BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Malam Pertama Terasa Panjang


__ADS_3

Dengan malu-malu Tasya mendekati kembali kasurnya.


Reza sengaja memiringkan badannya menghadap ke arah Tasya.


'Cantik' pikir Reza


"A jangan lihat aku terus dong" ucap Tasya malu


"Kenapa memangnya? Sudah halal ini" ucap Reza


Tasya duduk di pinggir kasur.


"Sudah sini. Aku gak ngapa-ngapain kok" ucap Reza menarik tangan Tasya untuk merebahkan badannya


"Sya.. " ucap Reza lembut


"Tidak disangka ya kita jadi suami istri juga" lanjutnya


Tasya terdiam. Dia membenarkan apa kata Reza.


"Dari mobil penyok Sya" Reza tersenyum. Tasya pun demikian.


"Pertama kalinya aku jatuh dari motor itu A" kenang Tasya tanpa sadar mereka saling berhadapan.


"Itu juga pertama kali mobil ayah penyok Sya" Reza cekikikan.


"Sudah gitu orangnya sampai sekarang nggak ganti rugi pula" Reza pura-pura ketus.


"Hehe.. Maaf. Mana dong kuitansinya biar nanti ayah yang bayar" jawab Tasya


"Ayah?" tanya Reza tegas

__ADS_1


"Yasudah, a minta uang dong buat bayar kerugian mobil om bertopi yang galak" ledek Tasya


"Dasar ni bocah" ucap Reza sambil menyentil kening Tasya kemudian tangannya turun memeluk pinggang Tasya


Tasya tersentak. Diam tak bicara. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang.


Reza menyadari perubahan Tasya kemudian menurunkan lengannya kembali.


"Sya, makasih ya" ucap Reza tulus


"buat?" Tanya Tasya heran


"Buat menjaga tubuh kamu semuanya" ucap Reza. Reza tahu Tasya tidak pernah di sentuh laki-laki atau pacaran.


"kenapa makasih segala A. Aku menjaga diri aku sendiri" ucap Tasya heran


"Iya biar suamimu ini saja yang tahu tubuhmu bagaimana" Ucap Reza


*Hening


Reza mulai memejamkan matanya. Dia takut hasratnya bangun.


"A Reza" tanya Tasya


"Hmm" jawab Reza masih memejamkan matanya


"Om Danu dimana? Ke hotel?" tanya Tasya


"Siapa?" Tanya Reza sambil membuka matanya


"Papa a" ralat Tasya

__ADS_1


"Iya. Dia istirahat di hotel. Sayang Sya, sudah bayar mahal kalau tidak di tempati" ucap Reza sambil memejamkan matanya kembali.


"A Reza" panggil Tasya lagi


"Hmm.. " melakukan hal yang sama kembali


"Aku gak tega sama Papa." ucapnya


"Kenapa memangnya?" Reza heran


"Aku kan masih skripsi. Ada kemungkinan aku disini dulu. Terus papa disana sendirian A. Aku gak tega. Pasti Papa merasa kesepian. Apa kita LDR dulu?" tanya Tasya


Reza terdiam. Benar juga apa yang dikatakan istrinya tersebut. Papanya sendirian. Ada rasa bersalah pada papanya.


"Kapan kamu wisuda Sya?" tanya Reza


"Dua bulan lagi sih A" jawab Tasya


"Nanti kita pikirkan lagi Sya. Ayo tidur. Kalau gak tidur-tidur aku takut hasratku bangun. Aku juga pria normal Sya" ucap Reza jujur


Tasya diam. Dia menggeser tubuhnya sedikit menjauhi Reza. Kemudian dia membalikannya badannya memunggui Reza.


Reza membuka matanya. Dia tersenyum melihat kepolosan Tasya.


'Sabar Za sabar.. Ambil hatinya dulu baru itunya' Reza mengemangati dirinya sendiri sambil tersenyum tipis.


Reza melihat tubuh istrinya. Ingin sekali dia memeluk wanita yang memunggunginya itu. Kemudian Reza membalikan badannya. Dia pun memunggungi istrinya untuk meredakan hasratnya yang merangkak naik.


Di luar kamar masih terdengar suara orang mengobrol. Sebenarnya baik Reza ataupun Tasya masih belum ingin tidur.


Tasya kemudian membalikan badannya. Dia melihat sekeliling ruangannya yang di hias. Dia mencubit dirinya sendiri untuk meyakinkan kalau hal ini bukan mimpi. Kemudian dia berbalik. Dilihatnya lelaki yang tidur di sampingnya. Ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya.

__ADS_1


'Andai saja kita saling mencintai A, mungkin malam pertamaku tak akan begini.' batin Tasya


__ADS_2