
"Dasar wanita aneh. Kita yang pamit, dia yang pergi" gerutu Reza kesal
Tasya yang menahan amarahnya jadi tertawa mendengar ucapan suaminya.
"Kenapa tertawa sayang?" tanya Reza heran
Dia masih menyimpan kesal setelah istrinya direndahkan.
"Ya itu, kata Aa kita yang pamit, dia yang pergi. Kok aku ingatnya malah datang tak dijemput, pulang tak di antar A" Tasya tertawa riang
"Haha.. Sepertinya dia titisan jalangkung sayang" ucap Reza
"Hus A Reza gak boleh gitu" ucap Tasya seraya tertawa
"Gak boleh juga kamu ikut ketawa Sya" ucapnya
"Habis jadi lucu saja A kesannya"
Seketika amarah mereka pudar. Mereka berjalan hendak memberi selamat kepada kedua mempelai.
"Pak Adit. Selamat berbahagia." ucap Reza seraya memeluk temannya
"Terima kasih Pak Reza. Ini istrinya?" tanyanya melirik kepada Tasya. Dan Tasya tersenyum melihat keduanya
"Hai Bu Reza. Wah, Pak Reza gak salah milih istri" puji Adit seraya bersalaman dengan Tasya. Mereka semua tertawa.
"Saya sekalian pamit Pak Adit. Kasihan dia" Ucap Reza seraya pamit
"Wah suami siaga. Silahkan Pak. Terima kasih sudah hadir ya Pak Reza, Bu Reza" ucap Adit
Mereka berjalan keluar gedung.
"A, aku dipanggil Bu Reza" Tasya tersenyum senang
"Kenapa memangnya?" tanya Reza
"Gak apa-apa sayang. Lucu saja" ucapnya
'Hatinya lagi oke nih, dia gak marah, gak cemburu juga. Alhamdulillah' batin Reza
Mereka berjalan memasuki mobil. Tasya memijat pelan kakinya begitu duduk di mobil. Sudah lama sekali dia tidak memakai high heels.
"Aa bilang apa? Jangan pakai yang tinggi. Pegal kan" ucapnya.
Tasya tak menjawabnya. Dia masih memijat telapak kakinya
"Sini kakinya, biar Aa yang pijat" pinta Reza
"Gak perlu sayang. Aku gak apa-apa kok" ucap Tasya
"Sini" ucap Reza
Tasya meluruskan kakinya ke arah Reza. Reza memijat pelan kaki Tasya.
"Terima kasih sayang" ucap Tasya tulus
Reza tersenyum.
__ADS_1
"I love u Reza Ramadhan" ucapnya lagi
"Eh eh manggil nama. Gak sopan!" Reza pura-pura marah
"Oh iya, maaf Om" usilnya, Reza melotot ke arahnya.
"Hehe.. I love you sayangku Aa Reza Ramadhan bin Papa Danu" candanya
"Dasar gadis hamil" ucap Reza masih memijat kaki sang istri.
"Sudah A. Nanti dilanjut dirumah saja pijatnya" pinta Tasya
"Ya Allah.. Ngelunjak ini ibu hamil" Reza berdecak
"Eh.. Eh..semingguan lagi loh. Nanti gak usah buka" ancam Tasya
"Hehe.. Apapun buat ibu hamilku, Aa rela. Asal sambutan buka puasanya meriah" ucap Reza asal
"Iya nanti dipasang kembang api di ketiak Aa biar meriah" Tasya tertawa
"Teganya Sya" Reza cemberut. Dia melajukan mobilnya hendak pulang ke rumah.
***
Beberapa hari kemudian, Adit menghubungi Reza melalui sambungan telepon. Mereka hendak bertemu di salah satu kedai kopi ternama disana.
"Pak Adit" Panggil Reza sambil melambaikan tangan ketika mereka bertemu di kedai kopi
"Wah, pengantin baru kenapa lesu. Kurang cuti sepertinya" canda Reza
Adit menampakan wajah tak ceria.
"Hhh..Saya bingung mau bicara gimana sama Pak Reza" ucapnya
"Pak Reza.. Hmm.. "
"Kenapa Pak Adit? Bicara saja" Reza penasaran
"Mohon maaf, kerjasama kita tidak dilanjut. Saya tidak tahu alasan pastinya apa. Selama ini kita kerjasama tidak pernah ada kendala sedikit pun. Tapi.. " Adit menyesal
Reza sangat kaget. Omset besar dari puluhan cabang supermarket tersebut kini lenyap. Tapi dia berusaha profesional di depan Adit.
"Mungkin dia dendam sama saya Pak" Reza membuka suara
"Bu Karina? Kenapa memangnya?" Adit nampak kaget
"Dia.. Tahu lah gelagat wanita itu bagaimana
Dari gaya busana, cara bicaranya seperti apa."
"Mungkin..dia tipikal orang yang tidak suka di tolak" ucap Reza
"Apa Pak Reza..?"
"Iya. Dia menggoda saya terang-terangan di depan istri waktu acara resepsi Pak Adit. Sebelumnya juga dia menelpon saya." Ucap Reza lemas.
"Wanita gila! Saya kira hanya karyawannya saja yang diperlakukan begitu. Ternyata semua diperlakukan sama!" Adit berapi-api
__ADS_1
"Dari awal dia yang pegang, semua sudah resah. Andai saja Pak Kamil tidak sakit-sakitan. Dia gak mungkin berada di posisi sekarang." ucap Adit
"Pak Reza, saya punya teman MD (Merchandisher/Buyer) di swalayan syariah yang sedang viral itu Pak. Tapi mereka hanya ada di wilayah kita belum ada di wilayah lain. Mungkin mereka hanya memiliki beberapa cabang disini. Mau saya coba kontak beliau?" Adit membantunya
"Boleh di bantu Pak Adit. Tolong ya" ucap Reza yang masih tak percaya apa yang sedang dia alami.
Adit menghubungi rekannya tersebut. Sesekali Adit melihat ke arah Reza yang sedang melamun.
"Bisa hubungi langsung beliau Pak. Ini saya berikan kontaknya. Dia sepertinya tertarik" ucap Adit sambil memberikan nomor kontak orang yang di tuju.
Mereka berbicara panjang lebar, saling berbagi cerita. Tak lama, Adit pamit terlebih dahulu.
Reza segera menghubungi orang yang di maksud Adit. Dia berbicara melalui sambungan telepon, dan janji bertemu hari itu juga.
Reza segera pergi ke kantornya untuk mengambil sample dan proposal.
Setibanya di kantor, dia melihat sang istri sedang fokus di depan layar komputer.
'Ya Allah. Anak istriku..' batin Reza
"Aa sudah pulang? Bagaimana A?" tanya Tasya ceria
Reza menariknya masuk ke ruangnya.
"Sya.." dia memeluk erat istri kesayangannya tersebut. Membenamkan kepalanya di pundak sang istri.
"Kenapa sayang?" Tanya Tasya heran
"Sya, apapun yang terjadi. Aa mohon jangan tinggalkan Aa ya" ucap Reza
"Aa bicara apa? Kenapa?" Tasya mulai resah
Reza menceritakan semuanya pada sang istri. Tasya meneteskan air matanya. Dia memeluk erat sang suami.
"A Reza, apapun yang terjadi, aku gak akan pernah meninggalkan Aa. Ayo kita berjuang bersama sayang. Kita pasti bisa. Ini semua ujian agar kita naik kelas" Tasya menghibur suaminya.
"Aa mau menghubungi swalayan syariah dulu Sya. Hati ini kita sudah janji bertemu, tadi aa dibantu Adit" ucap Reza
"Semangat ya sayang. Semoga berhasil. Aku selalu mendukungmu apapun yang terjadi. Aa jang berkecil hati ya" Tasya menyemangatinya
"Pasti sayang. Aa berusaha untuk keluarga kita" ucapnya seraya mengecup kening sang istri.
"Aa berangkat dulu ya, nanti sekalian ambil sample di gudang. Kamu pulang sendiri gak apa-apa ya sayang. Takutnya Aa lama" ucap Reza
"Iya sayang. Tenang saja. Aa hati-hati dijalan. Fokus ya bawa mobilnya. Semoga berhasil A. Aku selalu mendukungmu" Tasya mengecup lembut bibir sang suami.
***
Reza masuk ke dalam swalayan syariah disambut dengan lantunan lagu islami. Dia bertanya ke bagian informasi hendak bertemu dengan Pak Zainal.
Tak lama, Reza diminta masuk ke ruangannya. Mereka bernegosiasi disana. Reza yang memang sudah oandai bernegosiasi, dengan mudah mendapatkan persetujuan dari pihak swalayan tersebut.
"Saya bisa jamin, produk kami memiliki kualitas grade A, Pak" ucap Reza
"Iya, saya peecaya Pak Reza. Saya lihat packagingnya rapih dan juga lebih segar" ucap Pak Zainal jujur.
"Besok bisa langsung diantar saja ya Pak. Jam tujuh pagi saya minta sudah kami terima" ucap Pak Zainal. Mereka berjabat tangan sebagai tanda kerjasama sama mereka.
__ADS_1
Reza keluar dari swalayan. Ada sedikit rasa lega di hatinya. Namun tetap saja, semua tidak sebanding dengan supermarket milik keluarga Karina.