BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Diary Tasya


__ADS_3

Bangunnya Tasya dari koma membuat mereka semua berbahagia. Kini Tasya perlahan-lahan sudah bisa duduk dan mulai belajar berjalan.


Tasya sudah di pindahkan dari ruang ICU ke ruang inap VVIP. Tak peduli berapa banyak biaya yang Reza keluarkan. Asalkan anak istrinya lekas sehat itu merupakan hadiah terbesar untuk dirinya.


Setiap hari, Tasya selalu bertanya kenapa kepalanya terbungkus oleh perban. Seluruh keluarganya dengan terpaksa memberitahu Tasya dengan apa yang di alaminya karena Tasya berkali-kali memaksa mereka untuk bercerita. Reza dan keluarganya hanya bercerita bahwa Tasya mengalami kecelakaan tanpa menjelaskan secara terperinci bagaimana kejadian naas itu terjadi.


Kejadian yang memilukan tersebut sama sekali tak di ingat oleh Tasya. Setiap kali dia berpikir keras, kepalanya akan terasa sangat sakit.


"Pokoknya, Mami sudah seperti ini Papi sudah sangat bersyukur." ucap Reza


"Papi gak mau dengar Mami bertanya-tanya soal musibah itu lagi. Mengerti?" Reza berkata lebih keras karena frustasi dengan desakan Tasya


Seketika Tasya menjadi murung karena perkataan Reza.


"Maaf. Papi gak mau Mami mengingat mimpi buruk itu lagi."


"Mami tahu, setiap ingat kejadian itu. Disini sakit Mam" Reza menuntun tangan Tasya menyentuh dadanya dengan wajah sendu.


Kini Tasya menjadi tak enak hati pada suaminya.


"Maaf. Aku gak akan tanya-tanya lagi A" ucap Tasya


"Kapan aku bisa bertemu Vano?" pinta Tasya kemudian


"Papi sekarang kesana dulu ya, siapa tahu Vano bisa di ajak kesini" hibur Reza.


Reza pergi ke ruang NICU. Disana Rasya dan Ibu sedang melihat Vano.


"Tasya sendirian Bu" ucap Reza membuat ibu menoleh.


"Ibu kesana kalau begitu" ucap Ibu. Rasya hanya melihatnya, kemudian mengekor Ibu meninggalkan ruangan tersebut.


"Pak.. " panggil perawat


" Ya?"


"Berat badan Vano menurun. Kini berat badannya 1.4 kilogram" ucap perawat tersebut


Reza terdiam. Dia segera menghubungi Dokter yang menangani Vano.


Setelah terhubung dan berbasa basi, Reza mengutarakan tujuannya.


"Penurunan berat badan pada bayi yang lahir prematur adalah hal yang normal Pak. Tapi nanti biasanya akan lebih cepat naik kembali." ucap dokter dibalik sambungan telepon.


"Apa memang tak masalah dok?" tanya Reza khawatir


"Tidak masalah. Itu normal Pak." ucap dokter tersebut.


Mereka mengakhiri percakapannya. Reza kini termenung. Dia bingung harus bagaimana menjelaskan pada Tasya karena Tasya tak mengetahui bahwa anaknya terlahir prematur. Reza tak mau membebani pikiran Tasya lebih jauh. Begitu pikirnya.


Dia harus mendiskusikannya dengan Ibu mertuanya. Setelah melakukan metode skin to skin dengan Vano, Reza bergegas menemui mertuanya.


"Ibu di dalam?" tanya Reza pada Rasya yang menunggu diluar sambil memainkan ponselnya


"Iya" ucapnya singkat


"Tolong panggilkan ibu" pinta Reza


"Kenapa gak masuk saja sendiri!" Rasya ketus.


Keduanya memang sudah bertegur sapa, tapi tidak seakrab dulu.

__ADS_1


"Tolong panggilkan saja. Ini mengenai Vano" ucap Reza yang membuat Rasya seketika menoleh


"Kenapa Vano?" tanya Rasya penasaran


"Berat badannya turun. Tasya ingin segera ketemu Vano. Aku bingung bagaimana cerita ke Tasya kalau Vano lahir prematur" ucap Reza


Rasya terdiam. Dia segera memanggil Ibu untuk menghampiri Reza di luar ruangan. Sementara Rasya menemani Tasya agar dia tak curiga.


"Kenapa Za?" tanya


"Maaf Bu, aku meminta Ibu menemuiku disini." ucap Reza


"Ada apa?" tanya Ibu penasaran


"Vano Bu. Berat badannya turun lagi jadi 1.4 kilogram. Tasya selalu merengek agar segera ketemu Vano. Sementara dia tidak tahu keadaan Vano sebenarnya seperti apa." Reza mengeluarkan isi hatinya.


"Tadi Ibu disana kenapa perawat gak bilang? Kenapa bisa dia turun lagi berat badannya?" tanya Ibu heran


"Kata dokternya sih memang biasa Bu. Nanti perkembangannya lebih cepat" Reza menjelaskan


"Bagaimana aku bilang sama Tasya Bu?" tanya Reza bingung


"Hmm.. Bagaimana ya? Ibu takut dia syok." ucap Ibu


"Aku juga berpikir begitu Bu".


Mereka terdiam lama.


"Apa kita jujur saja Bu?" ucap Reza putus asa


"Lambat laun juga pasti dia tahu juga Bu" tambahnya kemudian


"Ibu takut Tasya belum siap Za" ucap Ibu


"Hmm.. Apa.. Apa kita beri alasan karena dia masih begitu jadi gak boleh ketemu Vano dulu?" Ibu nampak ragu


"Aku setuju Bu. Cuma kalau dia maksa. Aku tak tega"


"Coba saja dulu Nak"


Mereka masuk ke dalam ruangan. Tasya nampak tertidur. Sementara Reza pamit untuk membereskan barang-barang mereka di apartemen yang mereka tempati karena waktu sewa mereka akan segera habis.


Reza melajukan kendaraannya dengan santai. Pikirannya masih tak tenang. Dia masih dihantui rasa bersalah dan khawatir.


Tak terasa, dia telah sampai di apartemen. Dia segera naik ke lantai 12. Sedikit demi sedikit memorynya terkumpul disana.


Dia masuk ke dalam apartemen. Di edarkan pandangannya. Hatinya terasa berat. Tak lama, dia masuk ke dalam kamar. Pandangan matanya tertuju ke dalam sebuah ruangan kecil transparan. Terakhir kali melakukan penyatuan dengan Tasya disana. Dia melihat Tasya nampak sangat bergair*h saat itu.


Reza duduk ditepi kasur kemudian membaringkan tubuhnya sejenak menatap langit-langit kamar. Pikirannya berlarian kesana kemari antara pekerjaan dan keluarga.


Dia segera bangkit kemudian menarik koper dan memasukan baju miliknya dan milik Tasya ke dalam koper mereka.


Reza mengecek nakas. Dia melihat sebuah buku kecil disana.


"Diari?" gumam Reza


Dia membuka halaman pertama dalam buku tersebut.


'Tasya World' dengan tulisan penuh ukiran seperti seorang remaja.


Lembar kedua.

__ADS_1


Aku suka disini. Suasananya nyaman. Fasilitasnya lengkap, secara harganya mahal sekali. A Reza antusias sekali ingin membeli apartemen seperti ini. Dia makin giat bekerja. Semoga cita-citanya segera tewujud. Aamiin ^_^


Lembar ketiga


Seminggu disini, lagi-lagi malah insomniaa. Aku gak bisa mengurus keperluan A Reza. Untungnya dia mengerti :)


Tadi sweet banget, A Reza sengaja pulang karena khawatir aku kenapa-napa. Senaang sekali dia perhatian begitu. Walau katanya hari ini dia pulang malam mau ketemu dengan temannya mengurus proyek baru. Huhu sedih sih, tapi bangga melihat dia semangat bekerja :)


Lembar keempat


BOSAN. Aku seperti makhluk bumi satu-satunya. Gak ada interaksi dengan orang lain. Hanya ponsel teman baikku. Hiikkss.. Kangen suasana rumah :(


Lembar Ke Lima


Harta gak jamin bahagia ya? Kerasaa banget. A Reza mati-matian cari harta. Kerja keras bagai kuda. Pergi pagi pulang malam. Adek dianggurin aja Bang :(


Rasanya A Reza jadi orang asing. Kangeen A Reza yang duluuu.. :(


Hati Reza mulai terasa sesak. Dia merasa teramat sangat bersalah pada wanitanya. Apa yang dia lakukan ternyata sangat salah. Dia mulai membuka lembaran diari lainnya.


Lembar Keenam


*Sejak ia pergi dari hidupku, ku merasa sepi


Dia tinggalkanku sendiri, disini,


Tanpa satu yang pasti


Aku tak tahu harus bagaimana?


Aku merasa tiada berkawan


Selain dirimu, selain cintamu


Kirim aku malaikatmu,


Biar jadi kawan hidupku


Dan tunjukkan jalan yang memang


Kau pilihkan untukku


Kirim aku malaikatmu


Karna ku sepi berada di sini


Dan di dunia ini


Aku tak mau sendiri


~Bunga Citra Lestari~


Ini sih mewakili aku bangeett.. A Rezaa cepat pulaaaang* :(


Reza menahan tangisnya. Sudut matamya kini nampak berair. Dia merasa sangat menyesal. Dia merasakan bagaimana kesepiannya Tasya sendirian di apartemen mewah ini.


Kini Dia sadar, kebahagiaan sesungguhnya tak bisa dilihat hanya dari segi materi. Tapi kehadiran dan perhatian dari seseorang yang sangat berarti menjadi salah satu sumber dari sebuah kebahagiaan.


*** Temans selalu dukung aku ya dengan cara VOTE POIN atau KOIN. Tolong tinggalkan jejak juga dengan LIKE dan KOMENTARNYA.


Follow juga instagramku @only.ambu

__ADS_1


Terimakasih ^^ ***


__ADS_2