BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Tindakan Medis Untuk Tasya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali mereka sudah bangun. Mata Tasya terlihat sangat sembab. Perawat yang keluar masuk pun tak banyak bicara, seolah mereka mengerti sang pasien sedang dirundung duka.


"A Reza nanti makan dulu ya, jangan sampai perutnya kosong" pesan Tasya pada suaminya


"Iya sayang. Tenang saja." ucap Reza


Tasya diminta berganti pakaian dengan baju khusus.


"A Reza, aku malu. Ini bajunya masa begini?" ucap Tasya polos


"Memang begitu sayang." Reza tersenyum melihatnya karena dia teringat kecelakaan waktu itu.


"A Reza, aku gak nyaman" ucap Tasya yang baru pertama kali memakai baju tersebut.


"Gak apa-apa Sya. Dokter sudah biasa lihat yang seperti itu" Reza menenangkannya


Tidak lama, seorang perawat masuk ke ruangan mereka.


"Ibu Tasya, sudah siap ya?" tanya perawat


"sudah" ucap Tasya singkat


"Baik. Mari kita ke ruang tindakan. Dokter Nando sudah menunggu disana" lanjut perawat tersebut.


Perawat dan petugas keamanan mendorong brangkar Tasya, Reza mengikutinya dari belakang. Mereka kemudian masuk ke dalam lift. Disana semua hening. Tak ada yang bicara seorang pun. Sesekali Reza dan Tasya beradu pandang. Sampailah mereka di lantai tiga.


"Bapak tunggu disini ya" ucap Perawat


"Semangat sayang" ucap Reza lembut.


Petugas keamanan dan perawat tersebut melihat ke arah Reza dengan senyumnya.


***


*Dering Ponsel Reza


"Assalamualaikum Za, sudah masuk ruangan?" sapa ibu


"Waalaikumsalam. Baru masuk ruangan bu. Kita di lantai tiga bu kalau ibu mau nyusul kesini. Tapi takut ibu lelah, ibu tunggu saja di kamar Tasya bu" ucap Reza


"Kamu turun saja kesini. Istirahat. Biar ibu yang tunggu Tasya. Ibu bawakan makanan untuk kamu" ucap ibu yang baru sampai di rumah sakit.


"Baik bu. Reza turun sekarang."


Telepon terputus. Dia segera turun untuk menemui mertuanya.


"Loh? Ayah mana bu?" tanya Reza begitu sampai di kamar yang mereka tempati


"Ayah nunggu tamunya. Mau dibatalkan gak enak katanya" ucap ibu


"Iya bu, lagi pula setelah ini langsung pulang" ucap Reza


"Ini, kamu makan dulu. Jangan sampai kamu juga sakit gara-gara nunggu istrimu" ibu memberikan kotak makan dan cemilan kepada Reza.


"Terima kasih bu." ucap Reza sambil membuka kotak makannya.


"Ibu ke atas ya." pamit ibu

__ADS_1


Reza makan di ruangan tersebut sendirian. Sebenarnya dia tidak berselera sama sekali. Reza membuka ponselnya. Dia menghubungi Pak Danu untuk memberikan kabar.


"Assalamualaikum Pa, sedang sibuk?" tanya Reza tanpa berbasa basi


"Waalaikumsalam. Papa baru mau jalan ke kantor. Kenapa?" Pak Danu heran anaknya menelepon tiba-tiba


"Pa, Tasya keguguran" Reza belum meneruskan ucapannya


"Apa? Kenapa bisa?" tanya Pak Danu meninggikan suaranya


"Mungkin karena perjalanan kesini Pa" ucap Reza tak yakin


"Sekarang gimana Tasya?" Pak Danu khawatir terhadap menantunya


"Masih tindakan Pa. Papa tolong tangani dulu kerjaan Reza ya Pa. Kemungkinan Reza nunggu Tasya pulih baru kita pulang. Nanti Reza juga koordinasi sama Lala, Pa" ucap Reza


"Iya. Asal istrimu sehat saja dulu. Sabar ya Nak, semua ini ujian buat kalian" ucap Pak Danu merasa sedih


"Iya Pa. Terima kasih" ucap Reza


"Salam buat semua yang disana. Maaf Papa gak bisa kesana dulu ya" ucapnya kemudian


"Iya Pa. Sudah ya Pa. Assalamualaikum" Reza menutup teleponnya.


Reza masih memainkan ponselnya. Sesekali dia menyuapi makanan ke mulutnya. Dia membuka galeri di ponselnya. Di lihatnya gambar usg yang sengaja dia foto waktu itu. Ada rasa yang tertahan di tenggorokannya. Dia segera mengambil minum dan bersikap sewajarnya.


Setelah selesai makan, Reza kembali ke lantai tiga.


"Belum selesai bu?" tanya Reza


Mereka membisu. Larut dengan pikirannya masing-masing.


"Za, Ibu tahu betul, kamu ingin segera memiliki anak di usiamu yang kini telah matang. Tapi ibu harap kamu bersabar. Kamu dan istrimu telah berusaha, tapi kalau Allah belum berkehendak, kita bisa apa" ucap ibu memecah keheningan diantara mereka


"Iya bu. Reza juga sadar, punya anak bukan perlombaan. Mungkin Reza sama Tasya disuruh pacaran dulu bu" Reza tersenyum


"Iya. Kalau di pikir-pikir, ibu sedikit merasa bersalah sama kalian. Kita memaksa kalian menikah. Ibu tahu betul rasanya tinggal dengan orang sama sekali tidak ada bayangan sebelumnya di hidup kita. Walau memang perasaan itu tumbuh seiring waktu, tapi rasanya tidak mudah" ucap ibu


Reza terdiam


"Tasya anaknya lurus sekali, tidak pernah membantah, tidak juga berulah. Cenderung kaku dengan laki-laki. Walaupun dia kami didik biasa saja seperti orang tua pada umumnya" kenang ibu


"Saya berterima kasih bu, walau awalnya saya kesal dengan perjodohan ini. Tapi punya istri seperti Tasya, saya merasa luar biasa" ucap Reza kemudian


"Sabar ya nak. Setelah ini kalian masih bisa ikhtiar lagi." hibur ibu


"Pasti bu. Gak pernah bosan bu" Reza senyum sumringah


Seorang perawat keluar ruangan.


"Keluarga ibu Tasya" ucap perawat tersebut


"kami sus" Reza menyahutnya


"Tindakan sudah selesai, tapi pasien masih dalam pengaruh obat bius. Jadi masih tidur. Tapi nanti kita pindahkan ke kamarnya ya pak" ucap perawat tersebut.


"Baik" sahut Reza

__ADS_1


Tidak lama kemudian Tasya keluar. Dia masih terlelap. Mereka membawa ke ruanganya.


"Boleh dibangun Pak, kalau ibu masih belum bangun" ucap perawat tersebut. Setelah itu dia pamit keluar kamar.


"Sya.. Sya.. Bangun Nak" ibu menepuk pelan pipi Tasya


Tasya masih terlelap


"Kayaknya enak sekali tidurnya bu" ucap Reza yang memperhatian istrinya.


Dia membuka ponselnya, kemudian di foto wajah istrinya tersebut. Setelahnya dia tersenyum senang.


Ibu tersenyum melihat kelakuan menantunya.


"Biar nanti Reza kasih lihat bu, kalau dia sudah sadar" ucap Reza


"Kamu sama Rasya sama saja. Tasya selalu jadi korban kejahilan kalian" ucap ibu


"Habis dia polos sekali bu." Reza tersenyum


"Sya.. Bangun Sya.." kini Reza membangunkannya


"Sya.. Tasya.. Ayo bangun Sya.. Sudah siang ini. Masih pulas saja" ucap Reza


"Kamu gak makan ini?" ibu membuka cemilan yang dibawanya.


"Tadi kenyang bu" ucap Reza


"Sya..tasya.." Reza berulang kali membangunkannya


Tasya membuka matanya sedikit demi sedikit. Dia mengedarkan pandangannya.


"Pelan-pelan saja nak" ucap ibu


Setelah beberapa jam berlalu Tasya sudah seperti biasa kembali. Mereka pun sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Yah, lupa. Kita gak bawa mobil bu? Kemarin kan ayah yang bawa" ucap Reza


"Oh iya. Ibu malah gak ingat saking paniknya kemarin" ucap ibu


"Pesan G-Car saja A" ucap Tasya


"Kamu gak apa-apa naik umum?" tanya Reza


Ibu tersenyum mendengarnya


"Itu mah A Reza yang gak biasa kali" sindir Tasya


Reza tersenyum. Memang dari kecil dia tidak biasa naik kendaraan umum.


"Sya, kamu ada aplikasinya?" tanya Reza


"Iya, biar aku yang pesan A" ucap Tasya sambil memesan G-Car di ponselnya


"Ayo, mobilnya sudah nunggu di depan" ajak Tasya pada ibu dan suaminya


*** Haaii Readers, yuk bantu VOTE, biar Reza dan Tasya gak lama-lama sedihnya. Terima kasih ^^ ***

__ADS_1


__ADS_2