BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Curahan Hati Reza


__ADS_3

Dering Alarm membangunkan Reza dari tidurnya. Dia mengucek matanya yang masih terasa berat. Pagi ini dia berniat bangun terlebih dahulu untuk melayani istrinya.


Tasya masih tidur dengan pulas menghadap kepadanya. Dibelai lembut pipi istrinya tersebut. Kini belaiannya pindah pada perut istrinya yang datar.


Reza segera ke kamar mandi, setelah selesai dia keluar kamar menuju dapur.


"Bi Tinah sedang apa?" sapanya ramah


"Biasa. Membuat sarapan untuk bapak dan kalian" ucapnya seraya tersenyum


"Bi, nanti tidak perlu membuat bekal. Reza dan Tasya hari ini tidak ke kantor. Kita mau ke dokter kandungan" ucapnya


"Baik kalau begitu."


"O ya Bi, Reza minta roti kukusnya ya. Biar nanti Reza bawa ke kamar. Kasihan Tasya kurang enak badan" ucap Reza


"Iya nanti Bibi buatkan"


"Terima kasih Bi" ucapnya seraya berlalu ke kamar Pak Danu


Reza mengetuk pintu kamar Papanya, setelah beberapa lama, Pak Danu membuka pintu kamarnya sambil menguap.


"Kenapa?" tanyanya heran saat melihat Reza di depan kamarnya


"Papa bisa ke kantor hari ini? Reza mau antar Tasya ke dokter kandungan. Tasya juga tidak enak badan Pa" pintanya


"Ya sudah nanti Papa ke kantor"


"Terima kasih Pa" ucapnya


"Tumben sekali kamu bilang terima kasih" Pak Danu meledeknya


Reza masuk kembali ke kamarnya, dia melihat jadwal praktek dokter Felly. Kemudian melakukan pendaftaran secara online. Reza tidak menyadari Tasya telah membuka matanya dan memperhatikannya.


'Tumben bangun lebih pagi. Sibuk dengan ponselnya pula! Pasti komunikasi dengan wanita kemarin!' batinnya


"Sayang sudah bangun?" tanya Reza. Tasya hanya terdiam tidak menjawabnya.


"Ini minum dulu" Reza memberikan air putih kepadanya. Tasya meminumnya tanpa berkata apapun.


"Hari ini kita ke dokter kandungan sayang, Aa sudah daftar barusan. Aa khawatir sama kalian. Terlebih kemarin kamu pingsan Sya" ucapnya jujur


Tasya tak meresponnya. Dia berjalan ke kamar mandi.


'Hhh.. Bagaimana caranya agar kamu bicara seperti biasa Sya, Aa tersiksa oleh sikapmu yang begitu' batinnya


Reza bergegas keluar kamar, dia hendak membawa sarapan untuk Tasya. Tak lama dia kembali ke kamarnya, bersamaan dengan Tasya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ayo sarapan sayang, Aa suapi."

__ADS_1


"Sini buka mulutnya. Biar mami dan dedek ada tenaganya" ucapnya lembut


Tasya masih tak mau membuka mulutnya.


"Tau gak dek, papi sengaja bangun lebih pagi dari mami biar bisa suapi mami makan. Papi sudah bilang sama Opa biar kita istirahat dirumah terus Papi juga mau nengokin kamu, Papi semalaman khawatir sama Mami cantik sama dedek juga" Reza bicara sendiri


"Sekarang makan dulu ya? Please.. " Reza masih membujuk Tasya


"Papi sedih dek, Mami masih mogok bicara sama Papi. Padahal Papi rinduu sekali sama suaranya Mami. Papi tersiksa dek kalau Mami begini ke Papi" Reza cerewet memancing Tasya


"Aaaa.. Buka mulutnya Mam" Reza tersenyum


"Tuh masih marah kan Dek sama Papi." Reza frustasi.


Lama sekali mereka saling diam.


"Sya, tahu gak kalau Papa jadi panutan Aa. Papa setia sama Mama, Mama sudah lama meninggal tapi Papa tidak menikah lagi. Sempat sih Papa mau nikah, tapi gak jadi. Aa pun ingin seperti Papa, Sya. Cuma setia sama kamu. Tidak ada wanita lain dihati Aa selain kamu. Mama dan Ibu tentunya perempuan lain di hati Aa. Tapi untuk saat ini hanya kamu tujuan Aa."


"Tasya gak percaya sama Aa? Aa dari dulu bukan playboy sayang, di goda perempuan ini Aa tergoda, di rayu perempuan itu Aa terayu. Bukan Sya. Aa bisa menghargai hubungan. Terlepas cewek-cewek itu mengejar Aa. Itu terserah mereka. Yang pasti, kalau Aa sudah mengukir satu nama disini (Reza memegang dadanya), selamanya dia disana. Keculi kamu yang berkhianat." jelasnya panjang lebar.


Tasya mulai berpikir jernih. Sedikit-sedikit dia mulai percaya lagi.


"Untuk yang kemarin, Aa minta maaf. Aa mengaku salah. Aa tidak pamit sama kamu. Aa juga lupa meninggalkan ponsel di kantor. Tapi itu tidak sengaja sama sekali. Tapi sumpah, Aa tidak tergoda dengan wanita itu. Percaya kan?" Reza memegang pipi istrinya


"Sekarang buka mulutnya sayang" pinta Reza


Tasya mulai membuka mulutnya


"Love you Mami" ucapnya seraya mengecup kening Tasya


"Ayo makan lagi" pintanya.


Saat Tasya sedang makan, suara perut Reza berbunyi nyaring. Mereka saling pandang.


"Hehe.. Cacing Aa kayaknya iri sama dedek" ucapnya malu


Tasya mengulum senyumnya.


Kini tangan Tasya bergerak mengambil roti tersebut kemudian menyuapi Reza.


"Enaak.. Roti dari tangan Mami lebih enak Dek. Ada cinta-cintanya gitu" ucapnya senang


Tasya masih menahan senyumnya.


Tak terasa, roti di piringpun telah habis tak tersisa. Reza mengembalikan piringnya ke dapur. Sementara Tasya membuka ponselnya.


Dia membuka pesan masuk dari Lala dan Keenan. Ada juga panggilan telepon dari Pak Bambang


'Bu, kenapa tidak masuk? Ibu sehat kan?' ~ Lala

__ADS_1


'Ibu sehat? Kenapa tidak masuk kerja bu? Kemarin aku menunggu ibu sebelum Pak Reza datang. Aku khawatir terjadi sesuatu pada ibu. Maaf kalau lancang' ~ Keenan


Kemudian Tasya membuka panggilan tak terjawab. Lima kali panggialn tersebut dari Pak Bambang.


'A Reza..' batinnya


Dia membalas satu persatu persatu pesan dari mereka.


'Terima kasih teman-teman sudah mengkhawatirkanku' batinnya


"Kenapa sayang?" tanya Reza saat melihat Tasya termenung


Dia duduk disamping istrinya kemudian menyandarkan kepala istrinya di pundaknya.


"Sebentar lagi kita ke dokter Felly ya. Mau mandi dulu sayang? Atau masih lemas?" tanyanya


Tasya masih tak mau bersuara. Reza menusuk-nusukan jarinya di pinggang Tasya. Membuat Tasya kelonjatan dan refleks tertawa.


"A Reza sudah!" ucapnya tertahan


"Habis ditanya diam terus. Gak ada ampun ya" ucapnya sambil menjatuhkan Tasya sambil memegang kedua tangan Tasya.


Dia mengecup lembut bibir istrinya. Tasya hanya diam tak membalasnya. Reza semakin beraksi sehingga Tasya mulai membalasnya.


"Ah.." ucap Reza seraya menjatuhkan kepalanya di dada sang istri.


"Kapan boleh buka puasa" Reza kesal


Tasya tersenyum mendengarnya.


"Makanya jangan suka mancing diri sendiri" ucap Tasya


"Ayo sayang mandi dulu. Aa gak sabar ingin ketemu dokter Felly. Mau tanya sama dia" ucapnya kesal


"Yuk mandi" ajak Reza sambil menuntun istrinya.


Keduanya masuk kedalam kamar mandi.


Setelah selesai, Reza membantu Tasya memakai baju


"Aku gak sakit A" ucapnya


"Kamu kuat Sya? Yuk beli baju hamil" ajak Reza


"Eh, nanti saja. Aa takut kamu Kenapa-kenapa" ucapnya lagi


Reza sangat memperhatikan Tasya sejak kejadian kemarin. Dia masih merasa khawatir akan kondisi istrinya tersebut.


Mereka telah siap untuk pergi, Reza memperhatikan Tasya kemudian mengajaknya pergi.

__ADS_1


"Yuk sayang" ajaknya seraya menggenggam tangan sang istri keluar dari kamar.


*** Spesial Lebaran buat Teman Readers, bantu juga VOTE KOIN dan POINnya janvan lupa tinggalkan jejak dengan LIKE dan KOMENTARNYA teman. Terima kasih ^^ ***


__ADS_2