
Reza masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang.." ucap Reza ragu
Tasya tak menghiraukannya.
"Boleh pinjam aplikasi ojek online? Temanku mau pulang, dia bawa brave kesini" ucapnya
Tasya memberikan ponselnya, dia tak berbicara sepatah katapun.
"Aa pinjam sayang" ucap Reza seraya berlalu keluar kamar.
Reza menghampiri Adam yang sedang menunggunya.
"Sudah ku pesankan. Sebentar lagi sampai" ucap Reza
Mereka berbincang sampai ojek yang dipesan datang. Adam pamit dan mengisyaratkan tentang pembayaran motor Reza.
Reza masuk ke dalam kamar. Dia tahu, istrinya kesal kepadanya.
"Maaf Mam" ucap Reza
"Papi butuh brave buat kita." ucap Reza
Tasya menghela nafasnya, dia malasnya berdebat walaupun kesal. Mau bagaimanapun Tasya tahu, motor itu menjadi kesayangan Reza. Dia cukup mengerti.
"Mam, maaf ya" ucap Reza kemudian yang merasa bersalah.
Reza mengecup kening istrinya.
"Sudah reda sayang demamnya. Tapi istirahat saja biar lekas pulih." pinta Reza
"Mami mau sesuatu?" tanya Reza
"Aku mau teh manis hangat" ucap Tasya. Mau tidak mau membuka suara karena dia sangat haus.
Saat bertemu teman suaminya tadi Tasya buru-buru masuk ke dalam kamarnya karena dia tidak memakai bergo. Dia memilih menahan rasa hausnya dari dalam kamar. Dan meninggalkan gelas yang berisi teh dan gula di dapur begitu saja.
"Aa buatkan ya" ucap Reza
"Tadi aku sudah menuangkan gula dan teh ke dalam gelas" ucap Tasya
Reza melihatnya menunggu Tasya meneruskan ucapannya
"Aa tinggal tuang air hangat saja. Tadi aku bertemu teman Aa, aku gak pakai kerudung jadi buru-buru ke kamar lagi" ucap Tasya
"Kenapa gak nyuruh Bi Tinah sayang?" tanya Reza
"Gak kepikiran" balas Tasya
"Ya sudah. Tunggu ya, Aa buatkan dulu" ucapnya seraya tersenyum.
Setelah beberapa lama, Reza masuk ke dalam kamar seraya membawa gelas berisi teh manis hangat. Dia memberikan kepada Tasya dan menunggu sang istri meneguknya.
__ADS_1
"Dedek gerak sayang?" tanya Reza
Tasya hanya mengangguk.
"Mau kiwi?" tanyanya
"Enggak. Aku mau tiduran saja" ucap Tasya
Tasya merebahkan badannya. Sementara Reza dengan inisiatif memijat kaki sang istri. Tak berapa lama, Tasya tertidur kembali.
Reza segera keluar kamar menuju ke halaman rumahnya. Dia mengecek motor kesayangannya.
Reza mengambil ember dan sabun hendak memandikan cinta pertamanya. Dia begitu menikmati setiap jengkal body cinta pertamanya. Setelah selesai, dia menstarter motornya. Suara garang terdengar memenuhi halaman rumahnya. Reza tersenyum bangga.
Tak berapa lama, suara mobil mendekat ke arah pagar. Pak Budi membuka pintu pagar lebar-lebar. Pak Danu terlihat turun dari mobil.
"Wah, kamu sudah kaya sekarang?" sindir Pak Danu saat melihat Reza yang sedang memandangi motor kesayangannya.
"Susah payah buat dia balik lagi Pa" ucap Reza sambil memandang kagum motornya seraya berkacak pinggang.
"Istrimu tak marah tabungan kau kuras?" tanya Pak Danu yang memang tahu betul harga motor tersebut.
"Sebentar lagi kerjasama baru dengan supermarket lain Pa. Jadi amanlah" ucap Reza
"Gila kamu! Fokus sama kelahiran anakmu! Kamu pikir biayanya cuma satu dua juta" ucap Pak Danu
"Iya. Sudah Reza perhitungkan. Kalau kurang aku minta Papa saja" ucap Reza asal
"Gak tahu diri! Kau yang enak, Papa yang rugi" Pak Danu kesal
Pak Danu masuk ke dalam rumah. Tak lama Reza menyusul masuk ke dalam rumah. Dia masuk ke dalam kamar, tapi Tasya tak ada disana.
"Sya.. " Teriak Reza
Dia menuju halaman belakang, disana Tasya sedang duduk bersama Bi Tinah.
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Reza
"Gimana gak bangun, suara motornya kencang begitu" Bi Tinah menjawabnya
Reza merasa bersalah. Dia tak sadar kalau membuat berisik seisi rumah.
"Maaf. Aa lupa" ucap Reza
"Yuk masuk" ajak Reza
Tasya yang kesal tak menjawabnya.
"Biarkan Neng Tasya sama bibi saja dulu. Di kamar terus pasti bosan" ucap Bi Tinah membelanya
"Aku mandi dulu kalau begitu Bi. Titip ya" pinta Reza
***
__ADS_1
"Sayang" Reza mendekati istrinya yang sedang bersandar di headboard.
Tasya tak menghiraukannya. Dia teramat kesal sekarang setelah merasa sangat kaget dengan suara motor Reza yang membuatnya bangun tersentak.
"Maaf" ucap Reza
Tasya mengehela nafasnya.
"Tadi pamit beli kelapa ijo lama sekali, pulang-pulang bawa motor lama Aa. Gak bilang dulu, gak minta persetujuan dulu. Memang itu hak Aa. Tapi, ya sudahlah" Tasya malas meneruskan
"Maaf Sya, Aa hanya ingin semua milik kita kembali." ucap Reza
"Kenapa Aa gak sabar? Kita baru memulai lembaran baru A. Kenapa gak di tabung terlebih dahulu uangnya?" Tasya meluapkan emosinya
"Kan kita mau tanda tangan kontrak baru Sya. Aa pikir nanti bisa nabung lagi dan cukup untuk kamu lahiran" Reza memberi penjelasan
"Kenapa Aa menggantungkan hal yang belum pasti? Tanda tangan kontraknya saja belum. Aa gegabah. Aku kecewa A." Tasya sekuat tenaga menahan amarahnya
"Oke kalau Aa tak peduli dengan sakitku. Tapi aku mohon jangan gegabah begitu." tambahnya kemudian
"Maaf Sya. Ini belum Aa bayar kok. Besok baru mau bayar. Kalau kamu gak suka, Aa kembalikan motornya pada Adam" Reza kini pasrah
"Bukan aku gak suka. Aku harap Aa sedikit bijak. Kalau tabungan sudah terkumpul banyak. Untuk hal yang penting sudah aman, aku gak melarang. Apa selama ini aku selalu melarang Aa? Aku gak pernah" ucap Tasya
"Ya sudah. Aa kembalikan saja motornya pada Adam" ucap Reza
"Tak usah! Aa lebih sayang motornya kan? Silahkan. Jangan khawatirkan biaya lahiran nanti. Aku masih punya Ayah!" ucap Tasya tegas
"Kok ayah? Kamu pikir Aa gak mampu apa!" ucap Reza
"Lihat saja sekarang? Aa lebih memilih menghabiskan tabungan hanya untuk motor itu kan" Tasya tak mau kalah
"Lahiran kamu masih ada beberapa bulan lagi Sya! Kita masih bisa nabungkan!" ucap Reza membela dirinya.
"Apa hidup Aa sesimple itu? Memangnya kita gak beli perlengkapan anak sebelum dia lahir? Memangnya nanti gak akan aqiqah?" Tasya menjelaskannya
Reza sedikit terbuka jalan pikannya. Selama ini dia hanya fokus untuk lahiran saja. Tanpa mengingat hal apapun.
"Maaf. Aa kembalikan lagi motornya" ucap Reza
"Aku tak pernah mempermasalahkan apapun pada Aa. Tapi aku hanya mohon, segala keputusan Aa cerita dulu sama aku sebelum Aa bertindak sendiri. Aku merasa tidak dihargai." ucap Tasya kecewa.
"Maaf sudah membuatmu marah" ucap Reza
"Aku gak marah, aku hanya kecewa" balas Tasya
Keduanya terdiam lama.
"Aa minta maaf sayang" ucap Reza kembali
"Sudahlah A. Aku malas berdebat. Mudah-mudahan saja rezeki Dedek lancar kedepannya" ucap Tasya
"Maaf Aa egois" ucap Reza lagi
__ADS_1
"Gak perlu minta maaf. Aku harap, kedepannya anakmu yang jadi prioritas" pinta Tasya