BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Daffa Sakit


__ADS_3

Sudah tiga hari demam Daffa naik turun. Hal itu membuat mereka lebih khawatir. Pagi-pagi sekali Tasya dan Reza kini berada di laboratorium untuk menunggu hasil tes darah Daffa.


Dokter meminta Daffa untuk rawat inap setelah melihat hasil tes laboratorium. Tak menunggu lama, Reza mengambil ruang VVIP untuk merawat anaknya.


"Abang gimana Pi?" Tasya sedikit cemas


"Abang biar sama Opa saja Mi. Papi temani Mami."


"Kasihan dia Pi, Papi juga tahu sendiri Abang cemburuan."


"Terus Mami gimana? Mana setiap pagi Mami mual-mual."


"Adek sama Papi aja? Biar Mami sama Abang istirahat ya."


"Papi tahu sendiri Adek manjanya sama siapa, Pi. Udah, Papi sama Abang aja. Biar Mami disini sama Mbak. Gimana?"


"Lihat nanti deh sayang. Kasihan juga si Dedek diperut Mami kalau Mami kecapean. Apalagi rumah sakit. Papi takut Mami ikutan drop." ucap Reza


Tasya dan Reza menunggu pemindahan Daffa ke ruang rawat inap.


"Sabar ya sayang" Tasya masih memeluk Daffa


"Sini sama Papi yuk? Kita lihat gajah disana." ajak Reza mengalihkan perhatian anaknya hingga Daffa mau digendong Reza.


Reza menunggu Vano dan kedua Mbaknya datang ke rumah sakit setelah Daffa mendapat kamar.


"Mi, Abang udah di parkiran. Aku suruh Mbak Uji kesini dulu biar jaga Adek. Abang sama Mbak Diah nunggu di parkiran. Biar Mami bisa ketemu Abang dulu." ucap Reza


Tak berapa lama, Mbak Uji tiba di ruangan. Reza dan Tasya segera menuju ke parkiran untuk menemui anaknya.


"Mi, Adek kenapa Mi?" Vano menangis dipelukan Tasya


"Abang doakan Adek cepet sembuh ya. Adeknya biar istirahat disini dulu."


"Kenapa gak di rumah saja Mi? Aku janji gak akan nakalin Adek, Mi"


"Iya kan biar di jaga Dokter dulu, Bang."


"Abang di rumah sama Papi ya. Mami jaga Adek dulu. Abang jangan nakal ya Nak."


"Aku juga mau jaga Adek, Mi. Adek pasti kesepian kalau gak ada aku."


"Gak boleh Bang, anak kecil gak boleh masuk ke rumah sakit." Reza kini menimpali


"Abang udah besar Pi. Abang udah sekolah." Vano melipat kedua lengannya.


"Iya tapi Abang belum cukup umur."


"Abang pulang ya sama Papi. Doakan Adeknya cepet sembuh ya Bang."


"Abang mau sama Mami."


"Nanti kita beli mainan Bang. Mau kan?"


"Tapi Beli banyak ya Pi."


"Satu aja bolehnya." timpal Tasya


"Mami pelit."


"Gak boleh boros Bang. Kata Miss Devi kan harus hemat."


"Yuk pulang ah, kelamaan di Rumah Sakit gak baik." ajak Reza


"Hati-hati ya Pi, jangan ngebut. Jagain anaknya." Tasya mencium punggung tangan suaminya.


"Mami kalau gak kuat bilang ya.. Love you Mi" Reza mengecup kening istrinya.


"Abang jangan nakal yaa.. Mami sayang Abang." Tasya mengecup lembut wajah anaknya.


***


Reza memberi kabar kepada keluarganya di kampung perihal Daffa karena merasa tak tega pada Tasya yang tengah merasakan morning sickness di awal kehamilannya. Keluarganya akan datang esok hari membuat Reza sedikit lega.


"Pi, aku lapar."


"Mau sereal? Roti atau apa?" tanya Reza


"Pizza Pi."


"Ih kamu mah! Sereal aja ya?" Reza memberi penawaran.


"Enggak. Abang mau pizza pokoknya."


Reza yang tak mau pusing segera memesankan pizza untuk anaknya.


"Tunggu di bawah dulu yuk, biar nanti pizzanya datang, Abang tahu" ajak Reza


Keduanya kini menuruni anak tangga. Tak berapa lama pizza yang diminta Vano pun tiba.


"Pi, Papi kenapa ikutan makan pizza? Kan aku yang mau."


"Kalau Papi gak minta nanti gak abis Bang pizzanya."


"Aku tuh pasti habiskan semunya Pi. Tenang saja."


"Papi cuma minta satu saja. Gak boleh pelit sama orangtua, tahu."


"Selalu saja bawa-bawa nama orangtua." gerutu Vano.


Keesokan harinya, keluarga Tasya tiba di rumah sakit untuk menjenguk Daffa.


"Loh? Ibu? A Reza pasti ngasih tahu ibu?" Tasya nampak kaget melihat Ibu, Rasya dan Zahra yang tiba di rumah sakit.


"Iya dia bilang Daffa dirawat, kamu lagi mabok juga. Makanya Ibu sama Teteh kesini." ucap ibu


"Ih Ibu, Zahra aja bu, aku sama Tasya kan temen Ibu"


"Aku gak nyangka Sya, kamu cepat sekali hamilnya. Hehe. Selamat Sya." ucap Zahra


"Suburnya kebangetan Yang. Kayaknya baru di lempar celana dalam saja sudah jadi." ucap Rasya menimpali membuat mereka tertawa sekaligus malu mendengarnya.


"A Rasya ih! Makanya yang rajin dong. Jangan cuma sayuran saja yang di siram." ucap Tasya


"Udah telat belum Ra?"


"Belum Sya. Mudah-mudahan segera. Aamiin." ucap Zahra


"Gak apa-apa. Nikmati pacaran dulu aja Ra. Aku juga dulu sama kok. Gak langsung isi. Pokoknya jangan dibikin stres aja Ra."


"Iya ya Sya. Tapi aku sih biasa aja. Apalagi A Rasya kan suka ngelawak, jadi ketawa aja yang ada."


"Masih degdegan gak Ra?" goda Tasya


"Masih kadang-kadang, Sya" Zahra dan Tasya tertawa.


"Aa ke rumah dulu kalau begitu Sya. Kasihan si jagoan. Reza juga pasti kerja."


"Ya udah Ra, kamu juga istirahat aja dulu dirumah."


"Aku temani kamu aja Sya disini." pinta Zahra

__ADS_1


"Boleh kan A?" Zahra melirik suaminya.


"Boleh Yang kalau kamu mau. Aa sama Ibu pulang ke rumah."


"Gimana Bu?"


"ibu disini saja temani Daffa juga gak apa-apa. Kamu sama Aa dirumah jaga Vano. Gimana?" tanya Ibu


"Ya udah kalau begitu Bu" ucap Zahra melirik Rasya


"Sini jagoan Papa" Rasya mengulurkan tangannya untuk menggendong Daffa


"Ngambek si Abang, Sya?" tanya Ibu seraya merapikan bajunya


"Ya gitu, Bu. Nangis pengin sama adiknya. Kemarin mau pulang biasa di iming-imingi dulu sama maenan."


"Wah, siap-siap nih kalau tau Papanya datang" ucap Ibu


Zahra dan Rasya pamit untuk pulang menjaga Vano dirumah.


"Kamu berapa minggu Sya?"


"Baru empat minggu, Bu."


"Reza gak main-main" Ucap Ibu seraya tertawa


"Gak tahu ih dia mah gitu Bu. Kalau gak di turutin terus aja kayak gitu, sekarang Vano percis kayak dia sifatnya" ucap Tasya


Daffa menangis kembali, kini giliran Ibu menggendongnya.


***


Seperti biasa, Tasya nampak payah dipagi hari membuatnya sedikit lemas.


"Untung suami kamu ngasih tahu Sya, lihat kamu payah begini." Tasya hanya terdiam seraya berbaring di kasur milik Daffa sementara Daffa digendong oleh Ibu.


Setelah beberapa lama, Reza kini tiba di ruangan mereka.


"Daffa gimana Mi?"


"Nangis terus Za." ucap Ibu


"Gak nyaman kali ya, Bu?"


"Yah, jangankan anak-anak. Kita juga sama kalau sakit."


"Mami mual?" Kini Reza menatap istrinya


"Udah enggak Pi, tapi Mami ingin yang seger-seger"


"Apa dong? Yuk cari."


"Sana. Biar Ibu sama Mbak disini." aibu menimpali


"Gak apa-apa Bu?" Tasya menatap Ibu


"Iya. Udah sana"


Reza menggandeng istrinya menuju ke parkiran.


"Jadi mau apa sayang?" tanya Reza saat mereka masuk ke dalam mobil


"Hmm.. Gak tahu Pi" Tasya menyandarkan tubuhnya di lengan sang suami.


"Jangan rewel sayang, kasian Maminya" Reza mengelus perut istrinya.


"Jadi mau apa?" tanya Reza lagi


"Mau gini aja dulu Pi"


Tasya hanya tersenyum.


"Kalau lemes pulang aja yuk?"


"Enggak sayang."


Reza membiarkan istrinya tetap bersandar di lengannya sementara dia bermain game di ponselnya.


***


"Pa, Papa lupa ya katanya kalau kesini mau beliin aku mainan Pa."


"Kapan sih Bang?"


"Waktu itu ih Pa. Iya kan Ma?" Vano mengedipkan matanya


Zahra tertawa melihatnya. "Hmm.. Iya gak ya?" goda Zahra


"Ck.. Mama gak asyik. Aku udah kedip-kedip juga." Rasya dan Zahra tertawa mendengarnya.


"Makanya jangan suka bohong."


"Aku tuh gak bohong Pa. Papa yang suka bohongin aku. Bilangnya mau belikan mainan tapi suka pura-pura lupa."


"Iya nanti aja kalau Adek udah pulang biar sekalian."


"Lama deh"


"Kamu emang gak sayang sama Adeknya?"


"Sayang. Aku kemarin nangis pas Adek mau nginep disana."


"Terus?"


"Ya udah. Aku gak nangis lagi kan Papi kemarin belikan aku mobil."


"Dasar anak matre."


"Makanya Pa, kalau aku nangis, Papa itu harus belikan aku mainan."


"Jangan mainan terus Bang. Makan juga yang banyak biar cepat gede"


"Denger tuh apa kata Mama."


"Makan yuk? Laper nih Papa." ajak Rasya kemudian


"Ya udah. Tapi aku mau di suapin Mama."


"Yuk, Mama suapin Abang."


***


Tiga hari berlalu, kini Daffa sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Ibu yang telah pulang terlebih dahulu, menyambut mereka dengan membuatkan nasi liwet dan makan beralaskan daun pisang.


"Ibuuu mantaap Bu." Reza sumringah melihat makanan mewah yang tersaji dihadapannya.


"Ayo makannya mumpung kumpul semua kan?"


Semua keluarga berkumpul makan bersama termasuk Pak Taufik yang menyusul mereka. Setelah selesai makan, para lelaki berbincang membahas konsep rumah Reza dan merancang pembangunan rumah Rasya. Sementara para wanita berkumpul di dapur seraya bercerita macam-macam."


Keesokan harinya para lelaki bersiap untuk pergi ke sebuah pemancingan. Mereka terlihat kompak mengikuti ajakan Pak Taufik yang memang dari dulu mempunyai hobby mamancing.

__ADS_1


"Abang temani Daffa aja di rumah ya?" bujuk Ibu.


"Ck.. Nin. Aku itu cowok. Masa aku gabungnya sama cewek sih. Aku mau ikut King tahu."


"Pakai topinya kalau mau ikut." timpal Tasya


"Mi aku nanti gak cakep kalau pakai topi. Gak mau ah!" Vano nampak marah.


"Kalau gak nurut gak usah Bang!"


"Ck.. Iya iya. Mana cepetan sini topinya"


"Kok marah sih sama Mami? Dosa loh Bang." Mama Zahra kini menimpali


"Maa.. Aku gak marah!"


"Gak marah tapi nadanya begitu kamu mah." gerutu Ibu


Vano, kedua ayah dan kedua kakeknya berpamitan pergi memancing. Sepanjang jalan mereka tak henti berbincang dan becanda. Vano menjadi sasaran para orang dewasa yang sengaja mengajaknya terus berdebat hingga mereka tiba di pemancingan.


"Enak nih tempatnya. Tahu gitu Ibu-Ibunya suruh ikut saja tadi." ujar Reza saat melihat pemandangan di sekitar. Dia berkacak pinggang seraya mengedarkan pandangannya.


"Makan timbel nih enaknya." ucap Rasya


"Ibu tadi bekelin apa emang?" tanya Reza


"lontong isi sayur kayaknya."


"Lumayan lah."


"Mereka kini memegang pancingannya masing-masing tak terkecuali dengan Vano. Reza nampak tertidur seraya duduk di kursi menunggu pancingannya disambar oleh ikan. Sementara Vano tak hentinya mengoceh bersama Rasya sang Papa.


"sstt.. Diem Bang. Biar ikannya nyamperin kesini ya."


"Memang kalau berisik kenapa?"


"Kalau berisik ya dia takut deketin."


"Kok sama sih ikan kayak Abang, Pa."


"Kenapa emang?"


"Abang juga gak suka di dekati sama cewek berisik."


"anak kecil maenannya cewek." gerutu Rasya


"Emang siapa yang suka deketi Abang?"


"Dira. Dira berisik. Abang gak suka. Bawel anaknya Pa."


"Cieee Abang pacar Dira."


"Kata Mami yang pacaran itu Mami sama Papi. Abang gak boleh tahu Pa."


"Kenapa?"


"Ck..aku masih sekolah Papa."


"haha.. Iya iya. Udah ah diem. Nanti gak dapat-dapat ikannya."


Vano menurut. Suasana menjadi sangat hening. Setelah beberapa lama, pancing milik Vano nampak bergerak.


"Pa.."


"Tarik bang." Rasya membantu Vano.


Reza terbangun melihat perjuangan anaknya. Vano semakin maju mengikuti arah pancingan hingga Rasya yang mengikuti Vano tak sengaja ikut maju ke depan.


BYUUUURRRRRRR..


Seketika Vano dan Rasya terjebur ke kolam ikan. Dengan sigap Rasya mengangkat tubuh sang anak.


Vano menangis karena syok saat terjebur tadi. Semua yang berada disana ikut membantu mereka hingga membuat sedikit kegaduhan seraya tertawa.


Reza segera membasuh Vano dengan air bersih begitupun dengan Rasya.


"Kata Papi apa? Kamu kalau mau renang sama ikan, itu kolam renang Papi masukan ikan duyung."


"Gara-gara Papa aku jadi jatoh Pi" Ucap Vano cemberut


"Enak aja. Kamu yang maju terus. Ponsel Papa lihat jadi kena air kan. Mama pasti marah ini"


"Biarin. Biar Papa dimarahin."


"Kamu juga." ucap Reza seraya membuka seluruh baju anaknya.


Reza mengeringkan tubuh anaknya menggunakan tisu. Dia segera membuka bajunya kemudian memakaikan pada sang anak.


"Gimana aku A?" Rasya nampak kebingungan


"haha.. Kamu telanjang sajalah A." Ayah menimpali


"Kalian ini, sudah ada kolam renang dirumah. Malah berenang di sini." Pak Danu ikut bersuara.


"Si Abang nih gara-garanya Om" ucap Rasya.


Reza segera ke kamar mandi. Dia membuka celana boxer miliknya kemudian diberikan kepada Rasya untuk dia pakai. Dengan terpaksa Rasya hanua menggunakan boxer milik Reza masuk ke dalam mobil dengan bertelanjang dada.


Acara mereka pun batal.


"Abang sama Papa di depan saja. Biar baunya gak kemana-mana."


"Malu lah A Reza. Aku telanjang begini."


"Siap-siap tutup telinga di rumah." ujar Pak Danu


"Pak Dan, kita pergi saja yuk. Gak kuat nanti kalau mendengar ocehan mereka." ucap Pak Taufik.


"Aku ikut King" pinta Vano


"Enak aja. King gak mau dengar Nin kamu marah-marah ya. Biar Papa sama Papi kamu saja yang jadi sasaran mereka. Iya gak Bro?" ujar Pak Taufik pada Pak Danu.


"Haha.. Tahu sendiri kan Mami kalau marah gimana Bang." ucap Pak Danu.


"Gara-gara Papa sih"


"Kamu lah!"


"Lain kali aku mendingan gak mancing sama Papa. Papa mah gak pinter."


Tiba dirumah Rasya dan Vano membersihkan diri di halaman sebelum masuk ke dalam rumah.


"Miiii anaknya kejebur Miiii" teriak Reza


Seketika semua penghuni rumah keluar menghampiri dua lelaki yang sedang bermain air.


"Astaghfirullah.. " teriak ketiga wanita menatap kelakuan mereka.


.


.

__ADS_1


.


Maafkaan akuu yaa temans baru bisa up, dua hari kemarin sibuk di dunia nyata. Terima kasih masih menunggu si abang Vano. Jangan lupa bantu like dan komentarnya. Bantu vote juga. Terima kasih ^^


__ADS_2