
"Sini sayang. Papi menunggu kembalian." ucap Reza dengan menyunggingkan senyumnya. Dia paham betul Tasya sedang terbakar cemburu. Sementara si kasir melirik kearah mereka seraya mengambil uang kembalian.
Begitu keluar Reza mendapat cubitan di pinggangnya dari sang istri.
"Genit Aa" seketika Reza mengaduh
"Aa gak genit sayang" Reza tersenyum. Dia senang menggoda istrinya.
"Lihat saja, nanti kalau ada yang naksir aku, tahu rasa" ucap Tasya kesal
"Naksir ibu hamil?" Reza menahan tawanya
'Mana ada yang naksir sama ibu hamil' batin Reza
***
Reza sudah di atas kasur sedang memainkan ponselnya seperti biasa, sementara Tasya sedang memakai krim pada kulit perutnya yang sedikit membesar.
"Hei, sedang bermain ya" ucapnya saat Tasya mengelus perutnya dengan krim. Dia tersenyum sendiri.
"Kenapa sayang? Dedek nendang ya?" tanya Reza yang lebih tertarik dengan perut istrinya.
"Sini Mam. Papi ingin pegang Dedek" ucapnya kemudian
"Sebentar" kini Tasya mengangkat sebelah kakinya, menyibakan daster tidurnya ke atas seraya memakai krim. Reza menelan salivanya saat melihat kaki mulus sang istri.
Tasya mendekat. Dia mengatur dua bantal untuk kepalanya kemudian merebahkan badannya.
"Sayang, dengar Papi gak?" Reza mengusap perut Tasya kemudian mengecupnya.
"Kapan kita USG lagi Sayang? Kita belum tahu jenis kelamin dia" ucap Reza masih mengelus perut istrinya
Tasya membuka ponselnya.
"Lusa A" ucapnya
"Besok dokter Felly ada gak? Lusa takutnya aa sibuk sayang" ucap Reza mengingatkan
"Minggu ya?" Tasya melihat jadwal dokter tersebut melalui ponselnya.
"Pagi tapi cuma sebentar. Jam delapan sampai jam sepuluh A" ucapnya
"Besok saja ya. Papi gak sabar melihat anak Papi yang mulai aktif" ucapnya tak berhenti mengelus perut Tasya
"Eh dia merespons" Reza senang
"Tendang yang kuat sayang. Ayo tendang Papi" Reza menyemangati
"Iya tendang saja Papi nanti kalau kamu sudah lahir ya Nak" pinta Tasya
"Durhaka itu Mam" Reza bersungut
"Jangan bilang durhaka, dari kandungan saja sudah di suruh nendang" ucap Tasya
"Ya iya, tapi kan beda lagi sayang" Reza tak mau kalah
"Apa Dek? Mau tendang Papi biar tidur diluar? Sekarang? " Tasya bicara sendiri
"Enak saja. Dedek mah minta di tengok Papinya. Iya kan Dek" balas Reza
Mereka saling sindir dengan mengarah ke perut Tasya.
Reza masih asyik mengelus perut sang istri, tiba-tiba elusannya pindah ke kaki sang istri.
"A Reza" Tasya memperingatinya
"Dedek ingin di tengok sayang" pinta Reza.
"Capek A. Tolong pijat aku saja ya" pintanya
__ADS_1
Reza tak membantah. Dia dengan setia memijat kaki sang istri. Tak butuh waktu lama, Tasya tertidur.
Reza membetulkan tidur sang istri yang nampak tak nyaman. Seketika Tasya bangun.
"Tidur lagi sayang, Aa membetulkan tidurmu takutnya leher kamu sakit" ucapnya
"Aku mau ke kamar mandi A" ucapnya seraya turun dari kasur.
Reza merebahkan tubuhnya menunggu sang istri.
"Sudah sayang?" tanya Reza saat Tasya keluar dari kamar mandi. Dia menatap Tasya yang sedang meneguk air putih.
"Sini" pinta Reza seraya menepuk bahunya.
Reza mengecup rambut istrinya. Tasya kemudian mendongak hendak mengecup pipi suaminya. Tapi Reza mengarahkan bibirnya. Satu kecupan kilat Tasya. Reza yang tak puas meraih dagu Tasya. Dia mengecup lembut Tasya hingga mereka merasakan gairah disana.
"Papi mau tengok dedek ya Mam" pinta Reza seraya berbisik di telinga Tasya
Tanpa persetujuan dari Tasya, Reza melancarkan aksinya tanpa penolakan.
***
"Sayang.." Tasya membangunkan Reza
"Sayang.. "
" Hmm.."
"Lapar" Rengek Tasya
"Mau apa?" ucapnya dengan suara parau
"Pecel Lele pakai nasi uduk" pintanya
Seketika Reza meliriknya.
"Oh" Tasya langsung kecewa.
Reza mengehembuskan nafasnya dengan kasar, dia segera bangkit.
"Ayo kita cari" ajaknya
"Gak usah" ucap Tasya yang kesal
"Ayo sayang. Mami sama dedek lapar kan?" bujuk Reza
"Yuk" ajaknya seraya meraih tangan sang istri agar bangkit
"Pakai dulu bajunya, masa telanjang begitu" Tasya protes
Reza terkekeh kemudian menuju kamar mandi.
Reza memakaikan jaketnya ke tubuh sang istri sebelum mereka berangkat. Tasya nampak sangat senang.
"Anak Papj maunya jalangjalan jam segini terus" ucap Reza mengingat beberapa kali mereka keluar tengah malam.
"Aku juga gak tahu kenapa lapar terus jam segini" ucap Tasya
Reza mengedarkan pandangannya mencari tukang pecel lele.
"Langganan kita sudah tutup" ucapnya seraya melewati tempat pecel lele.
"Dekat kantor kita ada gak?" tanya Tasya
"Iya ini kita cari saja sayang" balas Reza
Setelah beberapa lama, Reza melihat tenda pecel lele yang masih buka. Dia segera menepikan mobilnya.
"Di bungkus ya? Tanya Reza
__ADS_1
"Makan disini. Di bungkus mana enak" rengek Tasya
"Ya sudah. Ayo turun" ajaknya
Mereka memesan pecel lele dan nasi uduk. Sambil menunggu, sesekali Reza menguap.
"Maaf" ucap Tasya merasa kasihan pada suaminya
"Gak apa-apa sayang." ucap Reza seraya tersenyum.
Tak lama, datang dua anak punk jalanan menghampiri mereka. Bau alkohol dan bau badannya bercampur saat mendekat ke arah Reza.
"Bagi duit Om" ucapnya tanpa basa basi
Pedagang pecel dan rekannya saling pandang tak berani menghadang.
Tasya nampak ketakutan. Dia meremas lengan Reza. Reza mengeluarkan dompetnya kemudian memberikan dua lembar seratus ribuan
"Thanks om" mereka berlalu
"Sering dia malak begitu Mas. Tapi dia gak berani macam-macam. Cuma minta uang saja Itupun kalau mereka sedang mabuk" terang pedagang pecel lele.
"Kamu gak apa-apa sayang?" tanya Reza khawatir. Dia merasakan lengannya di remas semakin kencang.
"Perutku sakit A"
"Minum dulu Bu" ucap salah satu pedagang tersebut sambil memberikan air kepada Tasya.
"Minum sayang. Kamu pasti syok" ucap Reza
Reza membantu Tasya untuk minum.
"Tarik nafas panjang sayang. Sudah pergi mereka. Gak apa-apa ada Aa." ucap Reza menenangkan
"Aku mau pulang A" pinta Tasya takut
"Mas bungkus saja" ucap Reza seketika.
"Pulang saja. Aku takut" Rengek Tasya lagi. Kali ini dia nampak menahan tangis.
Reza segera membayar. Pedagang pecel lele tersebut membungkus makanan mereka dengan tergesa. Dia melihat Tasya yang ketakutan.
Setelah selesai, mereka langsung masuk ke dalam mobil. Tasya menumpahkan tangisnya disana. Reza segera memeluk sang istri yang ketakutan.
"Ada Papi sayang. Jangan takut. Mereka sudah pergi" ucap Reza
"Ayo pulang" rengek Tasya
Reza langsung menjalankan mobilnya. Taysa tak melepaskan pegangannya dari lengan Reza.
Dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah.
Tasya segera meringkuk di atas kasur mereka.
"Makan sayang. Aa suapi dulu ya?" bujuk Reza
Tasya menggelengkan kepalanya.
"Makan ya? Tadi katanya lapar" bujuk Reza lagi
"Gak mau A. Aku gak lapar"
Reza segera memeluk istrinya dari belakang. Tasya segera membalikan tubuhnya, memegang suaminya erat.
"Aku takut A"
*** Temans terima kasih masih menunggu dengan setia setiap episode baru Bukan Siti Nurbaya. Tolong bantu dukung terus saya dengan cara VOTE, LIKE dan komentarnya ya. Saya sangat senang membaca komentar positif dari teman semua.
Sehat dan bahagia selalu ya. Terima kasih ^^ ***
__ADS_1