BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Tasya Kenapa?


__ADS_3

Keesokan harinya seperti biasa Tasya menyiapkan semua keperluan Reza dan dirinya sebelum berangkat ke kantor.


Dia melakukannya tanpa bicara sepatah katapun pada Reza.


"Sya.." panggil Reza


Tasya tak menyahutnya


"Tasya!" Reza membentaknya


Tasya terperanjat karena kaget oleh bentakan Reza tapi dia tetap membisu.


"Aa heran, ada apa denganmu Sya! Sebenarnya apa masalah kita ini?" Reza hilang kesabaran


Tasya tetap tak bergeming.


"Sya" Reza memegang bahunya, tapi Tasya menepisnya


Reza memegang tangannya, menyeret Tasya untuk duduk di tepi kasur. Tangan Tasya yang putih terlihat memerah karena tarikan tangan Reza.


Tasya tak bicara, dia mengusap tangannya yang terasa sakit. Reza melihat tangan istrinya tersebut. Sedikit rasa bersalah dalam dirinya.


"Sebenarnya kamu kenapa Sya?" Reza melunak


"Apa salah Aa padamu Sya?" tanya Reza tak sabar


"Apa gara-gara si Keenan itu? Apa kamu gak mau Aa melarangmu? Kenapa? Bicara sama Aa Sya!" Nada Reza sedikit meninggi kembali


Mereka membisu. Tasya tetap tak bergeming sama sekali. Kali ini dia tak meneteskan air mata sedikit pun.


Reza memeluk Tasya erat. Yang di peluk tetap diam membeku.


"Aa cinta sama Tasya, Aa sayang sama Tasya, Aa.. Aa takut Tasya berpaling sama laki-laki lain karena usia kita yang berbeda. Aa gak mau kehilangan Tasya. Aa gak rela Tasya dekat dengan lelaki lain. Aa mau jadi satu-satunya buat Tasya" Reza mengeluarkan isi hatinya


"Jujur saja, Aa cemburu Keenan mendekatimu. Dia berani mengirim pesan kepadamu, padahal jelas-jelas dia tahu, kamu wanita bersuami" ucap Reza frustasi


Tasya tercengang melihat ke arah Reza.


'Dari mana dia tahu kalau Keenan mengirim pesan kepadaku?' batin Tasya mulai bicara


"Sya, jangan diam begini, Aa bingung kalau Tasya begini. Kemarin kamu sendiri yang bilang kalau Aa jangan begini, sekarang kamu melakukan hal yang sama" Reza protes


"Maafkan Aa ya sayang, kalau Aa salah." ucapnya kemudian

__ADS_1


Tasya menelan ludahnya, tenggorokannya


terasa tercekat. Ingin sekali dia bicara, tapi terasa susah.


Reza mengambil ponselnya, dia menelepon Pak Bambang dan Lala bergantian. Dia menyerahkan semua pekerjaan mereka pada orang kepercayaannya.


Reza membaringkan tubuhnya di kasur. Dia memejamkan matanya hanya untuk mengatur emosinya. Setelah beberapa lama, di tariknya tubuh Tasya. Dia mengunci tubuh istrinya itu dengan lengannya. Di kecupnya berkali-kali rambut istrinya tersebut.


"Mau sampai kapan kamu begini sayang?" tanya Reza lembut.


Reza membalikan tubuh istrinya sehingga menghadap kepadanya. Tasya hanya patuh dengan apa yang dilakukan Reza kepadanya.


Dipandangnya wajah istrinya itu.


"Maaf kalau kamu cemburu gara-gara mantan pacar Aa. Aa berani bersumpah, sudah tidak ada dia di hati Aa. Kamu tahu apa yang Aa pikirkan saat ini? Aa hanya ingin membuatmu hamil lagi. Aa hanya ingin punya anak dari kamu Sya."


Tasya melunak. Dia mulai menitikan air matanya mendengar apa yang dikatakan suaminya.


"Sayang jangan menangis. Aa minta maaf ya Sya. Aa salah" Reza mengusap air mata Tasya


Reza mengeratkan pelukannya, kini Tasya membalas pelukan suaminya itu.


Reza mengecup Tasya berkali-kali.


"Mami mau kan maafkan papi?" Reza mulai menggoda


"Sayang, bicara sama Aa ya?" pinta Reza lembut


'Aku ingin bicara, tapi rasanya susah A' batin Tasya.


Reza terus membelai istrinya tersebut. Tasya yang puas menangis menjadi mengantuk dibuatnya.


'Ya ampuunn.. Dia tidur? Apa gak salah?' batin Reza


'Bisa-bisanya dia tidur saat kita seperti ini' Reza heran


Reza melepaskan pelukannya perlahan. Dia melihat kemejanya basah karena tangisan sang istri. Segera dia membuka baju dan menggantinya dengan kaos.


Dia merebahkan badannya disamping istrinya.


"Sya.. Sya.. Kamu kenapa sangat kekanakan sekali kalau lagi marah?" gumam Reza


"Aa dibuat kewalahan oleh sikapmu sayang. Sampai-sampai kita bolos kerja" Reza berbicara sendiri

__ADS_1


Akhirnya Reza ikut tertidur disampingnya


***


'Hah? Kok aku ketiduran?' batin Tasya ketika dia bangun


'Ya ampuun Tasya! Bisa-bisanya kamu tidur padahal sedang bertengkar' batinnya memaki dirinya sendiri.


'Untung A Reza juga tidur. Kalau nggak, bisa malu sekali' dia mulai cerewet.


Dia melihat Reza telah berganti pakaian. Dia memandang suaminya dengan seksama. Namun kali ini dia tak berani menyentuhnya.


Dia menulis sebuah pesan pada ponselnya.


'A Reza, tahu gak? Aku itu seperti Aa ikat kuat. Aa dengan bebas menyebutkan nama mantan Aa, bahkan bertemu dengannya beberapa kali. Sementara aku? Baru mau menjodohkan orang saja Aa sangat murka.'


'Kenapa Aa cemburu pada Keenan? Jelas-jelas aku mencintaimu A. Apa Aa gak percaya sama cintaku? Hanya karena Keenan mendekatiku Aa marah luar biasa sampai bersikap dingin kepadaku. Padahal aku sama sekali tidak meladeninya. Iya aku salah,aku tidak meminta izinmu saat aku pergi, tapi bukan berarti aku menggoda lelaki lain yang bukan muhrimku.'


'Aku ingin semuanya adil. Aa juga tanpa beban menyebutkan mantan A. Apa aku tak boleh cemburu juga? Padahal setiap kau bercerita entah kenapa hatiku terasa sakit dan iri mendengarnya.'


'Aku hanya merasa ini tak adil bagiku. Aku sangat marah dan sangat kesal. Aa bahkan tak mengerti, dan ikut marah kepadaku. Mana rayuanmu yang biasa kau lakukan saat aku marah padamu A? Dari semalam saja Aa cuek. Mungkin kau masih menyimpan hati untuk mantanmu itu!'


'Baru hari ini Aa bersikap sangat kasar kepadaku. Aa membentakku dan menyeretku ke tepi kasur. Apa kau tahu aku kesakitan? Apa kau tahu, aku sangat takut oleh amarahmu? Rasanya aku ingin pulang ke rumah ibu kalau Aa begitu.'


Pesan yang begitu panjang itu sengaja dia kirim kepada suaminya. Dia tak sanggup kalau harus bicara panjang lebar. Dia menulis pesan tersebut dengan derai air matanya.


Hatinya sedikit lega. Dia telah mengeluarkan semua kemelut dihatinya yang selama ini dia pendam.


Dia membuka pesan masuk dari Lala.


'Ibuuu kenapa tak masuk kantor? Apa ibu sakit? Atau gara-gara kemarin.. Aku minta maaf bu. Aku merasa bersalah'


Tasya segera membalasnya karena kasihan dengan Lala


'Aku gak apa-apa La. Aku hanya kurang enak badan' bohongnya


Dia melihat nama Keenan pada layar pesan tersebut.


'A Reza.. Pantas saja dia tahu Keenan mengirim pesan. Ini kapan?' batinnya tak menyangka


'Semalam? Apa saat aku sudah tidur?' dia mengingat-ngingat.


'Kenapa Keenan nekat sekali? Pantas saja A Reza marah. Tapi apa salahku? Aku kan tidak meladeninya' batinnya cerewet

__ADS_1


*** **Hallo Readers, terima kasih sudah setia mengikuti alus cerita BUKAN SITI NURBAYA. Semoga Readers sehat selalu ya..


Tolong dibantu VOTE, LIKE dan KOMENTARNYA. Aku selalu senang membaca komentar-komentarnya. Maaf tak bisa membalas satu persatu. Terima kasih** ^^ ***


__ADS_2