BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Rengekan Papi


__ADS_3

Reza memarkirkan mobilnya di area kuliner setelah mereka keluar dari area satwa. Dia turun dari mobil seraya meregangkan badannya setelah menyetir dari tadi. Setelah puas menghirup udara segar, Reza mengeluarkan stroller milik Vano sambil mengalungkan tas anaknya.


"Makan dulu Mam" ajak Reza saat Tasya menghampirinya.


"Papi lapar?" tanya Tasya


"Enggak sih. Tapi nanti jauh lagi kalau kita jalan dulu. Yang lain paling jualan mie doang sayang." ucapnya seraya mengedarkan pandangannya. Reza berkacak pinggang dengan kacamata hitam masih mengapit dihidungnya. Kali ini, dia membiarkan rambutnya disisir rapih tanpa pomade.


"Ya sudah. Yuk Mbak, kita makan dulu." ajak Tasya pada Mbak Diah


Reza mendudukan Vano di atas strollernya.


"Tasnya biar saya yang bawa Pak" ucap Mbak Diah


Reza menyerahkan tas kepada Mbak Diah, mereka berjalan masuk ke area kuliner.


"Duduk disana Mam" ucap Reza menunjuk kursi kosong.


"Mau makan apa sayang?" tanya Reza saat mereka duduk.


"Gak tahu, apa ya?" ucap Tasya mengedarkan pandangannya ke stand-stand kuliner yang berderet di depannya dengan antriannya masing-masing.


"Pilih saja Mam. Papi jaga Vano" ucap Reza


"Papi mau apa?" tanya Tasya seraya mengambil dompet miliknya.


"Apa saja Papi mah." dia mengajak Vano bermain


"Yuk Mbak" ajak Tasya kemudian.


Tasya melihat satu persatu stand. Dia menuju stand kuliner yang menyajikan nasi timbel dengan lauk komplit dalam sebuah tampah kecil.


"Mau ini Mbak?" tanya Tasya


"Aku ikut Ibu saja makan apapun." ucapnya


"Mbak mau yang lain?"


"Enggak Bu. Ini juga sudah komplit banget" ucapnya seraya menunjuk banner yang terpampang disana.


***


"Kemana lagi kita Pap?" tanya Tasya setelah mereka selesai makan


"Yuk lihat atraksi koboy Mam, kayaknya sudah mulai" ajak Reza


"Mereka hendak masuk ke dalam, namun seketika Vano menangis saat mendengar suara kuda berlari bersamaan dengan suara tembakan dari dalam ruangan.


"Papi, jangan ah. Kayaknya Vano takut." ucap Tasya


"Ya sudah, yuk kita lihat pertunjukan lumba-lumba saja Mam." ajak Reza


Mereka masih berjalan menyusuri trotoar menuju tempat pertunjukan lumba-lumba.


"Capek sayang?" tanya Reza


"Lumayan Pap." Ucap Tasya seraya mengambil nafas pendek-pendek begitu mereka tiba.


"Yah, belum dibuka." ucap Reza


"Tunggu saja. Sepuluh menit lagi." Tasya melihat jam tangannya


Dia mengajak Vano melihat lumba-lumba dari luar aquarium. Vano sangat antusias saat melihatnya.


"Papi ayo lihat Panda." ajak Tasya


"Ini kalau mau lihat panda harus naik bis dulu." ajak Reza seraya melihat peta.


"Coba, dimana haltenya." Reza bermonolog, dia serius membaca peta


"Oh, ayo sebelah sana Mam." ajaknya


Mereka berjalan sampai tiba di halte bis khusus untuk ke istana panda. Setelah naik bis dengan jalanan yang menanjak dan menegangkan, mereka disuguhkan dengan bangunan bernuansa oriental ditambah dengan suasana yang sangat sejuk.


Reza mengajak Vano melihat panda yang sedang asyik mengunyah bambu. Sementara Tasya lebih tertarik membeli kue dengan bentuk panda.


Mereka berfoto bersama. Menikmati suasana yang sangat menyegarkan mata.


"Enak banget ya Mam disini" ucap Reza


"Nyesel gak bawa baju." ucapnya kemudian


"Kenapa memangnya?" tanya Tasya


"Kalau bawa baju kita bisa nginep disini sayang." ucaonya seraya merangkul istrinya.


"Ya sudahlah. Nanti lagi saja, gini juga sudah seneng." Tasya tersenyum


Setelah puas, mereka kembali mengantri naik bis untuk turun ke tempat semula.


"Mau kemana lagi?" tanya Reza


"Sudah gak ada atraksi apapun Pap, pulang saja. Sudah petang begini" ucap Tasya


"Gak kerasa banget ya Mam" ucap Reza seraya berjalan menggandeng istrinya menuju mobil mereka.


"Mau makan dulu?" tanya Reza


"Mau bakso yang pedes, asem, seger banget kayaknya" Tasya menelan salivanya.


"Oke." Reza melajukan mobilnya kekuar area taman satwa.


***


"Pegeel banget" ucap Reza seraya menjatuhkan diri diatas kasur setelah membersihkan dirinya.


"Iya. Lumayan capek tapi aku seneng" ucap Tasya tersenyum pada Reza


"Terima kasih ya Pap" Tasya merebahkan dirinya. Dia memeluk Reza kemudian mengecup pipinya


"Apapun buat kalian" ucap Reza seraya tersenyum.


"Next time, kita ke pantai ya Pap. Vano belum tahu pantai." ucapnya


"Noted Ibu Negara." ucapnya seraya hormat.


"Terima kasih Papi. Love you" Tasya melum*t bibir suaminya. Merwka berpagutan tak begitu lama


"Tidur yuk Mam." ajaknya. Matanya sudah terasa sangat berat.


"Yuk, pasti Papi capek seharian nyetir mobil" ucap Tasya.


Keesokan harinya, Reza bangun lebih dulu dari Tasya. Dengan malas dia melihat jam dinding kamarnya.


"Tumben Mami masih tidur jam segini" gumam Reza


Tasya membalikan tubuhnya hingga menghadap Reza yang sedang memainkan game di ponselnya.


"Tumben Papi sudah bangun?" tanya Tasya yang melihat Reza. Tasya mendekat ke arah Reza dan memeluknya.


"Badan pegal semua" ucap Reza


"Kaki yang pegal" ucap Tasya


"Sama" Reza kini membalas pelukan istrinya.


"Papi sudah tua sih"


"Tua juga masih jago buat Mami lemes." ucap Reza


"Ih apa sih Papi" Taysa mencubit pinggang suaminya.


"Pap, pijitin." Taysa menumpangkan kakinya ke tubuh Reza


"Sama sayang, badan Papi berasa remuk begini."


"Jadi mau beli kemeja?" tanya tasya kemudian


"Mami gimana? Kalau capek gak usah sayang, nanti lagi saja."


"Iya, aku males Pap."


Tak berapa lama terdengar suara tangisan Vano. Reza beranjak mengambil Vano dari tempat tidurnya dan membawa ke samping Tasya.


"Abang kecapean juga ya? Tumbenan jam segini baru bangun" ucap Reza


"Kamu tuh enak padahal, digendong-gendong. Di dorong-dorong" tambahnya kemudian

__ADS_1


"Ya bedalah, dia juga kelamaan di gendong pasti capek" ucap Tasya


Vano mulai merengek lagi.


"Papi kasih Mbak Diah ya Mam. Biar dia disuapin dulu.


"Iya. Mami lemes. Maaf ya Bang." Tasya mengecup lembut anaknya.


***


Reza menjatuhkan dirinya kembali diatas kasur setelah memberikan Vano pada Mbak Diah.


"Sayang.. "


"Hmm.."


"Main diamond yuk?" ucap Reza memeluk istrinya dari belakang


"Ih Papi, baru juga mau ke alam mimpi. Sana ah" Tasya menolaknya


"Sebentar doang Mam."


"Enggak ah. Apa sih Papi. Lagi lemes juga" Taysa menolaknya.


Reza tetap memeluk istrinya. Kedua tertidur kembali.


Dua jam Tasya tidur dengan pulas, dia teringat Vano yang belum dia asuh dari tadi.


"Mbaak, Vano sudah makan?" tanya Tasya


"Sudah Bu."


"Maaf ya Mbak, tadi aku lemes banget."


"Gak apa-apa Bu. Vano juga anteng dari tadi." ucapnya


"Mbak istirahat saja, biar Vano sama aku."


"Gak apa-apa Bu."


"Neng Tasya mau makan dulu?" tanya Bi Tinah


"A Reza masih tidur Bi. Nanti saja aku bareng A Reza." ucap Tasya


"Bibi sama Mbak Diah sudah makan?" tanya Tasya


"Sudah. Tadi kita makan duluan."


"Bibi juga bikin puding tadi." ucapnya


"Iya terima kasih Bi."


Mereka masih berbincang sambil menjaga Vano.


Setelah beberapa lama, Reza keluar memanggil Tasya.


"Apa sih Pap?" Tasya berjalan menghampirinya.


"Ih, Papi bukannya mandi sih" protes Tasya


"Iya mau mandi. Tapi bajunya mana?" tanya Reza


"Ya ampun Papi kenapa sih? Makin menjadi deh. Baju tinggal ambil dilemari juga." omel Tasya. Reza hanya tertawa.


"Cepetan. Aku lapar nih"


"Iya, tunggu sebentar kok." ucap Reza


Tasya menunggunya sambil memainkan ponsel. Tak berapa lama, Reza keluar dari kamar mandi.


"Ih, Papi gak salah mandi cepet banget?" tanya Taysa


"Kasihan Mami kan laper. Ya sudah, nanti mandi lagi saja." jawabnya enteng


"Ya ampun bukannya sekalian."


"Nanti lah Mam, yuk cepetan katanya lapar." ajak Reza dengan secepat kilat memakai bajunya.


***


"Lego?" tanya Tasya heran suaminya minta jajan mainan.


"Huum. Lego arsitektur. Keren gitu Mam" ucap Reza berbinar.


"Sibuk gitu, mau main legonya kapan" cibir Tasya


"Buat dikantor sayang, kalau suntuk saja. Boleh ya?" pinta Reza


"Astaghfirullah.. Lihat harganya." Tasya mendelik


"Mam, boleh ya? Daripada Papi main perempuan coba"


Tasya menjewer kuping Reza.


"Sakit Mam"


"Ngomongnya ih menyebalkan terus!"


"Hehe.. Bener kan? Please. Boleh ya?" Reza masih merengek.


"Anaknya beliin mainan bukan Papi."


"Yuk ke Mall bentar, ajak Vano beli mainan. Kemarin Vano ingin beli mobilan deh kayaknya."


"Modus." gerutu Tasya.


"Haha.. Tahu saja sih istriku." Reza mencubit pelan pipi istrinya.


"Mam, boleh ya?" pinta Reza lagi.


"Lihat harganya Papi ih."


"Itu segitu diskon sayang. Lihat harga aslina Mam" Reza memperlihatkan kembali ponselnya


"Sekali doang Mam. Kan lama ngerjainnya juga. Ya ya ya.."


"Papi tuh lapar mata tahu gak. Lihat iklan makanan di televisi, beli. Lihat kopi di televisi beli. Kenapa gak beli lihat panci sama wajan di televisi itu tuh suka ada."


"Hahaha.. Masa iya Papi beli panci sama wajan. Itu mah urusan Mami."


"Sekarang, lihat mainan di ponsel ingin beli juga" kesal Tasya.


"Enggak Mam. Memang Papi mau beli dari dulu sayang. Cuma lupa terus mau bilang ke Mami" ucapnya


"Boleh kan Dek? Duh Papi ngidam nih deh." Reza mengecup perut istrinya


"Tahu ah!"


"Dek, bujukin Mami dong. Papi ingin beli lego yang itu." ucapnya kemudian


"Awas ah, mau ke kamar mandi."


"Gak mau kalau gak boleh beli."


"Ya sudah, aku buang air kecil disini kalau begitu." ucap Tasya


"Ih jorok." Reza segera bangkit.


Tasya meninggalkan Reza yang masih merengek. Dia segera keluar kamar menghindari Reza yang gak berhenti meminta lego.


'Angin dari mana coba, dia minta beli mainan. Suka aneh-aneh kelakuannya tuh.' batin Tasya kesal


***


Reza tengah berada diruangannya dengan berkas yang di hadapannya. Dia sibuk memainkan ponselnya.


Tok..tok..tok..


"Masuk" teriaknya


"Sudah di lihat Za laporannya?" tanya adit menghampiri, dia menarik kursi dihadapan Reza


"Belum. Nanti lah." dia masih sibuk melihat ponsel.


"Dit, keren gak ini?" tanya Reza memperlihatkan gambar lego yang ditunjukan pada Tasya sebelumnya


"Rumit kayaknya Za"

__ADS_1


"Bisalah. Pelan-pelan ngerjainnya"


Mereka seolah membicarakan sebuah proyek besar.


"Kapan waktu nyusunnya Za?"


"Kalau suntuk kayak gini nih."


"Pesan saja Bos kalau suka." Adit malah mendukungnya.


"Pesankan. Kirim kesini Dit. Bisa digantung Tasya kalau dia tahu." ucap Reza


Adit tertawa.


"Wah, caper nih."


"Siapa yang caper?" tanya Reza


"Caper, cari perkara. Haha" Adit tertawa puas


"Enggak lah. Kalau aku main wanita baru cari perkara."


"Yakin Bos?"


"Sudah, buruan pesen. Mumpung masih diskon."


"Oya, pakai rekeningmu. Nanti aku transfer kamu. Biar gak ada jejak." ucapnya


Adit hanya tersenyum mendengarnya. Dia mulai memesan pesanan sesuai keinginan Reza.


"Done." ucap Adit


"Tinggal nunggu dua atau tiga harian" tambahnya


"ke kantorkan Dit?" Reza memastikan


"Yah, lupa. Ke alamat rumah."


"Hah?" Reza terkejut


"Haha.. Bos gila, demen banget bikin istrinya naik darah." ucap Adit


"Mainan ini. Bukan perempuan lah. Aman" Reza menyangkal


"Peralatan golf juga untung dia gak tahu harganya. Hahaha." Reza merasa menang.


"Kemarin, dia bilang mau dijual ke tukang rongsokan. Gila saja. Dikira harganya lima puluh ribu doang"


Adit kini tertawa.


"Ya mana dia tahu, orang kamu gak bilang harganya."


Mereka tertawa.


"Untung istrimu cuek Za. Kalau dia sampai buka internet cari harganya, mati kamu" ucap Adit


"Haha.. Untungnya dia masih polos lah." Reza tersenyum


"Eh, sana keluar. Jadwalku absen nih." Reza mengusir Adit seraya melakukan panggilan video pada Taysa


"Bu, Pak Reza beli lego nih Bu" teriak Adit seraya keluar


Reza melempar pena pada Adit, namun pintu lebih dulu ditutup Adit.


"Awas kau Dit" ucap Reza saat panggilan terhubung.


"Awas apa?" tanya Tasya


"Em.. Enggak Mam. Si Adit biasa." ucap Reza


"Lagi apa sih yayangku?" tanya Reza


"Beres suapi Vano. Papi sudah makan?" tanya Tasya


"Belum sayang."


"Papi gak kemana-mana?" tanya Taysa


"Enggak Mam. Lagi di kantor saja gak terlalu sibuk sekarang."


"Sini dong, bawain makan." pinta Reza


"Mau?" tanya Taysa


"Mau. Mau disuapin makan sama Mami juga"


"Ih manja!"


"Boleh dong manja sama Mami."


"Boleh banget" Taysa tertawa


"Dasar. Suka juga kan. Cepetan kesini ajak Pak Bud yaa. Kita makan bareng."


"Iya. Aku siap-siap ya. Assalamu'alaikum."


Tasya meminta Bi Tinah menyiapkan makanan untuk Reza. Sementara dirinya bersiap membawa perlengkapan milik Vano.


"Mbak sudah siap?" tanya Tasya.


"Sudah Bu. Eh sebentar, strollernya Bu." Mbak Diah melipat stroller Vano.


"Yuk" ajaknya


Tak butuh waktu lama, mereka tiba dikantor. Tasya disambut oleh beberapa staff Reza yang menyapanya dan mengajak becanda Vano. Bahkan salah satu dari mereka ingin menggendong Vano, sayangnya Vano merengek tak suka.


"assalamu'alaikum Papi" sapa Tasya masuk ke dalam ruangan.


"Waalaikumsalam."


Vano meminta digendong Reza.


"Papi mau makan dulu sayang." ucap Tasya pada Vano.


Tasya segera mengeluarkan makanan yang dibawanya.


"Papi ajak dia lihat ikan ya Mam." ucap Reza


"Yuk Mbak. Biar dia lihat ikan dulu sebentar."


"Mbak sudah makan kan?"


"Iya sudah Pak."


"Bagus. Aku lapar soalnya." Reza tersenyum.


Reza mengalihkan perhatian Vano dengan membawanya ke Aquarium yang berada di kantornya.


"Aku titip ya Mbak." ucap Reza


Reza bergegas kembali ke ruangannya. Begitu tiba, dia mengecup lembut bibir istrinya.


"Makan dulu Pap"


"Iya. Suapin ya Mam."


"Papi ngusir Vano karena malu kan sama Mbak Diah" ucap Tasya


"Haha.. Tahu saja sih Mami."


"Pakai tangan saja ya Pap, takut ada durinya nanti gak kepegang." ucap Tasy


"Nikmatlah dari tangan Mami mah." Reza bersemangat menerima suapan dari tangan istrinya.


"Oh iya lupa, tadi habis cebokin Vano gak cuci tangan lagi."


"Mam!" Reza melebarkan matanya


.


.


.


Temans tolong dukung terus BSN yaa.. Terima kasih selalu memberikan like dan komentarnya. Terima kasih juga yang sudah bersedia memberikan vote.


Lupyuu ^^

__ADS_1


__ADS_2