BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Hari Yang Dinanti


__ADS_3

Pak Budi melajukan sedan putih dengan kecepatan sedang. Kali ini mereka memakai mobil milik Reza sendiri karena mobil Pak Danu masih di bengkel untuk perbaikan.


Pak Danu memakai sebuah batik cokelat yang sangat cocok dengan. Sedangkan Reza sendiri memakai batik yang lebih modern membuatnya nampak lebih gagah.


Diliriknya jam berkali-balik oleh Reza. Jantungnya berdegup kencang. Di sebelahnya beberapa buah tangan tersimpan. Pak Danu membawa beberapa buah tangan untuk keluarga Tasya karena dia tidak mau mengecewakannya.


Mereka pergi bertiga karena Pak Danu dan Reza merupakan anak tunggal. Mereka tidak memiliki keluarga lain. Sedangkan keluarga dari ibunya berada jauh di luar pulau dan sudah lama tidak berkomunikasi setelah kepergian ibunya. Ibu Reza telah lama meninggal akibat penyakit kanker yang di deritanya.


Rumah Tasya


Di kediaaman Pak Taufik nampak lebih ramai. Beberapa orang memasak untuk menyambut kedatangan keluarga Pak Danu. Mereka tidak mau menyambut keluarga Pak Danu dengan asal.


"Cantik banget kesayangan Aa" Rasya mendekati adiknya yang sedang di rias. Rasya baru tiba kemarin di rumahnya setelah mendapat informasi bahwa hari ini merupakan hari penting untuk adiknya.


"A, Tasya gak bakal salah pilihkan?" tanya Tasya masih takut


"Salah pilih kenapa memangnya Neng?" tanya si teteh perias yang ingin mengetahui percakapan mereka

__ADS_1


"Hehe.. Takutnya kurang ganteng dia Teh" ucap Rasya kepada tukang rias tersebut


"Sudah selesai Neng, ya ampuun geulis pisan (cantik banget). Memang dasarnya sudah cantik sih. Pakai make up sedikit saja sudah cantik banget apalagi nanti nikah Neng" ucap si perias bangga dengan hasil make up nya.


Tasya memakai kebaya berwarna peach dengan kerudung senada dan rok batik. Sangat anggun dan cantik sekali. Ibu menghampiri Tasya yang sedang berbincang dengan kakaknya.


"Ya Allah naaak.. Cantik banget kamu" ibu mencium kepala Tasya.


Tasya tersenyum seraya ingin menangis. Rasa haru menyelimuti perasaan mereka.


"Jangan nangis kamu, nanti make up nya longsor." ucap sang kakak membuat Tasya tersenyum


"Kalau ada yang mau sama Aa, ibu nikahin juga sekarang Sya" Ucap ibu meledek


"Haha.. Ibu segitunya. Memang anak ibu yang ganteng ini gak laku apa? Rasya lagi menyeleksi saja bu, mana yang cocok untuk menjadi menantu ibu" Rasya membela diri


"Aamiin disegerakan. Ibu mau yang terbaik untuk kalian berdua. Lagian Aa kan laki-laki, beresin dulu kuliahnya terus kerja, baru nikah. Kalau langsung nikah sekarang mau di kasih makan apa istrinya nanti" ucap ibu

__ADS_1


"Bu bu, calon besan sudah sampai" ucap Ayah Tasya


Ibu dan Rasya segera keluar untuk menyambut keluarga Pak Danu. Disana ada keluarga Tasya yang lainnya.


"Wah, cantik banget Neng" ucap Riska anak Uwa Tasya yang sengaja menemani Tasya di kamarnya


"Hehe teteh bisa saja. Aduh Tasya degdegan teh" ucap Tasya jujur


"Tenang saja Neng, dulu juga teteh sama. Tapi bahagia banget Neng" mereka kemudian berbincang


"Assalamualaikum calon besan" ucap Pak Danu sambil memeluk Pak Taufik


"Waalaikumsalam. Ayo silahkan masuk" kemudian satu persatu dari mereka bersalaman


"Meni Kasep Jang (ganteng banget Nak)" ucap uwa Tasya jujur sambil menepuk pundak Reza


"Saya yang menurunkannya Bu" ucap Pak Danu bangga disertai gelak tawa mereka.

__ADS_1


Reza duduk di sebelah pak Danu. Dia duduk tenang walaupun sebenarnya jantungnya berpacu lebih cepat. Dia tidak melihat sosok calon istrinya tersebut.


Pak Danu dan yang lainnya berbincang-bincang untuk melepas lelah sebelum membahas tujuan utamanya.


__ADS_2