
Tasya mempercepat langkahnya.
"Sya, dengar penjelasanku" ucap Reza menyeimbangi jalan Tasya
"Mau buat alasan apalagi A? Aku kecewa sama Aa. Ternyata diam-diam Aa pernah bertemu dengan mantan Aa." Tasya ketus
"Iya Aa salah. Aa minta maaf" ucapnya begitu sampai di parkiran
Tasya masuk ke dalam mobil. Dia memalingkan mukanya dari Reza.
"Sya, itu sudah lama sekali kejadiannya. Awal-awal kita menikah" bohong Reza
"Waktu itu kebetulan kita bertemu, terus dia cerita kenapa dulu dia meninggalkan Aa. dia minta maaf dan menyesal"
"Menyesal ingin kembali ke pelukan Aa?" potong Tasya dengan ketus
"Bukan. Dengar. Dia menyesal kenapa gak putus baik-baik. Terus Aa cerita kita sudah menikah" jelas Reza
"Iya menikah dijodohkan" Ucap Tasya
"Memang kita di jodohkan Sya, apa yang salah?" ucap Reza
Memang benar mereka di jodohkan, tapi rasanya Tasya tidak terima ketika hal itu Reza utarakan kepada mantan kekasihnya.
"Aa lihat kan tadi? Dia tak menghiraukanku. Masih saja ngobrol sama Aa. Padahal ada aku. Aku bertanya baik-baik. Tapi dia jawab dengan enggan!" Tasya kesal
"Sayang, Aa sudah tidak ada hubungan lagi sama dia. Cinta Aa sama dia sudah lama hilang. Kamu lihat sendiri kan tadi dia juga sedang hamil" Reza masih meyakinkan
"Siapa tahu itu anak Aa!" Ucap Tasya asal
"Sya! Kamu memfitnah Aa!" Reza berteriak marah
Tasya tersentak saat Reza berteriak. Dia tak bisa menahan air matanya, dia menangis. Ini pertama kalinya Reza sekasar itu kepadanya. Tasya keluar dari mobil Reza dan pergi meninggalkannya.
Reza menjambak rambutnya. Dia menyesal telah berteriak pada istrinya. Tapi dia juga tidak terima Tasya memfitnahnya.
Reza mengemudikan mobilnya, dia mencari Tasya menyusuri jalanan. Tapi Tasya tak ada disana.
Reza segera ke kantor, memastikan Tasya ada disana. Dan ternyata Tasya juga tidak ada disana.
"Pa, Tasya pulang tidak?" tanya Reza begitu telepon terhubung ke Pak Danu tanpa mengucapkan salam.
"Kok tanya Papa sih Za? Tadi kan sama kamu berangkat kerja." ucap Pak Danu
Reza mematikan teleponnya setelah mengerti apa yang di ucapkan Papanya. Dia mulai panik.
'Sya kamu kemana?' Reza frustasi
***
"Pak, stop disini saja" ucap Tasya memberhentikan taxi yang dia tumpangi
Dia turun dari taxi tersebut kemudian berjalan di trotoar. Dia masuk ke dalam sebuah taman kota yang sangat rindang.
__ADS_1
Dia duduk di sebuah kursi yang menghadap ke sebuah kolam ikan. Air mata yang selama perjalanan tadi dia tahan, kini mengalir begitu saja. Sesekali tangannya menyeka kedua pipinya. Tapi air mata tersebut tidak jua surut.
'Kenapa rasanya sakit sekali' batinnya dalam hati.
Dia membayangkan wanita berperut buncit itu dengan ramah menyapa Reza. Tatapannya penuh semangat ketika melihat Reza. Dan Reza begitu kikuk memperkenalkan Tasya sebagai istrinya.
'Kamu yang bilang kita harus terbuka, tapi kamu sendiri yang mengingkari ucapanmu!' batin Tasya lagi-lagi kesal mengingatnya.
'Demi membelanya, kamu berteriak kepadaku A. Sebegitu cintanya kamu kepadanya' batin Tasya
Taman kota mulai ramai oleh orang-orang yang bermain disana. Mereka tampak ceria menikmati sore hari yang cerah. Tasya masih duduk terdiam disana. Matanya sembab setelah menangis lama.
BUuukkkk...
Sebuah bola menghantam bahunya dari arah belakang.
"Aw.. Sshhh" Tasya tersentak dan kesakitan
Seorang lelaki menghampirinya.
"Mbak, maaf.. Kami tidak sengaja. Maaf ya mbak" ucap seorang lelaki tersebut menyesal
"Iya" ucap Tasya sambil tertunduk. Dia tidak berani melihat ke arah lelaki tersebut karena matanya yang sembab
"Mbak.. Sakit sekali ya? Aku minta maaf" ucapnya lagi
Tasya ingin menangis tapi ditahannya. Dia terdiam tidak merespon lelaki tersebut
"Mbak, apa perlu ke dokter?" tanyanya lagi. Dia penasaran karena Tasya tetap tertunduk
Lelaki tersebut terpana melihat Tasya.
'Cantik sekali' batin lelaki tersebut
Dia duduk di sebelah Tasya.
"Maaf mbak, kalau kenapa-kenapa mbak bisa hubungi saya. Namaku Keenan" ucapnya sambil menyodorkan tangan sebelah kanan sementara tangan sebelah kiri menenteng bola.
"Oh, tidak usah mas. Saya tidak apa-apa" ucap Tasya yang tak menyambut tangannya.
Keenan menurunkan tangannya. Dia makin penasaran dengan Tasya.
"Maaf, mbak menangis sendirian disini? Apa tidak takut?" ucapnya sengaja
Tasya menoleh ke arahnya.
'hhh.. Iya. Kenapa aku nangis disini. Memalukan!' batinnya
"Gak apa-apa mas" ucap Tasya datar
"Mbak gak kenapa-kenapa kan?" Keenan cerewet
Tasya tidak menjawabnya.
__ADS_1
"Mbak putus cinta?" tebak Keenan sok tahu
"Bisa tinggalkan saya sendiri mas?" Tasya risih
"Takutnya nanti mbak di goda oleh orang jahat loh mbak" Keenan menakutinya lagi
'Kamu yang menggodaku dari tadi!' batin Tasya
"Saya permisi mas" ucap Tasya berlalu meninggalkan Keenan.
Keenan mematung melihat punggung Tasya menjauh.
'Baru lihat cewek itu, anak mana ya? Buatku penasaran' gumam lelaki manis berkulit sawo matang dengan rambut yang tebal itu.
Tasya berjalan keluar dari taman. Dia menunggu taxi yang lewat. Tidak lama, sebuah taxi berhenti dan tasya masuk kedalam taxi tersebut.
Taxi tersebut berjalan ke alamat yang Tasya tuju. Sepanjang jalan, dia melihat keluar jendela. Pikirannya kacau. Tibalah dia di depan sebuah rumah. Dengan enggan Tasya turun dari taxi tersebut.
"Assalamualaikum" ucap Tasya pelan
Pak Danu cemas setelah Reza meneleponnya tadi.
"Sya, kamu dari mana nak? Reza telepon Papa nanyain kamu" ucap Pak Danu melihat Tasya dengan mata yang sembab.
Tasya tak menjawabnya. Dia tidak enak kalau harus jujur pada mertuanya.
"Tasya masuk kamar dulu ya Pa" ucapnya pelan
Pak Danu mengerti, dia tidak banyak bertanya.
"Ya sudah kamu istirahat ya Nak" ucapnya
Pak Danu segera menghubungi anaknya.
Setelah beberapa lama, Reza datang. Dia berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Dia tak menghiraukan Pak Danu yang bertanya kepadanya.
"Dari mana saja kamu Sya!" tanya Reza menahan amarah namun juga khawatir kepadanya
Tasya tak menggubrisnya. Dia masih pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Sya.. " suara Reza melunak
Mata Tasya mulai berkaca-kaca mendengar suara tersebut.
"Sya, Aa minta maaf. Aa tahu Aa salah. Tasya boleh hukum Aa apapun. Tapi please Aa gak sanggup kalau kamu diamkan Aa begini" ucap Reza lembut.
Air mata Tasya menetes. Dia menyeka air matanya.
"Sya.." tangan Reza memegang tangannya. Tasya menepisnya. Begitu sakit yang Tasya rasakan.
'Apa aku harus membalasmu A. Biar kita sama-sama impas' batin Tasya asal
"Sya.. Pukul Aa saja Sya. Atau tampar Aa. Atau tendang Aa. Asal kamu bicara" Ucap Reza tak sabar
__ADS_1
"Tolong tinggalkan saya sendiri!" ucap Tasya terbata