
Tasya masih belajar untuk berjalan dengan normal. Dia masih merasa sedikit kesakitan setelah operasi caesar yang dia jalani. Namun kali ini perasaannya sangat lega, dia bisa memberikan asi eksklusif pada Daffa.
Daffa menangis setelah perawat mengecek tekanan darah Tasya.
"Sudah Haus ini Mam, Daffanya" ucap Perawat sambil merapikan peralatannya. Dia menggendong Daffa kemudian memberikan Daffa pada Tasya yang tengah duduk berselonjor diatas kasur.
"Saya permisi ya Mam" ucap Perawat.
Tasya mulai membuka kancing bajunya. Dia hendak memberikan asi pada Daffa. Namun nampak sekali kesulitan karena Daffa tidak mau membuka mulutnya lebar-lebar.
"Susah sekali sih" gerutu Tasya yang sudah merasa gerah.
"Buka yang lebar mulutnya Dek" Reza mulai membantunya.
"Kesel banget, masa tiap mau mengasihi susah begini." ketus Tasya
"Sabar Mami, kan masih belajar." Reza mencoba menenangkannya sambil membantu Taysa.
"Papi jangan disenggol dong. Sudah tahu sakit!" ketus Tasya saat Reza menyenggol pay*dara Tasya yang membengkak.
"Maaf. Maaf sayang. Gak sengaja" ucap Reza
"Ini lagi, susah begini!" Tasya melepaskan pegangannya untuk meghela nafas sementara Daffa masih menangis membuat Reza dan Tasya sedikit panik.
Reza dan Tasya masih berusaha memasukan pupilla pada mulut Daffa. Hingga akhirnya Daffa bisa menyedot asinya.
"Aw.. Ssshhh.. Sakit banget" ucap Tasya
"Sshh..rasanya sampai ke kepala tarikannya" Tasya mulai berkaca-kaca
"Sabar Mami.."
"Perih tahu! Sabar-sabar!" Tasya mulai menangis.
"Nanti coba kita tanya sama dokternya, ada obatnya gak" ucap Reza. Tasya masih menangis.
"Masuknya susah, sekarang sakit banget sedotannya!" kesal Tasya dengan air matanya yang menetes.
"Ya mau gimana lagi, Mam. Papi gak bisa bantu apa-apa" ucapnya
Air matanya makin mengalir dengan sesekali meringis menahan sakitnya tarikan dari mulut kecil Daffa.
Daffa kecil, melepaskan mulutnya dari pupilla Tasya. Tasya meletakannya di sampingnya, namun Daffa kembali menangis.
"Ih! Cengeng!" kesal Tasya
"Sabar Mam! Mami kenapa sih marah-marah terus!" Reza ikut tersulut.
"Kamu saja nih yang ngurusnya!" kini suara Tasya mulai meninggi
Reza memejamkan matanya. Mengatur amarahnya dengan suara tangisan Daffa yang kencang. Sementara Tasya membiarkan Daffa begitu saja.
"Mami, kasih asi lagi dong Mam! Dia gak akan berhenti nangis." ucap Reza
"Kamu gak ngerasain sakitnya kayak gimana!" ketus Tasya
"Ya sabar Mam. Mau gimana lagi." ucap Reza
Tasya yang kesal berusaha memberikan asinya kembali.
"Tuh, dia tuh gak mau buka mulut yang lebar." ketus Tasya
"Sabar, belum terbiasa sayang. Coba kasih yang kanan sekarang sayang." pinta Reza
Tasya memutarkan tubuh Daffa, dia mulai mengasihi.
"Gak sakit kan yang itu Mam? Makanya kasihnya jangan yang kiri terus" ucap Reza
"Gak enak tahu! Lebih susah kalau yang kanan" ketus Taysa
"Nanti terbiasa sayang" Reza mengelus punggung istrinya
"Iya teori mah gampang!" ketus Tasya lagi. Kali ini Reza diam melihat sang anak yang sedang asyik.
"Tuh kan, lepas lagi kalau yang kanan! Dia tuh kayak gak mau!" gerutu Tasya. Tasya memutarkan kembali tubuh Daffa dan mulai mengasihi kembali.
Tak berapa lama, Ibu datang bersama Vano. Dia melihat Tasya yang kesakitan.
"Nanti asinya coba dioleskan ke yang lecetnya Sya" ucap Ibu begitu tiba
"Biar apa Bu?" tanya Reza
"Ya obatnya itu sih kata orang jaman dulu" ucap Ibu
"Oh gitu."
"Dulu kan kamu gak mengasihi Sya, jadi ya kaku." ucap Ibu
"Kesel bu, Daffa nangis kencang tapi gak mau buka mulut" ucap Tasya
"Iya sabar. Nanti lama-lama juga terbiasa. Sekarang kan masih adaptasi juga." hibur Ibu.
"Semua sudah dirapihkan Za?" tanya Ibu
"Iya sudah Bu. Tinggal nunggu dokter visit baru kita bisa pulang." ucap Reza
Daffa tertidur kembali. Dan lagi-lagi saat hendak ditaruh dikasur. Dia menangis. Dengan sigap ibu menggendongnya. Seketika Daffa berhenti menangis.
"Loh? Di gendong Ibu dia malah anteng" ucap Reza
'Iya aku mah gak bisa ngurus anak!' ucapnya dalam hati. Tasya ingin sekali menangis namun dia tahan.
***
Tasya turun dari mobil dengan bantuan Reza. Dia berjalan perlahan karena sakit yang masih dia rasakan.
Sementara Ibu menggendong Daffa masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Vano yang pulas dalam dekapan Rasya.
Ibu masuk ke dalam kamar Daffa dan Vano, sementara Tasya merebahkan tubuhnya dikasur miliknya.
Ibu meletakkan Daffa dalam box bayi dan menghampiri Taysa melalui pintu yang sengaja dibuat oleh Reza untuk menghubungkan kamar mereka dengan kamar anak-anak.
"Sya, makan dulu ya" ucap Ibu
"enggak Bu. Nanti saja."
__ADS_1
"Kamu jangan marah-marah terus. Kasihan Reza, ibu dengar kamu dari tadi ngomel terus." ucap Ibu
'Ibu gak ngerasain apa yang aku rasakan. Masih bisa ngebela A Reza. Sedangkan aku? Aku ngerasa gak punya teman berbagi' batinnya sedih.
Ibu meninggalkan Tasya saat mendengar tangisan Daffa. Tasya mulai menangis. Dia merasa sedih dan juga merasa tak bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anaknya.
"Sayang, kok nangis? Kenapa Mam?" tanya Reza yang nampak kaget saat masuk ke kamar mereka.
Tasya masih menangis sesegukan. Dia tak menyahuti Reza. Reza memeluk tubuh istrinya. Memberi kenyamanan untuk sang istri.
"Mami kenapa sayang?" tanya Reza mengecup kening Taysa
Tasya masih membungkam mulutnya.
"Mami mau apa sayang? Bilang dong" ucap Reza lembut.
Reza tak pernah melihat Tasya seperti sekarang. Dia nampak aneh dengan perubahan Taysa.
"Sayang..jangan nangis lagi. Anaknya sudah dua Mam. Masa masih cengeng. Malu sama Daffa." ucap Reza
Tasya melepas pelukannya.
"Sana kalau kamu malu" ketus Tasya
"Loh? Mami kenapa sih?" tanya Reza heran
"Papi cuma becanda Mam. Kok Mami marah?" tanya Reza
Tasya tak menyahutinya kembali.
***
Suara tangisan Daffa menggema di malam yang sunyi. Tasya dengan malas menuju ke kamar Daffa untuk menggendongnya. Dia duduk ditepi kasur yang ditempati oleh Vano dan Rasya.
Vano sedikit terusik oleh suara sang adik. Hal itu membuatnya ikut menangis. Tasya segera pergi ke kamarnya, meninggalkan Vano yang tengah ditidurkan kembali oleh Rasya.
Tasya membuka kancingnya satu persatu. Dia mencoba kembali memasukan pupilla ke mulut Daffa, namun dia masih merasa sesusahan sendiri.
Tasya ikut menangis saat dia merasa frustasi dengan keadaannya. Dia meletakan Daffa dikasur miliknya dan membiarkan Daffa yang menangis.
Reza terbangun dari tidurnya saat tangisan Daffa tak kunjung reda. Dia memicingkan matanya.
"Kok gak dikasih asi sih Mam?" tanya Reza heran
"Susah tahu! Kamu enak tidur! Aku?" Tasya menyeka air matanya.
"Mami kenapa sih Mam? Kok Mami perasaan gak kayak begini biasanya" ucap Reza.
"Mau ya? Kasih asi ke Daffa? Biar itu Mami juga gak bengkak. Ya?" Reza berbicara dengan hati-hati
Tasya menangis lagi.
'Dia kenapa sih?' batin Reza.
Reza masih membujuk Tasya agar mau mengasihi anaknya. Hingga akhirnya Tasya mau mengasihi Daffa kembali.
***
"Sya, kenapa Daffa semalam? Ibu dengar kok kayaknya dia gak berhenti nangis?" tanya Ibu
"Gak tahu Bu" ucapnya singkat. Taysa merasa terus dipojokan oleh orang-orang sekitarnya.
'Bangun tidur langsung main ponsel. Enak banget hidupnya.' batin Taysa
Tasya berjalan ke kamar anaknya meninggalkan Reza yang masih berkutat dengan ponselnya.
Reza membaca satu persatu artikel dalam ponselnya.
'Baby blues?' Batinnya. Dia mencai tahu penyebab dan cara menanganinya.
Reza mulai memahami apa yang dialami istrinya. Dia mencari sang istri ke kamar anaknya.
"Mam.. " ucap Reza lembut
Taysa meliriknya sepintas.
"Mami sarapan yuk?" ajak Reza
"Aku sudah makan biskuit Vano" ucapnya
"Temani Papi yuk, Mam. Papi kangen banget sama Mami" ucapnya.
"Enggak. Sana makan saja sendiri" ketus Tasya
Reza mengeluarkan berbagai bujukan untuk Tasya. Tapi Tasya masih tak menghiraukannya. Reza menuju meja makan karena sudah merasa sangat lapar.
Reza memutar otak untuk mencari cara agar Taysa bisa terlepas dari sindrom tersebut. Hingga akhirnya dia menghampiri Ibu yang sedang menggendong Daffa di halaman belakang.
Reza menceritakan semuanya pada Ibu, tak hanya Ibu yang mendengarkan penuturan Reza, Mbak Diah dan Bi Tinah juga ikut mendengarkannya. Mereka sedikit iba pada Taysa.
"Apa gak sebaiknya kita ke psikiater Za?" tanya Ibu
"Aku bingung Bu, tapi menurut keterangan yang saya baca. Dua minggu pertama saja kayak begini. Selanjutnya sembuh sendiri. Cuma ya gitu, dia harus dapat rangkulan dari orang disekitarnya. Gak boleh ada omongan negatif buat dia" ucap Reza
"Mungkin Neng sedang menyesuaikan juga. Soalnya waktu Vano kan dia gak mengurus dari awal" ucap Bi Tinah
"Ya, bisa jadi kaget juga. Apalagi pertama kali mengasihi" ucap Ibu
"Sekarang, tolong semua bantu aku. Mudah-mudahan Taysa segera lepas dari sindrom tersebut." ucap Reza
"Penyakit sekarang aneh-aneh. Jaman dulu gak ada kan yang begitu-begitu." ucap Ibu
"Bisa saja ada Bu, hanya saja jaman dulu mungkin menganggap sepele Bu." ucap Reza
"Aku, coba temani Taysa dulu ya Bu. Kasihan sendirian" ucap Reza. Dia meninggalkan mereka bertiga yang masih asyik berbincang.
Tasya merentangkan tubuhnya dengan mata menatap langit-langit kamarnya. Reza mendekat kemudian mengecup kening istrinya.
"Sayang.." ucap Reza lembut. Tasya hanya meliriknya sepintas.
"Kenapa gak tidur Mam?" tanya Reza lembut.
"Kalau aku tidur nanti Daffa ganggu" ucapnya ketus
"Mam, mau gak asinya di pompa saja. Papi belikan kulkasnya. Jadi Daffa bisa pakai dot." Reza memberi penawaran
__ADS_1
"Kenapa? Karena aku gak bisa mengasihi langsung?" ketus Taysa
"Enggak sayang. Maksudnya biar kalau Daffa tengah malam nangis, Papi yang bangun ngasih asi sama dia." ucap Reza
"Kamu gak percaya lagi sama aku?" satu bulir air lolos dari mata Taysa
"Enggak sayang. Bukan begitu. Mami wanita hebat. Papi sayang banget sama Mami. Makanya, mari kita berbagi beban" ajak Reza
Reza menatap lekat manik Tasya. Dia mengelus rambut istrinya yang sedikit berantakan.
"Love you Mami. Terima kasih sudah jadi wanita hebat Papi" ucapnya
Tangisan Tasya semakin pecah. Reza makin kebingungan menghadapinya. Saat ini dia hanya bisa bersabar melihat tingkah sang istri.
"Jangan nangis lagi ya Mam. Mami cantik banget, kalau Mami nangis terus, jadi cantik saja gak pake banget" Reza mencoba menghiburnya
"Papi menyebalkan." kini Taysa mengubah posisinya menjadi duduk berselonjor.
Reza memeluknya erat sedangkan Tasya menyandarkan kepalanya di dada Reza, Lelaki yang menemani hidupnya selama ini.
"Mami mau apa? Nanti Papi belikan." ujar Reza melepas pelukan mereka.
Tasya hanya menggeleng.
"Cilok? Es krim? Cokelat?" tanya Reza
Tasya masih menggeleng. Tak berselang lama, Ibu membawa Daffa yang menangis.
"Sya, haus kayaknya" ucap Ibu.
Taysa menerima Daffa dari Ibu, dia membuka kancing bajunya satu persatu.
"Sshhh... " Tasya meringis
Ibu yang berdiri disampingnya mengelus punggung Taysa.
" Sabar ya Nak. Hampir semua wanita mengalaminya kok. Dulu Ibu malah lebih parah di gigit Aa. Sampai meriang. Sakitnya luar biasa. Kayak mau putus." ucap Ibu
"haha.. Ganas juga Rasya Bu" Reza tertawa puas
"Sabar ya. Jadi ibu itu luar biasa pengorbanannya. Tapi saat anak sudah besar, malah kangen masa-masa kayak begini Sya." ucap Ibu
Tasya dari tadi hanya membisu.
"Ibu kadang gak nyangka, anak kecil yang manja sudah punya dua jagoan" ucap ibu
"Tiga bu" ralat Reza
"Emang kamu anak Taysa?" ledek Ibu membuat Taysa sedikit tersenyum
"Iya Bu. Mamii aku juga haus Mam" Reza merentangkan tangannya
Ibu memukul bahu Reza.
"Sudah tua gak tahu malu" ucap Ibu
"Haha.. Lagian Bu, kalau aku yang kayak Daffa, Tasya keenakan" Ucapnya hendak kabur.
"A Reza! Gak tahu malu dasar!" kesal Tasya
"Kamu mau makan apa Sya? Biar ibu buatkan" ucap Ibu
"Apa saja Bu." ucapnya
Tak berapa lama, Rasya menghampiri mereka bersama Vano.
"Mam. Dedek." ucap Vano
"Iya, Dedek Daffa." ucap Tasya
"Apa" jawab Vano
Tasya tertawa.
"Daffa, coba ulang lagi Bang" pinta Tasya
"Ap.. Paa" jawabnya.
"Iya Dedek Apa, dedeknya Abang ya. Nanti main sama Dedek ya Bang" pinta Taysa
"Sudah mandi belum?" tanya Tasya
"Belum. Ini dia mau mandi" Rasya membuka baju Vano
"Abang mau bareng Papa ya Bang" ucap Rasya
"Jangan dong A. Nanti lama. Kamu kan mandinya lama. Bisa-bisa dia masuk angin" ucap Ibu
"Abang dulu maksudnya dimandiin Papa. Nanti habis itu Papa dimandiin Abang"
"Hah! Lucu banget A!" jawab Taysa
Ibu menggendong Daffa yang sudah terlelap.
"Sya, biar kamu gak bolak balik. Box Daffa taruh disini saja bagaimana? Jadi malam-malam kamu gak perlu ke kamar sebelah" ucap Ibu
"Hm.. Iya juga ya Bu" ucap Tasya
"Ibu kasihan saja ke kamu. Vano juga suka kebangun kalau adiknya tidur, bukan?" ucap Ibu
"Iya Bu. Nanti aku bilang A Reza deh kalau begitu." ucap Tasya.
***
Satu bulan berlalu, kini Taysa menjalani aktifitasnya seperti biasa dibantu oleh dua pengasuh yang dipekerjakan Reza untuk mengurus kedua anaknya. Begitupun dengan Reza, dia kembali ke kantor seperti biasa.
Reza datang ke kantor dengan wajah ceria setelah menghabiskan weekendnya bersama keluarga tercinta.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba seorang wanita dengan rambut panjang merintih kesakitan dihadapannya sambil berpegangan ke tembok.
"Loh, Dek. Kamu kenapa?" ucap Reza mendekat dengan wajah yang panik saat melihat anak magang tersebut.
.
.
__ADS_1
.
Hallo readers, masih betah sama BSN? yang masih betah mana suaranyaa? Bantu like dan komentarnya yaa.. Jangan lupa bantu Vote juga yaa.. Terima kasih^^