BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Field Trip Dari Sekolah


__ADS_3

Tasya mendapatkan email dari sekolah Vano terkait dengan diadakannya field trip dari sekolah Vano.


Para Mommy sudah sangat antusias dengan kegiatan tersebut. Begitupun anak-anak nampak tak sabar untuk melakukan kegiatan diluar sekolah mereka.


"Papi Vano ikut Mam?" tanya Ibu Diana


"Belum tahu sih. Memang yang lain pada ikut Papinya?"


"Ayah Dira sih bilangnya mau mengusahakan. Tapi belum tahu juga."


"Mudah-mudahan bisa deh" ucapnya


"Suamiku sih bilangnya bisa ikut Mam, tapi gak tahu juga" ucap Bunda Diana.


Tak berapa lama, anak-anak keluar dari kelas mereka.


"Mamiiiii." Vano meraih tangan Taysa kemudian mengecupnya.


"Kata Miss Devi kita mau field trip Mami."


"O ya? Kemana?"


"Hmm kemana ya? Aku gak tahu. Yang jelas yang banyak mainannya gitu Mi."


"Eh ada flying.. Flying apa Mi?"


"Apa coba?"


"Entahlah. Aku lupa namanya." ucap Vano naik ke dalam mobil mereka.


"Mi, Papi bisa ikut kan?"


"Mami belum tahu sayang, soalnya kan Papinya kerja."


"Nanti aku ajak Papi sama Adek ya Mi, kasihan mereka kalau gak ikut."


Tak berapa lama mereka tiba dirumah. Vano disambut oleh Pak Danu dan Daffa yang sedang bermain.


"Opa tahu gak? Aku kan mau field trip dari sekolah"


"Kemana Bang?" tanya pak Danu antusias


"Aku lupa kemana. Yang pasti seru Opa"


"Yah, masa gak tahu mau kemana? Opa boleh ikut?"


"Gak boleh Opa. Memangnya Opa mau main sama anak-anak kayak aku?"


"Haha.. Kan seru kalau main sama Abang."


"Ck.. Opa, kan banyak anak-anaknya. Nanti Opa pusing kalau banyak anak-anaknya." Vano hendak melepas bajunya.


"Tolong buka baju aku Opa"


"Yah, masa buka baju masih minta tolong sih. Katanya sudah besar."


"Aku tuh bukan gak bisa Opa. Tapi aku capek." pak Danu sontak tertawa.


"Dasar Reza, bisanya ngeles terus."


"Namaku Elvano Satria Martadinata, Opa. Reza itu nama Papiku. Ya ampun, Opa memang pelupa sekarang. Masa gak bisa bedakan aku sama Papi" Pak Danu makin terbahak.


"Jangan diladenin Pa, anak itu makin menjadi kalau diladenin."


"Menjadi apa Mi?"


"Jadi-jadian" celetuk Pak Danu


"Opa.. Opa.. Aneh banget deh."


Dia meninggalkan Pak Danu yang tertawa.


***


"Mami, aku boleh berenang?"


"Jam berapa ini?"


"Jangan tanya aku Mi, aku belum mengerti."


"Sebentar Mami lihat jam dulu"


"Mi, coba lihat ponsel Mami. Disana kan ada jam. Kenapa Mami malah lihat di kamar sih?" Vano mengikuti Tasya masuk ke dalam kamar.


"Ponsel Mami ada di kamar." Taysa membuka ponselnya.


"Bang main yuk" ajak Daffa menghampiri mereka didampingi oleh Mbak Uji.


"Dek, Abang mau berenang. Adek mau ikutan?"


"Mauu"


"Adek bilang sama Mami deh. Sana bilang dulu."


"Mi, Daffa Mi, katanya mau ngomong sama Mami." Vano naik ke atas kasur sementara Daffa mendekati Maminya.


"Sebentar, Mami baca dulu pesan grup sekolah kamu." ucap Tasya.


"Lama deh. Kenapa sih Ibu-ibu suka lama kalau pegang ponsel? Aku gak ngerti." Tasya hanya tersenyum mendengar ocehan Vano.


"Miii aku mau renang, mamiiii. Cepetaan!" Vano mulai tak sabar.


"Ya sudah sana. Sama siapa berenangnya?"


"Mbak Ujiii. Iya kan Mbak?"


"Siap" ucap Mbak Uji yang ikut senang.


"Yeesss.. "


"Mbaakk, ayo mbak aku mau ganti baju renang dulu."


Daffa dan Vano kini tengah memakai baju renangnya. Namun Daffa selalu merengek untuk membuka kembali baju renang yang ia kenakan sebelum turun ke kolam.


"Adek kenapa sih baju renangnya selalu di lepas?"


"Adek baju renangnya takut basah, Bang" ucap Mbak Uji


"Daffa.. Daffa.. Aneh sekali jadi anak" Vano turun ke dalam kolam.


***


"Mi, aku kedinginan Mi. Aku jadi lapar." Vano menghampiri Tasya yang sedang menonton televisi.


"Ya sudah, mau makan? Mami suapi ya?"


"Sepertinya pizza enak Mi."


"Enggak. Gak boleh. Tiap hari makan itu terus."


"Miii aku mau pizza." rengek Vano


"Kok Abang rewel sih?"


"Aku maunya pizza Mami. Mami pelit gak mau belikan aku pizza"

__ADS_1


Tasya sengaja tak mau mendengar rengekan Vano.


"Adek makan sama apa sih? Ih pinter banget." Tasya sengaja berbicara begitu di depan Vano


"Mami sayangnya sama Daffa, gak sayang aku." Vano kesal.


"Aku mau telepon Papi aja. Papi yang sayang aku."


"Telepon saja Papinya. Nanti kamu yang dimarahi Papi karena gak mau makan nasi"


Tasya menghubungi Reza kemudian memberikan ponselnya pada Vano.


"Assalamu'alaikum sayang."


"Wa'alaikumussalaam. Bukan sayang Pi"


"Kenapa Abang sayang?"


"Jangan pakai sayang, Pi" Vano protes


"Haha. Iya ada apa, Bang?"


"Aku mau pizza Pi, masa sama Mami gak boleh. Padahal aku sudah lapar banget Pi"


"Kemarin sudah pizza juga. Kenapa setiap hari maunya itu?"


"Karena enak Papi. Papi beliin pizza please Papi"


"Mami marah gak?"


"Mami jahat gak mau belikan aku pizza. Mami lebih sayang sama Adek" keluh Vano seraya cemberut


"Dia gak mau makan nasi Pap" teriak Tasya


"Mami, jangan ikut-ikut bicara sama Papi." Vano melirik kesal pada Tasya


"Kenapa Abang gak mau makan nasi?" suara Reza nampak serius


"Karena aku ingin pizza!" Vano merengek.


"Mi, beliin aja Mi. Berisik dia kalau sudah ingin sesuatu"


"Enggak." Tasya ikut kesal pada suaminya.


"hhh.. Nanti dilanjut ya, Papi ada tamu nih." Reza menvoba memberi alasan, dia mematikan ponselnya. Seketika Vano menangis.


Tasya membiarkan anaknya yang menangis. Tak berapa lama, suara tangisnya terhenti setelah perhtaiannya teralihkan oleh tayangan kartun kesayangannya. Vano merebahkan tubuhnya di atas karpet.


"Mbak, ada paket." ucap Pak Bejo penjaga rumah.


"Oh, terima kasih Pa." ucap Mbak Diah setaya mengambilnya dari tangan Pak Bejo.


"Bu" Mbak Diah memperlihatkan box Pizza.


"Papi pesenin juga." gumam Tasya


"Anaknya tidur?" ya ampun" Tasya memindahkan Vano ke atas sofa.


"Capek habis renang langsung nangis." ucap Mbak Diah


"Huum. Kalau sudah ingin sesuatu kayak Bapaknya. Gak berhenti ngerengek."


Tasya mengecup lembut pipi Vano.


"Adek mau pizza?"


"Mau Mi"


Tasya membuka satu box Pizza, dia menyuapi anaknya kemudian membagikannya pada pengasuh dan penjaga rumah mereka.


***


"Abang gak mau Pi. Abang belum ngantuk."


"Besok sekolah Bang" Reza mematikan televisi.


"Mi, garuk punggung Abang gatal Mi." rengek Vano


Tasya membuka baju belakang Vano kemudian menggaruk punggung anaknya dengan sabar.


"Pegel deh, kalau sudah minta digaruk begini gak mau berhenti."


"Sini biar Papi yang garukin Mi." Reza menggantikan istrinya.


"Dimakan tadi pizzanya Mi?"


"Begitu datang, anaknya tidur. Pas bangun langsung lahap makan pizza. Habis tiga potong sendirian." ucap Tasya


"Kenapa coba terus-terusan dipenuhi keinginannya Pi? Anaknya tuh nanti keenakan Papi. Mending kalau kita ada, kalau lagi gak ada gimana? Kebiasaan Papi tuh terlalu memanjakan anak-anak"


"Selagi ada kan Mi."


"Ya gak gitu juga Pi. Anaknya nanti terbiasa, minta dikit di kasih. Sekalinya gak dikasih nanti berontak.


"Papi mah apa-apa di turutin kemauan anak. Mau ini dibeliin, mau itu dibeliin."


"Ya dari pada ngerengek."


"Ya gak apa-apa ngerengek juga. Mereka sudah biasa. Ini baru Vano loh, belum Daffa. Kalau Daffa sudah ngerti pasti sama."


"Belum lagi nanti princessnya Papi. Paling dia ngerecokin Mami minta make up" ucap Reza seraya tersenyum


"Ih orang lagi serius juga!" gerutu Tasya.


"Abang pindahkan ke kamarnya ya Mi?"


"Disini saja Pi."


"Sempit ah." Reza memangku anaknya memindahkan dia ke kamarnya.


Reza tersenyum saat masuk kembali ke kamar.


"Papi mau ikut field trip?"


"Yang lain sama Papinya juga?"


"Gak tahu, ada yang ikut, ada yang enggak juga."


"Kapan si Mi acaranya?"


"Minggu depan. Makanya, kalau mau ikut ya bayar dari sekarang."


"Besok deh Papi tanya dulu sama Adit, Mi. Tidur ah, ngantuk." Reza memeluk istrinya seperti biasa.


***


Acara field trip pun tiba. Tasya dan Vano memakai kaos yang diberikan oleh sekolah. Tasya membawa semua perlengkapan mereka hingga baju ganti untuk anaknya. Dia terpaksa meninggalkan Daffa bersama mertua dan pengasuhnya karena Reza tak bisa ikut dalam acara tersebut.


"Abang, pakai topinya Bang." pinta Tasya


"Mi, rambut aku nanti jelek kalau aku pakai topi Mi." Vano tak suka.


"Ya sudah kalau gak mau."


Tasya menggenggam tangan mungil Vano yang berjalan menuju bis mereka.

__ADS_1


"Papi Vano gak ikut?" tanya Cecil yang sedang mengobrol bersama gengnya diluar bis.


"Gak bisa meninggalkan pekerjaannya" jawab Tasya


"Kok gitu ya? Padahal perusahaan miliknya sendiri. Tapi masa gak bisa lepasin sehari saja."


"Maklum orang penting Mam." ucap Ibu Diana.


Tasya hanya tersenyum mendengar sindiran mereka.


"Untung gak terlambat." ujar Bunda Dira mendakati Tasya dengan nafas tersengal.


"Kesiangan Bun?" tanya Tasya


"Iya nih salah setting alarm." ucapnya


"Papi Vano gak ikut?"


"Ada kerjaan."


"Sama. Ayahnya juga ada operasi. Jadi gak bisa di tinggal."


Mereka masuk ke dalam bis. Vano sangat antusias karena ini kali pertamanya naik bis.


"Mi seru naik bis, Mi. Nanti Papi biar beli bis saja ya Mi" pinta Vano


"Mau parkir dimana memangnya?"


"Di depan rumah saja Mi" Vano tersenyum senang.


Vano dan Tasya menikmati perjalanan mereka hingga tiba di tempat wisata yang mereka tuju.


"Sejuk ya tempatnya." ucap Bunda Dira


"Enak ya, cocok buat kita yang sehari-hari berkawan dengan polusi." Tasya menimpali.


"Mommy and Daddy silahkan menunggu anaknya bermain yaa. Nanti anak-anak satu persatu memulai permainan mulai dari jaring laba-laba atau spider net kemudian mengikuti alur sampai ke flying fox ya Mommy, Daddy."


Para orangtua menunggu anak-anak mereka sambil bersenda gurau satu sama lain.


Kini tiba giliran Vano, dia dengan penuh percaya diri menapaki tali yang membentuk jaring laba-laba hingga dia sampai di atas. Setelah sampai atas, Vano diarahkan untuk melintasi jembatan gantung dengan pengamanan dibawahnya. Kemudian setelah sampai diujung, Vano dipasangkan pengaman untuk meluncur di flying fox. Dia nampak senang saat melakuan semua kegiatan tersebut.


Vano tengah selesai dengan misinya, kini giliran Juna. Cecil dan suaminya menyemangati sang anak dengan suara lantang. Saat menaiki jembatan gantung, Juna menangis kencang membuat Cecil menggerutu kesal tanpa tahu malu.


Setelah semua kegiatan selesai, orangtua dan anak-anak menikmati makan siang bersama. Tasya menyuapi Vano dan dirinya sendiri bergantian.


"Mi, kalau ada Papi sama Daffa pasti seru ya Mi." ucap Vano.


"Iya. Nanti lain kali kita kesini ya sama Papi dan Adek.


"Mam, itu bukannya Papi Vano?" tunjuk Bunda Dira diikuti oleh lirikan Mommy yang lain.


Reza memakai setelan casualnya seperti biasa dengan menggunakan kacamata andalannya berjalan menghampiri mereka.


"Papiii, yeee Papii datang Mii" Vano melonjak kegirangan. Dia berlari ke arah Papinya, dengan sigap Reza menangkap anak sulungnya dan mengangkatnya ke udara. Hal itu menjadi pemandangan bagi mereka yang menyaksikannya.


"Duh sampai di susulin begitu Mam" ucap Ibu Diana


"Kemarin bilangnya sih sibuk."


Reza mendekati Tasya seraya menggendong anaknya.


"Papi pulang dulu?"


"Enggak. Begitu urusan beres, Papi langsung kesini." ucapnya.


"Itu bajunya?"


"Papi bawa sebelumnya Mi."


Vano bercerita dengan heboh pada Reza tentang kegiatannya yang telah dia ikuti.


"Papi sudah makan?"


"Sudah sayang. Tadi dijalan Papi beli burger."


"Mommy, Daddy, saatnya anak-anak berenang yaa.. Silahkan mendampingi mereka. Atau jika tidak bisa mendampingi, nanti bersama Miss yang akan mendampingi."


"Mi ayo Mi berenang. Ada ember tumpahnya itu. Pasti seru Mi." ujar Vano dengan wajah bahagia.


"Ayo. Mami salin dulu ya."


"Enak aja! Gak boleh! Kamu renang sama Papi, Bang"


"Yang lain sama Maminya juga Pi"


"Kan mereka Papinya gak ikut. Tuh yang Papinya ikut, sama Papinya."


"Ya udah buruan Pi"


"Papi emang bawa celana pendeknya." tanya Tasya


"Ini Papi pakai sekalian Mi." Reza tersenyum.


Mereka berjalan ke arah kolam renang.


"Nih kaosnya. Papi gak bawa salin." Reza bertelanjang dada membuatnya terlihat lebih seksi.


"Pakai baju aku aja Pi" Tasya tertawa


"Enak aja!"


"Let's go Pi." ajak Vano.


Tasya menunggunya bersama Bunda Dira.


"Papi, kenapa Dira dekat-dekat kita terus sih!" Vano nampak kesal.


"Gak apa-apa, kasihan Bang. Dia gak ada yang jaga. Papinya kan gak ikut."


"Kenapa gak sama Miss!" Vano nampak kesal


"Hot Daddy banget sih Papi Vano. Bodynya wow. Kayaknya permainannya menggigit" ceplos Bunda Dira yang mengagumi Reza


Tasya sedikit bangga dengan ketampanan suaminya yang membuat para Mommy iri.


"Ih Bunda Dira ya ampun pikirannya sampai kesana" Mereka tertawa.


"Jauh banget sama Papinya Juna. Lihat tuh perutnya maju ke depan gitu." Bunda Dira tertawa


"Huss.. Bunda Dira nih jadi komentator dadakan."


"Haha..habisnya ketara banget tahu Mam."


Reza membawa Dira dan Vano menunggu ember besar menumpahkan airnya dari atas. Reza menutupi kedua anak tersebut dengan tubuhnya.


Tiba-tiba Mommy Selly dan Ibu Diana berada disamping Reza beserta anak-anaknya. Saat ember menumpahkan airnya. Keduanya nampak mendekat ke arah Reza, bahkan Mommy Selly dengan sengaja memeluk lengan Reza dari arah samping seolah meminta perlindungan. Reza yang tak sadar hanya tertawa saat tumpahan air ember menghujani mereka. Mereka nampak suka cita.


"Ya ampun Maam.. Itu mereka sengaja banget ya.." ucap Bunda Dira yang membuat Tasya terasa panas.


.


.


.

__ADS_1


Mwnikamti malam minggu dengan membaca BSN. Yuukk like dan komentarnya ditunggu yaa.. Jangan. Lupa vote juga. Terimakasih ^^


__ADS_2