
Happy weekend temans, selamat membaca BSN. Jangan lupa vote yaaa.. Tinggalkan jejak juga dengan like dan komentarnya. Terima kasih ^^
--------------
Weekend pun tiba. Kini Reza dan Tasya menikmati hari liburnya dengan bermalas-malasan didalam kamar. Sementara Vano, bermain bersama Pak Danu dan Pak Budi di halaman belakang.
"Pap, Papi bersihin kek ini tuh." Tasya memegang bulu-bulu disekitar bibir dan dagu Reza
"Papi makin terlihat macho kalau begini sayang" ucapnya
"Sakit tahu ih kalau Papi cium Mami." gerutunya
"Geli kali sayang" ucap Reza
"Sakit Pap ih, nih pegang sama Papi sendiri" ucap Tasya
Reza mengikuti arahan istrinya.
"Iya nanti Papi bersihin, Sayang" ucapnya
"ini kita gini saja nih? Gak mau keluar?" tanya Reza kemudian.
"Sana main sama Vano" titah Tasya
"Main sama Mami saja dulu, kita bikin Dedek lagi." ajaknya menyeringai.
"Sembarangan kalau ngomong! Yang ini juga belum launching!" Reza tertawa seketika
"Papi mah memang gak sayang Mami" Tasya bersungut
"Kok gak sayang. Papi kan sayang banget sama Mami. Makanya Papi mau Mami ngelahirin anak Papi yang banyak" ucapnya
"Iya, Mami cuma jadi mesin anak doang" ketus Tasya
"Kok gitu sih bilangnya?" tanya Reza
"Habisnya Papi gak mikirin perasaan Mami gimana. Gak kasihan ke Mami, hamil tuh perjuangannya seperti apa." ucapnya lagi
"Ih, apa sih Mam. Papi cuma becanda doang, Sayang." ucap Reza seraya mendekat.
"Sana! Sana! Sebel sama Papi" Tasya menjauhkan tubuhnya dari Reza.
'Ih kan kumat lagi sensitifnya' batin Reza
Reza mendekati Tasya lagi.
"Papi becanda sayang, jangan marah-marah ibu hamilku" ucapnya seraya memeluk Tasya
"Habis Papi bicaranya ngeselin." gerutu Tasya
"Duh ini dimonyong-monyongin gini minta dimakan." ucapnya seraya menangkap bibir Tasya
"Iih Papi". Reza hanya tertawa
Suasana hening seketika.
"Sayang, kita ke taman kota yuk?" ajak Tasya
"Ngapain sih kesana ah" Reza menolak
"Kenapa sih Papi gak mau terus di ajak kesana" ucap Tasya
"Ya memang mau ngapain sih kesana Mam?" tanya Reza
"Mainlah. Ngasuh Vano."
"Enggak ah. Papi mendingan disini daripada kesana."
Tasya mendengus kesal. Dia bangun hendak ke kamar mandi. Baru saja berdiri tiba-tiba perutnya ngilu.
"Aw.. Ssshhh... "Pekik Tasya tiba-tiba
"Kenapa Mam?" Reza meloncat mendekati istrinya yang sedikit membungkuk menahan sakit.
"Gak tahu, ini tiba-tiba sakit banget." Ucap Tasya menunjuk bawah perutnya.
"Masih sakit?" tanyanya khawatir.
"Enggak. Tadi sekali doang. Kayak waktu itu. Tapi masih berasa sih dikit" ucap Tasya
Dia kembali duduk di bibir kasur.
"Sudah rebahan lagi sajalah. Kalau mau apa-apa bilang sama Papi" ucap Reza memegang tangan istrinya.
Berasa mendapat angin segar, Tasya mempunyai ide untuk mengerjai suaminya.
'Kerjain saja sekalian. Suruh siapa gak mau ke taman kota' batinnya
"Mami memang mau kemana sih?" tanya Reza
"Tadinya mau ke toilet Pap. Tapi nanti saja deh. Ini masih ngilu. Tadi sih kaget, kayak ada tendangan sekaligus gitu loh. Cuma sekali." ucap Tasya panjang lebar
"Deek, jangan rusuh di dalem yaa.. Kasihan Mami tuh" Reza mengusap perut istrinya lembut.
"Kasihan.. Kasihan.. Tadi saja sudah bilang mau bikin dedek baru" gerutu Tasya
"Ih becanda doang Sayang" Reza tersenyum
"Mami istirahat saja Mam. Kalau mau apa-apa bilang ke Papi ya" ucapnya.
Tak berapa lama, suara tangisan Vano terdengar di depan pintu.
"Kenapa Bang?" tanya Reza seraya membuka pintunya.
"Mau main tanah Pak." ucap Mbak Diah.
"Sini sama Papi, kasihan Maminya sakit tuh perutnya" ucap Reza
"Sudah mandi belum dia Mbak?" tanya Reza
"Belum Pak."
"Ih pantesan. Yuk mandi." ajak Reza masuk ke dalam kamar.
"Papi mau mandiin dia?" tanya Tasya
"Iya. Ni anak maunya main terus nih Mam. Pagi-pagi udah kelayapan" ucap Reza seraya membuka baju anaknya
"Mendinglah Vano daripada Papi pagi-pagi sudah bikin kesel orang" Reza hanya tertawa
"Mam.. Mam.." Vano melihat Tasya
"Sama Papi ya Bang mandinya" ucap Tasya
"Ayo Bang. Kita mandi." Reza menuntun anaknya.
Tasya hanya tersenyum melihat kedua jagoannya masuk ke dalam kamar mandi.
"Papi jangan lama-lama" teriak Tasya
Tasya akhirnya bangun dan menyiapkan baju untuk Vano.
"Pap, lama banget sih?" tanya Tasya
"Iya sebentar sayang" teriaknya
__ADS_1
Begitu keluar kamar mandi, keduanya tengah memakai handuk.
"Ya ampun.. " Tasya melihat anak dan suaminya bergantian.
"Habis Papi basah nih sama si Abang, ya sudah sekalian mandi saja." ucap Reza
"Tos Bang, kita kan kembar" Reza memberikan tanganya yang disambut oleh Vano.
"Cepetan ah. Nanti masuk angin." ucap Tasya
"Sini Mami pakein baju Bang"
Vano menolak.
"Dia tahu Maminya lagi kesakitan sama Dedek" ucap Reza
'Padahal sudah gak sakit lagi' batin Tasya
"Ya sudah. Papi cepetan bajuin dulu anaknya" ucap Tasya
Reza memasangkan baju anaknya sambil becanda ria.
"Pap, Mami mau es krim dong" pinta Tasya
"Siap laksanakan Mami." ucapnya
"Tunggu ya, Papi dibaju dulu." ucapnya
Reza bergegas memakai bajunya.
"Yuk Bang ambil es krim buat Mami" ucapnya sambil menuntun Vano
"So sweet banget sih kalian" gumam Tasya tersenyum.
Setelah beberapa lama, Reza masuk ke dalam kamar.
"Habis di kulkas sayang, Papi beli dulu ya? Ucapnya seraya mengambil kunci motor.
"Vano sama Mami dulu ya" ucapnya. Tapi Vano merengek tak mau ditinggal Reza.
"Ya sudah, ayo ikut" ucap Reza kini mengambil kunci mobil.
"Enggak ah. Jangan ikut, takut nanti kenapa-napa lagi" ucap Tasya
"Kamu sama Mbak Diah dulu ya." Reza menggendong putranya membawa keluar kamar.
Setelah beberapa lama, Reza masuk membawa satu kantong besar jajanan.
"Ya ampun Papi.."
"Cemilan juga habis sayang. Sekalian aja beli cemilan Vano sama Mami." ucapnya
"Mau es krim yang mana?" Reza mengeluarkan es krim dari kantong tersebut.
Tasya memilih satu. Dia turun dari kasur dan duduk di sofa. Reza segera menyimpan sisa es krimnya ke lemari es.
***
"Mam, makan yuk? Papi lapar" ajak Reza
"Nanti ah"
"Papi bawa kesini saja ya?" ucap Reza. Tanpa mendapat peesetujuan Reza segera keluar kamar.
Reza menyuapi Tasya dengan telaten. Dia juga makan dipiring yang sama dengan istrinya.
"Mami mau tambah?" tanya Reza
"Sayurnya saja ya Pap" pinta Tasya.
Tasya tersenyum sendiri, dia merasa senang Reza mau melakukan apa saja yang dia inginkan.
Reza segera mengambilkan air putih untuk istrinya.
"Sini buka mulutnya lagi" ucap Reza.
Tasya menurut. Keduanya menghabiskan makan dengan porsi yang besar.
"Papi taruh dulu ke dapur piring kotornya." pinta Tasya.
"Siap laksanakan" tak banyak bicara Reza segera keluar kamar.
"Aku mau delima ih Pap. Gak enak banget mulut habis makan" ucapnya begitu Reza tiba di ambang pintu.
Reza segera keluar kembali. Dan masuk dengan membawa delima ditangannya
"Ini dibelahnya pakai apa?" tanya Tasya
"Oh iya." Reza kembali ke dapur membawa pisau dan plastik untuk sampah.
"Yang Ini gak terlalu merah kayak kemarin ya Mam?" ucap Reza
"Ini agak seger Pap, gak begitu manis" ucap Tasya sambil memakan delimanya.
"Jadi makan delima tuh sama bijinya ditelan?" tanya Reza
"Kalau aku mah dimakan. Eh orang-orang juga sama. Papi sendiri yang aneh, masa cuma sarinya doang yang diambil" Tasya tertawa
"Papi kan gak tahu Mam. Ngapain coba Papi makan delima." ucapnya
"Iya lah biasanya gadoin brokoli." Tasya tertawa.
"Eh, Rasya jadi mau buat kebun wisata?" tanya Reza sesaat teringat obrolan Taysa waktu itu.
"Gak tahu jadi apa enggak. Papi lah ngobrol lagi sama Aa" pinta Tasya
"Dia gak keteteran apa ngurus kebun Ayah sama kebun wisata?" tanya Reza
"Papi siap lah jadi investor" ucapnya
"Siapa yang mau kelola Mam?"
"Ya mana Mami tahu, sayang" Dia menghabiskan delima terakhirnya. Reza membereskan sampah delimanya.
"Papi, tisu basah" Reza beranjak mengambil tisu basah diatas nakas.
"Eh ini tolong di charger, baterainya habis Pap" Reza mengambil ponsel dari tangan Tasya
"Papii..sampahnya ini. Nanti banyak semut ah"
"Oh iya lupa" Reza membawa sampah delima keluar kamar.
"Vano lagi apa Pap?" tanya Tasya
"Gak tahu, biarkan sajalah."
"Mam.."
"Apa gak sebaiknya Vano punya kamar sendiri?" tanya Reza
"Memang kenapa?"
"Ya, dia kan makin besar sayang. Masa mau sekamar terus sama kita. Belum nanti adiknya. Makanya siapkan saja dulu kamar Vano, dipakai atau enggak ya minimal ada kamar buat dia"
"Kamar mana yang dipake?" tanya Tasya
__ADS_1
"Sebelah kita saja sayang." ucapnya
"Terus mau di apain? Bongkar lagi kayak kamar ini?" tanya Tasya
"Enggak. Cuma dibersihkan terus ya di dekorasi tema anak-anak gitu" ucapnya
"Heran deh, biasanya yang lebih mikirin beginian tuh ibu-ibu. Ini mah malah bapaknya." ucap Tasya
Reza hanya menyeringai.
"Yang penting saling melengkapi kan kita." ucapnya
"Pap, pijetin dong." Taysa melakukan aksinya lagi.
"Jadi gimana?" tanya Reza sambil memijit kaki istrinya.
"Apanya?" tanya Tasya
"Kamar Vano, Mam. Kan lagi bahas kamar dia" ucap Reza
"Terus aku harus ngungsi lagi kayak dulu. Gitu?"
"Enggak Mam. Kamar anak-anak cuma di dekor saja."
"Di rapihkan sesuai tema mereka sukanya apa."
"Terserah Papi saja."
"Oke" Reza bersemangat.
"Mami yang pilih mau gimana Mam" ucapnya
"Iya nanti Mami cari referensinya" ucap Tasya
"Mam.."
"Hmm.. "
"Kartu Papinya dong Mam. Kan mau dekor kamar Vano." Ucap Reza takut-takut
"Oh, jadi dekor kamar tuh alesan biar kartunya balik lagi?" tanya Tasya
"Enggak juga Mam." ucap Reza
"Mami kurang baik gimana coba? itu hukuman cuma berlaku sehari doang." ucap Tasya
"Iya sih. Mami baik banget. Tapi kan kartu Papi masih Mami tahan" ucapnya.
"Terus nanti bayar-bayar gimana?" sambung Reza
"Memang Mami gak bisa apa bayarnya?" Tasya bertanya balik
"Mami sudah baik ya, hukuman Papi yang lain Mami hapus."
"Tapi kan Mam.."
"Mami tahu, Papi mau beli lego lagi kan? Alesannya dekor." Tasya bersungut
'Kenapa dia bisa tahu gitu sih?' batin Reza
"Mam.." Reza memegang tangannya.
"Mami gak kasihan apa sama Papi?" Reza memasang wajah memelas.
Tasya terbelalak. "Gak salah apa bilang kasihan?" Tasya heran
"Itu lemari jelek banget tahu Mam. Masa diisi tiga biji doang legonya. Nanti kalau ada tamu gimana? Kan malu dilihat orang." ucapnya
Tasya menghela nafasnya.
"Papi, Papi tuh jiwa borosnya meronta-ronta tahu gak?" Tasya diam sejenak.
"Gini deh, sebulan Mami jatah Papi buat kebutuhan Papi termasuk bensin, pulsa dan lain-lain."
"Lego boleh?" Reza berbinar
"Terserah."
"Iyes." Reza mengepalkan tangannya
"Berapa Mam jatah Papi sebulan?" tanya Reza
"Sejuta."
"Astaghfirullah.." Reza melotot
"Kenapa?" Tasya tersenyum
"Harga lego juga.. "
" Berapa harga lego Pap?" Tasya merasa dapat jalan
"Maksud Papi, harga Susu sama popok Vano saja sudah berapa perbulannya?" ralatnya
"Nah kan tahu, susu popok Vano sudah berapa? Belum listrik dan sehari-hari? Belum bayar supir dan Mbak Diah. Ditambah lagi nanti lahiran, kebutuhan si Dedek. Beli baju lagi si Dedek. Nambah lagi pengasuh buat Dedek. Iya kan?" ucap Tasya panjang lebar
"Mami gak kira-kira, gaji Papi juga berapa, masa dikasihnya sejuta" Reza mendengus kesal
"Terus maunya berapa?" tanya Tasya
Mereka berdebat panjang. Beberapa kali Tasya mengehela nafasnya karena argumen yang Reza berikan. Hingga kesepakatan terjadi yang membuat Reza tersenyum sementara Tasya memasang wajah masam.
"Pokoknya kartu tetep Mami yang pegang." ketus Tasya
"Iya sayang. Terima kasih Mamiku. Baik deh istrinya Papi" Reza mengecup pipi istrinya.
'Bukan Reza namamya kalau kalau kalah dari istri' batinnya bangga.
"Mami juga mau boros kaya Papi ah, beli berlian" ucap Tasya tak mau kalah
"Sudah punya kan? Bisa membesar lagi punya Mami mah." ucap Reza
"Dasar!"
"Gak apa-apa sih Mam, Papi dukung kalau Mami mau beli emas-emasan buat investasi" ucapnya menyeringai
'Niat hati mau bikin dia panas, malah didukung. Dasar nyebelin si Papi!' Gerutu Tasya dalam hati.
"Tapi percuma, Mami gak pake juga" ucap Tasya
"Mas murni sayang. Beli saja. Buat investasi. Sekarang harga emas kan melejit banget" ucap Reza.
Keduanya hening kembali, sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Mam, sekarang lagi musim lagi tuh sepeda juga" ucap Reza seraya melihat ponsel.
"Terus kenapa? Mau beli?" Ucap Taysa sengaja
"Hehe.. Mami tahu saja."
"Jangan Pap" ucap Tasya
"Mami awalnya mau beliin Papi sepeda juga. Tapi Mami pikir ulang." ucapnya lagi yang membuat Reza mengerutkan keningnya.
"Kenapa sih pakai pikir ulang lagi? Papi pasti seneng banget." ucao Reza
__ADS_1
"Nanti kalau beralih musim kuda gimana?"
Reza tertawa seketika.