BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Semua Tentang Tasya Part 2


__ADS_3

Dokter kembali melakukan operasi untuk Tasya. Sementara seorang perawat memanggil keluarganya kembali. Reza mendekat ke arah perawat tersebut.


"Bapak keluarga Ibu Tasya?" tanya perawat


"Saya suaminya"


"Bayinya sudah kami pindahkan ke ruang NICU ya Pak" ucap perawat tersebut.


Seketika dia tersentak mendengar ucapan sang perawat. Dia syok dengan kecelakaan Tasya sampai lupa untuk bertanya tentang bayi yang berada di kandungannya.


"Dimana anak saya Sus? Maksudnya dimana ruang NICU sus?" sebuah kata 'anak' terlontar begitu saja dari mulut Reza.


Suster tersebut memberi arahan pada Reza. Reza bergegas pergi ke ruangan tersebut.


"Tolong dipakai bajunya Pak" ucap perawat menunjuk pada baju yang tergantung di sudut ruangan.


Dengan gemetar dan rasa bercampur aduk, Reza mendekat ke arah bayi mungil yang berada dalam Inkubator. Reza melihat bayi tersebut sangat kecil dengan beberapa selang ditubuhnya.


Reza meneteskan air matanya. Dia mulai membungkuk, mendekatkan wajahnya dengan inkubator tersebut kemudian mengadzani sang bayi dengan suara parau. Tak lama terdengar isak tangisnya pecah disana.


Perawat tersebut melihatnya dengan heran.


"Pak, tolong kontrol emosinya" salah satu perawat mengingatkannya.


Reza dengan segera menghapus air matanya. Dia melanjutkan iqomat untuk anaknya. Dipandang lekat-lekat bayi mungil hasil buah cintanya bersama sang istri.


Dia melihat keterangan dari inkubator tersebut. Bayi laki-laki dengan bobot 1.5 kilogram.


Sejenak terlintas percakapannya dengan sang istri waktu itu.


'Dih, Papinya Reza anaknya Jordan' Reza mengingat hal itu dengan Tasya tertawa saat berkata demikian. Rasanya baru kemarin mereka bercanda bersama. Kini bayi mungil itu persis berada di hadapannya dengan mata tertutup.


"Pak, waktu berkunjungnya habis" ucap salah seorang perawat.


Dengan berat hati, dia meninggalkan bayi mungilnya berada di bawah pengawasan perawat.


"Titip anak saya ya Sus" ucapnya.


Dia berjalan gontai ke ruang operasi kembali. Disana sudah ada Pak Danu yang menunggunya.


"Kenapa bisa begini Za!" suara Pak Danu meninggi. Belum pernah dia melihat Papanya semarah ini.

__ADS_1


'Aku tak tahu Pa' ucapnya dalam hati


Tapi dia hanya mematung.


"Kamu! (Pak Danu menunjuk tepat dimuka Reza) Gak bisa diandalkan! Dari awal Papa tidak setuju kamu membawanya keluar dari rumah! Tapi kamu? Berlagak jadi orang yang paling bertanggung jawab atas dirinya! Lihat sekarang! Lihat!"


"Buah keegoisanmu berakibat fatal bagi nyawa anak dan istrimu!" Deru nafas Pak Danu naik turun dengan kasar. Kilatan amarah tak bisa dia sembunyikan.


Reza terdiam. Tak ada satu katapun terlontar dari mulutnya. Dia merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa istri dan anaknya. Walau dirinya sendiri tak tahu pasti kenapa kejadian ini bisa terjadi.


Lamanya mereka menunggu diruangan tersebut saling diam tanpa bicara. Bi Tinah pamit pulang terlebih dahulu ditemani oleh Pak Budi. Kini tinggal Reza dan Papa tercintanya yang menunggu Tasya dengan pikiran masing-masing.


Lima jam sudah operasi Tasya dilakukan. Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana dok?" tanya Pak Danu tak sabar


"Operasinya sudah selesai, kita observasi beberapa hari ini. Sementara kita pindahkan ke ruang ICU."


"Kita sudah berikan obat anti bengkak juga karena dikhawatirkan ada pembengkakan di otaknya." ucapnya kemudian


"Boleh kami melihatnya dok?" tanya Pak Danu kemudian


"Untuk sementara belum bisa Pak. Ibu Tasya masih berada di ruang steril pascaoperasi. Nanti setelah itu, kita pindahkan ke ruang ICU." ucapnya kemudian


Hening. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing.


"Dimana cucu Papa?" Pak Danu membuka percakapan yang sempat membeku diantara keduanya.


Emosinya telah mereda. Mau bagaimanapun ini sudah menjadi suratan takdir Yang Maha Kuasa. Mereka tak bisa mengelaknya.


"Di ruang NICU Pa" ucap Reza singkat.


Pak Danu bergegas pergi meninggalkan ruang operasi. Dia berjalan ke ruang NICU dengan bertanya kepada salah satu perawat.


"Maaf Pak jam besuk sudah habis" tolak perawat saat Pak Danu mendekat


"Hanya sebentar sus. Saya mohon" ucapnya lemah


"Lima menit saja ya Pak" perawat tersebut akhirmya memberi kesempatan karena tak tega


Pak Danu masuk ke dalam ruangan dengan pakaian besuk. Disana terdapat beberapa bayi yang sama-sama berada dalam inkubator.

__ADS_1


Pak Danu melihat keterangan satu persatu dari nama bayi tersebut. Dilihatnya nama bayi Ny. Tasya dia segera mendekat.


Dia menegarkan hatinya menatap bayi mungil tersebut.


'Reza.. ' ucapnya dalam hati. Matanya berkaca-kaca, tak tega menatap cucu dihadapannya dengan peralatan di tubuhnya.


Hatinya bergemuruh. Rasa bahagia yang harusnya mereka rasakan akan kelahiran cucu yang dinantinya, berubah menjadi sebuah tragedi tragis yang membuatnya berduka.


Disisi lain, Reza membuka ponselnya. Terdapat sebuah pesan masuk yang belum terbaca olehnya.


'A Reza, aku ke rumah Papa ya. Aku bosan sendirian disini.'


Dadanya terasa sangat sesak membaca isi pesan dari Tasya. Betapa bodohnya dia selama ini membiarkan istrinya berada dalam kesepian. Dia menyesali perbuatannya yang akhir-akhir ini menuntutnya untuk mengabaikan Tasya dengan pulang larut malam. Betapa egoisnya dia hanya mementingkan kepuasan kerjanya tanpa berpikir kalau istrinya mungkin terluka atas perbuatannya. Andai semua keluarganya tahu, semua pasti mengutuk dirinya.


'Maafkan Papi, Mam. Maafkan Papi..' batinnya berteriak.


Rasanya dia teramat sangat merindukan Tasya. Rindu yang teramat sangat dalam. Rindu aroma tubuh sang istri. Bahkan dia merindukan omelan istrinya yang sulit dia redakan.


'Ya Allah tolong selamatkan mereka.' hatinya tak henti berdoa. Berharap akan sebuah keajaiban akan nasib yang menimpa mereka.


Reza duduk dengan menunduk. Pak Danu menghampirinya kembali.


"Ibu sudah ada yang memberitahu Pa?" tanya Reza


Pak Danu hanya mengangguk. Pikirannya masih kosong setelah melihat cucunya di ruangan NICU tadi.


Tak lama, pintu terbuka lebar. Pak Danu dan Reza berdiri menanti Tasya keluar dari ruangan. Begitu keluar, Reza tak kuasa melihat Tasya dengan balutan perban dikepalanya dan alat bantu pernapasan di tubuhnya. Reza menangis tak kuasa melihat Tasya terkulai tak berdaya.


Pak Danu menguatkan anak semata wayangnya. Reza menyeret tubuhnya mengikuti brangkar tersebut dibawa masuk ke dalam ruang ICU.


"Boleh kami melihatnya sus?" tanya Pak Danu


"Sabar ya Pak" suster tersebut menahannya.


Mereka membenahkan Tasya dalam ruangan tersebut.


"Boleh melihat hanya satu orang ya Pak" ucap suster tersebut.


Dari kejauhan terdengar suara ibu menangis sambil berjalan mendekat ke arah mereka. Pak Danu mematung melihat mereka. Begitupun dengan Reza yang berdiri diambang pintu membeku dengan rasa yang campur aduk.


Ibu, Ayah, dan Rasya berjalan cepat. Ibu menceracau tak jelas dalam tangisannya. Begitu mendekat..

__ADS_1


Bugg!!


Satu pukulan keras dilayangkan oleh Rasya kepada Reza yang membuatnya jatuh karena tak siap menerima pukulan dari Rasya.


__ADS_2