BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Penyesalan Reza


__ADS_3

"Sudah berapa lama tidak haid?" tanya dokter tersebut


"Tiga bulan dok, tepatnya setelah menikah" ucap Tasya yang selalu ingat jadwal menstruasinya


"Anda memakai KB?" tanyanya


"Tidak dok" ucap Tasya jujur


"Mengonsumsi obat-obatan tertentu? Tanya Dokter lagi


"Tidak sama sekali dok" ucap Tasya


"Apa istri saya hamil dok?" Tanya Reza


"Tidak Pak. Kalau hamil, sekarang tidak akan menstruasi" ucap Dokter tersebut


"ini mengarah ke amenorrhea sekunder. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Seperti stres, ketidakseimbangan hormon, gaya hidup, dan lainnya.


"Bahkan, bisa menyebabkan kanker atau kista. Tapi saya tidak melihat adanya tanda-tanda kista disana"


"Gaya hidup ya dok?" tanya Reza kemudian


"Iya bisa saja." jawab dokter kembali


"Kamu kebanyakan jajan cilok, cuanki, yang begitu-begitu tuh Sya!" Reza seolah memarahi istrinya.


Dokter tersenyum


"Bisa saja ibu stres Pak. Ibu mendapatkan tekanan atau misalkan ada masalah yang membuatnya berfikir secara terus menerus. Stres sendiri bisa mengubah fungsi hipotalamus, yang merupakan daerah pengontrol menstruasi." dokter seolah membela Tasya


"Ini terjadi setelah anda menikah bukan?" tanya dokter meyakinkan


Kini Reza terdiam. Reza merasa tersudutkan.


"Nanti saya berikan obat tertentu. Ibu juga bisa mengelola stresnya seperti mengatur pernafasan dengan yoga atau relaksasi, tidur teratur, melakukan hobi, dan yang paling penting menjaga pola makan. Coba saja itu dulu. Apakah siklus haidnya membaik atau tidak. Jika tidak membaik, nanti kita lakukan tes yang lainnya" Dokter memberi penjelasan


"Baik dok" Tasya tidak banyak bertanya


"Dok bisa berikan dia anti nyeri? Saya tidak tega melihat istri saya seperti itu dok" ucap Reza


"Ya tentu saja nanti kita resepkan Pak." ucap dokter sambil menulis resep.

__ADS_1


Dokter tersebut kemudian memberikan resep dan sebuah map kepada perawat. Perawat mengantarkan mereka sampai keluar pintu. Disana perawat tersebut memberikan resep kepada Reza.


Mereka kemudian ke lantai satu. Tasya duduk di deretan paling belakang, sedangkan Reza sibuk mengurus administrasi dan resep.


Setelah selesai, Reza membawa satu plastik kecil yang berisi obat-obatan milik Tasya. Keduanya menuju parkiran.


Selama perjalanan mereka diam tanpa saling bicara. Rasa bersalah Reza semakin membesar. Reza mengingat semua kesalahan yang dia lakukan. Terlebih kesalahannya yang tadi dia lakukan.


'Maaf Sya, untuk kali ini terpaksa Aa tidak akan jujur padamu soal Citra. Aa takut menambah bebanmu' batinnya.


Tasya tertidur. Reza membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan sunda. Dia berharap ini akan membantunya sedikit lebih tenang.


"Sya.." ucap Reza lembut setibanya mereka di parkiran


"A, aku ketiduran ya" Tasya bertanya pelan.


"Dimana kita A?" tanya Tasya sambil mengerjapkan matanya


"Kita di rumah makan. Makan dulu yuk, kamu kan harus minum obat" ajak Reza


"Bi Tinah pasti sudah masak A. Kasihan kan kakau tidak ada yang makan. Kenapa kesini?" tanya Tasya


Keduanya turun. Tasya masih merasa kesakitan. Sebenarnya Tasya ingin segera pulang ke rumah dan merebahkan badannya tapi sudah terlanjur berada di rumah makan tersebut.


Reza memesan makanan. Begitu tiba, Tasya pun dengan enggan memakan makanannya. Setelah selesai, Reza memberikannya obat kepada Tasya dengan telaten. Mau tidak mau Tasya meminum obatnya.


Suasana di rumah makan tersebut sangat asri, tetapi Tasya tidak menikmatinya karena rasa sakitnya yang masih belum reda. Mereka kemudian pergi meninggalkan rumah makan tersebut dan kembali ke rumah.


Tasya merebahkan badannya. Dia mencoba untuk memejamkan matanya. Tidak lama Tasya tertidur kembali karena efek samping obat tersebut.


***


Reza duduk di halaman belakang rumahnya. Sudah lama sekali dia tidak duduk disana. Halaman belakang tempat menjemur pakaian dan disana dibuat taman kecil dengan kolam ikan yang menyegarkan suasana. Reza larut dengan lamunannya, lagi- lagi dia merenungi semua perbuatannya. Dia frustasi.


'Apa Tasya tidak bahagia denganku? Apa Tasya merasa terbebani menikah denganku? Apa karena aku melarangnya bekerja?' Apa aku membuatnya tak nyaman?' batinnya tak henti bicara.


Tasya bangun. Di lihat sekelilingnya Reza tak ada disana. Dia melihat plastik di mejanya. Dibuka plastik tersebut nampak kue cokelat dan cokelat berbentuk hati. Tentu saja Tasya tersenyum senang.


'A Reza so sweet sekali' Hatinya menjadi lebih riang. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rasa sakitnya sudah mereda setelah meminum obat yang Reza berikan tadi.


Setelah selesai mandi, Reza sudah berada di kamar merebahkan badannya sambil bermain game di ponselnya.

__ADS_1


"A Reza, ini kue dari mana?" tanya Tasya


"Aa beli buat kamu Sya, Maaf ya tadi Aa gak ada di gudang" Reza menyesal


'Maaf aku menemui mantanku Sya' batin Reza


"Iya. Aku mengerti. Kerja Aa kan memang gak selalu di tempat. Aku lupa juga. Maaf ya A kalau Aa tadi jadi gak fokus meetingnya" Tasya jujur


'Aku yang minta maaf Sya, sudah berbohong kepadamu. Sudah membuatmu sakit'. batinnya menyalahkan dirinya sendiri


"Tadi kamu kesakitan begitu datang ke gudang Sya?" tanya Reza


"Tadi gak kenapa-kenapa A. Begitu mau pulang, perutku rasanya melilit. Aku sudah mengira itu datang bulan, tapi baru pertama kali sesakit tadi" ucapnya mengingat hal yang menimpanya


"Boleh aku makan A? Kata orang cokelat bagus loh buat ningkatin mood yang lagi datang bulan" ucap Tasya sambil membuka cokelatnya


"Oya? Kalau begitu selama kamu datang bulan, Aa belikan kamu cokelat saja setiap hari" ucap Reza senang


"Eh tapi, kamu harus jaga pola makan Sya. Mulai sekarang kamu tidak boleh lagi makan mie instan, snack, cilok, dan kawan-kawannya. Kamu makan masakan bi Tinah. Atau nanti Aa pesankan di G-Food saja kalau kamu bosan" larang Reza


"A kenapa Aa banyak melarang Tasya?" Tasya protes


"Tadi ingat kata dokter apa?" tanya Tasya kemudian


Reza terdiam.


"Sya, apa kamu tertekan menikah dengan Aa? Atau kamu masih tidak nyaman dengan Aa? Aa..Aa minta maaf Sya" Reza benar-benar menyesal


Tasya yang sedang makan cokelat pun berhenti mengunyah. Dia mengambil minum untuk membersihkan sisa-sisa cokelat di mulutnya.


"Kamu mau apa Sya? Aa akan lakukan. Kamu mau kerja, boleh. Kamu mau tinggal bersama ibu, boleh. Asal kamu bahagia." lanjut Reza


"A Reza takut ya?" Tasya malah meledeknya


"Siapa yang gak takut Sya melihatmu seperti begitu. Kamu kayak zombie tahu Sya" Goda Reza


"A Reza mah jahat" Tasya pura-pura marah


"Tapi serius Sya, Aa gak mau kamu sampai begitu lagi. Apalagi penyebabnya kamu stres. Aa merasa sangat berdosa" ucapnya serius


"Kalau aku tidak bahagia dengan Aa, apa Aa mau melepaskanku?"

__ADS_1


__ADS_2