BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Ikut Pulang


__ADS_3

Reza menumpu kepalanya dengan sebelah tangannya menghadap sang istri yang tidur dengan pulas.


Dia membetulkan selimut istrinya yang melorot dan menutupinya hingga ke leher.


'Haha... Diamond is winner. Tahu gitu dari awal-awal si diamond suruh nyerang dia.' batinnya.


Reza mengecup gemas bibir tipis istrinya berkali-kali, sementara Tasya hanya menggeliat.


'Kasihan yang habis goyang, kecapean kayaknya' Reza tersenyum simpul mengingat pergulatannya bersama Tasya tadi. Tasya lebih mendominasi permainan mereka karena takut dengan kandungannya. Sementara Reza bersorak dibawahnya menikmati setiap gerakan dari sang istri, dan hanya menguasai di babak terakhir.


Mereka masih bertelanjang, hingga dirasa perut Reza seolah diperas. Reza segera memakai pakaiannya. Dia berlari ke kamar mandi.


"Duh.. Mules banget." Reza masuk ke dalam kamarnya.


Dia berbaring kembali disebelah Tasya. Baru beberapa menit memejamkan mata, Reza kembali berlari ke kamar mandi.


"Makan apa ya tadi? Masa sih gara-gara sushi?" Reza mengingat-ngingat penyebab sakit perutnya.


Reza tidur dengan gelisah Karena perutnya yang dirasa tak nyaman. Beberapa kali dia membolak balikan tubuhnya membuat Tasya terbangun.


Tasya memicingkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu yang ada dikamarnya.


"Kenapa sih A?" tanya Tasya


"Sakit perut Mam." keluhnya.


Tasya melihat tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Dia bangun dengan membawa selimut menutupi dirinya. Tasya mengambil daster miliknya lalu mengenakannya.


"Mau kemana sayang?" tanya Reza


"Kamar mandi" ucapnya singkat


Tasya mengambil obat sakit perut dari kotak obat untuk suaminya.


"Nih minum" ucapnya


Reza mengambil obat tersebut kemudian meminumnya.


"Sudah tahu punya perut gak kuat pedes pagi-pagi minum sambel oncom" Tasya memarahinya.


'oh pantesan. Aku kira gara-gara sushi tadi' batinnya


Reza hanya tersenyum kemudian memeluknya dari belakang.


"Apa sih!" Tasya kaget tiba-tiba dipeluk suaminya


"Ini baru Mami"


"Emang kenapa?"


"Ngomel-ngomel" Reza tersenyum


Tasya hanya diam.


"Sana tidur lagi" ucap Tasya


"Yuk sama Mami" ajak Reza


***


Pagi hari, Tasya menyuapi Vano sambil bermain dihalaman. Sementara Reza masih pulas karena tidurnya terganggu semalaman.


"Kamu mau pulang Sya?" tanya Ibu saat Tasya menaruh mangkuk kotor bekas makan Vano.


"Enggak Bu. Kenapa?"


"Kasihan Reza kalau harus bolak balik kesini." ucap Ibu


Tasya terdiam.


"Aku masih betah disini Bu." ucapnya


"Ibu sih kalau Reza kasih izin mah gak apa-apa kamu mau disini juga." ucap Ibu


"Iya Bu, nanti aku tanya lagi. Mudah-mudahan boleh tinggal disini. Disana juga nanti aku dicuekin lagi sama A Reza. Males banget kan jadinya." ucap Tasya


Tasya sengaja masuk ke dalam kamar. Disana Reza sedang melipat selimut yang dia pakai.


"Sarapan dulu A" ucap Tasya


"Iya sayang. Mami sudah sarapan?"


"Belum. Aku gak nafsu makan"


"Nafsu sama diamond ya Mam" goda Reza


"Apa sih gak jelas deh! Sana cuci muka, bau tahu!"


Reza tertawa kemudian keluar kamar sementara Tasya duduk di tepi kasur. Dia bimbang harus ikut suaminya pulang atau tinggal di rumah orangtuanya.


Tak lama, Reza masuk kembali ke dalam kamar.


"Kenapa Mam?" tanya Reza


"Gak apa-apa"


Reza mengelus perut istrinya.


"Sakit sayang?" tanyanya


"Enggak."


"Mau lagi yang semalam?" goda Reza


"Apa sih A Reza!" Tasya kesal, Reza selalu membahasnya.


"Becanda sayang."


"Yuk sarapan." ajak Reza


"A Reza pulang jam berapa nanti." tanya Tasya


"Mami maunya jam berapa?" tanya Reza


"Aku masih mau disini." ucap Tasya


"Tapi kan Mam.. "


"Aku lebih nyaman disini A. Daripada dirumah A Reza."


'Belum luluh betul nih' batin Reza


"Mami masih marah?" Reza menggenggam tangannya


"Enggak. Cuma aku lebih nyaman disini saja."


"Mami mau kita jauhan terus?" tanya Reza


"Hmm.. Entahlah. Aku sih lebih nyaman disini. Ada yang manjain." sindir Tasya


"Mam.. "


"Papi kan sudah janji Mam"


"Aku takut A Reza cuma janjinya saja. Lagipula perjanjian kita tiga bulan kan aku disini" ucap Tasya


"Mam, Papi harus lakuin apa lagi biar Mami percaya dan bersikap seperti biasa lagi ke Papi?" tanya Reza


"Apa A Reza bisa dipercaya lagi? Aku kok gak yakin sama janji A Reza." ucap Tasya


"Kalau Papi begitu lagi, Mami boleh lakukan apapun semau Mami" ucap Reza tegas

__ADS_1


Mereka terdiam cukup lama.


"Sarapan dulu saja" ajak Tasya. Reza mengekori dibelakangnya.


Taysa menghampiri Mbak Diah yang bermain bersama Vano.


"Mbak, beresin saja baju Mbak ya. Kita pulang" ajak Tasya pada Mbak Diah.


"Biar Vano aku yang pegang, Mbak." ucapnya kemudian. Mbak Diah segera masuk ke dalam.


Tasya membawa Vano ke ruang makan.


"Sini sama Papi, Bang" ajak Reza


"Habiskan saja dulu makannya." ucap Tasya


"jangan digendong begitu. Biarkan dia jalan sendiri Mam." ucap Reza


Tasya menurunkan Vano mengajaknya bermain di ruang televisi.


***


Tasya membereskan baju miliknya dan milik Vano ke dalam koper. Tak berapa lama, Reza masuk ke dalam kamar.


"Papi bantu sayang" ucapnya.


Tasya hanya diam tak menyahutinya.


"Mam, Mami kok masih jutekin Papi sih?" tanya Reza


Tasya diam. Reza segera memeluknya dari belakang.


"Sayang, kalau jutek kayak gitu bikin nafsu tahu" Reza meremas dada Tasya membuat Tasya sedikit terperanjat.


"A Reza!" Taysa melepaskan pelukannya


"Habis Mami jutek terus. Siapa yang tahan coba dijutekin." Reza cemberut


"Ayo ngulang yang semalam deh, biar Mami mendes*h gak jutek"


Tasya yang malu menyubit lengan suaminya.


"Nyebelin tahu gak!"


"Mami juga." Reza tak mau kalah.


"Sekali lagi yuk, nagih nih si diamond." Reza mendekatkan tubuhnya membuat Tasya tertawa kecil seraya mendorong Reza.


"Ih lagi beberes juga." gerutu Tasya


"Nanti saja itu mah." Reza makin gencar menggoda Tasya. Tasya mundur sampai dia berdiri menempel dengan kasur.


Reza menggiringnya hingga Tasya terlentang diatas kasur dengan kaki menjuntai ke lantai.


"A Reza ih!" Tasya menyubit perut suaminya saat Reza mengungkung tubuhnya.


"Kalau Mami masih jutek, Papi gak bakalan berhenti." ucap Reza


Dia menurunkan kepalanya membuat Tasya memalingkan wajahnya agar tak dikecup Reza. Reza hanya tersenyum, dia senang bermain-main dengan istrinya.


"Mami kayak gitu, enak banget Papi bisa kasih kissmark disini" ucapnya seraya menunjuk leher Tasya.


"Jangan!" Tasya segera menutupinya


"kalau masih jutek Papi tandain banyak" ancamnya lagi.


"A Reza ih nyebel.. "


Reza mendaratkan kecupannnya dibibir Tasya.


" Sayang, jangan jutek terus dong. Hati Abang gak kuat Dek, Adek jutekin terus." godanya


"Tapi suka kan?"


"Enggak!"


"Buktinya semalam.. " Tasya membungkam mulut Reza


"Ya iyalah orang terus-terusan di rangs*ng" ucap Tasya


Reza tersenyum lagi. Menghipnotis Tasya dengan senyumannya yang menawan.


"Tapi enak kan?" godanya


"Iih! Sudah sana! Gak kelar-kelar nanti."


"Bilang dulu dong Mami sayang banget sama Papi" pinta Reza


"Enggak."


"Yakin gak mau?" Reza memberikan tusukan pada pinggang Tasya


"A Reza iih!"


"Ayo bilang dulu. Jangan manggil A Reza A Reza terus deh Mam."


"Terus manggil apa? Mang Udin?"


Keduanya tertawa.


"Wajah ganteng nan rupawan begini dibilang Mang Udin." protes Reza


"Ya sudah, Michael Ujang" ucap Tasya kemudian


"mm.. Mancing ini. Mancing..." Reza mendaratkan ciumannya disembarang leher Tasya membuat Tasya meronta geli.


Reza menyelipkan jemarinya diantara jemari Tasya, menahan tangan Tasya agar tak menutupi tubuhnya sementara bibirnya masih bergerak kesana kemari memberi rangsangan di area leher Tasya.


Tasya yang ikut terhanyut hanya menikmati ulah suaminya tersebut. Reza membuka kancing daster Tasya. Dia memberikan kissmark diarea dada Tasya membuat Tasya sedikit meringis.


'tok..tok..tok..'


"Mami.. " suara Mbak Diah dari balik pintu.


Reza dan Tasya terperanjat. Dia segera merapikan baju sementara Reza membuka pintu.


"Vano dari mana sih?" tanya Reza saat membuka pintu.


"Papi cariin dari tadi Vano gak ada. Akhirnya Papi bantu Mami beresin baju Vano" ucap Reza seraya memangku Vano


"Mbak sudah packing?" tanya Reza


"Sudah Pak." Reza keluar lagi sambil menggendong Vano sementara Vano meronta dan menangis karena ingin bersama Tasya. Reza masuk kembali ke kamarnya.


"Gara-gara Abang, Papi sama Mami gak jadi deh..euh!" Reza mencubit gemas pipi anaknya


"Bagus Bang. Biar Papi gak nyebelin terus." ucap Tasya seraya mengambil Vano dan menidurkannya.


"Buatkan susu Pap. Ngantuk kayaknya dia" ucal Tasya


"Siap Bos" Reza keluar kamar.


***


Tasya masih menidurkan Vano, sementara Reza melanjutkan pekerjaan Tasya yang tadi tertunda karena digoda olehnya.


"Abis dzuhur saja ya pulangnya Mam. Sore takutnya macet" ucap Reza


"Iya" jawab Tasya singkat.


"Ini ada lagi gak Mam yang harus dimasukin?" tanyanya kemudian

__ADS_1


"Ambil jemuran dibelakang. Audah kering belum" titahnya.


Reza bergegas keluar kamar.


Tak lama dia masuk kembali dengan beberapa potong baju Vano.


Setelah dzuhur, Reza sibuk memasukan barang mereka ke dalam bagasi. Sementara Vano masih bermain bersama Rasya.


"Baik-baik ya Neng disana." ucap Ibu saat mereka pamit


"Iya Bu."


Tak lama, Reza menghampiri mereka.


"Ibu titip Tasya ya, jangan dicuekin lagi. Nanti kabur lagi kesini" ucap Ibu seraya tertawa.


"Hehe iya Bu. Maaf kita ngerepotin." ucapnya.


Setelah acara pamit selesai, Reza melajukan mobilnya. Kini dia memboyong pulang keluarganya ke rumah. Reza bersorak dalam hati karena masih bisa meluluhkan istrinya untuk ikut pulang bersamanya.


"Sayang, mau beli sesuatu dulu?" tanya Reza


"Apa ya?" Tasya nampak berpikir


"Beli cilok?" Reza memberinya usul


"Boleh deh."


Reza segera membeli pesanan istrinya, tak lupa dia juga membelikan Mbak Diah makanan yang sama.


Sepanjang jalan, Reza tak henti melirik istrinya. Dia sangat bahagia melihat istrinya mulai bersikap biasa lagi.


Sesekali Reza menggenggam lengan istrinya tanpa malu dihadapan Mbak Diah.


"Papi, aku kok ingin bakso ya" ucap Tasya ditengah perjalanan mereka


"Ya sudah. Nanti mampir rest area kita makan bakso." ajak Reza.


Setelah tiba di rest area, mereka masuk ke dalam resto bakso sesuai permintaan Tasya.


Tasya dan Mbak Diah makan terlebih dahulu, sementara Reza mengajak Vano bermain di dekat kolam ikan diluar Resto yang masih terlihat dari balik kaca resto tersebut.


Seorang wanita bersama putrinya yang sebayar dengan Vano menghampiri mereka. Sesekali dia mengajak bicara Reza.


"Tebar pesona saja terus, bawa anak juga." kesal Tasya saat Reza tersenyum pada wanita tersebut.


Lama mereka mengobrol di dekat kolam ikan seperti sudah saling mengenal lama membuat Tasya semakin geram. Tasya mempercepat makannya. Dia segera keluar menghampiri mereka.


"Abaang, yuk pulang Nak" ajak Tasya pada Vano dan mendelik pada Reza.


Wanita disamping Reza memperhatikannya.


"Sayang, sudah makannya?" tanya Reza


Tasya tak menyahutinya, dia pura-pura sibuk dengan Vano. Tasya melenggang menjauhi Reza dan berjalan ke arah mobil.


"Aku duluan Mbak." pamit Reza pada wanita tersebut.


Wanita tersebut hanya mematung menyaksikan Reza yang mengejar istrinya.


"Sayang, kenapa sih?" tanya Reza


'kenapa? Gak sadar diri.' batin Tasya kesal.


Tasya masih tak mau menjawabnya.


"Mau beli apa lagi Mami?" tanya Reza


Tasya masih terdiam. Tiba-tiba dia membuka pintu mobil.


"Mbak, aku ke toilet dulu ya."


Reza ikut keluar mobil. Tasya melihat wanita tadi masih melirik ke arah mereka. Sementara Reza merangkul bahu Tasya.


"A Reza kenal sama wanita tadi?" tanya Tasya


"Enggak sayang. Dia ngasuh anaknya sambil ngajak ngobrol. Itu dia yang punya warung itu." ucapnya


"Tuh masih lihatin kamu. Sana samperin" ketus Tasya. Reza melihat ke arah wanita tersebut dan benar saja, wanita itu masih melihat ke arahnya.


'Kalau mami tahu dia janda, bisa di potong si diamond' batin Reza. Dia mendengarkan cerita wanita tersebut dari tadi yang mengaku seorang janda karena ditinggal suaminya. Reza yang sedang mengasuh merasa tak enak bila dia pergi saat wanita tersebut bercerita.


'Lagian itu ibu-ibu bisa-bisanya cerita hal pribadi' batinnya.


"Mm.. Mami cemburu? Tenang saja sayang, cinta Papi kokoh buat Mami" ucapnya seraya berjalan


"Bodo amat mau luntur juga" bakas Tasya cepat


"Mami cemburu gini jadi pengen nyium langsung deh." ucap Reza yang membuat Tasya menyubit lengannya begitu tiba didepan toilet.


Setelah selesai, Reza menggandeng Tasya menuju mobilnya kembali.


***


Tiba dirumah, Tasya dan Vano disambut oleh Pak Danu yang sedang menonton televisi. Mereka berbagi cerita sebelum masuk ke dalam kamar.


"Nanti lagi ngobrolnya sayang, Mami istirahat dulu" ucap Reza


"Iya. Sana istirahat. Pasti capek." ucap Pak Danu


"Aku ke kamae dulu ya Pak." jawab tasya


"Iya. Biar Vano Pap yang jaga."


Tasya masuk ke dalam kamar diikuti oleh Reza. Sesaat dia mengedarkan pandangannya.


'Niat lama ninggalin tempat ini akhirnya cuma seminggu doang' batin Tasya. Dia merebahkan tubuhnya yang terasa pegal. Begitupun Reza ikut berbaring disamping istrinya.


"Papi pijat mau sayang?" tanya Reza


"Gak usah"


"Mam, temani Papi lagi ya. Jangan tinggalin Papi lagi pokoknya."


"Sikapku tergantung sikapmu juga" ucap Tasya ketus.


"Iya, Papi janji gak bakal kayak kemarin lagi. Adit sudah ngatur jadwal Papi. Weekend kita bisa main. Kalau ada undangan, Mami harus temani Papi biar kita gak kepisah." ucap Reza.


"Kalau aku gak mau ikut?"


"Papi gak bakalan pergi. Pokoknya kita harus kompak sayang."


"Yang buat gak kompak siapa?"


"Iya maaf. Janji deh gak gitu lagi" ucapnya seraya mengecup Tasya


"Awas saja kalau gitu lagi" ancam Tasya


"Jangan, diamond kan aset buat nanam saham di Mami." ucap Reza yang ingat akan ancaman Tasya kemarin sembari menutupinya dengan tangan


"Apaan sih, orang gak kesana juga!" ucap Tasya


.


.


.


Terima kasih buat teman readers yang selalu setia membaca BSN. Aku terharu membaca lomentar teman-teman yang selalu support aku. *Salamin satu-satu


Tolong dukung terus karyaku ya dengan VOTE. Tinggalkan aku juga dengan like dan komentarnya. Terima kasih ^^

__ADS_1


__ADS_2