BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Keegoisan


__ADS_3

Tasya masuk kembali ke kamarnya. Keduanya saling pandang. Kemudian tertawa bersama. Mereka menertawakan kekonyolan mereka berdua.


"A, aku gemetar sekali" ucap Tasya di sela-sela tertawanya


"Aa juga sama. Kaget sekali. Tadi Aa sudah ngantuk langsung segar kembali" meneruskan tertawanya


"Benar kan kata Aa?" lanjutnya


"Apa?" tanya Tasya penasaran


"Harusnya kita honeymoon dulu biar gak keganggu" ucapnya


"Iya ya. Aku kan gak tahu dan tidak menyangka bakal begini A" ucapnya


"Kamu di ajak bilangnya boros sama buang-buang waktu" Reza pura-pura kesal


"Tapi sama saja kan?" goda Tasya sambil mendekat ke Reza


"Anak nakal!" ucap Reza tersenyum sambil mengacak rambut Tasya


"Sana Aa mandi duluan" perintah Tasya


"Bareng saja sayang. Di rumah kan gak ada siapa-siapa" ucap Reza yang mendengarkan percakapan Tasya dan Ibunya


"Enggak mau" tolak Tasya


"Kenapa?" Reza heran


"Malu!" ucapnya sambil tersenyum malu


"Kok malu?" Reza heran


"Sudah sana. Aa duluan" ucap Tasya


Reza kemudian memakai celana pendeknya. Dengan bertelanjang dada dia keluar kamar.


Tasya tersenyum mengingat hal yang barusan terjadi. Dia tidak menyangka akan melakukan hal yang konyol dengan suaminya.


***


Setelah pulang ke rumah mertua, seperti biasa Tasya menyiapkan segala keperluan suaminya untuk bekerja.


"Kamu yakin gak mau ikut?" tanya Reza


"Iya A. Aku di rumah saja sama bi Tinah" ucap Tasya


"Ya sudah, nanti kalau meeting beres, Aa cepat pulang" jelas Reza


"Aku boleh bekerja juga A?" tanya Tasya


"Apa uang yang aku berikan tidak cukup buat memenuhi semua kebutuhan kita, Sya?" Reza tak terima


"Terima kasih A, semua terpenuhi lebih dari cukup. Tapi aku juga ingin bekerja A" pinta Tasya


"Umur Aa sudah mau 33 tahun Sya. Aa ingin segera punya anak." pungkas Reza tegas

__ADS_1


"Tapi A? Masa aku hanya sebatas ibu rumah tangga? Terus ijazah yang aku perjuangkan buat apa? Aku juga punya cita-cita A. Aku ingin bekerja seperti orang-orang A" Tasya kesal


"Hanya sebatas ibu rumah tangga? Aku selalu mengajakmu untuk menemaniku. Kamu juga bisa belajar menjadi asistenku. Tapi kamu selalu menolak seperti sekarang"


"Aku ingin mencoba hal lain A" pungkas Tasya


"Bekerja kantoran duduk di ruangan berAC maksud kamu?" tanya Reza sinis


"Silahkan kalau kamu mau kerja!" Reza menutup pintu kamarnya dan pergi meninggalkan Tasya. Dia kesal dengan keegoisan Tasya.


Di sisi lain Tasya menitikkan air matanya, dia merasa Reza terlalu egois.


'Aku ingin seperti orang lain. Seperti Rina dan Tari memasuki dunia baru. Bukan dunia seperti ini yang aku inginkan' Tasya mulai terisak.


***


Pikiran Reza kacau, dia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba dari depan seorang pemuda menyebrang jalan dengan sepeda motornya. Dia menghentikan mobilnya sekuat tenaga. Hampir saja menabrak pemuda tersebut.


"Punya mata gak sih lo!" pemuda tersebut memaki Reza sambil berlalu.


Jantung Reza berpicu kencang.


'untung saja' batinnya menenangkan dirinya


Dia kemudian memperlambat kecepatan mobilnya. Setelah sampai di tempat tujuan, Reza masih belum keluar dari mobilnya. Dia masih mengingat kejadian barusan.


***


Tasya melakukan aktifitas seperti biasanya. Dia memasak untuk suami dan mertuanya di temani Bi Tinah. Bi Tinah merasa heran dengan Tasya hari ini yang tidak ceria dan lebih banyak diam.


Setelah selesai, Tasya masuk ke dalam kamar. Dia memikirkan kejadian hari ini. Di satu sisi dia merasa egois. Memikirkan dirinya sendiri yang ingin bekerja. Tapi dia juga merasa sangat jenuh berada di rumah yang besar hanya di temani seorang ibu tua. Di sisi lain dia merasa iba dengan suaminya. Dia teringat akan usia sang suami.


'Sebaik-baiknya perempuan, tidak membatah perkataan suaminya' kalimat dari ibunya mulai terngiang di kepalanya. Dia menjadi merasa bersalah.


***


Selesai meeting, Reza dengan malas masuk ke dalam mobilnya. Dia duduk terdiam. Masih belum menjalankan mobilnya.


Ini kali pertama dia bertengkar lebih dari biasanya dengan Tasya. Dia kesal dengan Tasya yang menurutnya egois. Memikirkan dirinya sendiri yang ingin bebas bekerja di luaran sana. Sementara dia ingin segera memiliki anak di usianya yang kian bertambah.


Dia masih terdiam. Diingatnya kembali usia Tasya. Tasya memang masih muda. Memang wajar kalau Tasya ingin melakukan banyak hal di usianya.


Kini Reza bimbang. Reza mengalakan mesin mobilnya. Dia melajukan mobilnya menuju ke rumah.


***


Mobil putih itu memasuki halaman rumah. Sang pengemudi masih duduk terdiam. Dia bingung harus bertindak bagaimana. Haruskan dia egois dengan keiinginannya. Atau haruskah dia membebaskan istrinya. Semua keputusan ada di tangannya.


Reza keluar mobil dengan rasa enggan. Dilihat sekeliling rumah terasa sangat sepi.


'Kasihan dia sendirian di rumah ini' batinnya mulai merasa iba.


Reza masuk kedalam kamar. Disana Tasya sedang tertidur pulas setelah melampiaskan kesalnya dengan menangis.


Reza membuka kancing bajunya satu persatu sambil duduk di tepi kasur. Kini dia bertelanjang dada dan masih terdiam.

__ADS_1


Tasya kemudian membuka matanya.


"A sudah pulang?" tanyanya yang masih mengumpulkan nyawanya. Tasya lupa kalau mereka sedang bertengkar. Setelah ingat dia merasa kesal pada dirinya sendiri


'Aku kan lagi sebal. Kenapa malah nanya sama dia! Ih bodoh sekali' ucapnya dalam hati


"Iya sudah sayang" dia melihat mata Tasya sembab


Tasya kemudian duduk dan hendak turun dari kasur, tapi tangan Reza menahannya.


"Sya, aa minta maaf ya. Aa gak bermaksud kasar sama kamu. Maaf kalau Aa egois" ucapnya sambil menggenggam tangan Tasya


Tasya terdiam. Dia kemudian meneteskan air matanya kembali.


"Jangan nangis dong sayang" ucapnya lembut sambil menyeka air mata Tasya


Tasya ingin sekali bicara, tapi tenggorokannya terasa tertahan.


"Kamu serius mau kerja?" tanya Reza.


Kini Tasya bimbang. Dia merasa tak tega kepada suaminya.


Tasya menggelengkan kepalanya sambil meneteskan air matanya yang tak kunjung berhenti.


"Kalau kamu mau kerja, Aa tidak akan melarang." lanjut Reza


Tasya menggelengkan kepalanya lagi.


"Enggak" ucapnya singkat kemudian dia mulai terisak.


Reza memeluknya. Di belai lembut rambut Tasya.


Tasya merasa nyaman dengan perlakuan Reza. Semua rasa egoisnya luntur. Kini dia pasrah dengan keinginan suaminya.


Setelah beberapa lama, Reza melepaskan pelukannya. Dia mengambil air putih untuk Tasya.


"Ayo kita jalan-jalan" ajak Reza tiba-tiba


Tasya masih terdiam.


"Ayo, kamu pasti jenuh kan sayang" ajaknya lagi


Di tariknya lengan Tasya dan di arahkannya masuk kamar mandi.


'A Reza.. ' batin Tasya. Dia merasa beruntung punya suami sebaik dan sesabar Reza.


Setelah keluar kamar mandi, Reza sudah berpakaian santai. Dia memakai celana selutut dan memakai kaos berwarna hitam.


Reza mendekati Tasya, di genggamnya kedua pundak Taysa.


"Senyum dong" ucapnya sambil memberikan senyum termanisnya.


Tasya kemudian memeluk suaminya erat.


"Aku minta maaf ya A" ucapnya lembut

__ADS_1


__ADS_2