
Tasya tengah memasukan baju mereka kedalam koper sementara Reza mengasuh kedua putranya di halaman bersama dengan Pak Danu dan Pak Taufik yang asyik bercengkrama.
Keluarga besarnya sebagian sudah pulang menyisakan mereka dan para tetangga yang membantunya.
Ibu sibuk kesana kemari tanpa lelah mengatur semuanya seorang diri. Sementara dua insan yang tengah di mabuk asmara, masih berada di kamar mereka.
Reza masuk ke dalam kamar mencari istrinya.
"Mam? Jadi kan kita?" tanya Reza
"Pengantinnya saja masih di rumah, ini yang ribut malah Papi. Heran deh"
"Sayang, Papi puasa sudah berapa hari coba?"
"Mami gak kasihan apa sama diamond?" Tasya hanya tersenyum.
"Pikirannya tuh kesana terus ih" Tasya menunjuk-nunjuk kening suaminya seraya Reza melingkarkan tangannya ditubuh sang istri.
"Nanti kalau mikir kerjaan, Mami marah" ucapnya. Tasya hanya tersenyum.
"Ayolah Mi, umur boleh nambah tapi semangat juang harus tinggi."
"Dasar"
Reza mengecup gemas istrinya. Mereka saling mencecap satu sama lain kemudian tertawa.
"A Rasya yang nikah, Papi yang bertingkah"
"Iya nih, Papi dari kemarin ingin Mi. Disini gak bebas."
"Mampir yuk?" ajaknya kemudian
"Kemana? Hotel?"
"Iya, tanam benih dulu" Reza menyeringai.
"Papi ih! Makin ngaco terus bicaranya"
"Habis gimana dong, Papi gak tahan sayang" manjanya
"Papi ih, apa sih" ucap Tasya saat tangan suaminya mengarah kemana-mana
"Ya ampun, pelit amat. Colek dikit juga" ucapnya seraya hendak kabur.
***
"Abang, Mama mau ke minimarket. Mau ikut gak?" ajak Zahra
"Aku gak mau sama Mama. Soalnya semalam gak boleh bobo bareng" Vano memalingkan mukanya
"Kasihan dong Bang, Nanti Mama sama Papa kesempitan" timpal Tasya
"Kasur Papa kan lega Mi."
"Ya sudah, nanti boleh deh bobo dikamar Papa" Rasya ikut menimpali seraya memakai by helmnya.
"Yuk ikut Mama" ajak Zahra
"Tapi aku boleh beli kinder *** dan es krim kan Ma" rengek Vano
"Dasar matre" gerutu Rasya
"Beli matre buat apa Pa? Buat mobil mainan Abang ya?"
"Itu batree Bang. Ngelawak ini anak" Rasya mengacak rambut putranya sementara Tasya dan Zahra hanya tertawa.
"Mau nitip Sya?"
"Titip dia aja Ra, maaf kalau ngerepotin" ucap Tasya.
"Ih, kamu kayak ke siapa aja." Mereka tertawa
"Apaa ituutt Mii (Daffa ikut Mi)" Daffa merengek dari gendongan Reza saat melihat Vano naik ke atas motor matic milik Papanya.
"Noo. Gak bisa Dek. Abang aja ya. Abang wakilin Dedek."
Daffa masih merengek.
"Nanti Abang belikan es krim Dek. Jangan nangis."
Daffa masih merengek. Reza segera membujuknya sementara Vano dengan sengaja melambaikan tangan kepada mereka.
"Usil banget ini anak" ucap Rasya
***
"Kamu serius mau pulang besok Sya?" tanya Ibu
"Iya Bu, A Reza cuti. Dia ngajak liburan anak-anak" ucap Tasya
"Tumben Reza cutinya lama?"
"Aku protes sih waktu itu. Alhamdulillah mau juga."
"Suami giat kerja di protes."
"Habis kesel Bu, gak ada waktu buat keluarga. Sementara anak-anak kan butuh liburan juga."
"Yang butuh liburan palingan kamu."
"Haha.. Ibu tahu saja."
Reza menghampiri mereka.
"Yuk? Katanya mau ambil baju?" ucap Reza
"Jadi kalian mau langsung berangkat liburan atau pulang dulu?" tanya Ibu
"Gimana Mi?" tanya Reza
"Langsung deh. Tapi ya enggak sampai seminggu juga" ucap Tasya
"Dia perhitungan Bu, takut tekor" ucap Reza pada Ibu
"Ibu-ibu kan begitu. Segala di pikirkan."
"Padahal yang nyari Bapak-bapak. Giliran uangnya habis, yang marah ibu-ibu. Heran" ucap Reza
"Kapan aku marah coba A?"
"Kalau Papi beli mainan, duh kalau gak ngomel ya di diemin" ucap Reza
"Ya iyalah. Beli hal yang gak penting siapa yang gak kesal" ketus Tasya
"Sudah-sudah, mau liburan nanti malah marahan." Ibu melerai mereka.
***
Vano dan Daffa melambaikan tangannya pada keluarga mereka.
"Abang disini saja ya sama Nin" pinta Ibu
"Gak mau.. Aku mau jalan-jalan sama Mami Papi"
"Hati-hati dijalan ya."
"Bye Nin. Assalamu'alaikum."
"Kita mau kemana Pap?" tanya Tasya pada Reza yang tengah melajukan mobilnya
"Rahasia dong" ucapnya
__ADS_1
"Papi, gak boleh main rahasia tahu"
"Kenapa memangnya Bang?"
"Nanti Abang penasaran" ucapnya membuat mereka tertawa
"Kalau dikasih tahu, nanti gak surprise lagi Bang" ucap Reza
"Ah Papi gak seru. Iya kan Mbak?"
"Iya Bang" Mbak Diah hanya mengikuti ucapan Vano.
Ditengah perjalanan, mereka semua tertidur. Tinggal Reza seorang yang masih menyetir mobilnya. Dia menyalakan radio untuk mengusir rasa kantuknya. Tak lama, Tasya terbangun karena mendengar suara radio.
"Masih lama Pap?"
"Hmm..lumayan sejam lagi Mam. Kenapa?" tanyanya
"Gak apa-apa, Mami ingin ke toilet Pap"
"Oh, ya sudah nanti kita ke SPBU saja" ucapnya
Setelah beberapa lama Reza menyetir, dari kejauhan Tasya melihat laut yang tak bertepi. Dia nampak takjub dengan pemandangan dihadapannya.
"Papi.. "
Reza tersenyum penuh arti.
"Yeay vitamin sea" ucap Tasya senang setaya mengedarkan pandangannya.
"Pap, makan dulu yuk disana sebelum ke hotel. Sayang loh, Ibu sudah buat nasi timbel untuk kita. Kan kita lagi piknik. Cocok tuh kalau bekal dibyka disini" ajak Tasya
"Ayo. Nanti Papi cari tempat yang agak enak ya."
"Bawah pohon Pap. Tuh orang-orang juga sama pada ngampar begitu" ucap Tasya
"Iya Mam. Sabar. Papi cari dulu tempat parkir yang enak."
Reza menepikan mobilnya. Dia bergegas keluar untuk meregangkan ototnya setelah menempuh perjalanan cukup panjang.
"Papi kita dipantai Pi?" Vano berteriak senang
"Iya sayang"
"Adeeekk bangun Dek. Kita di pantai" ucapnya antusias
"Iya. Tapi kita makan dulu ya terus ke hotel. Habis itu baru boleh main" ucap Tasya
"Siap Mami"
Daffa masih dalam gendongan Mbak Uji mulai bangun daei tidurnya.
Tasya membuka tikar yang selalu dia simpan di dalam bagasi mobil miliknya. Dia mengeluarkan berbagai macam makanan yang telah Ibu siapkan untuk mereka. Mereka berkumpul bersama mengelilingi makanan yang disimpan di tengah-tengah mereka.
"Mam tambah dong" Reza menunjuk nasi berbungkus daun pisang dihadapannya. Dengan segera Tasya membuka nasi tersebut untuk suaminya.
"Ini mau lagi?" ucap Tasya menunjuk ayam goreng dihadapannya. Reza menggelengkan kepalanya.
"Cukup. Masih ada ini juga. Minta sambal saja Mam" ucapnya
"Jangan banyak-banyak ah, nanti sakit perut" ucap Tasya.
Vano menyelesaikan makannya terlebih dahulu, dia segera bermain sedikit menjaih dari orangtuanya diausul oleh Mbak Diah.
"Anginnya kencang" ucap Mbak Uji setealh membereskan bekas makanan mereka ke dalan bagasi.
"Iya enak buat tidur ini mah Mbak" Reza menimpali. Dia tiduran di kaki sang istri setelah beres makan
"Baru beres makan sudah tiduran."
"Pegal tahu Mam" ucapnya seraya menutup mata
Mbak Uji, Tasya, dan Mbak Diah berbincang asyik seraya menyaksikan ke dua bocah yang bermain pasir.
"Sayang mainannya gak dibawa Bu" Mbak Diah menimpali
"Iya. Kita gak tahu mau kesini Mbak."
"Surprise Bu" goda Mbak Uji
Reza mengulas senyumnya seraya memejamkan mata
"Abang, nooo" Tasya melarang Vano yang hendak menyirami pasir ke kepala adiknya. Mbak Diah dan Mbak Uji segera berjalan ke arah mereka.
Vano nampak cemberut diceramahi oleh pengasuhnya.
"Pi..Pi..udah rusuh mereka. Yuk ke hotel dulu." ajak Tasya
Reza segera bangkit.
"Cape banget Mam. Ngantuk" ucapnya
"Makanya yuk ke hotel, habis itu lanjut istirahat"
***
"Mbak, kamar kalian disini ya, kita di sebelah." ucap Reza pada kedua pengasuh mereka. Reza dan Tasya tak pernah membedakan status mereka, mereka selalu mendapat perlakuan yang sama. Apa yang keluarga Reza makan, kw dua oengasuhnya ikut merasakan. Itulah kenapa Mbak Diah dan Mbak Uji betah kerja pada mereka. Bahkan Mbak Diah tak pernah pulang kampung karena merasa tak tega meninggalkan Tasya kerepotan sendirian walaupun beberapa kali Tasya memaksanya pulang.
"Abang Adek sini mandi dulu sama Mbak. Kasihan Mami Papi biar istirahat dulu" ucap Mbak Diah yang pengertian.
"Iya Mbak. Titip ya, Bapak minta di pijit" ucap Tasya
"O ya, Bajunya dulu Mbak ambil." ucap Tasya kemudian
Mereka masuk ke dalam kamarnya. Mbak Uji segwra keluar setelah mendapatkan perlengkapan milik anak majikannya.
Tasya membuka jendelanya, Lautan luas menjadi pemandangan yang memanjakan mata mereka.
"Jadi ingat waktu buat Vano ya Mam, sekarang sudah dua nih ekor kita" ucap Reza seraya memeluk istrinya dari belakang. Hening tercipta disana.
"Terima kasih Pap untuk segalanya" Tasya mendongakan kepalanya untuk melihat suaminya.
"Terima kasih Mam, sudah memberiku keturunan. Tapi Papi mau satu lagi princess, please."
Reza mengecup lembut istrinya.
"Katanya capek?"
"Sebentar saja, Mam. Buat ini gak capek" ucapnya seraya mengecup Tasya dengan penuh ga*rah.
Dia menggiring Tasya untuk merebahkan tubuhnya sementara Reza menumpu kedua tangannya agar tak ambruk di atas tubuh Taysa.
Tasya mengelus lembut suaminya. Mereka tersenyum penuh cinta.
"Jangan dibuka semua ya, masih siang. Anak-anak nanti kesini."
Reza hanya mengangguk pelan, dia fokus dengan aktifitasnya sendiri.
Tak butuh waktu lama, Reza ambruk disamping istrinya. Dengan setia, Tasya segera membersihkan suaminya yang masih terengah-engah.
Tasya membersihkan dirinya ke toliet kemudian memakai pakaiannya kembali. Dia mendekati suaminya, mengecup mesra wajah suaminya seraya membisikan kata cinta ditelinga suaminya.
Reza yang sudah setengah sadar, hanya memeluk pinggang istrinya dan membenamkan wajahnya di dada sang istri. Tasya memanjakan Reza dengan mengelus lembut rambutnya hingga keduanya benar-benar terlelap.
***
"Papiiiii Piiiii" Vani mengetuk pintu kamar mereka. Reza yang masih tiduran, membuka pintu kamarnya. Kedua anaknya berlari masuk ke dalam kamar.
"Mami mana Pi?"
"Lagi mandi"
__ADS_1
"Aku mau main keluar Pi. Lihat yang lagi main layangan."
"Nanti setelah Papi mandi ya." ucapnya.
Tak berselang lama, Tasya keluar kamar mandi.
"Mii aku mau main Miii. Lihat yang main layangan" rengek Vano
"U'um Mi (Huum Mi)" Daffa tak kalah antusias
"Iya nanti beres Papi mandi" ucapnya sambil mengeringkan rambutnya.
Ketiganya asyik bercengkrama hingga Reza selesai mandi.
Kalian mau makan apa?" tanya Reza
"Pap, seafood enak kayaknya kalau di pantai begini"
"Ayok. Yang di restoran?" tanya Rezq
"Enggak ah. Cari yang lain Pap. Barangkali disini ada tempat makan yang enak." ajak Tasya
"Ya sudah putuskan mau kemana?"
"Iya nanti cari dulu Pap."
"Mi, aku gak mau makan, aku kan mau main dulu Mi" rengek Vano
"Ya sudah ayo."
Daffa dan Vano nampak antusias melihat orang dewasa yang sedang memainkan layang-layang berbentuk burung garuda di pantai. Di atas langit sore yang indah, berbagai bentuk layangan menari-nari di udara. Membuat Daffa dan Vano tak hentinya menatap langit.
Vano merengek ingin memainkan layangan, hingga seseorang menghampiri mereka membiarkan Vano memegang kendali layangan tersebut ditemani oleh Reza.
Vano dan Daffa kini berlarian kesana kemari ditemani dua pengasuhnya. Sementara Tasya dan Reza menikmati senja yang mulai tenggelam.
"Cantik banget Pap"
"Kayak Mami"
"Gombal"
"Serius. Apalagi kalau mau goyang di atas"
"Ih tadi udah."
"Tadi Papi kali, Mam" ucap Reza
"Tadi Papi cepetin. Nanti malam baru dilamain."
"Papi ih. Kita kan lagi liburan"
"Enak saja. Pokoknya Papi lagi program. Nanti Papi kasih hadiah deh"
"Apa?"
"Rahasia dong. Masa dikasih tahu"
"Papi enak ya bilang nambah-nambah. Papi gak merasakan mual atau apapun."
"Ya kalau bisa di tukar, Papi deh yang merasakannya."
"Aamiin"
"Di aminin kayak yang bisa saja Mam"
"Siapa tahu bisa."
"Piii lihat piii ini apa?" Vano membawa plastik ke arah mereka.
"Ini kepiting kecil Bang. Jangan di pegang ya nanti kena capitnya" ucap Reza
"Dari mana ini?"
"Nemu disana." Vano menunjuk ke tempatnya bermain tadi.
"Udah yuk? Udah sore kita makan" ajak Tasya
"Masih mau main Mii" rengek Vano
"Ya sudah sebentar lagi. Tapi kalau kata Mami sudah, kalian harus berhenti mainnya. Mengerti?"
"Oke Mami"
"Baru dua Pap, tiga nanti lebih heboh." ucap Tasya pada Reza
"Enggak. Seru nih kalau ada cewek. Pasti cerewet sama kayak Mami."
"Maksudnya?"
"Aw... Sakiitt Mam" Reza mengaduh saat Tasya menyubit perutnya.
Tak terasa, petangpun tiba. Mereka masuk ke dalam mobil.
"Jadi makan apa sayang?" tanya Reza
"Ada seafood segar ni Pap" Tasya memberikan pinselnya pada Reza.
"Coba kita lihat." Reza membuka gps dan mulai mengamatinya.
"Yuk jalan" ajaknya
"Kita kemana Mam?"
"Makan ikan. Mau kan kalian?"
"Miii" Daffa pindah ke kursi depan bersama sang Ibu.
Tasya mengecup lembut Daffa dan bermain bersamanya.
"Bu.. " Mbak Diah memberikan kode
" Abang. Sini sama Mami, Nak"
"Enggak terima kasih. Aku sama Mba Diah saja " ucapnya
"Hayo loh Mami.."
" Sini yuk Bang." ajak Tasya
"Enggak." Vano duduk dipangkuan Mbak Diah.
Tak terasa mereka tiba di warung seafood segar. Tasya memilih sendiri ikan dan seafood mentah ditemani oleh pengasuhnya.
"Mam, gak kebanyakan?" tanya Reza saat melihat ikan, kepiting, udang dan seafood lainnya di nampan miliknga
"Aku kalap Pap, semua pengin ih. Nanti kalau sisa, bisa di bungkus" Ucap Tasya seraya tersenyum
"Harganya jauh banget sama di kita sayang" ucap Tasya kemudian
"Iya terserah Mami." ucapnya
Mereka menunggu makanan datang sambil melihat-lihat ikan di aquarium. Tak berapa lama pesanan mereka tiba.
"Mamiii awas jangan disentuh kepitingnyaa, nanti kena capitnya" Vano memegang tangan Maminya yang hendak mengambil kepiting.
.
.
.
__ADS_1
Hallo Readers, dukung terus BSN yaa.. Jangan lupa like dan komentarnya. Terima kasih ^^