BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Syukuran Empat Bulanan


__ADS_3

"A Reza!" Tasya menyubit lengan suaminya.


Dokter dan perawat tertawa melihatnya


"Bapak gak tahan sepertinya melihat ibunya yang cantik" ucap dokter tersebut


"Maaf Dok, suami saya suka becanda" Tasya tersenyum kikuk


"Tidak boleh setiap hari ya Pak. Kasihan baby kalau harus kena guncangan orang tuanya setiap hari" ucap dokter seraya tertawa


"Baik dok" Reza menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.


"Kami permisi kalau begitu Dok. Assalamualaikum" pamit keduanya


Tasya melangkah lebih cepat. Dia ingin sekali menyemprot suaminya.


"A Reza! Bisa gak sih jangan tanya hal itu terus? Kenapa sih A!" Tasya ketus


"Habis dokternya tanya Aa. Sementara kandunganmu baik-baik saja. Juniorku yang nggak baik sayang, dia terkena malarindu" ucapnya santai


"Gak akan aku kasih! Libur sebulan!" ketus Tasya


"Dosa loh sayang" ancamnya santai


"Lagian, semalam juga kamu bilang gak mau tapi kamu sangat menikmatinya" godanya lagi.


Tasya tak bisa mengelak kali ini, dia tersipu malu.


Reza merangkulnya sambil berjalan.


"Becanda sayang" ucap Reza


***


"A, kita mau syukuran empat bulanan?" tanya Tasya


"Biasanya bagaimana? Aa gak paham Sya" ucapnya datar sambil fokus menyetir


"Nanti aku coba telepon ibu. Biasanya pengajian empat bulanan gitu A" lanjut Tasya


"Terus mau dimana? Di rumah?" tanya Reza


"Di kantor saja yuk? Sekalian syukuran kecil-kecilan atas keberhasilan kita. Mereka juga terlibat kan?" terang Tasya


"Ide bagus sayang. Tadinya Aa mau kasih mereka bonus kalau sudah masuk pembayaran dari hypermarket" ucap Reza


"Begitu juga boleh. Biar berkah usaha kita" ucap Tasya


"Kamu ikhlas sayang?" tanya Reza


"Ya ikhlaslah. Mereka banyak jasanya A. Apalagi kemarin saat kita terpuruk. Mereka kompak sekali membantu kita" Tasya merasa terharu


"Maaf ya, kalau uang kita belum stabil beberapa bulan ini" ucap Reza


"Aku gak masalah sayang. Asalkan anak kita cukup nutrisinya. Aku gak butuh apa-apa lagi" jujurnya


"Memang kamu gak ingin berlian sayang? Kebanyakan istri-istri bos mintanya berlian"


Tasya tertawa pelan

__ADS_1


"Kenapa Sya?"


"Aku belum pernah melihat secara langsung wujud berlian kaya gimana A. Kecuali lihat di televisi" ucapnya polos


"Serius kamu Sya?" Reza tersenyum lebar


"Istrimu bukan kaum sosialita yang kalau jalan harus maju mundur cantik" terang Tasya


Reza tertawa lepas.


"Ada-ada saja kamu" Reza memegang kepala istrinya


'Istri sholehahku' batin Reza


"Kalau Aa belikan mau gak?" tanya Reza


"Enggak."


"Kenapa?"


"Mau pamer ke siapa? Ke Lala? Lala pasti sama kayak aku. Mana ngerti dia. (Tasya tertawa). Masa mau pamer ke orang gudang? Atau ke supir? Sudahlah A. Jangan membeli hal yang tidak perlu" jelas Tasya


"Alhamdulillah. Istri Aa sholehah. Beruntung Aa menikah denganmu Sya" ucapnya


"Pastinya. Tasya gitu loh" dia mengibaskan kerudungnya


"Idih jelek Neng" Reza tertawa


***


Tasya duduk dengan menyadarkan kepalanya di headboard. Dia menghubungi ibu untuk bertanya perihal acara empat bulanan. Mereka berbicara banyak hal di telepon. Sesekali Reza menimpalinya.


"Nanti juga ibu kesini katanya A" ucap Tasya saat Reza mendekat ke arahnya bersiap untuk tidur


"Siapa tahu dapat diskon. Hehe"


"Jiwamu sudah kaya ibu-ibu Sya" Reza tertawa


"Selama batas wajar, boleh dong."


"Asal jangan sambil pergi saja nawarnya" tukas Reza


"haha.. Memangnya di pasar A"


Reza merebahkan badannya di samping sang istri. Begitupun Tasya. Tak lama keduanya tertidur pulas.


***


Seminggu berlalu, rencana acara pengajian empat bulanan kehamilan Tasya akan segera digelar.


Orang tua Tasya sudah datang sejak kemarin meskipun tanpa Rasya karena dia masih menganyam study di perantauan.


Mereka nampak santai berbincang. Tak ada kesibukan apapun dirumahnya karena Reza telah sepenuhnya mempercayakan kepada even organizer pilihannya.


Pagi-pagi sekali, separuh bagian gudang sudah disulap dengan dekorasi minimalis. Acara kecil tersebut hanya dihadiri keluarga dan karyawan mereka.


Tasya merias dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dia hanya mempraktekan apa yang dipelajarinya saat beauty class dulu.


"Cantiknya istriku" pujian Reza membuatnya tersenyum senang.

__ADS_1


Mereka sekeluarga memakai baju nuansa putih yang sengaja dipesan Reza dari butik ternama di daerahnya.


Mereka berangkat menuju kantor. Pihak even organizer beserta krunya sudah lebih dulu berada disana dengan dibantu Pak Bambang.


"Mari kita mulai saja acaranya Pak, biar tidak terlalu siang" ujar Pak Danu.


Seluruh karyawan CV Petani Maju berkumpul bersama memakai seragam seperti biasa.


Acara berjalan dengan khidmat dan lancar. Reza meresapi setiap kalimat yang terlontar dari ustadz yang mengisi acara mereka. Tak lupa, Reza juga memberikan ucapan terima kasih kepada seluruh karyawan mereka. Dan memberikan pengumuman penambahan bonus untuk seluruh karyawannya. Hal demikian tentu saja membuat suasana menjadi ramai. Rona bahagia terpancar dari wajah mereka.


Setelah acara selesai, ditutup dengan makan bersama secara prasmanan yang telah Tasya pesan dari pelanggannya.


"Selamat ya Nak. Ayah bangga sama kamu. Tolong jaga anak cucu Ayah" ucapnya seraya memeluk Reza dan menepuk punggung menantunya


"Siap Yah. Bantu Reza juga ya Yah , supaya bisa seperti Ayah dan Papa" ucapnya hangat


Kini Reza menggeser posisinya, dia berhadapan dengan ibu mertua kesayangannya.


"Mantuku, kamu hebat telah keluar dari masa kritis. Ibu setiap hari tak henti berdoa untuk kalian" ucapnya lirih


"Terima kasih Bu. Tolong jangan putus berdoa untuk kami Bu" balasnya


"Tentu saja. Kalian anak-anak Ibu" ibu berkaca-kaca


Tibalah dia dihadapan sang Papa. Lelaki tangguh yang membesarkannya seorang diri.


"Anak nakal Papa sekarang menunjukan tanduknya. Papa sangat bangga sama kamu. Papa sekarang tenang, bisa menyerahkan segalanya sama kamu" Pak Danu memeluk anaknya


"Papa bicara apa. Semua milik Papa. Reza hanya membantu menjaganya saja Pa" ucap Reza


Kini giliran Tasya yang melakukan hal sama. Dia menangis saat meminta doa dari orang tua dan mertuanya.


Ibu yang tadinya tegar, ikut menangis bersamanya. Suasana seketika haru untuk mereka.


'Bahagia sekali. Keluarga yang sempurna.' batin Lala.


Tiba-tiba saja dia teringat perkataan Keenan.


'Jangan hanya melihat kebahagiaan orang lain. Kamu tidak tahu perjuangan dan air mata yang keluar yang membuatnya seperti sekarang' ucap Keenan kepadanya


'Ih kenapa malah ingat si menyebalkan itu sih!' batin Lala kesal.


***


"Capek sekali" ucapnya sambil memijat kakinya sendiri setelah seharian tadi sibuk dengan acaranya


Reza keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.


"Sini Aa pijat" Tawarnya


Dia duduk menghadap Tasya sambil memijit kakinya.


"Tidur sayang" perintah Reza


Tasya mengubah posisinya.


"Enak sekali. Sekarang punya Kang pijat" ucapnya iseng


"Iya pijat plus-plus" ucap Reza

__ADS_1


"Sudah A. Sini tidur. Aku mau peluk" pinta Tasya sambil menepuk kasur disebelahnya.


'Kumat lagi manjanya' batin Reza


__ADS_2