BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Serangan Balik


__ADS_3

"Eh Papi sudah datang, aku kangen banget tahu" suara Rasya dibuat seperti wanita. Kemudian terbahak.


"Si*lan!" ucap Reza kesal dan malu.


Reza segera masuk ke dalam kamar karena dia tidak mau Rasya mengolok-ngoloknya. Reza melihat Tasya sedang menidurkan Vano dengan memunggungi arah pintu.


Tasya meliriknya sepintas, dia mengira Rasya yang masuk ke dalam kamar. Sehingga dia kembali mengelus tubuh Vano.


Reza mendekat ke arahnya, aroma parfumnya tercium sangat jelas saat Reza mulai membungkukan badannya mengecup pipi Taysa dari samping.


Tasya merasa senang saat suaminya datang dengan selamat, namun dia masih kukuh dengan misinya.


"Sayang" sapa Reza


Tasya hanya diam tak menyahutnya. Lama dia diposisi yang sama hingga Vano benar-benar pulas. Sementara Reza telah berlalu ke kamar mandi.


Tasya hendak keluar kamar, saat bersamaan Reza membuka pintu kamarnya. Tasya membiarkan Reza masuk terlebih dahulu. Reza segera mengunci pintu kamarnya. Dia memberikan bunga yang dibawanya.


"Buat Mami." ucapnya seraya tersenyum.


"Terima kasih." Tasya menerimanya kemudian meletakannya diatas nakas.


"Mam. Papi kangen." Reza menarik Tangan Tasya kedalam dekapannya. Sementara Tasya hanya mematung tanpa membalas pelukannya.


"Miss you Mami Tasya. Maafkan Papi ya." Reza mengecup puncak kepala Tasya berulang kali.


Tasya merasa sangat nyaman dalam dekapan suaminya. Ingin sekali Tasya membalas pelukannya, namun dia urungkan. Bagaimana pun dia harus membuat Reza jera. Titik!


Puas memeluk Tasya tanpa balasan, Reza kini berlutut.


"Sayangnya Papi gak nakal kan? Gak rewel kan sama Mami?" ucap Reza seraya mendekatkan wajahnya pada perut Tasya.


Lagi-lagi Tasya dibuat terharu oleh perlakuan Reza. Biasanya dia mengelus kepala suaminya. Tapi saat ini, dia juga berjuang menahan keinginannya.


Sebuah tendangan kecil dari dalam perut Tasya yang membuatnya senang.


"Eh gerak dia sayang." Reza mendongak ke arah Tasya yang sedang tersenyum. Tasya segera memalingkan wajahnya, memasang wajah datar.


'Anakku tahu saja kalau Papimu datang. Langsung deh rusuh dalam perut.' batin Tasya.


Reza mengecup perut Tasya berkali-kali hingga dia merasa pegal dengan posisinya tersebut.


"Aduh, kesemutan Mam." ucap Reza seraya duduk di lantai hendak meluruskan kakinya. Dia tertawa sendiri akibat rasa geli dan sakit menjalar di kakinya.


Tasya ingin sekali tertawa melihat Reza. Namun dia tahan, dia memilih keluar kamar dengan segera.


'Sukurin' batin Tasya senang.


"Jagoanku tidur, Neng?" tanya Rasya


"Iya." ucapnya seraya berjalan masuk ke dalam dapur. Tasya membuat cokelat panas kesukaan suaminya. Walaupun kesal, dia masih mau melayani suaminya.


Tasya berjalan melewati Rasya.


"Tadi Pak Direktur salah orang tuh." ucap Rasya seraya tertawa


"Kenapa memangnya?"


"Dia kira kamu yang buka pintu, udah siap-siap mau kasih bunga, padahal Aa yang buka pintu." Rasya tertawa. Tasya pun ikut tertawa mendengarnya.


"Buru-buru dia masuk kamar. Malu kayaknya" Rasya masih terbahak begitupun Tasya membayangkan wajah konyol suaminya.


"Dah ah, panas nih" ucap Tasya masih dengan senyumnya.


Tasya masuk ke dalam kamar melihat Reza sedang menciumi Vano. Dia ingin sekali tertawa, namun ditahannya.


Tasya meletakan gelas diatas nakas masih menahan senyumnya.


"Kenapa Mam?" Reza meliat gurat senang diwajah Taysa. Kini pandangannya beralih pada cokelat panas yang ditaruh Tasya


"Gak apa-apa" ketusnya.


"Terima kasih sayang." Reza segera bangkit dan meminum cokelat panas buatan istrinya.


"Mami sudah makan?" tanya Reza.


Tasya hanya mengangguk.


"Sayang, sudah dong marahnya. Papi gak tahan Mami kayak gini." bujuknya.


"Baru seminggu kan? Coba jadi aku!" ucap Tasya


"Maaf Mam. Papi janji gak bakal ulangi lagi." ucapnya seraya menggenggam tangan Tasya.


"Enak banget bilang janji terus nanti ingkar lagi."


"Iya, Papi kali ini jera Mam. Mami gak tahu, Papi juga dimarahin Papa." ucapnya


"Baguslah. Setidaknya Papa tahu mana yang salah." ucap Tasya


"Mam.. Masa Mami tega kayak begini." bujuk Reza dengan wajah memelas.


"Dosa tahu Mam ke suami kayak begini."


"Dosa juga sama anak istri mengabaikan." balas Tasya.


'Dia sekarang gak ada takut-takutnya'


"Mami gak takut durhaka?"


"Allah juga tahu siapa yang disakiti dari dulu" balas Tasya lagi


"Mam.. Sedendam itu Mami sama Papi."


"Aku gak dendam. Cuma aku sudah malas saja."


"Terus Papi harus gimana biar Mami biasa lagi."


"Entahlah.aku juga sudah bosan. Seminggu ini tanpa kamu juga aku sama Vano biasa saja. Kita sudah terlatih sebelumnya." ucap Tasya


"Ya Allah Mam, Mami tega sama Papi." ucapnya


"Papi mending bunuh diri saja kalau Mami kayak gitu." Reza menggertak Tasya


"Ya silahkan saja. Yang dosanya juga kamu bukan aku" ucap Tasya datar.


'Ya Tuhan, gak mempan juga.' Reza frustasi


'Sok-sokan mau bunuh diri, dikasih meriang saja sudah manja.' batin Tasya meremehkannya.


"Sudahlah. Aku capek." ucap Tasya seraya merebahkan tubuhnya disamping Vano.


"Geser Mam." pinta Reza


"Kamu disana" Ucap Tasya ketus


Reza patuh. Dia juga sangat lelah. Tak banyak bicara, Reza segera terlelap.

__ADS_1


***


Pagi hari, Reza dan Vano sudah bermain dengan hamster milik Vano. Sementara Tasya merapikan kamar mereka.


Tasya mengunci pintu kamarnya. Diam-diam dia mengambil baju milik suaminya, didekap erat sambil menghirup aroma bajunya. Tasya tersenyum senang merasakan aroma parfum Reza yang melekat pada baju yang dipegangnya. Setelah puas, dia segera ke dapur untuk membantu Ibu seperti biasa.


"Mbak Diah, tolong suapin Vano Mbak" ucap Tasya pada Mbak Diah.


"Suruh Reza masuk juga ya Mbak" titah Ibu


"Iya Bu." Mbak Diah membawa mangkuk berisi bubur milik Vano.


"Ladeni dulu suamimu Sya. Nyucinya nanti saja." ucap Ibu


Tasya menata meja makan. Dia mengajak Ayah dan Rasya untuk sarapan bersama.


Mereka tengah berkumpul dimeja makan.


"Papi mau itu saja Mam." Reza menunjuk uli goreng buatan Ibu.


"Kasih sambal oncom dikit saja Mam." pintanya kemudian.


'Awas saja kalau sakit perut. Sok-sokan makan sambel pagi-pagi' gerutu Tasya dalam hati.


"Bukannya makan nasi Za." ucap Ibu


"Bosan Bu. Kalau ini kan jarang." ucap Reza


Mereka makan sambil sesekali berbincang.


***


"Mami jadi hari ini reuninya?" tanya Reza saat Tasya sibuk memasukan baju Vano.


"Iya. Aku titip Vano saja biar gak usah dibawa." ucap Tasya


"Papi ikut saja sama Vano, Mam. Biar kita malam mingguan juga." ucapnya


Tasya diam tak menjawab.


"Jam berapa Mam janjiannya?"


"Sekarang." ucap Tasya


"Hah? Ya sudah, Papi siap-siap dulu." ucapnya


Tasya dan Mbak Diah sudah masuk ke dalam mobil di kursi belakang. Sementara Reza sibuk memasukan stroller milik Vano ke dalam bagasi.


'Wah, jadi supir sekarang.' batin Reza tak terima saat Tasya duduk di belakang.


"Kita berangkat nyonya Ramadhan" goda Reza.


Vano menangis ingin duduk bersama Reza. Dengan terpaksa Tasya pindah ke kursi depan mengikuti kemauan Vano.


"Vano sudah ingin nyetir nih. Maunya duduk sama Papi." ucap Reza.


"Sini Mam, Vano dipangku Papi saja." ucap Reza


"Jangan. Bahaya."


"Vano disitu saja sama Mami ya, Mami marah tuh" ucap Reza.


"Makanya cepetan. Biar cepet sampai." titah Tasya.


Begitu tiba di Mall, Vano tak ingin lepas dari gendongan Reza. Entah kenapa kali ini Vano sangat manja pada Papinya.


"Di resto sushi." ucapnya


"Gimana kalau Vano rewel Mam?"


"Ada playground juga buat dia." ucapnya


"Oh, Ya sudah ayo."


Reza memangku Vano dan menggenggam tangan Tasya walaupun beberapa kali Tasya melepaskan genggaman Reza.


"Syaaaa.. " teriak Rina


" Rinaaaa.. Ya ampun makin cantik aja." mereka tertawa


"Ya ampun Sya, kamu... " Rina melihat perut buncit Tasya


"Haha.. Ada bapaknya.." ucap Tasya malu


"Bapaknya doyan banget ini mah" ucap Rina seraya menutup mulutnya.


"Haha..dasar"


"Mana Tari?" tanya Tasya kemudian


"Tau tuh anak kemana" mereka clingukan mencari sosok Tari


"Haaaiiii.. Vano gantengnya yang Masya Allah. Akhirnyaaa ketemu langsung sama Vano" Rina menjawil pipi Vano gemas


"Hallo om ganteng, lama gak ketemu."


"Iya. Main dong kesana." ucap Reza ramah


"Hehe.. Iya kapan-kapan"


"Hai Mbaak." sapa Rina kemudian


Mbak Diah mengangguk sambil tersenyum


"Haaaaiii kaliaaan." Tari memeluk kedua sahabatnya saat menghampiri mereka. Mereka tertawa heboh.


"Ya ampun Syaa... Gilaaa.. Kita masih nyari calon, kamu sudah dua saja" ucap Tari


"Hehe.. Mana si ganteng?" Tari melihat ke belakang


"Hai om ganteng, ops" Tari menutup mulutnya. Mereka tertawa.


"Haiii Vano, ya ampun Sya, ganteng banget anak kamu" ucap Tari


"Maaf yaa, aku bawa pasukan nih" ucap Tasya


"Haha.. Emak-emak mah dimaklumi." ucap Tari


"Ih dasar."


"Yuk masuk, aku sudah reservasi kemarin." ucap Tari


Mereka masuk ke dalam resto bernuansa Jepang. Vano dan Mbak Diah langsung menuju ke playground. Sementara Reza menemani Tasya.


"Mam, jangan makan yang mentah" ucap Reza


"Iya." balas Tasya pendek

__ADS_1


Mereka berbincang asyik sementara Reza menyimak kehebohan ketiganya. Dia teringat waktu awal-awal kenal Tasya dulu.


Tak lama, Vano menghampiri mereka. Reza dengan telaten menyuapinya. Sementara Mbak Diah menolak makan sushi karena dia merasa aneh. Tasya segera memesan makanan lain untuk Mbak Diah.


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya mereka berpisah. Reza dan Tasya melanjutkan jalan-jalannya dengan keliling Mall.


"Mami mau beli sesuatu?" tanya Reza


"Enggak." ucap Tasya singkat.


"Eh, beli donat atau apa kek buat yang dirumah." ucap Tasya


"Ya sudah yuk beli donat dulu Mam." ajak Reza, berjalan ke toko donat.


"Ada lagi yang mau dibeli?" tanya Reza


"Enggak" ucap Tasya singkat


"Yuk pulang sayang." ajak Reza


***


"Sya, sini Vano tidur sama Ibu saja. Kasihan kamu pasti sempit bertiga disana. Apalagi perut kamu mulai besar, pasti gak nyaman." ucap Ibu


"Gak usah Bu. Biar kami bertiga saja."


"Gak apa-apa sayang. Kamu kemarin kelihatan pegal juga karena gak bebas kan." Reza merasa dapat lampu hijau dari mertuanya.


Beberapa kali menolak, akhirnya Tasya menyerahkan Vano pada Ibu.


Tasya merasa canggung tidur berdua bersama Reza, dia tidur memunggungi Reza.


"Mam" Reza memeluknya dari belakang


"Apa!" Tasya hendak melepaskan pelukannya


"Sayang.. " Reza memancingnya. Berbisik ditelinga Tasya.


"Apa sih A Reza! Tidur sana!"


Reza semakin bersemangat.


'Apapun masalahnya dalam rumah tangga, ranjanglah tempat menyelesaikan semua masalah.' begitu kalimat yang dia dengar kemarin dari teman-temannya seraya bergurau. Reza ingin mempraktekan ucapan temannya.


Reza memberanikan diri memainkan tangannya di area dada Tasya, Tasya menangkap tangan Reza namun tangan Reza masih berkelit disana.


Reza mulai mengecup belakang telinga Tasya. Memberikan udara panas dari mulutnya disana. Dia menggigit pelan telinga Taysa. Memberikan sensasi geli dan merinding pada Tasya.


"A.. "


"Iya sayang" ucap Reza dengan suara berat.


"Sudah ih" ucap Tasya


Semakin lama, Reza segera tak sabar. Kecupannya semakin intens di leher Tasya dan tangannya tak bisa diam membuat Tasya kewalahan untuk sekedar melawan. Kini perlawanan dari Taysa mulai melemah. Dia dikuasai rasa yang sama dengan Reza.


Reza membalikan tubuh istrinya agar menghadap kepadanya. Dia memandang Tasya sambil tersenyum. Sementara Tasya sengaja menutup matanya karena rasa malu menyelimuti dirinya.


"Love you Mami" bisik Reza ditelinga Tasya. Kini Reza mengangkat dagu Tasya. Memberi kecupan bertubi-tubi hingga mel*matnya dengan buas.


Tasya membalas perlakuan suaminya. Walau bagaimanapun mereka masih normal. Mereka sudah lama tidak saling mencicipi satu sama lain.


Reza melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati membuat Tasya semakin terbuai akan perlakuan Reza. Keduanya saling memuaskan satu sama lain.


Reza ambruk disamping istrinya setelah melakukan pelepasan yang memuaskan dirinya. Dia memeluk Tasya erat. Sementara Tasya membenamkan wajahnya di dada sang suami. Dia merasa malu karena telah kalah oleh hawa nafsunya sendiri.


"Luar biasa" bisik Reza pada Tasya yang membuat wajahnya merah padam.


"Ibu hamilku seksi sekali saat bergoyang" goda Reza lagi.


Tasya mencubit pinggang suaminya. Reza hanya meringis seraya tertawa pelan.


Reza mengecup kepala istrinya. Menyalurkan rasa sayangnya disana.


"Mam, sakit gak?" tanya Reza


Tasya tak mau membahasnya. Tasya merasa sangat malu pada Reza. Dia tak berani membuka suaranya. Tasya hendak bangun tapi Reza segera menahannya.


"Mau kemana?"


"Pakai baju."


"Gini saja Mam. Enakan gini sentuhan kulit." ucapnya seraya menyenggol dada istrinya


"Dasar m*sum!"


"Sama istri sendiri halalan thoyyiban sayang" goda Reza


'Menyebalkan sekali, dia selalu bisa menggagalkan rencanaku' batin Taysa kesal pada dirinya sendiri.


"Mami, tadi Mami tuh bener-bener ****.." Tasya segera membungkam mulut Reza.


Reza tersenyum dengan mulutnya masih ditutup tangan Tasya.


"Berisik. Dibahas terus." ucap Tasya


"Gak bahas asal Mami gak marah lagi ke Papi." ucap Reza membuat Taysa mendelik


"Eh, gimana mau marah sih. Orang tadi juga goyangnya.. " lagi-lagi Tasya membungkam mulut Reza. Sementara Reza tertawa dalam bungkaman Taysa.


" Nyebelin banget sih!" Tasya cemberut. Dia melepaskan kembali tangannya dari mulut Reza.


"Tapi tadi tuh bener-bener hot Mam" Taysa hendak membungkam mulut suaminya lagi tapi kalah cepat dengan tangan Reza yang menahannya.


"Love you istriku. Papi gak akan mengulang kesalahan yang sama. Papi janji." ucap Reza


"Kalau ingkar, ininya aku potong" Taysa mer*mas milik Reza membuat Reza tertawa.


'Ya ampun refleksnya kebangetan ini tangan' Tasya merutuki dirinya. Dia sangat malu pada Reza.


"Bilang saja Mami ingin pegang-pegang" Reza menggodanya lagi masih tertawa.


"Tapi Papi suka banget. Lagi dong sayang. Yang lembut jangan di rem*s" Goda Reza


Tasya memejamkan matanya tak mau menanggapi Reza yang menggodanya.


"Mam.. "


" Maam.. " Goda Reza seraya tersenyum.


.


.


.


Naaaaah luluh juga ih si Mami. Gimana dong? Lanjutkan? Vote Dulu dong.. Tinggalkan jejak juga dengan like dan komentarnya. Terima kasih ^^

__ADS_1


__ADS_2