
Tasya keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba Reza memeluknya dari belakang.
"Maaf" ucapnya sambil menenggelamkan kepalanya di bahu Tasya.
"Aa percaya sama kamu" ucapnya kemudian
"Lepas A, ini di kantor!" Tasya menepis tangan Reza tapi dia menahannya
"Sebentar, biar begini dulu" pinta Reza
Tasya menjadi tak tega dengan suaminya. Dia tahu betul, cemburu juga sangat menyiksa dirinya. Tasya mengusap lembut rambut Reza hingga Reza mau melonggarkan pelukannya.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Tasya
Reza mengangguk sambil tersenyum.
"Anak pintar" ucapnya sambil membelai pipi Reza
Tiba-tiba Lala dan Keenan datang.
"Ehm.. " Lala menggoda
"Kenapa sih kamu selalu datang disaat tak tepat" Reza bersikap seperti biasanya
"Maaf Pak, lagi pula ini di kantor Pak" Lala ikut ceria setelah merasa Reza bersikap normal seperti biasa
"Suka-sukaku dong" Reza tak mau kalah
Keenan hanya melihatnya sepintas setelah melihat pemandangan tadi. Hatinya bergejolak. Ada yang tertahan disana.
"Aku ke gudang lagi ya sayang, masih belum beres" ucapnya berbisik kepada Tasya
"Iya hati-hati dijalan A" Tasya mengembangkan senyumnya.
Dia senang, cemburu suaminya telah mereda.
"Ibu, Pak Reza sudah tidak marah bu?" Lala mulai penasaran, dia menghampiri Tasya sambil berbisik
"Dari kemarin aku takut bu. Pak Reza jutek sama aku" Lala cerewet kembali
"Aku juga takut La" ucap Tasya
"Gara-gara kamu nih La" Tasya sengaja memojokannya
"Maaf ya bu kalau aku salah. Tapi bu, aku senaaang sekali." Lala melirik Keenan yang fokus dengan laptopnya
"Aku ingin bertanya soal itu. Tapi nanti saja. Sana, kamu kerja lagi" pinta Tasya
"Siap bu" ucapnya riang
***
"Bu, ini laporan yang saya buat, apa benar begini?" tanya Keenan menghampiri meja Tasya
'Keenan harusnya kamu tanya aku. Kenapa langsung ke bu Tasya sih!' batin Lala kesal
"Hmm.. Ini tolong diperbaiki yang bagian ini" tunjuk Tasya kemudian
"La, coba bantu Keenan" pinta Tasya pada Lala
"Baik bu"
"Keenan, nanti tanya Lala ya, kalau sudah serahkan saja padanya" Tasya tegas
"Baik bu"
'Kenapa mbak Tasya sepertinya menghindar?' batin Keenan
***
Sore hari mereka telah bersiap untuk pulang. Keenan menghampiri Tasya
"Ibu, barang kali mau pulang sama saya bu? Kita kan satu arah" Keenan masih berharap
"Saya di jemput Keenan. Maaf ya" ucap Tasya
"Keenan, aku juga satu arah. Boleh aku ikut kamu?" Lala mendekat
"Boleh, ayo" ajak Keenan yang sebenarnya kecewa
__ADS_1
"Sya, ayo pulang" tiba-tiba Reza menghampiri mereka. Reza menunggunya di ambang pintu.
Keenan dan Lala sejenak memperhatikan mereka.
"Keenan lihat saja sama kamu, mereka selalu membuatku iri" bisik Lala pada Keenan yang masih mematung
"Ayo A." ucap Tasya mengambil tasnya.
Reza menggenggam tangan Tasya.
"Saya duluan ya" Tasya menoleh pada Keenan dan Lala
Mereka berdua mengangguk.
"Hati-hati bu" Lala melambaikan tangannya.
"Tuh lihat kan, Pak Reza selalu so sweet sama bu Tasya." ucap Lala dengan sengaja
"Mereka kayaknya terpaut jauh ya La usianya" Keenan memancing. Rasa ingin tahunya begitu besar
"Iya memang." ucap Lala singkat
"Kenapa ibu Tasya mau ya?" Keenan heran
"Mereka awalnya dijodohkan" ucap Lala datar yang membuat Keenan melebarkan matanya
"Ops, keceplosan. Sstt.. Kamu jangan bilang-bilang lagi ya" ucap Lala
"Hari gini di jodohkan?" Keenan tak percaya
"Iya. Memang kenapa? Aku juga mau kalau di jodohkan dengan orang ganteng dan mapan kayak Pak Reza" jawab Lala
'Kenapa dia sampai bersedia di jodohkan?' batin Keenan
"Kenapa dijodohkan La? Apa buat bayar hutang bapaknya seperti Siti Nurbaya?" tanya Keenan datar
"Huss.. Sembarangan kamu! Enggak lah. Karena Pak Danu dan ayahnya Bu Tasya bersahabat katanya" terang Lala
"Kenapa Bu Tasya mau?" Keenan makin penasaran
"Suka-suka dia lah Keenan. Kenapa kamu yang repot" Lala mulai sewot
'Sedikit-sedikit terbuka juga informasinya' ucap Keenan dalam hati
***
"Sya, sewa kantor kan sudah mau habis. Aa ada rencana menyewa kantor dekat dengan gudang. Biar Aa gak repot bolak balik. Bagaimana menurutmu?" Tanya Reza sambil melajukan mobilnya
"Ide bagus A. Kenapa tidak dari dulu A?" tanya Tasya
"Dulu dekat gudang tidak ada yang kosong. Makanya kita dapatnya disitu. Sekarang yang sebelahnya di sewakan. Aa tadi sudah tanya-tanya juga pada pemiliknya. Kebetulan Aa kenal" ucap Reza
"Ya sudah, nanti kalau memang fix, kita keluarkan dananya." ucap Tasya
"Besok atau lusa ya" ucap Reza tak mau hilang kesempatan
"Sudah bilang sama Papa?" tanya Tasya
"Belum sih. Tapi Papa pasti setuju" ucap Reza yakin
Seketika suasana menjadi hening
"Sya.. "
" Hmm.. "
" Dia gak macam-macam kan?" Reza meyakinkan
"Ya ampun A. Hari ini berapa kali Aa bertanya begitu" Tasya menggelengkan kepalanya
"Masih tidak percaya?" Tasya terpancing
"Enggak. Percaya kok. Aa cuma nanya saja" Reza mulai takut
"Sekali lagi Aa bilang.."
"Apa?" tantang Reza
"Aku kasih piring cantik" ucap Tasya riang
__ADS_1
"Dasar kamu ini" mengacak kerudung Tasya
***
Keenan merebahkan tubuhnya, matanya menatap langit-langit. Namun pikirannya dipenuhi oleh pembicaraannya bersama Lala tadi sore.
'Kenapa bisa dia terima perjodohan itu?' batin Keenan masih merasa heran
'Apa dia benar-benar bahagia?'
'Kenapa juga aku malah suka sama istri orang?' batinya kembali
'wahai hati, kau telah salah berlabuh. Tapi semakin dia begitu, semakin membuatku penasaran' batinnya
Dia meraih ponselnya. Kemudian mulai mengetik isi hatinya.
"Ku kira Kau rumahku, tapi ternyata aku tersesat dan tak bisa pulang."
~ only.ambu ~
"Melihatmu begitu mesra, hatiku terasa sakit Sya" gumam Keenan sambil memejamkan matanya
***
"A Reza, ayo kita ke supermarket. Shampoku habis. Perasaan kok cepat sekali habisnya" ajak Tasya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil
"Hmm.. " balasnya sambil memainkan game di ponselnya
"A Reza.."
"Iya. Sebentar sayang, tanggung sebentar lagi" masih fokus ke ponselnya
Tasya sudah memakai bergonya.
"Yuk jalan" Reza mengambil jaketnya
Dia mengeluarkan si brave motor kesayangannya. Tasya tersenyum senang.
"Kenapa senyum-senyum?" Reza heran
"Gak apa-apa" jawabnya singkat
'Dia gagah sekali kalau bawa motor garang kesayangannya' batin Tasya
"Ayo naik" ajak Reza
Setelah sampai di supermarket, Tasya menyusuri satu per satu rak. Dia memasukan semua keperluannya ke dalam troley. Reza mengekor di belakangnya sambil memainkan ponsel.
"A Reza, boleh ya aku beli mie instan Korea?" tanya Tasya
"Jangan mie." ucapnya singkat
"Sekali saja A. Boleh ya?" rengek Tasya
"Kamu kebanyakan nonton sinetron Korea jadi begitu."
"Sinetron.. Drama Korea A" protes Tasya
"Iya apapun itu namanya."
"Satu saja masa pelit A" Tasya menyindirnya
"Pelit? Aa gak mau kamu sakit."
Tasya memelas
"Ya sudah ambil satu" ucapnya
Dengan senang hati Tasya mengambil mie instan Korea pedas. Setelah selesai mereka mengantri di kasir.
"A, mana uangnya?" tanya Tasya.
Reza merogoh saku celananya. Dicari dompet di semua sakunya.
"Sya.. "
*** Readers jangan bosan bantu VOTE yaa..
Jangan lupa beri jejak dengan LIKE dan KOMENTAR. Terima kasih ^^ ***
__ADS_1