah memutar tubuhnya saat baru melangkah.


"Kenapa bu?"


"Laki-laki atau perempuan Mbak yang nyari saya?" tanya Tasya.


"Laki-laki Bu." ucapnya


"Hah? Laki-laki? Serius?" Tasya nampak berpikir keras siapa yang mencarinya.


"Iya Bu."


"Oh ya sudah. Terima kasih Mbak." ucapnya


"Siapa ya?" gumam Tasya heran.


Tasya segera memakai bergonya. Dia melihat dirinya dalam pantulan cermin kemudian keluar kamar.


Tasya menuju ruang tamu. Seseorang dengan seragam kerja tersenyum seraya berdiri.


"Ibu Tasya."


"Iya saya Pak."


"Saya dari dealer mobil, mengirim unit mobil MPV hari ini. Bisa saya bawa masuk sekarang unitnya Bu? Tanya orang itu


"Mobil?"


"Iya."


"Saya tidak pesan mobil Pak." ucap Tasya sedikit bingung.


"Pak, saya gak pesan mobil." ucap Tasya lebih tegas.


"Bapak sepertinya salah orang." ucapnya kemudian


"Tidak Bu. Disini yang datang ke dealer kami atas nama Bapak Reza Ramadhan, dan unitnya sendiri atas nama Tasya Fadilla." ucap orang tersebut.


"Ya Allah.. Papi.. Iya itu suami saya Pak." ucap Tasya


"Suprise buat Ibu sepertinya." orang tersebut tersenyum.


"Hehe.. Sepertinya begitu Pak. Soalnya saya sama sekali gak tahu." Tasya tersenyum masih tak percaya


"Unitnya bisa saya bawa masuk Bu?" tanya


"Oh bawa saja Pak."


Orang tersebut keluar menginstruksikan seorang driver untuk membawa mobil tersebut masuk ke halaman rumah.


"Masya Allah.." ucap Tasya begitu sebuah mobil minibus mewah parkir dihalaman rumahnya.


Tak lama, Pak Danu keluar dari dalam rumah.


"Ada apa Sya?" tanya Pak Danu bingung


"A Reza Pa.."


"Bagaimana pembayarannya ini Mas?" tanya Pak Danu tiba-tiba


"Pembayaran Cash keras Pak." ucapnya


"Alhamdulillah. Bukan ngutang tuh Sya." Ucap Pak Danu.


"Ih A Reza bikin kaget tahu Pa." ucapnya


Pak Danu mengecek mobil tersebut sambil berbincang dengan orang tersebut.

__ADS_1


Suara tangisan Vano menuju halaman rumah.


"Vano, sini sayang." Tasya mengecup Vano.


"Wah, Vano punya mobil baru." ucap Mbak Diah.


"Alhamdulillah iya nih Mbak. Nanti Mbak juga kemana-mana ikut ya." ajak Tasya.


"Mobilnya besar ya Bang?" ucap Tasya pda Vano.


Tak berapa lama, terdengar suara klakson dari luar. Driver segera memajukan mobilnya agar mobil Reza masuk ke halaman.


Vano meronta saat melihat Reza.


"Sabar Nak.." ucap Tasya.


Reza mengembangkan senyumnya.


"Kaget Mam?" tanyanya seraya mengambil Vano.


"Kaget banget. Gimana kalau Mami jantungan Pap." ucapnya.


Reza menghampiri Pak Danu sambil memangku Vano. Sementara Tasya menyaksikan mereka.


Setelah beberapa lama, kedua orang tersebut pamit.


"Wah, Vano punya mobil baru." ucap Pak Danu pada cucunya.


"Iya dong Opa. Kan mau punya adek. Kasihan kalau pakai mobil Papi mah sempit." ucap Reza


"Sini sama Opa." Pak danu mengambil Vano, membawanya ke tempat bermainnya.


Sementara Reza dan Tasya masuk ke dalam kamar.


Reza tersenyum menggodanya.


"Seneng sayang?"


"Kaget yang pasti." ucapnya


Tasya memeluk Reza erat.


"Terima kasih sayang." ucapnya tulus


"Sama-sama. Maaf ya gak bilang-bilang. Papi cuma kasihan Mami sama Vano naik G-Car terus ke kantor. Lagipula bentar lagi ada adiknya Vano." ucap Reza


"Iya sayang. Terima kasih."


"Nih." Reza memberikan STNK dan BPKB pada Tasya.


Tasya mengambilnya dengan mengembangkan senyuman.


"Alhamdulillah.. Hajat Papi terkabul."


"Alhamdulillah ya Pap. Terima kasih sayang." Tasya mengecup bibir suaminya.


"Tadi siapa yaa yang kesal?" tanya Reza


"Habis sudah siap-siap Papi bilang begitu. Siapa yang gak kesal coba." gerutu Tasya


"Sekarang masih kesal?"


"Enggak." ucapnya seraya tersenyum


"Doakan Papi agar bisa terus membahagiakan Mami."


"Aamiin.. Terima kasih sayang. Terima kasih sudah menjadi suami yang luar biasa buat aku." ucap Tasya.


Mereka kembali saling berciuman mesra.


Yang ngarep punya suami kayak Papi siapaaaa?? Akuuuu. Aku bangeet ini. Hehe..


Bantu like dan komentarnya readers, jangan lupa bantu vote juga yaaaaa.. Terima kasih ^^

__ADS_1


__ADS_2