
Seorang gadis dengan memakai pakaian putih dan rok span hitam meringis kesakitan dengan wajah yang pucat sembari memegang perutnya yang sakit.
"Kamu kuat jalan ga?" tanya Reza
Gadis tersebut menggeleng.
"Sini naik" ucap Reza seraya menepuk bahunya.
Gadis tersebut patuh. Dia menempelkan tubuhnya pada punggung Reza, Reza segera menggendongnya sementara gadis tersebut melingkarkan tangannya di leher Reza yang membawanya ke klinik perusahaannya.
Beberapa pasang mata menyaksikan Reza menggendong gadis tersebut hingga Reza tiba di klinik.
"Kenapa Pak Reza?" tanya dokter jaga mendekat saat Reza menurunkannya di atas brangkar. Rok gadis tersebut tersingkap hingga memperlihatkan pahanya yang mulus. Reza segera mengambil selimut untuk menutupi setengah badan gadis magang itu.
"Aku gak tahu, dia tadi meringis gitu." ucap Reza seraya mengatur nafasnya.
Dokter jaga memeriksa tubuh gadis tersebut yang masih kesakitan hingga dering ponsel Reza mengagetkan mereka.
"Assalamu'alaikum sayang" ucap Reza seraya keluar dari ruangan.
"Waalaikumsalam Pap. Tadi minta dibekelin sushi, tapi kenapa gak dibawa?" tanya Tasya
"Ya ampun lupa Mam." ucap Reza
"Ih dasar pikun. Ya sudah, nanti beli saja makannya. Tanggung kalau cuma nganterin sushi." ucap Tasya
"Iya gampang deh."
"Sudah sampe kantor?" tanya Tasya kemudian
"Iya sudah. Barusan ada anak magang kesakitan gitu. Akhirnya Papi gendong ke klinik."
"Ih Papi gendong wanita lain!" ketus Taysa
"Yee.. Atas dasar kemanusiaan sayang. Jangan cemburu. Hatiku semua untukmu. Kurang apalagi coba? Semua sudah Papi berikan. Bahkan ketampanan ini, Papi wariskan sama Vano dan Daffa biar Mami lihat cerminan Papi saat Papi gak disamping Mami" ucap Reza bangga.
"Apa sih Papi! Pagi-pagi sudah gombal." gerutu Tasya. Reza hanya tertawa.
"Terus? Gimana keadaan dia?" tanya Tasya
"Enggak tahu sayang, Papi baru turunin dia, eh Mami sudah telepon. Kayaknya radar Mami kuat banget" ucap Reza seraya tertawa kembali
"Makanya jangan macem-macem. Belum tahu kekuatan doa istri seperti apa"
"Doakan Papi agar berada di garis yang lurus terus." ucapnya
"Aamiin. Ya sudah kau begitu, aku tutup ya Pap"
"Iya sayang. Love you Mami." Reza mengakhiri panggilannya. Dia masuk kembali ke dalam klinik.
"Gimana Dok?" tanya Reza menghampiri mereka
"Hmm..Maag sih ini, Pak." ucap Dokter tersebut
"Bapak kenapa menggendongnya sendiri? Bisa merintah orang kan Pak" ucap Dokter jaga
"Ya, aku panik. Tadi cuma ada aku saja. Refleks, aku bawa dia kesini. Daripada dia pingsan disana" ucap Reza
"Wah, teladan direktur kita" puji Dokter. Mereka tertawa
"Kalau begitu, aku pamit ya.. " Reza menepuk bahu dokter
Sementara gadis itu masih meringis kesakitan.
"Kamu cepet sembuh ya, kalau sakit jangan maksa masuk kerja. Istirahat saja dirumah." ucap Reza yang kemudian keluar ruangan tersebut.
Reza melangkahkan kakinya hendak masuk kembali ke ruangannya.
"Berat juga gadis tadi, apa akunya sudah tua" gumam Reza seraya berjalan.
***
Tasya membuka bekal Reza, dia memakannya sendiri setelah mengasihi Daffa.
"Mbak Diah, kalau mengasihi memang bawaannya laper terus ya?" tanya Tasya pada pengasuh Daffa.
"Ya biasanya begitu sih Bu. Mungkin karena habis di sedot sama anaknya kali ya" ucap Mbak Diah seraya tertawa.
"Hmm.. Gitu. Aku maunya ngemil terus" ucap Tasya ikutan tertawa
Vano masuk ke dalam kamar mereka.
"Abang dari mana?" tanya Tasya
"Dali tadi mam." ucapnya mendekat
"ih ajaran Papa kamu ya itu. Cuci kaki sama cuci tangan dulu kalau habis main Bang" ucap Tasya
Vano segera masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Tasya hendak mencuci kaki dan tangannya diikuti oleh Mbak Uji, pengasuh baru Daffa.
"Udah" ucapnya memperlihatkan tangan dan kakinya yang basah.
"ih pinternya anak Mami. Sun dulu" pinta Tasya
Vano mendekat, dia mengecup Tasya dan Daffa yang berada dipangkuan Tasya.
"Abang mau sushi?" Tasya memperlihatkan kotak bekal milik Reza
Vano mengambilnya dengan tangan. Dia memakannya sedikit demi sedikit.
"Enak kan?" tanya Tasya
Vano hanya memberikan jempolnya pada Tasya sesuai ajaran sang Papi.
"Puna Abang, Mamiii" ucap Vano saat Tasya hendak memakannya kembali. Tasya menaruhnya kembali.
"Ih, Abang pelit. Masa Mami gak boleh" Tasya pura-pura merajuk.
"No. Mami mam naci aja" ucapnya
"Mami gak mau nasi Bang, maunya itu punya Abang. Boleh ya?" pinta Tasya
"No. Mami bikin aja" ucapnya.
"Mami bilangin Papi nih, Abangnya gak mau sharing" ucap Tasya tapi Vano tak menyahutinya. Dia sibuk memakan sushi.
"Lagi bagus Abang makannya ya Bu" ucap Mbak Uji
"Iya. Alhamdulillah. Tadi padahal dia sudah makan ya Mbak?" tanya Tasya pada Mbak Diah.
"Iya Bu, tadi makannya banyak juga" ucap Mbak Diah
Vano berdiri hendak keluar kamar.
"Mau kemana sih?" tanya Tasya
"Inum Mam" ucapnya
"Itu botolnya punya Abang" ucap Mbak Uji.
Vano segera mengambilnya, dia membukanya sendiri botol minumnya sementara Tasya berdiri hendak menaruh Daffa dalam box.
"Mami taruh wadah sushinya dulu ya Bang, Abang jangan berisik. Dedek lagi bobo ya." ucap Tasya disertai anggukan Vano.
Tasya menghampiri Bi Tinah di dapur.
__ADS_1
"Mau masak apa hari ini?" tanya Tasya pada Bi Tinah.
"Bapak tadi minta soto Neng" ucapnya
"Oh. Aku bantu Bi" Tasya segera bergabung dengan Bi Tinah.
***
"Gosip langsung menyebar, Za" ucap Adit saat masuk ke dalam ruangan Reza
"Gosip apa?" tanya Reza
"Direktur menggendong anak magang. Headline News hari ini" ucap Adit
Reza tersenyum.
"Kebetulan saja" ucap Reza
"Hati-hati, dari kebetulan jadi keenakan" ucap Adit
"Haha. Gila kamu."
"Awas si Ibu datang-datang kasih senyuman maut" ucap Adit.
"Dia tahu kok"
"Masa?"
"Serius. Tadi beres gendong eh dia telepon."
"Gilaa ikatannya kuat banget. Dia nyadap kamu kali Za" ucapnya
Reza tertawa.
"Dia tuh cinta mati sama aku makanya kayak begitu" ucap Reza
"Terus itu gosip gimana tuh Bos?" tanya Adit
"Ya mau gimana lagi? Biarkan saja. Lagipula yang lihat kenapa gak bantuin kek. Malah gosipin. Kan lumayan berat juga itu anak" gerutu Reza.
"Haha.. Jarang-jarang kan direktur turun tangan langsung."
"Gimana gak turun tangan, depan mata kepala sendiri dia meringis, kamu mau diam saja? Gak mungkin kan? Makanya aku bawa ke klinik" ucap Reza
Adit hanya mengangguk-ngangguk.
"Jangan lupa, sebentar lagi kita meeting Pak." ucap Adit
"Iya saya tahu" balas Reza singkat.
***
Pak Danu melirik Tasya yang sedang membantu Bi Tinah.
"Anak-anak dimana Sya?" tanyanya
"Di kamar Pa" ucap Tasya
"Papa mau kemana?"
"Papa ada perlu sebentar dengan kawan Papa." ucapnya. Pak Danu berjalan menuju kamar cucunya.
"Opa... " teriak Vano
" Sttt.. Abang" Mbak Diah memberi peringatan
"Dedek bobo ya Bang?" tanya Pak Danu
"U.um" ucapnya seraya mengangguk.
"Opa ana?" tanyanya
"Huh kamu sudah berat" Pak Danu menggendong dan menciumi pipi cucunya.
"Bang itut Opa.." pinta Vano melingkarkan tangannya ke leher Pak Danu
"No. Abang main dirumah saja sama Mbak yaa. Nanti Opa belikan mainan. Kita ke Mall ya" ucap Pak Danu
"Ainan cedunia" pinta Vano.
"Siap. Tos dulu" pinta Pak Danu
***
Reza tiba dirumah lebih awal dari biasanya. Dia melihat Tasya yang sedang mengasihi Daffa sementara Vano sudah tertidur di kamarnya.
"Sayang" Reza mengecup istrinya
"Sana mandi" ucap Tasya
"Iya. Papi lihat dulu Vano" ucapnya.
Reza menghampiri Vano dan mengecupnya sepintas. Dia kembali ke kamarnya hendak membersihkan diri.
Setelah beberapa lama, Reza keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Tasya yang menaruh Daffa dalam box-nya.
Reza memeluk Tasya dari belakang. Tasya menyikutnya.
"Cepat dibaju. Masuk angin nanti" ucapnya.
"Bajuin dong sayang" pinta Reza
"Sana sama yang tadi digendong saja" ucap Tasya. Reza hanya tersenyum.
"Di kantor pada heboh gara-gara itu. Padahal yang lihat kenapa gak bantuin" gerutu Reza seraya memakai baju.
"Gimana ceritanya sih bisa Papi yang gendong?" tanya Tasya
Reza menceritakan semuanya pada Tasya seraya naik ke atas tempat tidur.
"Hentikan gosipnya sebelum menyebar keluar Pap. Nanti nama Papi juga yang tercoreng diluar sana. Ingat, partner kerja Papi juga banyak. Jangan sampai mereka kabur karena kesalahpahaman." ucap Tasya
"Iya. Tadi sih Adit nanya, Papi bilang diamkan saja."
"Kenapa? Papi keenakan? Omongan orang itu bisa di kurang atau ditambahi. Bisa jadi boomerang buat Papi sendiri nanti walau niat Papi baik" ucap Tasya
"Nanti Papi di cap mata keranjang, mau?" tanya Tasya
Reza hanya menggeleng.
"Besok harus segera di urus Pap. Aku gak mau ini semua berlanjut. Kecuali Papi memang ada main sama dia" Tasya menatapnya tajam.
"Makin pinter saja Maminya Daffa. Papi gak mikir sampai kesana." ucap Reza
"Jangan sampai gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga" ucap Tasya
"Iya sayang. Besok biar Adit yang hentikan gosipnya." ucap Reza
"Apa Papi tertarik sama anak itu?" tanya Tasya
"Jangan ngaco deh Mami" ucap Reza
"Ya barangkali. Apalagi sudah nempel di punggung Papi."
"mana ada sayang, Papi mikir mes*m begitu. Papi mah lihat punya Mami saja sekarang sudah wow" ucapnya seraya menatap milik Tasya
__ADS_1
"Iyalah. Daffa punya"
"Papi dong. Daffa mah cuma dua tahun Mam. Papi seumur hidup" Reza menyeringai
"Jadi ingin" tambahnya
"aku enggak" ucap Tasya segera berbalik memunggungi suaminya.
"hahaha.. Mamiku" Reza mendekatkan tubuhnya seraya memeluk Tasya dari belakang.
***
Pagi hari, kediaman Reza sudah sangat ramai. Daffa sudah bangun dan Vano mengajaknya bicara ditemani oleh dia pengasuh mereka. Disisi lain, Tasya bersiap menyiapkan sarapan untuk mereka.
Dering telepon membangunkan Reza yang masih tertidur pulas. Reza mengambil ponsel miliknya seraya mengerjapkan matanya.
"Hallo" ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar. Reza segera berdehem.
"Maaf Bos ganggu pagi-pagi. Ada media yang menanyakan perihal kemarin bos. Ternyata ada yang mengambil foto kamu sama anak itu" ucap Adit
Reza membuka matanya lebar-lebar.
"Kamu urus secepatnya Dit. Aku gak mau ini berlanjut." ucapnya
"Siap"
"Bila perlu, dokter klinik suruh klarifikasi. Dia tahu kok cerita yang sebenarnya." ucap Reza
"Ibu bagaimana?" tanya Adit sedikit cemas
"Kamu gak usah khawatirkan istriku. Dia kan sudah tahu semuanya, malah semalam kita jiga membahasnya."
"Syukurlah Za, dia mau mengerti" ucap Adit.
"Ya sudah, aku siap-siap ke kantor kalau begitu" ucap Reza
"Oke bos." Adit menutup sambungan teleponnya.
Reza duduk di bibir kasur. Dia meneguk air putih yang tersedia di nakas. Reza mencari keberadaan istrinya dikamar anak-anak, namun tak menemukannya. Reza segera masuk ke kamar mandi.
Tasya masuk ke dalam kamar hendak membangunkan Reza.
"Tumben Papi bangun lebih awal" gumam Tasya
Tasya segera mengambil perlengkapan kerja suaminya.
"Mam.." ucap Reza seraya mengeringkan rambut keluar dari kamar mandi.
"Belum apa-apa sudah ada yang tanya masalah kemarin" lanjut Reza
Tasya meneruskan pekerjaannya, kemudian dia berbalik.
"Maksudnya?" Tasya menatap suaminya
"Ada media yang terima foto Papi kemarin" ucapnya
"Kok bisa?" tanya Tasya heran
"Papi juga gak tahu sayang" ucapnya
"Berarti ada karyawan yang foto Papi. Siapa lagi coba? Masa tiba-tiba ada media yang tanyain." gerutu Tasya
"Bisa jadi Mam" ucapnya
"Apa, memang sengaja mau menjebak Papi?" Tasya mulai curiga
"Entahlah. Tapi anaknya mukanya pucat terus merintih sih Mam. Papi kira dia benar-benar sakit" ucap Reza
"Terus sekarang mau gimana?"
"Papi sudah suruh Adit beresin semuanya sih." ucap Reza
"Nah kan. Aku bilang apa" ucap Tasya
"Lihat saja dulu, anaknya masuk atau enggak hari ini" ucap Reza
"Kalau masuk mau apa memangnya?" tanya Tasya. Kini dia melipat selimut.
"Ya Papi suruh bicara lah. Kalau Papi menolongnya"
"Kalau dia bicara kebalikannya? Tahu-tahu nanti dia bilang 'aku hamil anak Pak Reza' sambil nangis bombay" ucap Tasya
"Sinetron banget itu mah"
"Justru sinteron itu banyak dibuat dari kisah nyata yang dibumbui" ucap Tasya
"Kalau dia bilang gitu, Papi ajak tes DNA" ucap Reza mantap
"Terus nanti tes DNA-nya dipalsukan segala macem"
"Haduuhh. Kejauhan mikirnya nih Mami." Reza bersungut kesal sementara Tasya tertawa.
"Mami gak cemburu apa Mam? Malah ledekin"
"Dulu iya, pasti Mami termewek-mewek Pap. Sekarang Mami punya dua jagoan. Mereka lebih penting dari segalanya sekalipun hubungan kita kandas" ucap Tasya
"Kok bilangnya begitu?" tanya Reza
"Iyalah. Aku harus tegar demi mereka." ucap Tasya
"Mqmi bicaranya seolah-olah Papi beneran ngelakuin macem-macem tahu" gerutunya
"haha.. Seandainya itu betul terjadi. Tapi ya naudzubillahi mindzalik. Aku bukan Siti Khadijah, Papi" ucap Tasya
Reza memeluknya dari belakang.
"Iya, Mami bukan Siti Khadijah, Bukan Siti Nurbaya, tapi Tasya Fadilla istrinya Reza Ramadhan yang ganteng cedunia kalau kata Bang Vano" keduanya tertawa. Reza membalikan tubuh istrinya dan memeluk pinggang sang istri. Mereka saling menatap bayangan masing-masing.
Reza mulai bersenandung.
"Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, kupunya kamu, selamanya
Akan begitu" - Tulus -
"Ih dia malah nyanyi" Tasya memukul dada suaminya
"Bilang suamiku romantis banget kek, Mam. Malah dipukul" ucap Reza masih memeluk istrinya.
"Masih pagi Papi, sudah gombal"
"Siapa yang gombal? Orang serius juga" Reza bersungut.
__ADS_1
"Iya-iya sayang" Tasya mengecup singkat suaminya kemudian melepaskannya. Reza dengan sigap menarik tengkuk Tasya, melakukan kecupannya lebih dalam hingga keduanya terhanyut.
"Mamiiii" teriak Vano masuk ke kamar mereka