
Reza menggeliat, dia melihat sekeliling ruangan untuk mengumpulkan nyawanya. Terlihat jam telah menunjukan angka empat sore. Seketika ia bangun dan keluar kamar.
"Bu, Tasya sudah berangkat?" tanya Reza kepada mertuanya yang sedang sibuk di dapur
"Sudah. Dia tidak tega membangunkanmu katanya" Ucap ibu
"Tapi dia naik ojek online kok Nak" sambung ibu
Reza menghampiri mertuanya kemudian meminta gelas kepadanya. Dia mengambil minum dan duduk di meja makan.
"Nanti aku jemput Tasya saja bu. Aku khawatir kalau dia pulang sendiri" ucap Reza
"Iya. Dia juga tadi minta dijemput kamu. Sudah lengket ya sekarang. Baru semingguan" goda ibu sambil tersenyum
'Minta dijemput?' Reza mengulang kalimat ibu. Ada rasa senang dalam dirinya.
"Aku mandi dulu kalau begitu bu" ucap Reza kembali ke kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti.
***
Reza menyalakan mesin mobilnya. Dia melirik ke kaca spion, dilihat wajahnya dengan seksama. Dirasa sudah ganteng, dia tersenyum puas kemudian melajukan mobilnya. Dia sangat bersemangat. Seolah akan menjemput pacarnya.
Jalanan cukup padat sore itu, barisan angkot berjejer di pinggir jalan di depan sebuah sekolah menengah atas. Sebagian anak sekolah nampak berdiri di pinggir jalan.
Reza mengambil ponselnya kemudian memijit simbol telepon saat mengarah pada seorang nama.
"Assalamualaikum" ucap seseorang di seberang sana
"Waalaikumsalam" balasnya cepat.
"A maaf ya aku tadi gak pamit, aku gak tega bangunin A Reza" ucap istrinya
"Iya gak apa-apa. Aku dijalan mau jemput kamu ya Sya. Kamu sudah beres kan?" tanyanya
"Iya sudah A. Ini aku lagi sama teman-teman. Nanti kalau sudah sampai kasih tahu saja ya A?" pinta Tasya
"Iya sayang"
"Hati-hati dijalan A. Assalamualaikum" ucap Tasya menutup teleponnya
'Belum juga di jawab sudah di tutup' gumam Reza
***
Lembayung senja membuat syahdu sore itu, sebagian mahasiswa berkumpul di pinggir jalan. Reza memarkirkan mobilnya kemudian dia menelepon kembali istrinya tersebut.
"Assalamualaikum. Tunggu ya A. Nanti aku kedepan" tutupnya kembali
'Dasar bocah, padahal aku belum bicara apa-apa' gumamnya
Tasya berjalan ke parkiran sendirian. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari Reza. Tapi tak ada seorang pun disana.
__ADS_1
Sekarang dia mencari mobil Reza. Dia hendak berjalan ke arah mobil Reza terparkir. Tiba-tiba dari belakang ada yang mencolek bahunya dan mengagetkannya pelan.
"Romy? Sudah lama tidak bertemu Rom" Tasya membuka percakapan.
"Kamu tidak pernah ke kampus" balas Romy.
"Hehe, iya. Aku ke kampus kalau bimbingan saja" ucap Tasya
"Memang kamu tidak kangen sama aku?" Tanya Romy sambil tertawa
"Haha bisa saja kamu Rom. Dasar" Tasya ikut tersenyum
"Kamu sudah mau pulang Sya?" tanya Romy
"Huum" balas Tasya singkat
"Yasudah aku duluan ya Sya. Aku mau ngeprint ke depan" pamit Romy.
Tasya meneruskan kembali berjalan ke arah mobil Reza. Dia melihat Reza ada di mobilnya. Kemudian dia masuk ke dalam mobil.
"Siapa tadi Sya, akrab sekali sampai dia pura-pura ngagetin kamu segala" selidik Reza begitu Tasya memasukkan satu kakinya kedalam mobil.
"Assalamualaikum A." dicium punggung tangan suaminya itu
"Waalaikumsalam. Dia siapa Sya?" tanyanya tak sabar
"Dia temanku A." Balasnya singkat
"A Reza cemburu?" Tasya menggodanya
"Siapa yang cemburu? Aku kira seorang Tasya anti laki-laki" ketusnya.
"Ngeri dong kalau aku anti laki-laki. Nanti dikata orang aku penyuka sesama jenis loh. Ih amit-amit" Tasya begidig
"Bukan, maksudku kamu gak dekat dengan lalaki manapun" ucapnya
"Ya memang gak ada yang dekat a. Seperti tadi saja, hanya menyapa. Sudah pergi." jelas Tasya
"Ya kalian pakai tertawa berdua begitu?" Reza sebal
"Masa harus nangis bersama A" Tasya meladeni Reza
"Ah terserah!" Reza semakin kesal saat Tasya selalu menjawab pertanyaannya
"Kok A Reza marah? Apa salah Tasya? A Reza cemburu?" selidik Tasya
"Nggak. Cuma Aa gak suka kamu ngobrol dengan lelaki lain sambil tertawa begitu." balas Reza
"Kok A Reza jadi begitu sih? Aneh-aneh saja. Baru begitu saja Aa sudah marah-marah. Apakabar aku yang mendengar Aa dengan riangnya bilang Cindy itu gebetanmu" Tasya mulai memeperdebatkannya.
"Jadi kamu cemburu juga?" Tanya Reza mulai penasaran
__ADS_1
"Ya nggak! Cuma rasanya tidak adil saja A. Aa dengan mudahnya bilang Cindy gebetan tanpa rasa bersalah. Aku yang hanya disapa temanku Aa sudah marah begitu? Kamu kayak anak kecil A" Tasya ikut kesal
Mereka terdiam. Larut dengan pikirannya masing-masing. Mobil masih terparkir di depan kampus.
Reza merenungi sikapnya.
'Salah kalau aku cemburu Sya? Aku hanya iri dengan lelaki itu. Kamu terlihat senang sekali ngobrol dengannya' batin Reza
"Sya.. Maafkan Aa ya. Iya Aa cemburu. Aa gak suka lihat kamu senyum senang sama lelaki itu" jujur Reza
Tasya mengarah pandangannya ke luar jendela. Dia masih terdiam.
"Tasya Fadilla" panggil Reza dengan nama lengkapnya.
Baru pertama kali Tasya mendengar Reza memanggil nama lengkapnya selain ijab qobul kemarin
"Tasya Fadilla Ramadhan" panggilnya lagi ditambah dengan nama belakangnya.
Tasya ingin tertawa mendengarnya. Tapi dia tahan, masih memalingkan mukanya ke luar jendela.
"Tasya Fadilla Ramadhan Cintaku" Reza menggodanya kembali sambil di colek lengan Tasya.
Tasya tak bergeming. Sekuat tenaga dia menahan senyumnya.
"Tasya Fadilla Ramadhan Cintaku Sayangku. I love You" akhirnya kalimat itu terucap dari mulut lelaki 32 tahun yang ada disampingnya.
Untuk pertama kalinya dia mendengar kata tersebut darinya. Tapi dia masih tidak bergeming walau hatinya mulai senang.
"Ciee marah. Kalau marah nanti cepat tua loh, tahu-tahu nanti mukamu berubah kaya Bi Tinah. Sudah tua" goda Reza sambil masih mencoleknya
"Sayang.." ucapnya lagi sambil memegang dagu Tasya.
"Iih apa sih A Reza" Tasya pura-pura menepis tangannya
"Maaf ya.. Jangan marah dong. Tuh lihat kalau marah begitu ada keriputnya Sya" bujuk Reza sambil mendekatkan wajahnya ke muka Tasya
"apa sih A Reza" Tasya sedikit tersenyum dan tertangkap basah oleh Reza
"Tuh kan suaranya kayak nenek-nenek" godanya lagi masih berusaha memegang wajah Tasya tapi dihadang oleh tangan Taysa
Kali ini ditusukan telunjuknya ke pinggang Tasya. Tasya tak bisa menahan senyumnya lagi. Dia mencoba menghindar.
Kemudian tangan Reza menggenggam tangan Tasya.
"Maaf ya sayang, Aa sudah marah-marah gak jelas sama kamu. Habis Aa jelous lihat kamu sama lelaki lain. Nikah sama kamu Aa jadi ikutan muda" sambungnya
"Ingat umur A" Tasya sudah tak marah lagi sekarang
"Iya ingat. Kan kita seumuran" balas Reza
"Iya seumuran A. Sembilan tahun yang lalu" Balas Tasya.
__ADS_1
***Hallo Readers, Bantu VOTE saya ya, jangan lupa LIKE DAN KOMENTAR juga ya.. Biar Aku Semangat terus updatenya. Terima kasih^^ ***