
Agus keluar ruangan dengan pucat pasi. Tubuhnya gemetar, dia tak menyangka aksinya bisa ketahuan.
"Aa heran sama kamu. Bisa-bisanya kamu minta alamat rumah dia!" Reza memarahi istrinya
"Kita kesana tanpa dia tahu yuk A" ajak Tasya cuek
"Mau apa? Paling nanti dia membuat sinetron seolah-olah memang keluarganya menderita" ucap Reza
"Aa suudzon terus sama orang" protes Tasya
"Wajarlah! Orang dia pencuri" Reza mengelak
"Iya tahu, tapi setidaknya gak begitu juga A" Tasya ikut kesal
"Terus harus bagaimana?" tanyanya
"Ya ayo, nanti kita ke rumahnya." ucap Tasya
Reza tak mau berdebat lagi. Dia memilih diam.
***
Tasya mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi. Dia merasa lelah setelah seharian di kantor, dan mendapatkan kejadian yang tak terduga sepanjang hari tadi.
Tasya hendak berganti pakaian, saat membuka lemari baju, dia sangat tertarik dengan kaos yang biasa dipakai oleh sang suami. Dia mengambil kaos tersebut kemudian mencium aroma kaos suaminya. Entah kenapa, Tasya ingin sekali memakai kaos sang suami.
Tasya kemudian memakai kaos Reza, dia tersenyum di depan cermin. Tasya sangat senang saat memakainya.
Reza masuk ke dalam kamar dengan membawa buah potong ditangannya. Dia melihat sang istri tersenyum memakai bajunya.
"Loh sayang? Kenapa pakai baju Aa?" tanyanya
"Aku pinjam ya A. Anakmu ingin maminya pakai baju papi" ucapnya.
Reza menyimpan buah tersebut diatas meja kemudian mendekat dan melingkarkan tangannya di perut sang istri. Kini nampak pantulan mereka berdua dari cermin tersebut.
"Makin sini dedek mintanya yang aneh-aneh" ucap Reza seraya tersenyum dan membelai perut istrinya.
"Boleh kan sayang?" tanya Tasya sambil mengelus pipi sang suami
"Tentu saja sayang. Apapun asal mami dan dedek senang" dia mencium pundak sang istri dan meneggelamkan wajahnya disana.
"Terima kasih papi" Tasya membelai kepala suaminya, Reza mendongak dan tersenyum ke arahnya. Tasya mendekatkan bibirnya, Reza yang mengerti segera menyambutnya. Mereka berpagutan cukup lama.
"A Reza, sudah ah. Aku lelah" tolak Tasya
"Kamu kan yang mancing sayang" ucap Reza kecewa
"Hehe.. Maaf..aku kan cuma ingin sun sayang saja" Tasya berdalih
"Ya sudah, ayo makan buahnya sayang" ajak Reza
Reza menyuapi Tasya. Sesekali dia ikut makan buah tersebut.
"Dek, kenapa sih gak minta mami pakai kemeja papi saja" protes Reza
Tasya tertawa mendengarnya.
"Dedek tahu kalau papi suka nakal. Makanya dedek gak mau" ucapnya seraya mengelus perutnya
__ADS_1
"Papi kan nengokin dedek bukan nakal" Reza menyeringai
"Dasar memang nakal" ucap Tasya
***
Keesokan harinya, Tasya mengajak Reza pergi ke rumah Agus. Mereka memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.
"Ini bukan jalannya sayang?" tanya Tasya
Reza keluar mobil membawa secarik kertas yang Agus tulis kemarin. Dia bertanya kepada seorang lelaki paruh baya. Lelaki tersebut nampak menunjuk ke arah gang kecil.
Reza menghampiri istrinya kembali.
"Ayo sayang. Kamu gak apa-apa nanti masuk ke gang sana?" tanya Reza sambil menunjuk sebuah gang
"Aku yang bertanya pada Aa harusnya" ucap Tasya. Reza hanya tersenyum malu.
Tasya keluar membawa plastik berisi kue di tangannya.
"Aa heran sama kamu, pencuri tapi kamu spesialkan!" ucap Reza seraya mengenggam tangan sang istri
"Awas hati-hati licin Sya" ucapnya saat mereka berjalan diatas batu-batu kecil yang dipakai untuk menutupi lubang.
Mereka memasuki gang yang terlihat agak kumuh. Reza berjalan di depan Tasya. Tasya menatap punggung suaminya yang nampak gagah menurutnya. Tiba-tiba saja Tasya bernyanyi.
'Shine bright like a diamond, shine bright like a diamond' ~ Rihanna
"Kamu kenapa sayang tiba-tiba saja nyanyi" ucap Reza heran
"Aku lihat Aa kayak berlian. Wajah ganteng pakai kemeja putih masuk ke gang kumuh" Tasya cekikikan sendiri
"Ya kayak berlian ditumpukan arang" Tasya tertawa
"Kamu ini suka ngaco kalau bicara" ucap Reza
"Sini foto dulu sayang" pinta Tasya
"Ya Tuhaan.. Kita mau ke rumah Agus sayang, bukan mau jalan-jalan" ucapnya sambil berbalik menampakan deretan giginya yang rapi dengan memasukan sebelah tangannya kedalam saku.
"Gak mau tapi malah bergaya." Tasya bersungut.
"Jadi sekarang kamu sudah tahu wujud diamond seperti apa?" goda Reza
"Haha..Aa mah! Iya iya.. Sekarang tahu, ternyata diamond punya sesuatu yang bisa mengecil dan membesar" Tasya tertawa
"Heh dasar kamu ya.. Nakal.. Sun juga nih" Goda Reza yang tak menyangka istrinya berkata demikian
"Nakal juga di ajarin papi. Wee" ucapnya
"Ini masih jauh A? Kok gak sampai-sampai sih?" tanya Tasya
"Nanti ada orang kita tanya. Sepi sekali disini" ucap Reza
"Kalau malam takut kayaknya A" ucap Tasya
Reza berada di depan rumah dengan pintu terbuka, disana seorang ibu sedang duduk sambil menyiangi sayuran.
"Permisi bu, mau tanya kalau rumahnya Agus dimana ya?" tanya Reza
__ADS_1
"Agus mana Pak? Di daerah ada tiga yang namanya Agus" ucap ibu tersebut
Tasya dan Reza saling pandang. Mereka tak tahu nama kepanjangan Agus.
"Agus yang kerja di gudang sayuran Bu" celetuk Tasya
"Oh si Agus itu. Ini sebelah saya rumahnya. Tapi orangnya jam segini kerja Bu. Ada Ibunya saja" jelas ibu tersebut
"Ayo saya antar" ucapnya kemudian
Mereka masuk ke dalam rumah yang nampak kusam dengan deretan kayu tertutup seperti bekas warung kecil di depannya.
"Bi Tati.. Ada yang cari Agus" ucap ibu tersebut memanggil nama ibu Agus.
Ibu tersebut keluar rumah.
"Siapa? Agus sedang kerja" ucapnya
"Saya tinggal ya" pamit ibu yang mengantarkan mereka.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Reza nampak kaget dan sedikit enggan untuk masuk ke dalam. Tapi Tasya menyubit lengannya.
"Duduk Bu. Maaf ya rumah kami begini. Ibu dari mana? Sebentar saya ambilkan minum" ucapnya tak berhenti bicara
"Tidak perlu repot-repot bu. Kami hanya sebentar" ucap Tasya
Ibu Agus refleks duduk kembali.
"Agus jam segini bekerja bu. Ibu siapa? Mohon maaf, apa mau menagih hutang pada Agus?" tanya ibu tersebut dengan wajah takut
"Tidak bu. Saya hanya mampir saja." ucap Tasya. Reza hanya diam mengedarkan pandangannya.
" Saya kira yang mau nagih hutang. Maklum Agus banyak hutang bekas berobat saya" ucap ibu tersebut jujur dengan senyum kecut
"Memang ibu sakit?" tanya Tasya
'Tuhan. Nekat sekali sih dia! Kita datang ke rumah orang sakit. Gimana kalau dia sama si dedek tertular!' batin Reza geram
"Iya, saya kanker rahim." ucapnya singkat
Ibu tersebut bercerita banyak hal pada Tasya dan Reza. Kini Reza nampak merasa iba pada Agus setelah mendengar penuturan Bu Tati.
Bu Tati pun bercerita bahwa setiap hari mereka di datangi oleh rentenir yang Agus pinjami dari tempatnya.
"Untung saja bos Agus baik. Akhir-akhir ini dia sering pulang bawa sayuran untuk kami masak. Malah sebagian Agus jual ke tetangga. Katanya sisa yang gak kejual" ucap ibu tersebut yang membuat Tasya dan Reza saling pandang.
"Dari tadi saya bercerita, saya tidak tahu ibu dan bapak siapa" tanya Ibu Tati
"Kami hanya kenalan Pak Agus yang suka Pak Agus tolong bu" ucap Tasya
"Oh begitu. Iya anak itu baik sekali memang, tapi ya gitu, kadang genit sama perempuan. Giliran di suruh nikah dia malah gak mau. Takut gak bisa ngurus saya katanya" ucap Ibu Tati jujur
"Kalau begitu tolong sampaikan salam saya saja buat Pak Agus ya bu. Maaf kami tidak membawa apa-apa" Tasya menyerahkan plastik berisi kue tersebut pada Bu Tati.
Beliau nampak sangat senang menerimanya. Berulang kali mengucapkan terima kasih.
Mereka pamit, kemudian berjalan keluar rumah.
"A Reza.. " panggil Tasya
__ADS_1