
"Bu, orang katering sudah datang." Mbak Diah mengetuk pintu kamar Tasya.
"Awas Pi tangannya." ucap Tasya saat Reza memeluknya erat.
"Nanti ah Mi." Reza masih dalam posisinya
"Papi ih, itu orang katering datang. Sudah tahu mau ada acara, bisa-bisanya minta jatah dulu" gerutu Tasya seraya mengangkat tangan Reza agar melepas pelukannya.
"Mami cantik sih bikin Papi gak tahan." ucap Reza seraya mengambil guling dan memeluknya. Reza memejamkan matanya kembali.
Tasya segera merapikan bajunya. Dia menatap cermin kemudian memakai kerudungnya kembali. Tasya memakai gelang dan cincin berlian miliknya sesuai permintaan sang suami. Setelah dirasa cantik, Tasya segera keluar kamar dan menuruni anak tangga.
"Saya suruh taruh disini Bu." ucap Mbak Diah menunjuk meja yang tengah terisi oleh makanan.
Petugas katering masih sibuk menata makanan lainnya.
"Iya memang disitu kok, Mbak. Nanti kalau mereka datang, puding keluarkan dari lemari es ya Mbak."
"Siap Bu."
"Ini mau arisan apa hajatan Bu?" tanya Mbak Uji pada Tasya saat melihat makanan berlimpah.
"Entahlah Mbak. Kalau A Reza sudah bertindak, harus ngikut kemauannya." Tasya menaruh tisu di samping sendok garpu yang tertata rapih.
Saat Tasya mengadu kemarin, Reza membatalkan meeting bersama para staff dan sengaja menemani Tasya mencari kue-kue serta memesan katering langganan keluarga mereka. Reza mengatur semuanya tanpa bisa dibantah oleh Tasya membuat Tasya menggelengkan kepalanya atas perilaku sang suami.
"Mereka sepertinya sudah datang, Bu" ucap Mbak Diah.
Tasya segera ke depan rumahnya. Beberapa mobil mulai parkir dihalaman rumahnya.
"Mamiiiii kenapa gak jemput sih! Aku jadi sama dia!" Vano kesal, dia tak mau mencium tangan Tasya dan segera masuk ke dalam.
"Kok gak sun tangan?"
"Aku gak mau! Kesal sama Mami!" ketusnya.
"Mam, Vano kayaknya ketakutan sama si Dira. Ini anak agresif banget sama Vano. Maaf yaa." ucap Bunda Dira yang membuat mereka berdua tertawa.
"Lumayan juga" ketus Cecil begitu turun dari mobilnya.
"Bagus loh Jeng. Aku pikir dia dibawah kita" ucap Mommy Selly.
"Silahkan masuk mommy semua." Tasya menyambut mereka seraya tersenyum.
"Wow, keren rumahnya Mam" ucap Bunda Dira. Mereka masuk melewati ruang tamu.
"Di ruang keluarga saja yuk, biar legaan." ajak Tasya. Semua mommy mengikuti Tasya seraya mengedarkan pandangan mereka. Tak dipungkiri, mereka nampak kagum dengan rumah baru Tasya.
"Mamiiii pasang dasiinya Miiii" teriak Reza saat menuruni anak tangga. Semua mata tertuju pada Reza.
"Oh sudah pada datang. Maaf Ibu-ibu, silahkan dilanjutkan" ucap Reza seraya menghampiri Tasya dengan membawa dasi miliknya.
"Sayang, pasang dasi Papi dulu. Papi terlambat nih" ucapnya seraya memberikan dasi pada Tasya. Mereka masih menyaksikan pasangan suami istri tersebut.
"Silahkan dilanjut saja. Saya pinjam sebentar istri saya ya Bu" Reza tersenyum ramah menghipnotis para Mommy yang melihatnya kemudian menarik tangan istrinya sementara Tasya masih terbengong melihat kelakuan Reza.
"Mami Papi kalau pacaran gak tahu tempat deh" celetuk Vano.
"Kok Vano tahu pacaran?" tanya Cecil
"Iya, kata Mbak aku, Mami Papi so sweet terus pacarannya." ucap Vano dengan polosnya membuat mereka nampak tak percaya. Sementara Cecil menatapnya tak suka.
"Papi berlebihan sekali." ucap Tasya saat mereka masuk ke dalam kamar Pak Danu.
"Biar mereka tahu gimana cintanya Papi sama Mami" ucap Reza santai
"Ini lagi, pakai dasi segala! Aktingnya pinter banget sih." Reza terbahak mendengarnya.
"Totalitas tanpa batas sayang. Cepet pasang dulu"
"Yakin mau di pakai ke kantor?" goda Tasya seraya memasangkan dasi pada suaminya.
"Haha. Enggak. Nanti di mobil Papi buka lagi"
"Ih Dasar" Tasya memukul pelan dada suaminya.
"Udah beres, yuk. Aku gak enak sama Ibu-ibu diluar pasti pada nunggu."
Mereka keluar dari kamar Pak Danu semetara Ibu-ibu sudah mencicipi cemilan yang disediakan.
"Bener-bener gak ada akhlak mereka Mi. Ngakunya orang kaya, baru lihat makanan, sudah kayak orang yang gak pernah nemu makanan enak." Reza berbisik di telinga Tasya seraya berjalan.
"Sstt Papi ih"
"Eh kita sudah cicip duluan Mom Vano, duh enak-enak banget. Pesan dimana sih ini?" tanya Cecil sok akrab
"Di toko kue langganan kami."
"Ibu-ibu saya permisi ya, silahkan jangan sungkan-sungkan." pamit Reza
"Silahkan Daddy" ucap beberapa orang bersamaan
"Sayang, Papi berangkat dulu ya. Love you" ucapnya seraya berjalan. Tasya hendak mengantarkannya.
"Gak usah di antar sayang, kan ada tamu. Ya udah Papi berangkat. Assalamu'alaikum." Reza mengecup pipi Tasya dengan sengaja.
"Ekhem..ekheem.." Mommy Selly menatap mereka.
"Iiih sweet banget sih Papinya Vano" ucap Bunda Dira.
"Duh maaf ya.. Suamiku kadang gak tahu malu" ucap Tasya jujur.
"Wah, rasanya kayak ABG melihat Mami Papi Vano." Mommy Selly mengomentari
"Aku awal-awal nikah saja loh begitu. Sekarang boro-boro." Ibu Diana nampak iri
"Aku malah kadang tidur saja terpisah, kalau tidur bareng, gak kuat sama suara dengkurannya." Mommy Angel ikut bersuara
Bebrapa mommy nampak mencurahkan isi hati mereka seraya becanda.
"Papi Vano kerja apa sih?" tanya Cecil penasaran.
"Kerja biasa saja Mom"
"Tahu gak aplikasi Petani Maju? Sayur online gitu?" ucap Bunda Dira
"Kenapa memang? Itu sih langganan aku, sayurnya fresh, banyak diskon, harganya murah lagi." celetuk Mommy Angel.
"Bener. Aku juga"
"Aku juga pakai"
"Ini yang punyanya Mom" Bunda Dira menggulirkan matanya pada Tasya sementara Tasya hanya tersenyum kikuk.
"Serius?" Mommy Selly nampak tak percaya.
"Petani Maju yang dekat taman kota itu bukan sih?" tanya Ibu Diana
"Iya." ucap Tasya seraya tersenyum malu.
"Ih keren yaa.."
"Wah, kayaknya kita bakal dapat banyak sayur gratisan." Cecil menimpali seolah ingin puas
"Itu sih urusannya Papi Vano, saya bendahara deh. Nunggu setoran" canda Tasya
"Bundaa, aku ingin punya playground kayak rumah Vano dong, Bun" Dira menghampiri Ibunya.
"Memang ada playground?" Cecil nampak tak percaya.
__ADS_1
"Ada tante di dekat kolam renang."
"Ih jadi penasaran deh Jeng, rumahnya." ucap Ibu Diana
"Iya sama."
"Boleh lihat-lihat gak sih?" Mommy Selly nampak antusias.
"Silahkan."
"Berapa kamar?" tanyanya
"Cuma 7 kamar."
"Wow. Cuma diisi kalian saja?"
"Ada Papa mertua."
"Mbaknya punya berapa?"
"Dua."
"Oh.." dia mengedarkan pandangannya.
'Ini mereka sedang sensus penduduk kali ya.'
"Mommy, aku boleh berenang gak?" juna berteriak.
"Kalian gak bawa baju. Gak boleh ya" ucapnya
"Eh makan saja yuk? Anak-anak ada pasta sama chicken, siapa yang mau?" ajak Tasya
"Akuu.."
"Aku juga tante."
"Mami! Masa kita baru ditawari makan sekarang. Aku laparnya sudah dari tadi tahu!"
"Abaaang, sini sama Mbak saja yuk. Mami kan lagi sama tamu" Mbak Diah menimpali
"Ck..oke. Mii kok gak ada pizza sih?"
"Masa tiap hari Bang harus makan Pizza?"
"Vano suka Pizza, Tante?" tanya Dira
"Iya Dira, kesukaan Vano pizza yang ada cheese and mushroom-nya"
"Ck. Mami malah dikasih tahu segala!" Vano melipat kedua tanganya.
"Nanti aku beli ya Van, kita makan berdua." ajak Dira dengan genitnya. Vano memutar bola matanya tak suka.
"Miii.. Mii.." Daffa digendong Mbak Uji menghampiri Tasya.
"Anak Mami baru bangun ya, lama banget sih bobonya" Tasya mengecup gemas Daffa.
Dering ponsel Tasya berbunyi. Mbak Diah segera mengambilnya di atas meja televisi.
"Bapak Bu" ucapnya
Tasya segera menggeser layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum Papi."
Beberapa orang menengok ke arah Tasya
"Wa'alaikumussalaam. Sudah pada pulang?"
"Belum Pi, kenapa?"
"Gak apa-apa. Mau lanjutin akting tadi saja."
"Papi bentar lagi jalan ya, ke hotel Mi. Ke hotel nih" ucap Reza
"Iya. Hati-hati Pi."
"Pi" Daffa memanggilnya
"Eh jagoan Papi. Apa sayang? Papi kerja dulu ya Dek?"
"U'um Pi (Huum Pi)"
"Adek jangan rewel ya, kasihan Mami."
"U'um"
"Ya udah, Papi tutup ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalaam."
"Duuh baru berangkat sudah di telepon. So sweet banget sih Papi Vano."
"Hehe, iya biasa suka kasih kabar dulu sebelum jalan mau meeting atau kemana gitu." ucap Tasya membuat Cecil mendelik enggan melihatnya.
"Oh bagus dong. Aku pikir gara-gara gosip kemarin, Mamy dan Papi Vano gimana gitu soalnya kan gak masuk sekolah tuh" ceplos Mommy Angel
"Hehe.. Enggak. Aku tahu kok tiap suamiku pergi" ucap Tasya
"Bagus ya Papi Vano, suamiku kalau sudah berangkat kerja ya sudah gak ada kabar lagi sampai nanti pulang. Paling via pesan juga nanya anak-anak sudah makan atau belum." ucap Bunda Dira
Yang lain ikut menimpali.
"Eh, makan yuk ibu-ibu." ajak Tasya.
Mereka mengantri untuk mengambil Makanan.
"Ya Tuhaan, enak-enak banget makanannya."
"Iya enak banget"
"Keren deh Mami Vano, semuanya oke banget" puji Mommy Selly
"Terima kasih." Tasya nampak puas. Dalam hatinya dia berterima kasih pada Reza.
Semua acara hampir selesai, perut mereka sudah terisi oleh makanan enak yang disuguhkan Tasya. Namun tanpa tahu malu, Cecil dan teman lainnya minta membungkus makanan yang masih tersisa disana.
Diam-diam, Mbak Uji merekam kelakuan mereka. Sementara Tasya hanya mempersilahkan mereka untuk mengambil apapun sesuka hati mereka.
Tak berapa lama, mereka pamit pulang menyisakan piring kotor yang semuanya telah habis dibawa oleh mereka.
"Ibu aku kok gemes deh Bu." Mbak Uji membuka suara
"Gemes kenapa?"
"Ngakunya orang kaya, tapi ya ampun makanan sisa saja masih dibungkus. Dasar serakah"
"Dia marah karena gak kebagian makanan Bu" ucap Mbak Diah yang membuat Tasya tertawa.
"Ya itu juga sih salah satunya" ucap Mbak Uji.
"Iya nih gak ada yang sisa. Alhamdulillah laris manis kita" ucap Tasya
"Padahal aku penasaran sama yang tadi" ucap Uji
"Yang mana?" Tasya meliriknya
"Itu loh Bu, ayam yang besar itu" Mbak Diah menimpali
"Oh, ayam kodok?"
__ADS_1
"Gak tahu Bu apa namanya."
"Nanti kita pesan lagi deh ya. Aku juga suka kok kalau itu." ucap tasya.
"Yeee.. " Mbak Uji senang mendengarnya.
***
"Haha.. Ngakunya kelas atas, makanan sisa saja pada di bungkus" Reza terbahak saat mendengar cerita Tasya.
"Aku juga heran Pap, malah Mbak Uji ngomel karena gak kebagian makanan" Tasya tertawa.
"Parah sih itu Mi." Reza merebahkan tubuhnya. Tasya mengikuti suaminya.
"Terima kasih sayang sudah bantu Mami." Tasya mengecup lembut suaminya. Reza hanya tersenyum.
"Mereka iri tuh sama Papi. Ih Papi Vano so sweet." Tasya mengubah posisinya "Sweet aja kalau lagi akting"
"Yakin akting doang?" Reza melingkarkan tangannya diperut Tasya. Dia ikut mengubah posisinya hingga berada dalam dekapan Tasya.
"Mi, udah telat belum sih?"
"Apa?"
"Datang matahari"
"Belum sayang. Sabar dong." Tasya membelai lembut rambut Reza.
Reza menciumi leher Tasya. "Pi, diem ah."
"Papi kasih stampel ah."
"Enak aja! Enggak boleh. Nanti si Mbak lihat gak enak."
"Biarin sudah biasa."
"Iya tapi tetap saja mereka tuh suka melototin leher Mami tahu, kalau ada bekasnya."
" Jiwa jomblonya meronta-ronta kali Mi." Reza tertawa
"Makanya hargai mereka."
"Berapa sih haraganya Mi?"
"Kenapa mau dibeli?"
"Kalau seribu dapat tiga mah bungkus."
"Ih nyebelin"
"Emang Papi mau poligami?"
"Apa sih, ngaco kalau bicara."
"Ya barangkali mau."
"Enggak lah sayang. Satu saja bikin mabuk kepayang."
"Ih dasar! Sudah tidur! Aku ngantuk."
***
"Mi, Mami jangan titipkan aku ke Maminya Dira lagi, Mi. Nanti pulang pokonya harus jemput" rengek Vano
"Emang Mami kemarin gak jemput, Bang?" Reza pura-pura gak tahu
"Enggak Pi. Mami malah titipkan aku sama Maminya Dira. Aku gak suka."
"Yang bikin Mami gak jemput, siapa coba!" gerutu Tasya
"Mami nakal ya Bang"
"Terus kenapa sih Abang gak mau sama Dira?"
"Abang gak suka Mi! Masa dia gemes sama Abang katanya. Abang memang bikin gemes. Tapi gak mau kalau sama dia Mi"
"Kenapa? Dira cantik loh."
"Dira dekat dekat Abang terus ih. Harusnya cewek pendiam kan Pi?"
"Oh iya, kayak Mami dulu tuh, Mami pendiam sampai Papi gemas sendiri. Di deketin mau kabur kalau gak Papi ancam"
"Anak kamu jual mahal Papi"
"Percis Mami dong" canda Reza
"Baguslah. Dari pada kayak Papi kesana kemari."
"Ih kata siapa? Papi mah cool. Boro-boro dekati wanita."
"Beberapa kali tuh Papi ketahuan. Ketemu mantan lah, ketemu orang baru kasih nomornya lah."
"Itukan dulu. Lagipula sekali doang Mi."
"Tetap saja kan. Genit ya genit."
"Stop! Kenapa Mami Papi yang bertengkar sih?"
"Enggak bertengkar sayang, Papi cuma kasih tahu , kamu bagus jual mahal kayak Mami."
"Apanya yang dijual mahal Pi?"
"Emang Mami jualan apa?"
"Duh punya anak kreatif sekali kasih pertanyaannya."
"Kalau sudah makannya, cepat berangkat." ajak Taysa
"Papi saja yang anter Mi. Nanti pulangnya Mami yang jemput."
"Aku setuju." ucap Vano
Mereka berpamitan pada Tasya.
"Pi, kata teman aku. Mereka mau punya rumah kayak kita" Reza tersenyum bangga
"Kenapa ingin rumah kayak kita?"
"Kan ada playgroundnya sama kolam renang."
"Tapi aku gak punya kolam ikan Pi"
"Kamu mah dikasih hati minta jantung." gerutu Reza
"Apa itu Pi?"
"Gak apa-apa. Kalau kamu mau kolam ikan, nanti kolam renangnya Papi masukan ikan duyung."
"Masa aku berenang sama ikan Pi?"
"Gak apa-apa. Nanti kamu jadi putra duyung sekalian" gerutu Reza.
.
.
.
Temaanss jangan lupa like dan komentarnya yaa.. Bantu vote yang banyak jugaaa. Terima kasih ^^
__ADS_1