BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Elvano Cemburu Lagi


__ADS_3

"Kemana kita Mam?"


"Katanya periksa?" Tasya balik bertanya.


"Loh, ini.. " Reza tersenyum saat melihat papan nama Dokter yang tertera di samping pintu ruang praktek.


"Kita cek tekanan darah dan timbang berat badannya terlebih dahulu ya Bu." ujar perawat saat mereka tiba di depan poliklinik.


Setelah cek tekanan darah dan timbang berat badan, Reza mengajak Tasya duduk di ruang tunggu.


"Sayang.. Terima kasih. Papi happy banget Mi. Papi gak menyangka sayang." Reza menggenggam tangan Tasya kemudian mengecupnya.


"Gak tahu malu, Papi!"


"Bener ini Mam?" Reza masih tak percaya


"Belum tahu. Cek saja dulu." ucap Tasya.


"Bohong nih Mami. Masa belum tahu tapi ngajak kesini."


"Kemarin tespek kan negatif Mi."


"Iya, pas tadi Mami tespek lagi, garis dua tapi samar." Tasya tersenyum


"Kok tadi gak bilang sih?"


"Suprise dong, Pi."


"Iya, Papi gak nyangka Mi"


"Mami soalnya penasaran. Masa mual-mual terus. Eh ternyata garis dua. Berarti bukan karena bakso itu Pi" Tasya tersenyum senang.


"Bener-bener perkasa si diamond. Stamina Papi oke banget ya Mi. Tiap niat pasti jadi" Reza melebarkan senyumnya.


"Apa sih Papi!"


"hehe.. Mau apa nanti sayang? Mau bakso? Mau es krim? Cilok? Atau mau apa Hmm?" Reza memangku tangannya sambil menggenggam tangan Tasya dan di taruh di pipinya.


"Berlebihan deh."


"Mau perhatian Papi lebih ekstra buat Mami" pinta Tasya


"Siap laksanakan."


"Jangan menyebalkan. Tiap hamil pasti Papi nyebelin."


"Menyebalkan apa sih? Papi baik begini."


"Mau aku pulang kampung lagi pas hamil?"


"Enggak Mi. Enak aja!"


"Awas ya kalau Papi bertingkah."


"Enggak sayang." Reza mengecup tangan istrinya.


"Papi. Maluuu.. Itu perawatnya ngelirik ke kita." Tasya berbisik.


"ck.. Biarkan saja. Mereka ngontrak ini. Kita yang punya dunia."


"Dasar!"


Reza masih melirik istrinya.


"Apa sih Pi?"


"Enggak. Papi bahagia saja Mi. Mudah-mudahan princess ya Mi."


"Jangan gitu ah. Nanti kalau cowok lagi kasihan dia berasa jadi anak yang tidak di harapkan."


"Enggak lah Mi. Cuma berharap kan boleh, sayang. Kalau dia cowok lagi juga Alhamdulillah. Mami punya bodyguard banyak."


Nama Tasya kini dipanggil oleh perawat. Tasya dan Reza segera masuk ke dalam ruangan


"Ibu Tasya, isi lagi?"


"Belum tahu, Bu dok. Garis dua samar." Tasya tersenyum.


"Si kecil sekarang berapa tahun?"


"jalan tiga tahun Dok"


"Oh iya ya. Yuk naik kesana." ajak Dokter.


Seperti biasa mereka menatap layar monitor.


"Mmm.. Belum jelas. Sudah telat belum sih?" Dokter masih menggerakan transducer diperut Tasya.


"Belum sih Dok. Eh tapi saya lupa." Tasya tertawa.


"Gimana sih Mi! Kalau gak salah, belum waktunya deh, Mi" Reza menimpali.


"Bapak sampai hafal jadwalnya, Pa" Dokter tertawa.


"Haha.. Maklum dok, diankan suka bilang kalau awal menstr*asi"


"Ya paling ini sekitar empat mingguan. Masih belum jelas kantongnya. Kalau saran saya sih, nanti begitu enam minggu di cek lagi" ucap Dokter Felly


"Tapi ini mengarah ke hamil istri saya, Dok?"


"Saya tidak bisa meyakinkan betul-betul ini hamil. Karena kan masih belum jelas. Ya seperti yang saya katakan tadi. Nanti begitu masuk enam minggu di cek lagi. Tapi ya Bapak harus sabar. Puasa dulu, Pak" ucap Dokter Felly.


"Iya Dok" ucapnya pasrah.


Mereka segera keluar ruangan setelah selesai.


"Papi jadi gak kerja?"


"Enggak Mi. Tapi gak tahu kalau nanti jadi, Papi di ajak makan siang Mi."


"Duh keburu gak ya jemput Abang?" Tasya menatap layar ponselnya.


"Kayaknya keburu sih, Mam."


"Papi telepon Pak Budi dulu ya, biar dia gak jemput Abang."


Reza dan Tasya kini berada di mobil mereka untuk menjemput Vano. Sesekali Reza mengecup punggung tangan istrinya.


"Mi, kenapa belum jelas ya Mi itu kantongnya?"


"Ya karena masih muda sekali, Papi."


"Mana Papi lupa lagi, Mami kalau hamil Papi harus puasa tiga bulan" keluh Reza


"Yang ingin Mami hamil siapa?"


"Papi sih. Tapi Papi gak inget harus puasa."


"Rasakan sendiri akibatnya Ferguso" Tasya tertawa


"Marimar jahat sekali sama suami"


Tak berapa lama mereka tiba di sekolah Vano.


"Mami aja yang turun ah."


"Kenapa? Takut kepergok lagi ganjen sama Mommy Selly?"


"Apa sih Mi. Siapa juga yang takut."


"Giliran bareng Mami aja gak mau turun." ketus Tasya


"Ya udah. Ayo."


Reza menggenggam tangan istrinya.


"Maam" bunda Dira melambaikan tangannya.


Tasya berjalan mendekati Bunda Dira yang sedang berkumpul bersama Mommy yang menjemput anak-anaknya.


"Eh Papi ikut, gak kerja Pi?" Mommy Selly menyapanya.


"Enggak. Mau pacaran dulu nih sama Maminya anak-anak."


"Ciee romantis banget Papi Vano" Puji bunda Dira.


"Bebas ya kalau Bos" Bunda Diana menimpali.


"Enggak juga dong Bu Ibu. Kalau bebas bisa bangkrut perusahaan." timpal Reza


"Mamiiii Papiiiiii.. Aku senang Mami Papi jemput akuu" Vano menghampiri mereka kemudian melonjak-lonjak girang.

__ADS_1


"Kita duluan ya Mom" ucap Tasya meninggalkan mereka


"Mami sudah sehat?"


"Mami pulang dari dokter Bang"


"Abang ada kabar gembira buat Abang." ucap Reza seraya masuk ke dalam mobil


"Apa Pi?"


"Ada Dedek di perut Mami" Reza tersenyum.


"Adeknya cewek atau cowok Mi?"


"Belum pasti, sayang."


"Kok gitu Mi? Harusnya Mami milih adeknya cewek atau cowok."


"Gak bisa Bang, kan Allah yang kasih. Abang kalau di kasih memang suka nawar?"


"Enggak Mi. Malu"


"Nah gitu. Yang ada bersyukur. Terima kasih karena sudah di kasih."


"Oh gitu. Kenapa Mami gak bilang terima kasih?"


"kan suka. Bilang Alhamdulillah itu juga sama kayak terima kasih."


"Mi, jadi Daffa juga gak di panggil Adek dong?"


"Iya. Kalau jadi, Daffa dipanggil Abang juga." Reza menimpali


"Kasihan Mi, Adek di perut Mami nanti bingung."


"Bingung kenapa?"


"Pas manggil Abang yang ngeliriknya nanti aku sama Daffa." Reza tertawa.


"Kan beda. Nanti Dedeknya manggil Bang Van sama Bang Daff" ucap Reza


"hmm.. Coba aku pikirkan terlebih dahulu ya.. Sepertinya dipanggil begitu enak" ucapnya membuat Reza dan Tasya tertawa.


"Pi.. Pi.. Cilok Pi.. " dengan Refleks Reza menepikan mobilnya.


Reza segera membuka safety belt miliknya.


" Beli berapa sayang?"


" Banyak aja kan ada Mbak juga" ucap Tasya


"Pisah aja ya bumbunya" sambung Tasya


"Iya sayang."


"Mi, katanya gak boleh jajan sembarangan Mi? Kok Mami jajan sih?"


"Hmm.. Bingung Mami harus menjelaskan bagaimana."


"Dedek di perut Mami yang mau, Bang" ucap Tasya


"Dia ngomong sama Mami minta jajan?"


"Iya. Tapi cuma Mami saja yang bisa dengar."


"Jadi aku sama Papi gak bisa dengar Mi?"


Reza masuk ke dalam mobil membawa cilok dan memberikannya pada Tasya


"Dengar apa?"


"Kata Mami, dedek yang mau cilok. Terus yang bisa dengar Dedek bicara cuma Mami, Pi"


"Papi bisa dengar, Bang." ucap Reza sambil melirik spionnya


"Papi kok bisa dengar?"


"Kalau Papi nengokin Dedek." Reza tersenyum


"Papi!" Reza masih tersenyum.


"Gak suka ah, anaknya di ajarkan begitu terus"


"Lambat laun kalau ngerti bagaimana?"


"Gak tahu malu" ketus Tasya


"Maaf sayang."


"Hebat ya Dedek. Masa dalam perut sudah minta jajan." Vano masih memikirkan omongan Maminya


Mereka kini tiba dirumah.


Tasya mengajak semua orang yang ada di rumah makan cilok ramai-ramai.


"Ibu isi lagi bu?"


"Doakan ya. Belum pasti kata dokternya."


Tasya menceritakan apa yang disampaikan dokternya tadi pada para pengasuh mereka.


"Aku istirahat dulu ya Mbak. Titip anak-anak" ucap Tasya.


Dia menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


"Jadi makan siang bareng temannya?" tanya Tasya begitu masuk kamar.


"Enggak. Males Mi" ucap Reza memangku laptop.


Tasya naik ke atas tempat tidur.


"Mual sayang?"


"Enggak sih."


Reza menaruh laptop miliknya di atas nakas.


Dia mengelus lembut perut Tasya.


"Bikin kantong yang tebal ya Dek. Tumbuh sehat sempurna." Reza mengecup perut istrinya gemas.


"Papi geli."


Reza kini beralih menatap istrinya, menumpu kepalanya dengan sebelah tangannya.


"Terima kasih Mi. Maaf ya harus mual-mual lagi. Kalau boleh berbagi biar Papinya saja yang mual."


"Aamiin. Semoga ya Pi" Tasya tersenyum


"Tapi kayak yang iya saja Papi yang mual. Gak kebayang rewelnya Papi kayak apa kalau di kasih rasanya hamil itu gimana."


"Enggak lah demi anak gak rewel Mi." Reza mengecup lembut Tasya. Sambil berc*uman, Tasya tersenyum jahil. Dia memperdalam c*umannya membuat Reza segera melepaskannya.


"Mi"


"apa?"


"Sengaja banget biar Papi pengen kan?" gerutu Reza sementara Tasya tertawa.


"Pi, kalau aku pakai baju seksi terus pas Papi harus puasa, gimana?"


"Tergantung iman"


"Maksudnya?"


"Kalau Papi gak kuat ya batal"


"Ih Dasar!" Tasya tertawa


"Makanya jangan suka membangunkan diamond yang belum di poles Mi. Kalau udah di poles, Mami sendiri nanti yang kelonjakan."


"haha..ih si Papi mah!"


"bener kan?"


"Udah ah, Papi mah suka v*llgar kalau bahas begituan"


"Mi, anak kita mau empat kalau ada semua ya."


"Pi, kalau empat modelan Vano semua gimana. Hahaha"


"Baguslah. Mereka tua dengan sendirinya." Reza ikut tertawa

__ADS_1


"Baru di debat dikit aja sama anaknya Papi kesel. Haha"


"Heran sama dia. Ada aja jawabnnya. Pinter banget sih emang" Reza mengakui


"Udah ah Mami ngantuk."


"Pi..elusin"


"Yang minta anaknya apa Maminya ini?"


"dua-duanya."


Reza mengelus punggung istrinya hingga Tasya terlelap.


***


"Mi.. Mi.. "


" hmm.."


"Mi.. Bangun.. Daffa panas Mii.. " Tasya membuka matanya.


"Daffa sakit, Bang?"


"Iya. Badannya anget." Tak lama terdengar suara tangisan Daffa dibalik pintu.


Reza bergegas membuka pintunya dengan rambut yang masih tergerai.


"Daffa anget Mbak?"


"Iya Bu. Belum mau minum obat."


"Ya sudah gak apa-apa."


"Kata aku juga apa kan? Daffa sakit."


"Abang tidur gak?"


"Tidur Mi. Tapi Daffa berisik jadi Abang bangun."


"Daffa mau digendong Mami? Kasihan anak Mami sakit" Tasya mengecup lembut anaknya


"Giliran Daffa di sayang-sayang. Aku enggak."


"Sini Abangnya"


"Enggak. Mami mah gak sayang aku"


"Ih cemburu kan sama adeknya. Emang Abang gak kasihan sama Adek yang sakit?"


"Enggak tuh. Soalnya Adek di sayang Mami."


"Mami tuh sayang Abang sama Adek. Sebelum ada Adek, semua sayang Mami itu buat Abang."


"Mami bohong."


"Beneran Bang. Sini sama Mami." Vano mendekat seraya cemberut. Tasya memeluk keduanya.


"Love you kesayangannya Mami" Tasya mengecup satu persatu anaknya.


"Jagoannya Mami semua ini" ucap Tasya


"Aku yang paling jago. Adek enggak"


"Dapa" (Daffa) Tak mau kalah


"Kamu enggak Dek, Abang doang. Kamu monsternya."


"Montel betal Bang?" (Monster besar Bang) tanya Daffa.


"iya. Kamu monster seawan-awan besarnya."


"Mi Apa montel Mi. Hebat kan? (Mi Daffa monster Mi, hebat kan?)" Daffa berbangga diri.


"Dasar anak kecil, di bohongin saja nurut" ucap Vano tersenyum geli.


"Dosa tahu bohongin adeknya. Lagipula kamu juga anak kecil" Tasya menimpali


"Sstt.. Nanti Daffa tahu Mi. Mami diam saja."


Semalaman Daffa menangis karena demamnya naik turun. Tasya tak hentinya menggendong putra bungsunya yang rewel dan hanya menempel kepadanya.


"Pi, kita ke dokter saja gitu ya? Ini panasnya naik turun 39 derajat."


"Besok saja Mam. Kata dokter kan kalau begitu empat jam sekali kasih obatnya."


"Sini sama Papi, Nak. Kasihan Mami dari tadi gendong Abang, nanti dedeknya kesakitan." Daffa merengek gak mau. Dia terus menangis.


"Adek, tiduran yuk sama Mami?"


"No" Daffa menolak.


Dengan terpaksa Tasya menggendongnya tak henti hingga tak terasa waktu subuh tiba, Daffa baru bisa terlelap.


Tasya menurunkan Daffa di tempat tidur miliknya. Dia berbaring disamping Daffa.


"Mii... Aku sekolah Mi... "


" Hmm.. Jam berapa ini?"


"gak tahu."


"Abang minta tolong Mbak ya, Mami pusing sayang."


"Tuh kan!" Vano menghentakan kakinya. "Daffa saja di urusin. Abang enggak! Mami gak sayang Abang!" Vano marah.


"Astaghfirullah.." Tasya bangun.


"Pi! Anak kamu ini! Aku pusing semalaman gak tidur! Giliran Papi dong sekarang!" Tasya kesal


"Ayo cepetan." Tasya dan Vano berjalan ke kamar Vano.


"Udah mandi?"


"mau sama Mami."


"Ya Allah..yuk sini" Tasya memandikan anaknya dengan telaten.


"Hari apa ini Bang?"


"Gak tahu Mi."


"Kamis kalau gak salah ya." Tasya memakaikan seragam batik pada anaknya. Dia menyisir rambut anaknya dengan rapi.


Tasya kembali ke kamarnya untuk menyusul Reza.


"Cepetan. Anaknya udah nunggu"


"Iya sayang." Reza mengecup istrinya sebelum mengantarkan Vano.


"Jadi anak sholeh ya, maaf Mami gak anter Abang. Kasihan adeknya kan lagi sakit." Tasya mengecup kedua pipi anaknya. Menunggunya di teras rumah hingga mobil mereka pergi.


"abang rewel ya tadi?" Reza membuka percakapan


"Enggak Pi. Aku sebel aja. Mami gak sayang aku. Masa Daffa di urusin, aku enggak"


"Maminya kan kasihan bang, ada dedek di perutnya. Terus harus gendong Daffa karena nangis terus. Abang harusnya ngerti." Vano cemberut saat Reza menasehatinya.


Mereka tiba di sekolah.


"Hallo Elvano, how are you?"


"i am oke miss. Thank you."


"Ini hari apa Vano?"


"Kata Mami ini hari kamis. Iya kan Pi? Tadi Mami bilang hari kamis?" Vano melirik Reza yang juga sedang berpikir namun dia diam saja.


"Salah. Ini hari rabu."


"Vano harusnya pakai seragam warna biru, sayang. Ini seragamnya buat besok." ujar Miss Devi mengingatkannya.


"Papiiiiii aku gak mau sekolaaahh" rengek Vano.


.


.


.


Yang mendoakan Mami hamil cuuung? Mami minta like dan komentarnya yaa.. Jangan lupa vote yang banyak biar Mami gak mual-mual. Terima kasih ^^

__ADS_1


__ADS_2