BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Berdua Denganmu


__ADS_3

Dua minggu berlalu, kaki Reza telah sepenuhnya pulih. Kini dia tengah sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk akibat cedera kemarin. Namun sekalipun sibuk, kali ini dia lebih fokus pada kelahiran anak ke tiganya.


Reza dan Tasya nampak tak sabar dengan hari bahagia mereka. Tasya sedikit lebih stress untuk menghadapi persalinan kali ini. Bagaimana tidak, hal ini merupakan pengalaman pertama untuknya karena dulu Vano lahir dalam keadaan dia tak sadarkan diri.


"Mam, cepetan dong! Nanti kalau terlambat, lama lagi" ucap Reza diambang pintu


"Sabar kenapa sih. Sudah tahu gerakan aku gak bisa kayak Papi. Kalau gak mau nganter, gak usah maksain! Aku juga bisa sendiri" ucap Tasya kesal. Dia kembali duduk di bibir ranjang.


"Maaf. Papi ada meeting sayang, Papi harap Mami ngerti" ucap Reza nerendahkan suaranya


"Ya sudah, meeting saja. Aku bisa sama Pak Bud, Mbak Diah. Kenapa A Reza repot-repot ingin ikut check up? Biasanya juga cuek-cuek saja" ucap Tasya


"Hhh.. Iya, maaf." senjata Reza yang selalu dia lontarkan.


Saat-saat mendekati persalinan, Tasya nampak lebih sensitif dari biasanya. Dia lebih sulit tidur dan rasa takut menjalar dalam hatinya.


"Yuk, sudah siap kan? Papi gak sabar ingin lihat si handsome" ucap Reza sembari. Menarik tangan Tasya


Tasya patuh masih dengan mukanya yang ditekuk.


"Senyum dong cantik" goda Reza


Reza menuntun Tasya masuk ke dalam mobilnya. Kali ini mereka berangkat berdua karena Reza sedang terburu-buru.


"Kasihan Abang, Pap" ucap Tasya disela-sela perjalanan mereka.


"Lama lagi Mam kalau dia ikut. Nanti kalau santai ya? Kan sekarang lebih sering check up nya" ucap Reza


Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Mam, Mami ikut Papi meeting sebentar ya? Kayaknya kalau nganter Mami pulang, Papi gak keburu" ajaknya


"Papi meeting dimana sih?" tanyanya


"Di Hotel, Mam. Papi lagi ngejar MOU dengan perusahaan luar Mam. Makanya ini penting banget." ucapnya


"Memang bakalan sempat?" tanya Tasya


"Kayaknya sempat sayang. Ada waktu tiga jam" ucap Reza melirik jam tanganya sepintas


"Gak mungkinlah. Belum antri segala macemnya, belum perjalanan ke hotelnya, mending kalau dokternya on time, kalau datangnya telat, bagaimana?" ucap Tasya


Reza terdiam, membenarkan ucapan istrinya dalam hati.


"Ya sudah, langsung ke kantor Papi saja. Besok lagi check up nya." ucap Tasya kemudian


"Jadi gimana?" tanya Reza yang berharap Tasya membatalkannya lagi.


"Makanya kalau lagi sibuk jangan ngerasa bisa bagi waktu." omel Tasya


"Nanti kalau Papi gak nganter, Mami bilang Papi gak peduli. Sekarang Papi bagi waktu, masih kena marah juga." keluh Reza yang membuat Tasya sedikit tersenyum.


"Ya sudah, ke kantor Papi dulu saja kalau begitu" ucap Tasya.


"Hmm..masih ada waktu, kita pacaran dulu yuk, sayang" ucap Reza


"Pacaran kemana sih? Aku gak mau nanti Papi telat terus marah-marah kayak tadi."


"Check in, sayang" Reza menyeringai. Sementara Tasya menatapnya tak mengerti


"Meeting kan di Hotel Mam, sekalian gitu Mam" ucapnya


Tasya meliriknya dengan tatapan aneh.


"Ayolah Mam.. Kan dedek harus sering ditengok kalau mau lahir" bujuk Reza


"Iya, kalau lahiran normal. Kalau caesar gak harus juga" sanggah Tasya


"Haruslah, Mam. Biar Dedek tuh tahu, Papinya sangat sayang sama dia, rajin nengokin dia." Reza tertawa puas


"Mau ya?" Reza mengerling nakal


"Amit-amit Papi, mukanya kaya om-om yang haus belaian" ucap Tasya begidig


"hahaha.. Yang haus, yang haus, yang haus" Reza menggila


"Lagi si Mami, suami sendiri dibilang om-om haus belaian. Tapi memang betul sih, istrinya saya gak mau membelai" sindir Reza


Tasya masih terdiam.


"Ayo dong, Mam. Kan Papi biar rileks mau meeting nanti." ucapnya


"Dosa loh kalau nolak" ancamnya kemudian


Tasya tak sadar, Reza melajukan mobilnya menuju Hotel yang dituju Reza.


"Aku gak bawa baju ganti, Papi" dalih Tasya


"Kita gak main basah-basahan sayang, kan kita main desah-desahan." Reza menyeringai


"Papi ih! Mau punya anak tiga kenapa sih makin bertingkah?" tanya Tasya


"Biar gak bosen, Mam. Suasana baru" ucapnya.


"Jangan-jangan Papi lagi puber kedua" tatap Taysa tajam


"Puber kedua pada wanita yang sama memang salah Neng? Aa tuh cinta mati sama Neng" Reza mencolek dagu Tasya kemudian tertawa


"Ya ampun, Papi salah minum obat?" tanya Tasya


"Papi sudah lama banget tahu Mam, dianggurin begini" Reza kini memasang wajah menyedihkan.


"Ya sudah, iya." ucap Tasya pasrah.


"Ya emang iya, bentar lagi kita nyampe" ucap Reza cengengesan


"Dasar si Papi menyebalkan!"


Kini mobil Reza berhenti karena lampu merah. Tasya mengedarkan pandangannya, hingga dia melihat seorang war*a yang menghampiri dari mobil ke mobil.


"Pap, itu war*a bukan sih?" tanya Tasya


"Iya. Kenapa?"


"Kok manis banget kelihatannya." ucap Tasya seraya tertawa


"Kaya kolek dong, Mam?"


"Kok kolek sih?" Tasya heran


"Ya kan manis, ada pisangnya lagi" Reza terbahak. Begitupun istrinya ikut tertawa.


"Fix, Papi pikirannya udah gak beres." ucap Tasya seraya masih tertawa.


***


Reza menggandeng istrinya masuk ke dalam lift menuju lantai tiga. Begitu tiba di kamar, Reza segera membuka blazer dan kemejanya agar tidak kusut. Kini dia bertelanjang dada.

__ADS_1


"Celana gak dibuka? Kan Papi pakai boxer" ucap Tasya


"Nanti biar Mami yang bukain."ucapnya


"Ampun, Papi nyebut ih. Dari tadi perasaan Papi kayak begitu terus." ucap Tasya


Reza kini merebahkan badannya.


"Mam.." Reza menepuk kasur disebelahnya


"Came on Baby" ucapnya dengan merentangkan tangannya


Tasya yang sedang membuka kerudungnya, melirik sepintas kearah suaminya.


"Iya sebentar" ucap Tasya


"Kenapa Mami sangat mengga*rahkan?" ucapnya saat Tasya mendekat.


Tasya memeluk Reza yang bertelanjang dada. Dia menghirup aroma khas tubuh suaminya dan mengeratkan pelukannya.


Reza sendiri sibuk menciumi kepala istrinya. Menyalurkan kasih sayangnya sebagai suami pada dirinya.


"Anak kita mau tiga ya sayang" ucap Reza


"Iya, makanya jangan macem-macem." ucap Tasya


"Macem-macem gimana sih sayang? Papi biasa saja" ucapnya


"Iya biasa. Biasa nyebelin" ucap Tasya


Reza tertawa kecil.


"Love you Mami." ucapnya seraya merobah posisinya. Dia menciumi wajah Tasya yang tersenyum kepadanya.


Tanpa penolakan sedikitpun, Reza menciumi setiap inci wajah istrinya kemudian turun perlahan menuju leher jenjang Tasya. Lama beain disana membuat ga*rah Tasya merangkak naik.


"Jangan dimerahin Pap.." racaunya saat Reza bergerilya dileher Tasya


"Hmm" Reza menghentikan aktifitasnya, dan menurunkan kecupannya ke bagian dada. Disana dia bebas memberikan tanda merah.


Reza kesulitan membuka baju Taysa. Tasya segera menghentikan aktifitas mereka kemudian berinisiatif membuka bajunya sendiri. Dengan rakus, tangan Reza segera meraih dada Tasya hingga mereka melakukan penyatuan.


"Capek sayang?" tanya Reza


"Pegel Pap" ucapnya manja.


"Padahal cuma sebentar doang Mam." gerutunya.


"Tumben Pap. Kenapa ya?" tanya Tasya


"Kan sudah lama enggak, jadi ya cepet. Sekali lagi ah, nanti beres meeting" pintanya


"Papi mandi dulu ya, Mami mau mandi?" tanyanya seraya merubah posisinya menjadi duduk


"enggak ah, malas."


"Ya sudah gitu saja sayang, biar nanti gak ribet buka baju" ucapnya


"Papi, beliin cemilan. Aku lapar" ucap Tasya


"Baru sebentar sudah lapar lagi" ucap Reza seraya tersenyum


"Iyalah, tenaganya keluar semua tahu" gerutu Tasya


"Keluar semua darimana? Orang Papi yang kerja keras" ucap Reza


"Sudah sana mandi ih" ucapnya


"Iya sayang" Reza segera bangkit dan masuk ke kamar mandi.


Suara ponsel Reza mengalihkan perhatian Tasya. Dia melihat nama Adit menghiasai panggilan tersebut.


"Za dimana?" ucapnya tanpa basa basi.


"Assalamu'alaikum. A Reza sudah di hotel Pak Adit." ucap Tasya


"Wa..alaikumsalam. Oh i.. Iya Bu. Saya segera kesana kalau begitu" ucapnya menyudahi pembicaraan mereka.


Reza keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang. Dia segera memakai pakaiannya.


"Adit telepon nanyain Papi dimana. Aku bilang saja sudah di Hotel" ucap Tasya


"Iya Mam"


"Papi, beliin makan dulu sama cemilan ya? Baru ketemu Adit" pinta Tasya


"Siap Mam" ucapnya


***


Tasya dan Reza menikmati makanan cepat saji yang dibeli Reza di minimarket.


"Buka lagi mulutnya" ucap Tasya menyuapi Reza yang sedang bermain game di ponselnya. Tiba-tiba layar ponselnya menampilkan nama Adit kembali.


"Za dimana? Aku cari gak ada" ucap Adit.


"Check in lah. Ngapain nunggu kamu dibawah." ucap Reza cengengesan


"Kamu tunggu saja disitu Dit. Sebentar lagi aku turun. Tanggung nih. Ganggu orang saja" ucap Reza yang langsung mendapat cubitan dari Tasya.


"Hah bangk*. Dia lagi enak-enak" ucapnya


"hahahha.... " Reza mematikan sambungannya.


"Ih Papi mah bicaranya begitu" gerutu Tasya


"Papi kan bilang tanggung. Tanggung lagi makan. Memang lagi ngapain? Mami sama Adit pikirannya nih harus dibersihkan" ucap Reza


Tasya mempercepat makan mereka hingga tak terasa makanan mereka telah habis.


"Mami mau ikut?" tanya Reza


"Enggak ah. Mami mau tidur. Capek Sayang" ucap Tasya


"Iya kumpulin tenaga ya Mam. Nanti giliran Papi yang digoyang" ucap Reza


"Dasar."


Reza mengecup seluruh wajah istrinya.


"Kalau ada apa-apa bilang ya sayang" ucap Reza


"Iya. Love you Papi" ucap Taysa


"Ih tumben bilang duluan." ucap Reza


"Ya sudah enggak lagi"

__ADS_1


"Ih Mami mah. Love you too sayangku. Assalamu'alaikum." Reza menutup pintu.


Tasya kini berdiri didepan jendela menikmati pemandangan bangunan-bangunan disekitar Hotel tersebut sambil mengelus pelan perutnya.


"Papi kamu banyak tingkah Dek. Kadang nyenengin, tapi lebih sering bikin kesal. Tapi suka ngajakin kemana-mana tiba-tiba kayak gini. Ini yang Mami suka" Tasya bergumam sendiri.


"Abang lagi apa ya, Dek? Mami kangen. Tapi mau telepon, malu sama Mbak Diah." ucapnya kemudian.


Lelah berdiri, kini Tasya membaringkan tubuhnya.


"Ih rusuh banget Dedek, lagi apa sih sayangnya Mami" Tasya tak berhenti membelai perutnya hingga terlelap.


***


"Aku pikir kamu bohong Za lagi check in. Haha" ucap Adit setelah mereka menyelesaikan pekerjaannya.


"Tadinya mau check up. Si Tasya takut aku telat kesini. Akhirnya gak jadi. Daripada muter gak jelas. Aku bawa istirahat saja disini." ucap Reza


"Gak mungkin cuma istirahat" sela Adit


"Haha.. Mau ngapa-ngapain juga bebas. Asal jangan ngelahirin disini" ucap Reza


"Aku ada jadwal lain gak?" tanya Reza


"Gak ada. Tapi tadi ada anak datang mau magang katanya, Za. Gimana?" tanya Adit


"Berapa orang? Anak mana?" tanya Reza


"Tiga orang cewek. Anak yang kemarin kau kasih kuliah" ucapnya


"Haha.. Nekad mereka. Pesona Reza memikat anak kemarin sore" Reza tertawa


"Iya. Gak tahu dia, bininya mau lahirin" Adit ikut tertawa


"Kayaknya aku masih cocok kali macarin anak kuliahan Dit" Reza tersenyum bangga


"Coba saja Za" tantang Adit


"Weiyyy.. Bisa digorok semua keluarga. Dipecat jadi anak sama Pak Danu. Jadi gembel nanti aku" Reza tertawa


"Hahha.. Takut kamu"


"Terlaku cintalah jangan bilang takut." sangkal Reza


"Ya sudah, aku ke kantor ya. Salam buat Bu Direktur, Za" ucap Adit


"Aku gak ke kantor lagu ya Dit, sayang nih, mau manfaatkan. Mumpung gak bawa anak" Reza tertawa


"Iyalah Bos. Nanti anak sudah brojol. Susah deketin. Mana puasa lagi."


"Nah itu."


"Aku pamit Bos." ucap Adot meninggalkan Reza


Reza berjalan menuju lift sambil memainkan ponselnya. Dia sangat bersemangat setelah berhasil melakukan negosiasi tadi. Akhirnya produk mereka bisa Go Internasional berkat binaan pihak Pendidikan Pelatihan Export (PPE) yang merupakan program pemerintah.


Reza tiba didepan pintu kamarnya. Dia mengetuk pintu namun tak ada sahutan sama sekali dari istrinya. Reza mencoba menelepon Tasya namun tak diangkatnya. Semakin lama, semakin tak sabar. Ketokannya pun menjadi sangat kencang karena khawatir terjadi sesuatu pada istrinya. Reza masih menelepon Tasya.


"Hmm.. "


" Buka Mam cepetan" suara tak sabar dari Reza.


Tasya segera membuka pintunya.


"Mami tidur atau pingsan sih? Lama banget" keluh Reza


"Maaf."


"Papi khawatir tahu. Papi sudah mikir yang enggak-enggak" ucapnya berjalan ke arah jendela.


Tasya memeluknya dari belakang walau kesusahan. Dia menyandarkan kepalanya dipunggung suaminya.


Reza berbalik, dia mengecup lembut bibir Tasya.


"Alhamdulillah kita bisa Go Internasional ." Reza menyeringai. Raut bahagia nampak jelas dari wajahnya.


"Alhamdulillah. Selamat Papi. Papi luar biasa" puji Tasya


"Barokah buat kita sayang. Mami mau apa? Hmm..Papi beliin" ucapnya


"Mami mau waktu Papi buat keluarga. Itu saja cukup" ucap Reza


"Kok?"


"Ya kan nanti Papi makin sibuk, aku takut hubungan kita merenggang. Aku takut Papi gak bisa bagi waktu lagi kayak waktu itu. Aku gak suka Pap" jelas raut kesedihan Tasya disana. Hormonnya bekerja kembali. Dia lebih sensitif.


"Iya. Papi InsyaAllah bakalan ada waktu buat Mami sama anak-anak. Weekend waktunya kalian. Deal?" ucap Reza


"Awas kalau bohong" ancam Tasya


"Enggak sayang. Papi juga gak mau cuma nyetak uang tapi gak nikmatin." ucapnya


"Mam, kartu sudah banyak ya isinya?" tanya Reza


"Terus mau apa?"


"Mau bikin surprise buat Mami. Tapi kartu masih ditahan. Gimana dong?" tanya Reza


"Dasar."


"Emang mau buat surprise apa?" tanya Tasya


"Hhh.. Bukan juga surprise kalau bilang mah atuh Neeng"


"Haha.. Siapa tahu Papi keceplosan"


"Ya sudahlah. Nanti lagi saja." ucap Reza


"Sekarang kitaaa... " Reza menatap jahil


"Ih si Papi mah dasar."


***


Tasya memandang wajah suaminya yang terlelap setelah penyatuan mereka yang kedua kalinya. Dia mencium gemas wajah lelakinya itu. Reza yang terusik hanya melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


Tiba-tiba dering telepon masuk ke ponselnya.


"Assalamu'alaikum Mbak Diah ada apa?" tanya Tasya tanpa basa basi


"Waalaikumsalam. Itu bu, Vano.. "


.


.


.

__ADS_1


Vano kenapa lagi tuh? Yuk absen dengan like dan komentarnya. Jangan lupa bantu Vote juga yaaa.. Terimakasih ^^


__ADS_2