
"Maaf, tadi aku sama Lala bahas kerjaan sebentar" ucap Tasya berbohong. Dia berdiri di depan Reza
'Maaf Pap, kalau aku bilang habis ngerumpi pasti Papi murka' batin Tasya.
"Sudah dibilang jangan lama" Reza ketus
"Jangan marah-marah sayang, nanti darah tinggi loh" Tasya menakuti sambil mencolek dagu sang suami
Reza masih kesal. Dia menyandarkan kepala di sofa.
"Sayang" Tasya meraih tangan Reza seraya membujuknya
"Ayo pulang" ajak Tasya kemudian. Reza masih mematung kesal.
"Papi, kenapa? Kok tumben marah hanya begitu saja" ucap Taysa mulai duduk disebelah Reza
"Habis kamu dibilang jangan lama-lama juga!" ucap Reza
"Kan biar Papi istirahat dulu. Biar Papi bisa tidur sebentar. Kalau Mami disini. Nanti Papi malah gak tidur" ucap Tasya
"Papi tidur?" tanya Tasya kemudian
"Sebentar"
"Sudah enak kepalanya?" tanya Tasya
"Belum"
"Papi lagi menstruasi?" Tasya tersenyum
Reza meliriknya kesal
Tasya tiba-tiba pindah ke pangkuan Reza. Reza tersentak. Dia duduk tegap memegang pinggang sang istri kemudian melepaskannya kembali. Tasya melingkarkan tangannya pada leher Reza. Kemudian mengecup bibir suaminya berkali-kali untuk meredakan amarah sang suami.
"Ayo pulang" bisiknya tepat ditelinga sang suami
Seketika Reza senang. Tapi dia masih menjaga harga dirinya. Dia ingin Tasya membujuknya lebih dari yang dilakukannya sekarang.
"Hmm.. Masih marah?" Tasya memainkan telunjuknya di dada sang suami. Entah dorongan apa yang membuatnya lebih agr*sif dari biasanya.
Reza sekuat tenaga menahan senyumnya. Rasanya dia teramat senang Tasya melakukan hal yang tidak seperti biasanya.
"Papii.. " bisiknya manja
Reza masih diam. Dia masih berharap Tasya melakukan hal yang lebih.
"ih lama!" Tasya mulai kesal. Dia bangkit tapi Reza menariknya kembali ke pangkuannya. Dia mel*mat bibir sang istri dengan buas. Nafas mereka saling beradu.
"Ayo pulang, katanya mau yang spesial" ajak Tasya yang membuat Reza mengembangkan senyumnya penuh arti.
Mereka keluar ruangan penuh semangat. Di perjalanan mereka saling diam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tasya merasa sedikit gugup. Batinnya merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia merasa sangat bergairah hari ini.
'Pakai gak ya?' batin Tasya menimang. Dia menemukan lingerie sleepwear terselip saat membereskan lemarinya. Sebuah lingerie berwarna hitam transparan sebagai kado pernikahannya dulu yang belum sempat dia pakai karena dulu dia masih beradaptasi untuk menerima Reza sebagai suaminya.
'Kalau dipakai, nanti Papi tertawa bagaimana? Masa pakai baju itu dengan perut buncit begini' Tasya pesimis
'Tapi sudah janji mau kasih yang spesial. Apa pakai kemeja Papi?' batinnya berdebat. Memilih mana yang akan dia kenakan nanti ketika pulang.
"Mam.. " Reza memanggilnya
"Hmm.."
__ADS_1
"Mikirin apa?" tanya Reza penasaran
"Enggak"
"Mau makan dulu biar ada tenaga?" tanya Reza sambil tersenyum
"Kayaknya Papi harus makan sate wedus cilik" ucapnya seraya tertawa
"Memang ngaruh?" tanya Tasya
"Kata orang sih biar jos. Tapi gak tahu jos apa. Entah jos hua suherman entah jos gandhosnya shoimah" ucapnya dengan logat jawa sambil tertawa. Tasya ikut tertawa dibuatnya.
"Gak boleh katanya Pap makan sate wedus cilik" ucap Tasya
"Kenapa memang?" Reza heran
"Nanti Papi kena Undang-Undang Perlindungan Anak Di Bawah Umur loh" ucap Tasya
"Haha.. Dasaar!" Reza tertawa lepas
Tiba-tiba saja Reza menghentikan mobilnya di warung sate langganannya. Dia menyeringai melirik Tasya.
"Mau?" tanya Reza
"Aku sapi kalau enggak ayam" ucap Tasya
Reza tertawa
"Kenapa?" Tasya heran
"Jadi Mami ayam atau Sapi"
"Sapi" ucapnya singkat membuat Reza tertawa kembali sementara Tasya kebingungan.
"Mami sapi kan?" tanya Reza lagi
Tasya mengangguk. Reza tertawa puas.
"Oke. Mami Sapi"
"Enak saja! Dasar Papi Wedus!" balas Tasya yang baru sadar
Reza melangkahkan kakinya sambil tersenyum. Dia kemudian memesan sate dan menunggunya disana.
"Makan disini saja yuk?" ajak Reza
"Ayo" Tasya merapihkan dirinya kemudian turun dari mobil.
Beberapa sorot mata melihat mereka sepintas. Namun Tasya menangkap salah seorang anak perempuan memperhatikan Reza yang tengah menggulung lengan bajunya.
'Ya ampun, bocah saja terpesona sama A Reza' batinnya
"Minumnya mau apa Mas?" tiba-tiba pelayan membuyarkan lamunannya.
"Es jeruk dua" ucap Reza
"Mami Sapi" Reza menggoda Tasya
"Dasar!" Tasya melengos
"Papi pesan sate kambing?" Tasya meyakinkan
__ADS_1
Reza mengangguk tersenyum.
"Ih dasar!" Tasya ikut tersenyum
Tak lama pesanan mereka datang. Reza makan dengan lahapnya.
"Papi bukannya sakit kepala?" tanya Tasya
"Sudah enggak dari tadi juga" ucapnya sambil mengunyah
"Nanti minum saja obatnya ya Pap" pinta Tasya
"Gak sakit Mam. Gak harus minum obat" Reza menolak
"Aku hanya khawatir" ucap Tasya
Keduanya telah selesai makan. Mereka diam sejenak sambil bercanda. Tak lama, Reza membayar makanan mereka kemudian melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Setibanya dirumah, Mereka berbasa basi sebentar dengan Pak Danu. Reza yang tak sabar menarik lengan Tasya untuk segwra ke kamar. Pak Danu hanya berdecak melihat tingkah laku anaknya yang seolah tergila-gila pada menantu kesayangannya.
"Mandi bersama saja sayang biar cepat" pinta Reza
"Sabar.. Sana Papi dulu" pinta Tasya
"Tumben. Biasanya Mami lebih dulu" Teza heran
"katanya spesial"
"Oh oke" Reza tak membuang waktunya. Tasya tersenyum malu sambil mengelus perutnya.
'Papimu Dek.. Dasar.. ' ucapnya. Tak lama Tasya menyiapkan lingerie miliknya dibagian depan lemari agar mudah dia jangkau.
Reza mandi tak lama, dia segera keluar dengan handuk melilit di pinggangnya seperti biasa. Reza hendak menggoda Tasya, tapi Tasya menolaknya. Dia segera berlari ke kamar mandi dengan mengambil lingerie di lemarinya.
Tasya membasuh tubuhnya asal. Dia sibuk memikirkan bagaimana nanti dia keluar dengan pakaian yang sangat seksi menurutnya.
Tasya mengeringkan tubuhnya di kamar mandi. Dia segera memakai lingerie tersebut. Dia melihat perut buncitnya, sesaat dia ragu keluar.
'Kali pertama menggoda A Reza dengan baju seseksi ini dalam keadaan hamil. Maluu' batinnya menolak.
'Bismillah menyenangkan hati suami' batinnya meyakinkan. Dia hendak membuka pintu kamar mandi namun di urungkannya. Dia memegang handle pintu dengan rasa bimbang.
"Mam.. " suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya. Dia segera membuka pintu kamar mandi seolah lupa akan kebimbangannya.
"Apa?" tanyanya heran.
Kini Reza nampak terkesiap melihat Tasya. Dia menelan salivanya. Matanya tak henti melihat tubuh tasya dengan balutan kain transparan tersebut.
Reza mendekati Tasya, menggandengnya keluar dari kamar mandi kemudian mengecupnya lembut.
"Papi suka yang spesial" bisik Reza ditelinganya.
Tasya tersenyum malu. Reza tahu betul istrinya sedang malu terhadapnya. Dia segera mel*mat bibir Tasya agar Tasya melupakan rasa malunya. Tak terasa, pagutan mereka menggiringnya menuju tempat tidur.
Reza merebahkan istrinya perlahan. Dia mengelus perut sang istri kemudian mengecupnya lembut.
"Papi is coming honey" gumamnya seraya mengelus lembut perut sang istri. Dia memberikan kenyamanan pada istri dan anaknya.
Kini Reza merangkak naik kembali. Dia bermain di ceruk leher sang istri yang membuat Tasya melayang seolah hilang kesadarannya.
"Mam diatas" pinta Reza seraya berbisik.
__ADS_1
*** Hayo loohh nungguin ya?? Sama. Wlee. VOTE, LIKE, KOMENTARnya manaa??
Maaf canda biar rileks. Lanjut jangan? Jangaaan. Oke Kalau jangan. Eh ***